[info]miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


My epic nightmare
[info]miki_sensei
Menonton Dark Shadows ternyata berefek panjang pada diri gue. Tidak hanya merasa kecewa, rugi, dan membuang uang; gue juga menderita pilek keesokan harinya dan hidung meler kayak keran bocor. UGGHHH!!!
Sedikit menyesal sebenernya gue terlalu terburu menonton tu pilem, toh gue bisa menontonnya di lain hari (dan kecewa juga sih, tapi ya sudahlah) di saat stamina gue nggak lagi nge-drop dan di hari2 dimana jadwal pergi2 gue tidak terlalu penuh. Lo bayangin aja, udah Jumat malem pulang tengah malem, eehhhh, besoknya kudu balik lagi ke Central Park buat fitting baju bridesmaid, trus berburu frame foto plus sepatu buat bride gue.
Di Indonesia segala emang dirangkap2, ampe bridesmaid aja merangkap maid in honor, wakakakakak!!

THIS IS MADDNESSSS!!! ARRRGHHHH TEPAAARRR!!

So, bisa dibayangkan, di malam minggu yang cerah tak berawan, gue harus mendapati hidung gue meler lebih parah lagi dan jika itu masih belum cukup, ternyata sepatu yang gue kenakan untuk pergi ke CP adalah sepatu penggigit yang menyesah jari2 kaki gue dengan taring2nya. UGGHHHHH!!! Shit really happens in a row!!
Oleh karena itu, sangat wajar jika di hari minggu yang super panas menyiksa warga Jakarta dan sekitarnya, gue mencoba beristirahat untuk memulihkan tubuh. Tapi rupanya entah bagian otak gue yang mana memutuskan untuk bergelindingan ngawur sehingga gue pun bermimpi buruk. Tidak tanggung2, gue dibikin bermimpi dalam mimpi alias mimpi dua lapis!! Inception enough? Yeahhh...

Kadang2 gue bingung dengan koordinasi otak gue. Seringkali doi nggak pake acara ngomong dulu langsung tancep bikin mimpi yang ajaib bin aneh yang kumplit. Lha gimana gak aneh, di dalam mimpi gue menjadi salah satu operative (baca: agen rahasia) dalam satu divisi militer yang dikhususkan untuk... membasmi hantu.
Yes, you don't read it wrong, para personil militer itu emang dilatih khusus untuk membasmi hantu, yang, dalam dunia mimpi gue, tidak sekadar kain putih melayang2 "hauu hauu" doang; they're bad... as in so bad they want to kill every single living being on earth.
Meskipun divisi ghostbuster ini dilengkapi dengan senjata militer canggih, percaya ato tidak, salah satu komponen terutama yang paling penting dalam setiap misinya adalah:

Obat tetes mata.

Serius! Ane gak bercanda, gan! Jalan lo kira ini cuman sekadar Visine buat meredakan mata merah, obat tetes mata ini adalah cairan khusus yang dikembangkan oleh ilmuwan pemerintah dalam penelitian berbudget besar, agar para personil militer ini untuk bisa melihat hantu dengan mata telanjang. Gak semua orang punya kemampuan bisa melihat hantu, so... obat tetes mata ini penting banget fungsinya. Dalam mimpi ini gue termasuk mereka yang harus meneteskan obat ini setiap beberapa waktu... gue selalu payah dalam mimpi sekalipun.

Masalahnya, ternyata ada musuh (entah pihak mana itu) yang melakukan infiltralisasi terhadap distribusi obat2 ini dan menukarnya dengan bahan kimia yang mengandung virus yang bisa mengubah struktur sel otak. Something like zombie virus works in non rotting way.
Jadi, bisa dibayangkan kekacauan yang terjadi ketika dalam pertempuran melawan hantu2 brutal dan mendadak sebagian personil tentara terinfeksi virus lalu berbalik membantai teman2 mereka sendiri? Betapa menegangkannya sewaktu gue berlari terbirit2 dikejar sekelompok tentara yang terinfeksi, meraung dengan mata2 mereka yang merah nyalang, belom lagi serangan hantu haus darah dari kanan kiri. Gue sangat beruntung karena mendapat jatah obat 'sungguhan' sehingga tidak terinfeksi sama sekali, tapi toh percuma juga kalo harus mati dikoyak2 zombie kan?

Kalo itu masih belom cukup menakutkan, maka gue kudu berduel hidup mati dengan agen musuh yang melakukan kontaminasi pada obat tetes mata itu. Ternyata dia agen ganda yang melakukan infiltralisasi ke pihak gue. Gimana caranya ntuh bisa ketahuan, jangan tanya gue, pastinya duel yang terjadi diantara kami sangat tidak seimbang untuk gue sebab agen musuh ini bukan manusia, melainkan vampir. Gue sudah mengenalnya sebelum kasus ini sebagai mata2 pihak musuh yang berbahaya.

Oh... crap. But WHYYYYYYYYYY!!!??

One thing. This is no your romantic vampire. He's evil undead young man with devilish smirk, lebih parah lagi makhluk itu mencekik gue dan nyaris menggigit lidah gue sampai putus dengan taring2nya yang panjang kayak ular kobra. Dan satu2nya hal heroik yang bisa gue lakukan saat itu hanyalah menggelepar2, membuka mulut dan...

ARRRRRRGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!

Jejeritan kayak cecurut terjebak dalam perangkap. Silahkan ngetawain gue.

Entah apa yang terjadi, ntuh vampir mendadak melepaskan (tepatnya menghempaskan) gue lengkap dengan ketawanya yang berkepanjangan. Gue hanya bisa mengertakkan gigi dengan pahit karena merasa sangat terhina (mungkin) dan sempat kebingungan dengan perilaku agen vampir yang gue anggap tak biasa ini, tapi tak lama kemudian gue mendapatkan jawabannya.
Dari balik kegelapan gue melihat ratusan pasang mata dari sosok2 tubuh gelap yang mendesis dan menggeram.

Oh... fuck. Evil vampire is evil!! Rupanya dia melepaskan gue karena dia tahu lebih menyenangkan membiarkan gue mati dibantai zombie2 haus darah itu, dia tak tertarik dengan darah gua ataupun nyawa gue. I'm not that important to him. What a jerk!
Tanpa disuruh gue langsung ngibrit secepat2nya menjauhi kelompok zombie itu. AIAIAIAIAAAAAA!!

Di situlah lapis kedua mimpi gue berakhir dan gue terkena kick sehingga turun ke level pertama yang muncul di tengah2 halte trem.
Lucunya di level itu, gue menjelaskan pada seseorang di halte trem bahwa gue baru saja bermimpi aneh yang terasa begitu hidup dan detail. Pada posisi itu, gue sama sekali tidak tahu bahwa gue sebenernya masih berada dalam mimpi. Nahhh, ketika trem datang dan gue masuk ke dalam itulah, mimpi lapis pertama ini baru dimulai. Sebab di sana gue ketemu seorang preman, tipe makhluk yang sama seperti yang gue temui di bus kota di alam nyata. Tapi berbeda dengan preman bus kota yang kosa katanya terbatas hanya "seribu dua ribu takkan membuat Anda jatuh miskin", atau "lebih baik panjang suara daripada panjang tangan," or similar shit like that; preman trem ini lebih suave dan lancar berbicara, bahkan gue sempat berdebat dengannya ketika secara tak sengaja gue memergokinya mencopet dompet engkoh2 Cina di sebelahnya. Saat itulah mendadak gue berubah agresif dan membekuk preman/copet itu. Gue di dalam mimpi, entah kenapa, jauh lebih represif dan sassy ketimbang di alam nyata.

Pergelutan dalam trem itulah yang terjadi sepanjang mimpi level pertama ini dan berakhir dengan si preman melompat keluar dari trem yang berjalan itu. Lalu gue terbangun sesudahnya dengan badan sakit semua dan pegal2 seakan2 gue emang benar2 berduel dengan vampir dan preman sekaligus. Oh shit...
Percuma rasanya tidur siang yang cukup panjang barusan, badan gue lemasnya luarbiasa dan gue didera rasa ngantuk yang tak tertahankan bahkan sekalipun ada sebagian kecil dari sel2 otak gue yang mulai aktif bekerja.

Dede gue tidak percaya saat gue menuturkan bahwa gue bermimpi soal meneteskan obat mata supaya bisa melihat hantu, bahkan teman gue cuman bisa tercengang2 saat gue menuliskan soal mimpi gue padanya lewat Whatsapp. Dan emang terus terang aja, mimpi gue yang kali ini terasa begitu jelas dan detail dan bahkan memiliki plot! Biasanya sih gue sedang stress jika sampe bisa mimpi kayak begini. Atau sedang sakit. Berhubung mimpinya nggak terlalu horor (lebih kayak action thriller), kemungkinan gue sedang sakit. Soalnya kalo gue emang stress, mimpinya jadi horor dan tingkat keseramannya tergantung tingkat stress gue. Tapi jarang banget mimpi gue sampe bisa masuk ke level dua macam yang ada di pilem Inception. Terus terang gue bener2 bisa relate ama tu pilem karena teori mimpinya bener2 pas banget ama yang biasa gue alami di malam hari.

Tapi, diluar segala teori stress itu, gue merasa sebenernya ini akibat nonton Dark Shadows. Kalo ga, darimana asalnya tu karakter vampir coba? Gabungan dari Dark Shadows dan sisa2 semangat gue membaca Alfred Kropp ditambah lagi gue kebanyakan baca berita soal pesawat Sukhoi jatuh. Temen2 dan keluarga gue bingung, kok gue segitu getolnya ngikutin berita ini, terutama alasannya karena gue punya romantisme aneh dengan Rusia (atau Uni Soviet); terbayang intrik2 politik dan intelejensia ala Mission Impossible atau James Bond, lengkap dengan mata2nya.

Kalo dipikir2, mimpi gue not bad juga seandainya dijadiin cerita. Minimal gue bisa songong ngebandingin ama Stephanie Meyer. Iye, vampir nyang nongol dalem mimpi lo berkilauan, trus duduk2 di bawah puun sama elo kan? Trus pacar2an. Kalo versi gue kage berkilauan, die bukan anak SMU emo dodol melainkan agen ganda yang licin, terlibat dalam sabotase distribusi perlengkapan militer, dan bisa menyusup dalam jajaran petugas lapangan pemerintah. Plus, taringnya panjang bener ampe gue ketakutan.

Jelas versi gue lebih keren... *PLAAAKKK!!*

Every family has its demons
[info]miki_sensei
Tim Burton oh Tim Burton, ada apa gerangan dengan dirimu. Nampaknya setelah Sweeny Todd (which is sebenernya terlalu aneh buat selera gue) nyaris tak ada kolaborasi Depp dan Burton yang bisa digolongkan sebagai 'nyaman ditonton'. Kali ini udah berturut2 lho, Mas Burton, dikau sudah membuat gue gondok setelah nonton Alice In Wonderland dua tahun lalu kini ente melakukan hal yang sama dengan film Dark Shadows.
Oke, I admit Dark Shadows feels a bit better than Alice In Wonderland, tapi bukan berarti itu bagus... why oh why!?

Pertama kali gue melihat trailer film ini, gue langsung demen banget dengan nuansa The Addams Family yang terpancar kuat dari potongan klipnya. Jujur gue memang dari pertama udah suka banget sama cerita The Addams Family, dengan segenap keanehan anggota keluarga Addams yang serba misterius, seram2 macabre, dan berbau supranatural, cerita itu sekaligus memiliki pesan kekeluargaan yang kuat. Begitu semangatnya gue nonton ampe hari pertama keluar di Indonesia, gue langsung nongkrong di bioskop, though sebenernya sih rencana semula gak se-ngoyo itu sih. Tapi pada hakekatnya, ya gue pengin buru2 nonton lah... duh.

Di tengah kesibukan dan kegirasan orang dengan film The Avenger, gue justru membeli tiket nonton Dark Shadows dan mengabaikan The Avengers, sebab gue lagi bosan dengan tema2 superhero.

Lha siapa sangka gue kena jebakan betmen?? Tau gitu mendingan gue liat Steve Rogers alias Captain America yang ganteng banget itu di bioskop, cuih cuih!

Sebenernya gue udah merasakan vibe yang kurang nyaman sewaktu intro bagaimana Barnabas Collins bisa sampe berakhir jadi vampir yang terkurung dalam peti mati besi selama ratusan tahun. Entah kenapa ceritanya tidak terlalu mengalir di situ, tapi okelah... intro. Mari lanjutkan saja, siapa tahu akan berkembang jadi lebih baik seperti di film Battleship kemaren.

Gosh... I can never be so wrong in my life. Tim Burton bener2 menipu gue lewat trailer2nya yang dipenuhi komedi slapstick itu.

Gue tidak pernah menonton Dark Shadows sewaktu masih ditayangkan dalam bentuk opera sabun dahulu kala, so gue ga punya koneksi romantis dengan film serialnya, gak tahu plot-nya, apalagi latar belakang soal karakter2nya. Entah memang Dark Shadows the serial memang garing seperti ini. Tapi sebodo amat! Objek penilaian gue adalah film movie-nya, dan bagi gue film Dark Shadow the movie ini bener2 serba nanggung dalam eksekusinya. Mau jadi apa? Drama? Horor? Thriller? Komedi? Satire?
Kurang lebih 40 menit pertama dalam film ini, nuansanya terkesan sangat gothic horor sekali; lengkap dengan mansion dipenuhi hantu, keluarga disfungsional yang penuh rahasia, kedatangan governess yang sama misteriusnya, dan klimaksnya tentu kemunculan vampir haus darah.

Anyway... gue tidak mengeluh soal pergeseran ambience yang tadinya seram2 syahdu mendadak jadi kocak2 jayus melibatkan vampir dengan pola pikir kuno yang harus terjebak dalam masa modern yang membingungkan. Believe me, gue suka dengan gaya Tim Burton yang itu.
Dialog2nya lucu, atmosfirnya yang kelam sangat bagus... tapi that's it! Cuman itu doang!! Ceritanya bener2 nggak solid, sangat kekurangan fondasi utama bercerita. Itu bahkan belom ngomongin karakternya cuy!! Tapi yang terutama membuat gue sebal dari film ini adalah kisah cinta yang dipaksakan. Kalo pake bahasa gue sih... ini kisah cinta sampaaahh!! Sampaaahh!! ARRGHHH!!! Demi Toutatisss!!

Dengan banyaknya karakter di dalamnya, emang rada sulit membagi peran mereka secara adil. Gue juga bingung mau dikasih porsi apa tuh karakter segitu banyak. But, if I''d got the chance to tweak the plot, then...

1. Cut the crap off that screwed love story, let's make it more dark-horror fantasy!
Menurut hemat gue, akan jauuuuuuuhhhh lebih baik jika cinta nggak dilibatkan dalam plot ceritanya. Udahlah... cabut aja dari plot. Lha ngapain juga? Adapun toh kacangan banget.
Menurut gue, Victoria Winters layak dijadikan the chosen one dalam film ini dan peranannya semestinya jauh lebih besar. Dengan banyaknya elemen supranatural dalam cerita Dark Shadows, rasanya jangan ragu menggunakan alasan2 semacam ikatan takdir dan nasib. Gue lebih seneng mendengar penjelasan bahwa kedatangan Victoria ke Collinwoods memang sudah suratan takdir ketimbang jadi kekasih vampir. Okay maybe a teasing or two from Barnabas, bolehlah... he's a vampire after all.
Tapi pada hakekatnya nasibnya terikat dengan keluarga Collins untuk membantu mereka lepas dari kutukan yang menggelayuti seluruh penghuni Collinwoods manor. So... then she became the chosen one for this family. A God gift for an ill fated family, entangled with curses and vengeance for centuries. 

2. Curse can't build itself like in stupid Japanesse B-horror movie 
Nah, asal mula kutukan keluarga Collins juga kurang dijelaskan dalam film ini. Kenapa keluarga ini bernasib begitu buruk? Menurut gue yah semua itu berawal dari Barnabas Collins, leluhur mereka. Gue rasa absurd sekali menjadikan Barnabas sebagai gentleman dalam film ini, toh doyan maen cewek dan dia juga mematahkan hati Angelique, penyihir jahat yang menimpakan kutukan ini pada keluarga Collins sebagai pembalasan dendam. Dasarnya Barnabas itu asshole, doyan perempuan dan doyan mematahkan hati mereka, dia tuh cowok manja kaya yang immoral. Karena perbuatannya pada Angelique makanya dia dan seluruh garis keturunannya dikutuk. Itulah ihwal kutukan keluarga Collins.

3. Make Angelique a tragic anti-hero, so us can relate to her feeling and her reasoning
Angelique terkesan sebagai one side character yang super keji dan sinting padahal menurut gue dia bisa jadi anti-hero yang tragis. Penggambarannya kurang kuat. Alasan dia mengutuk keluarga Collins jelas2 lebih dari sekedar patah hati doang, itu pemicu akhir dari tumpukan rasa iri hati dan kekecewaan, dan rasa ketidakadilan yang tidak terpuaskan. Angelique menderita sebagai pelayan rendahan dan merasa sangat terhina mendapati dirinya cuma sekadar dijadikan objek pemuas hasrat oleh Barnabas yang kemudian mengolok2 statusnya dan perasaannya. Cinta dan benci yang meledak bersamaan dalam diri seorang perempuan adalah rumus terbaik dari angkara murka yang teramat mengerikan. Itulah kenapa ada ungkapan; heaven has no rage like love to hatred turned, Nor hell a fury like a woman scorned.

4. Make a dysfungsional family as... really dysfungsional
Event dalam Dark Shadows sendiri mengisahkan kekacauan keluarga Collins generasi terakhir yang meratapi kutukan mereka, keluarga yang selalu berantakan--suami atau istri yang meninggal misterius atau pernikahan yang gagal. Elizabeth yang seorang janda dan gagal menjadi kepala keluarga. Roger yang pemabuk dan mengabaikan anaknya? David yang stress lantaran kerap didatangi hantu2 masa lalu tapi tak memahami maunya mereka seperti di pilem Sixth Sense. Carolyn yang digigit manusia serigala dan harus hidup dengan kutukannya sehingga jadi pribadi yang pahit (why not?? Ini cerita supranatural kan? Bikin Caroline bernasib kayak Remus Lupin yang menderita sepanjang hidup gue rasa lebih bagus ketimbang jadi twist begok yang ngeselin.)

5. Cabut karakter dr. Julia Hoffman dari cerita
Serius nggak guna banget tuh karakter. Seandainya dia itu plot device, kenapa perannya begitu minim sekali. Seandainya dia plot device, setidaknya gue berharap dia kaki tangan Angelique yang berdiam di keluarga itu, kaki tangan yang pada dasarnya terobsesi menggali hal2 supranatural sungguhan dan mengakibatkan kekacauan.

6. Every love turned to hatred is complicated, but maybe an small act like apologise can be a big step
So, ketika kubur Barnabas Collins digali lagi, justru itu merupakan kesempatan kedua baginya untuk mengakhiri kemalangan garis keturunannya dengan menebus kesalahannya pada Angelique. Bukannya pembalasan dendam. Jadi cerita ini berputar pada diri Barnabas yang dipenuhi kemarahan, dendam, dan penyesalan pada Angelique yang juga sama2 mendendam dan belum selesai rasa penasarannya.
Gontok2annya ya melalui persaingan bisnis yang kotor ala mafia with supernaturals. Tapi semakin film bergerak semakin dijabarkan bahwa dua makhluk supranatural ini (yep, the witch and the vampire), sebenernya mereka sadar dan sangat sadar bahwa seluruh masalah yang mereka ciptakan hanya akan menyeret dan menghancurkan orang2 di sekeliling mereka, tapi mereka butuh semacam kasalitator rekonsiliasi. Butuh tenaga penggerak--yang gue maksud ini pihak ketiga. Disinilah Victoria berperan sebagai orang luar yang mampu melihat seluruh permasalahan secara subjektif dari mata orang ketiga dan membimbing keluarga Collins untuk menghadapi bayangan2 kelam mereka sendiri kemudian keluar dari masalahnya.

7. Dramedy never hurts.
Pada akhirnya ini adalah cerita bagaimana sebuah keluarga belajar bersatu untuk menghadapi permasalahan yang mereka alami dan bukannya meratapinya, menumpuknya, atau saling menyalahkan satu sama lain.

Okay... mungkin penjelasan gue agak terlalu drama. Tapi.. well... sebenernya Zombieland juga cerita tentang sekelompok orang putus asa yang akhirnya menemukan sosok keluarga terhadap satu dengan laininya dengan dibumbui kekonyolan dan gory2 yang kocak. Gue rasa eksekusi horror dramedy dengan berbagai bumbu humor slapstick, macabre, morbid, absurd, dan rather stupid, juga bisa dilakukan terhadap film ini. Why not? They can pull it in The Death Becomes Her, I love that movie!!

Anyway... meskipun gue kecewa dengan film ini, gue tidak kecewa dengan penampilan Jhonny Depp dan Eva Green di sini, gak peduli hubungan cinta-benci mereka yang super ajaib. Lawakan mereka lumayan mengocok perut, apalagi dengan gaya Eva Green yang super sexy-slutty-bitchy dan Jhonny Depp yang macam vampire out of the coffin--literally.
Akhir kata... dengan berat hati, sisi fangirl gue masih mendorong gue untuk nonton film2 Tim Burton berikutnya, dan semoga... semoga... gue gak buang uang lagi. Sedih banget liat cerita dengan potensi, ambience, dan karakter utama yang sebagus itu jadi tersia2kan sama sekali.

Setelah ini rasanya sulit menegakkan wajah pada penggemar Twilight. Bella mungkin menderita psikotik yang bahkan tak bisa disembuhkan oleh kesaksian Rosalie sekalipun, tapi setidaknya dia masih berinteraksi dengan Edward untuk bisa jatuh cinta dengannya. Tidak seperti dalam film ini.

WHAT KIND OF SORCERY IS THISSS!!!??

Oke... harapan gue soal film vampir yang memuaskan gue bebankan pada film berikutnya (dan mungkin film bergenre vampir terakhir yang gue tonton tahun ini) Abraham Lincoln: Vampire Hunter. Meskipun gue rada2 jiper juga soalnya penulis naskahnya, Seth Graham-Smith, juga terlibat dalam penulisan naskah Dark Shadows. Tapi toh sutradaranya beda dan Abraham Lincoln: Vampire Hunter diangkat dari novel yang juga ditulis Mr. Graham-Smith, rasanya sih dia memiliki kebebasan tak terbatas untuk mengeksekusi cerita yang lebih mumpuni. Semoga kualitasnya tidak sekampret yang satu ini. Finger crossed!!

Saturday night fever
[info]miki_sensei
Mungkin sulit bagi kalian jika gue mengatakan bahwa gue pergi kondangan kemaren Sabtu itu dengan menggunakan... busway. Tapi percayalah gue melakukannya, lengkap dengan makeup, kalung, dan aksesori rambut. Dan apakah gue jadi tontonan orang? Tentu saja! Tapi bukannya gue tanpa persiapan lho; pertama2 gue melapisi gaun pesta gue dengan jaket berpergian, kemudian pastinya gue tidak mengenakan high heels gue saat menanti bus di malam minggu yang padat terkutuk itu. High heels bukan fashion yang tepat untuk bertempur di busway, apalagi dengan manusia sebanyak itu yang gelisah menanti busway yang tak kunjung tiba, ditambah lagi kondisi kemacetan perempatan Cengkareng yang bikin miris.

Intinya, trolling Saturday night traffic is trolling.

Rasanya sesuatu banget dhe saat gue berjibaku bersama kerumunan manusia dengan berbagai macam aroma di tengah kegelapan halte busway, yang, entah bagaimana, sumber listriknya tidak bekerja. Suasananya remang2 menakutkan, dan semakin mencekam dengan adanya peringatan lisan dari para petugas halte; "Jaga barang bawaan Anda, jangan biarkan kegelapan membuat Anda lengah,"

Okieeee dokieeee, Sire! I'm bringing my 400K shoes along inside my bag. Losing it means I'm losing my mind.

Lalu gue menunggu...

Dan menunggu...

Dan menunggu...

Dan... me--

KUPRETZ, NE BUSWAY KAPAN DATANGNYOOOOOO!!!??

Tigapuluh menit kemudian, setelah berebutan masuk dan mendarat begitu pintu kempa bus menutup dalam bunyi PFFFWWWTTTSSS keras, alunan lagu Peterpan yang sengau2 menyambut gue. Tapi lupakan soal Peterpan, gue masih harus berjibaku menembus halang rintang manusia2 supaya bisa mencapai posisi yang lebih nyaman.
Selanjutnya bus ngesot kayak hantu suster di tengah kemacetan dasyhat Daan Mogot yang untungnya nggak terlalu panjang. Setelah belokan menjelang halte Dispenda, suasana ramai lancar dan bus melesat menuju Harmoni tanpa banyak halangan kecuali gerombolan manusia dalam bus yang jumlahnya makin lama makin bhuanyaaakk.

Menjelang Harmoni, lagu Peterpan yang mewarnai perjalanan gue mendadak berganti jadi rintihan penderitaan Adele dengan Someone Like You, disusul suara muram Dido yang menyanyikan White Flag, lagu yang membuat gue bernostalgia pada seorang guru les Inggris yang cakep dan jadi kecengan seisi kelas, dan pemuda itu tergila2 dengan Dido. Dan gue ingat dia pernah ngasih petunjuk soal cipokan selama satu jam. Kuepreeeetzzz, gue sumpah mati ga kebayang apa rasanya cipokan sejam. Maybe he's a crazy ass English teacher.

Anyway, kembali pada masa kini dimana gue udah telat 40 menit dari jam yang tertulis pada undangan. Perut gue berkeroncongan keras, mungkin cancingnya udah maen rock and roll di dalam usus, syukur2 gue sempat makan sepotong roti cokelat sebelum pergi menantang macet malam minggu.
Sialnya masalah tidak selesai begitu saja, sebab ketika gue bertanya pada satpam dimana posisi Hotel Merlyn Park yang gedongnya tiada nampak di pandangan, gue baru sadar ternyata gue salah naik jalur busway.

SHIIITTTTTTTTTT!!!

Seharusnya gue naik yang ke arah Tomang-Mandala, sebab mulut hotel itu berada di KH Hasyim Ashari yang artinya kalo gue turun di Harmoni, gue harus mengelilingi satu blok Duta Merlin yang tidak bisa dibilang dekat. Dan karena gue sudah mulai kehabisan pilihan sekaligus kesabaran, terpaksalah gue mengeluarkan jurus duit. Gue terpaksa naik ojek menuju hotel itu dengan hati bersungut2 karena diharuskan membayar 10 ribu rupiah untuk jarak yang sama sekali tidak ada artinya jika ditempuh dengan motor.

SINTING INI SINTING!!
Tau2 sepuluh ribu udah melayang gara2 gue kekurangan info geoposisi. Anjrit... rasanya hati teriris sembilu.

Well, sesakit2nya hati, toh jurus duit gue berhasil membawa gue tiba di hotel dalam waktu relatif cepat. Selanjutnya gue hanya perlu menyisir ulang rambut, mengenakan sepatu kebanggaan gue dan face the music. Gue tiba tepat saat parade makanan berlangsung, sayang sekali parade itu tidak mencakup para pelayan yang jungkir balik di atas meja dan kursi sambil melontarkan obor2 api atau botol2 cocktail. Tapi mungkin imajinasi gue aja yang kelewat ngawur.

Anyway, gue menjadi orang terakhir di meja yang datang. Yeah, terlambat lagi...

Perlu kalian ketahui, seumur2 gue tidak pernah menghadiri kondangan dengan gaya perjamuan meja seperti tadi malam. Semua kondangan yang gue hadiri selama ini bergaya prasmanan dimana semua orang berdiri dan gosip berlangsung di atas piring yang isinya makin lama makin sedikit. Jadi kemarin malam adalah kali pertamanya gue merasakan resepsi pernikahan dalam bentuk perjamuan makan. Cukup menarik sebenarnya, dan gue sangat menikmati hidangan yang berlangsung nyaris tanpa jeda itu. Sesekali pelayan menuangkan teh dan air, memastikan gelas tamu tetap terisi penuh. Suasananya lebih mirip restoran Dim Sum ketimbang pesta pernikahan, tapi tentu saja kesan yang gue dapat soal resepsi pernikahan adalah versi berdiri-makan-gosip itu.

Perjamuan makannya sendiri dimulai telat, kurang lebih duapuluh menit sebelum kedatangan gue yang udah telat mampus itu. Bisa dibayangkan acara sesudahnya langsung mundur ke belakang. Dan semenjak gue akan pulang sendiri, semakin telat acara berlangsung artinya malam semakin larut dan terperangkap dalam taksi di tengah malam Jakarta bukan ide yang terlalu bagus. Gue tidak bisa membayangkan jam berapa gue harus pulang sebab gue harus berfoto bersama kedua mempelai yang salah satunya adalah rekan sekerja gue ini.

Well, pembaca... hal itu tak pernah terjadi.

Pukul sembilan lewat, dan banyak tetamu yang udah ngilang dari meja. Pada umumnya resepsi pernikahan emang seharusnya udah berakhir jem 9-an. Kecuali keluarga si mempelai banyaknya seamit2, yah, menjelang jem 10 baru bubaran. Tapi kali ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh dan acara foto bersamanya masih tertahan di daftar keluarga. Tak bisa dibayangkan kapan nantinya kolega kerja mendapat giliran.
Lalu mendadak pembawa acara mengumumkan bahwa acara foto bersama akan dilanjutkan setelah makanan penutup terakhir disajikan dan gue jadi what the heck...??

Tak lama kemudian salah satu personil fotografer menghampiri gue dan sejumlah teman yang bertanya2 dan memberitahukan berita mengejutkan; mempelai pria jatuh pingsan.

Oh you have to be kidding me. Mempelai pria jatuh pingsan??

Okaaaayyyy... in my morbid curiousity (and humor too) I had a brief thought that the groom has regretted his marriage already. But that a downright insult, okay... bad dr. Miki... bad dr. Miki.
Harus diakui ini salah satu dari sekian situasi yang membuat gue canggung. Antara gue ingin tertawa (karena serius... itu lucu banget, seperti adegan American Funniest Home Video yang terjadi di depan mata) sekaligus gue juga kasihan, mempelai mana sih yang mau pingsan di hari pernikahannya, tepat di TENGAH acara? Itu jelas2 insiden yang akan menodai hari spesialnya untuk seumur hidup, ya kan?
Dari ujaran yang gue dengar, nampaknya si pengantin pria kurang istirahat dan mengalami dehidrasi. Yah, emang ini dilema para pengantin sih, vitalitas tubuh bener2 diuji di hari-H perkawinan dan ketahanan masing2 individu jelas berbeda2.

Ketika gue mendapat kabar bahwa si pengantin pria masih tak sadarkan diri, gue memutuskan untuk pulang. Jelas sekali mustahil bagi si mempelai untuk melanjutkan acara, yet the clock is ticking and night is not getting younger. Maaf sebesar2nya dhe pada kedua mempelai, bukannya gue tidak menghormati acara kalian, tapi kondisinya sangat insidentil dan posisi gue tidak diuntungkan dalam hal ini. Gue merasa tidak nyaman pulang lebih malam lagi.

Ketika gue pulang itulah gue mendapati gosip sudah tersebar seperti bensin tersulut api. Sewaktu gue mengambil suvenir, pagar ayu yang melayani gue hanya seorang diri sebab dua temannya lenyap ke ballroom untuk nonton pengantin pria yang pingsan.
Saat gue masuk ke WC untuk mencuci tangan, gue mendengar gadis2 mengikik sambil berkaca, membicarakan soal si pengantin pria yang pingsan.

Kemudian saat gue turun di ekskalator, dua orang pria di depan gue tengah terlibat pembicaraan soal menjaga kesehatan sebelum hari-H pernikahan dan tentu aja itu berhubungan langsung dengan insiden mempelai pria pingsan.

Yang paling bikin gue ngakak adalah sewaktu gue melewati penjaga keamanan sebelum mencari taksi, orang itu bergurau dengan salah satu tamu yang pulang; ada yang pingsan ya? Pengantinnya?

Holy mother of cats... gue berani mempertaruhkan isi dompet gue, saat itu bahkan tukang pel lantai WC pun juga udah tahu soal mempelai pria yang pingsan. Jangan2 nggak sampe tengah malam, seisi hotel dari pegawai ampe tamu2nya juga udah tau ada mempelai pingsan di tengah acara.

Di dunia maya pun beritanya nggak lebih heboh, semua teman2 gue sudah berkicau di tweeter masing2 soal pengantin pria yang pingsan dan humor2 seputar insiden itu. Tentu saja gue tidak terkecuali. Itulah kenapa disebut morbid humour, sebab kita menertawakan kemalangan orang lain dan menganggap itu lucu. Apakah itu salah? Ya nggak juga. Salah atau benar itu cuman masalah penempatan waktu saja.

Gue sendiri sempat kesulitan mendapatkan taksi, sebab rupanya pihak manajeman hotel melarang taksi diluar merk2 yang bekerjasama dengan hotel untuk mengambil penumpang di pintu masuk. Akhirnya gue terpaksa turun ke jalanan untuk mencari2 taksi yang lewat, dan gue berhasil mendapatkan satu yang sebelumnya menurunkan penumpang. Setelah melewati kemacetan kecil yang muncul akibat tabrakan beserta keributan antar pengemudi yang siap baku hantam, perjalanan menuju rumah pun berlangsung mulus. Gue mengira segala keanehan malam ini akan berakhir ketika gue mendapati sopir taksi gue mendesis saat memandang gerai PHD di Tomang.

Makanan pembunuh... restoran pembunuh...

Semula gue cuman mendengar sepotong pertama dari ucapannya dan itu adalah 'makanan', dan sontak imajinasi gue langsung berkecamuk liar. Saat itu gue sulit menentukan apa yang dimaksud oleh si sopir taksi itu dengan 'makanan', karena bisa jadi makanan itu adalah pizza-nya atau manusia yang membeli pizza-nya. Jika opsi kedua yang terjadi, maka gue patut melarikan diri sebab gue yakin gue termasuk golongan yang dia sebut dengan 'makanan' itu.
Tapi untunglah gue mendengar sisa kalimatnya dengan lebih jelas. Meskipun ya tetep aja... freak.
   
Holy effing shit.... what's wrong with tonight? Why all the people I met is acting like crazy??

Terus terang, sopir taksi yang membawa gue pulang malam itu adalah satu diantara sedikit orang dengan keheningan yang menakutkan dan sesekali disela oleh gumaman dan desisan dari bibirnya yang hanya dia pahami sendiri maksudnya apa. Terang aja tiap menit gue berasa makin cemas, apakah gue bisa pulang ke rumah dalam keadaan utuh?

Kurang lebih mendekati lampu merah Cengkareng, mendadak dia membalikkan kepalanya dan bertanya pada gue yang sudah berasa mau ngicrit kayak cecurut.

Sopir taksi: Anda bermata minus atau plus?
Gue: Saya minus tapi kenapa lo nanya kayak begini?
Sopir taksi: Menurut Anda, kenapa Anda bisa bermata minus?
Gue: Genetik? (dan kenapa mendadak adegannya seperti dalam film Collateral, hanya saja peran sopir taksi ama penumpangnya dibalik...)
Sopir taksi: Bisa jadi tidak. Telur, mie, dan ayam broiler jawabannya. Sebab orang Indonesia goblok, sejak tahun 70'an udah dicekokin sama tiga barang itu. Makanya kesehatan mereka menurun jauh, gampang capek dan lemah. Penyakit berdatangan.

Gue hanya bisa meremas2 tulang hidung dengan gaya sok aristokrat, jawabannya sebenernya dari pertanyaan aneh itu ya gaya hidup manusia yang makin ngawur. Kerja terus nggak olahraga, makan terus tapi males gerak. Ogah berkeringat tapi maunya tetap kurus, jadinya pake obat2an yang merusak. Trus dari kecil udah dicekoki orangtua sama food supplement dan menelan berbagai bahan kimia tanpa membaca deskripsinya sama sekali. Ayam broiler, mie, dan telor hanya menyumbang sedikit dari problem kesehatan manusia di jaman sekarang ini.
But this guy so creepy I should shut my mouth. Jadi gue hanya memasang senyum palsu gue dan membiarkan dia berceloteh. Agak menyesal gue tidak membawa pisau lipat gue sebab entah kenapa gue merasa lebih aman jika memegang satu dua senjata menghadapi keanehan seperti ini. Entah ini hanya seorang sopir taksi kesepian yang ingin berinteraksi dengan penumpang wanitanya, atau ada alasan lain (yang lebih menakutkan) di balik pembicaraan ngawur soal ayam, mie, dan telur ini. Perbincangan yang makin lama makin tidak terasa nyaman sebab dia bertanya pada gue kenapa pria jaman sekarang punya payudara seperti perempuan.

Aduh mas, gue juga penasaran kenapa pria yang bodinya maknyus kebanyakan egoistical asshole, atau homo penakluk lelaki. Sementara yang berpayudara seperti yang ente bilang itu jadi resort terakhir buat cewek2 pecundang kayak gue ini.

Tak bisa digambarkan betapa leganya gue saat tiba di rumah. Gue bahkan tidak mau berkomentar lebih lanjut soal bincang2 teori konspirasi si sopir taksi. Entah kenapa dari omongannya, gue merasa dia tipe yang menyalahkan Amerika dan Yahudi karena membuat Indonesia jadi bangsa merana seperti ini. Ayam broiler, mie, dan telor merupakan konspirasi antek2 Amerika untuk menghancurkan generasi bangsa, blah blah blah...

And White House has a secret passage through Virginia... la la la.

Begitulah, malam berakhir dengan sejumlah insiden yang ditutup dengan sopir taksi aneh. Tapi mau tidak mau gue kepikiran soal teori konspirasi ayam broiler, mie, dan telor selama beberapa waktu sesudahnya. Sialen.

Are you a clanker or a darwinist?
[info]miki_sensei
Membaca buku itu memerlukan niat, gue akui itu. Tapi bagi gue faktornya bahkan lebih banyak lagi, contoh yang paling sering adalah mood, akhir2 ini mood gue sering berganti2. Sebagai info... gue cewek, jadi mestinya wajar2 aja kalo mood gue ternyata penggemar fanatik swing, dan meskipun gue tidak terlalu menyukai fakta bahwa gue adalah cewek sehingga mudah terkena mood swing, ya gue harus hidup dengan dark passenger ini seumur hidup gue. Seperti vampir bukan? Mereka benci karena mereka harus membunuh untuk darah, but hey... this is who I am. Just suck it off, literally.

Anyway... ada sebuah buku yang sebenernya udah lama banget gue beli. Tepatnya lebih dari setahun yang lalu, dan buku itu menumpuk di rak, tidak terabaikan sebenarnya, hanya saja entah kenapa gue tidak berhasil mengumpulkan mood yang cukup banyak untuk membacanya.

Buku itu berjudul Leviathan karya Scott Westerfeld. Asal kalian tahu, Leviathan sendiri adalah buku pertama dari Trilogi Leviathan yang akan disusul oleh Behemoth dan ditutup oleh Goliath.

Lalu tibalah waktu dimana gue kehabisan buku untuk dibaca dan mendadak gue berpikir untuk memaksakan diri membaca bukunya. Jika bagus, biasanya dengan cepat gue pasti akan terhisap ke dalamnya, dan lo tahu?

Sepertinya itu berhasil! Buku ini membuat gue keasyikan selama seminggu penuh!

So... sebenernya apa sih yang dikisahkan dalam Leviathan kali ini? Mari kita ikuti.

Tahun 1914, menjelang sebuah perang hebat yang nantinya dikenal sebagai The Great War. Eropa terbagi dua kubu yang berbeda ideologi. Kubu Darwinist yang menggunakan teknologi rekayasa genetika untuk menggunakan mesin2 perang, dan kubu Clanker yang menggunakan teknologi mesin diesel. Tapi tujuan mereka satu, untuk berperang. Ketegangan menyebar di seantero benua, semua orang yakin satu letikan api akan menciptakan perang hebat. Benar saja.
Pangeran Aleksander berada dalam masalah besar; di malam tanggal 28 Juni 1914, ayahnya, Archduke Franz Ferdinand dari Austria, bersama ibunya Princess Sophie, Duchess of Horenberg tewas diracuni oleh lawan2 politik mereka sendiri dari Austria. Ironisnya pada siang harinya mereka baru saja meloloskan diri dari percobaan pembunuhan oleh tentara Serbia. Tentu saja kambing hitam dari pembunuhan ini ditimpakan kepada Serbia dan bisa diduga Kekaisaran Austro-Hongaria langsung mengumumkan perang terhadap Serbia yang kemudian mendapatkan dukungan dari Rusia. Perang di eropa daratan tak bisa dihindari!!

Pangeran Aleksander mestinya tak perlu khawatir, karena ayahnya menikahi ibunya yang dianggap tidak memiliki latar belakang kebangsawanan yang tinggi, membuat namanya terhapus dari daftar pewaris tahta. Tapi lawan politik ayahnya tidak mengenal aturan seperti itu, selama Aleksander hidup, selama itulah dia memiliki potensi untuk turut dalam perebutan tahta. Oleh karena itu Count Volger dan Mr. Klopp membawanya keluar dari Austria di malam yang sama menggunakan kendaraan Stormwalker menuju Swiss. Dalam perjalanannya mereka hampir dibunuh oleh pasukan dari kekaisaran Jerman yang diam2 berkonspirasi dengan para bangsawan Austria yang membenci Archduke.

Sementara di tempat lain, Deryn Sharp, seorang gadis Inggris mencoba melawan adat ketika dia nekat menyamar sebagai bocah laki2 supaya bisa diterima di British Air Force. Dalam perjalanannya (dan kesialannya) mengendarai Huxley (makhluk setengah ubur2 setengah cumi2 yang bisa terbang) untuk tes masuk, dia malah terkena badai dan untungnya diselamatkan oleh pasukan dari sebuah monster terbang bernama Leviathan yang bentuknya seperti paus super bengkak yang bisa terbang. Rupanya kesialannya adalah blessing in disguise, melihat kemampuannya mengendarai Huxley di tengah badai tanpa kehilangan akal sehat, rupa2nya kapten Leviathan melihat Deryn memiliki potensi dan menerimanya untuk bekerja di kapalnya.
Kemunculan Leviathan bukannya tanpa sebab, mereka rupanya sedang melakukan misi rahasia yakni mengantarkan Dr. Nora Barrows menuju Konstantinopel untuk membawa sebuah paket misterius yang dipesan oleh Kekaisaran Ottoman.
Di tengah perjalanannya, Leviathan diserbu pasukan mesin terbang Jerman dan jatuh di pergunungan Swiss. Di sanalah Daeryn bertemu dengan Aleksander yang berada dalam masa pengasingan.

Tak kuasa menahan rasa penasaran, Aleksander nekat menemui pasukan Inggris tak dikenal itu. Hasilnya jelas2 adalah bencana. Tentu saja pasukan Inggris takkan membiarkan Aleksander begitu saja, mereka menangkapnya dan berupaya menginterogasinya. Hal ini memicu kemarahan Count Volger sebab identitas Aleksander tak boleh terkuak sama sekali atau segala rencana akan hancur. Perseteruan ini berakhir ketika pasukan Jerman muncul dan mencoba menghancurkan Leviathan beserta segala isinya, terjebak dalam situasi yang sama sekali tak menguntungkan akhirnya para bangsawan Austria ini memutuskan membantu orang2 Inggris dengan menggabungkan teknologi mesin perang mereka dengan Leviathan yang rusak parah akibat serangan orang Jerman.

Di akhir bab, Dr. Barrows mengungkapkan bahwa misinya mengantarkan paket rahasia itu sedang diupayakan untuk disabotase oleh Winston Churcill sehingga menciptakan ketegangan diplomasi antara Britania Raya dengan Kekaisaran Ottoman. Paket itu berisi telur yang nantinya akan menetaskan makhluk rekayasa genetika yang tidak diketahui apa fungsinya.

Gue rasa jelas banget ya, novel ini adalah cerita fantasi fiksi ilmiah dengan setting alternate history, tapi gue sangat menikmati cerita ini yang mengalir dengan jelas. Alternate history merupakan salah satu genre favorit gue, it's a history (which is cool already) with a twist--makes it uber-cool!!
Namun, akan lebih baik bagi kalian jika sebelumnya mengetahui tentang fakta2 sejarah menjelang Perang Dunia I, so bolehlah buku sejarahnya dibaca ulang. History is fun, you know!!

Dari segala aspek dalam novel ini, mesin2 peranglah yang membuat gue terpukau tiada henti. Mulai dari Stormwalker bertenaga diesel dan bentuknya mirip2 Gundam tapi jauh lebih kecil, Zeppellin yang merupakan mesin terbang, kemudian Dreadnaught yang bentuknya kayak laba2 raksasa dan mirip kapal perang yang bisa jalan2. Entah kenapa gue lebih suka Clankers ketimbang Darwinist. Menurut gue, rekayasa genetika sebenernya mengubah sistem kosmos yang tak pernah dipikirkan sejauh itu oleh manusia; alam memiliki caranya sendiri dalam melakukan rekayasa genetika dan itu dinamai evolusi dan berlangsung sangat lama. Sistem kosmos tak bisa dipotong begitu saja, tidak ada shortcut yang tidak memiliki efek samping yang sangat mengerikan di masa depan jika berkaitan dengan ubah2an DNA. Itulah kenapa gue masih lebih mendukung Clankers, meskipun teknologi mereka yah... mengotori lingkungan. Baik Darwinist maupun Clankers memiliki untung-ruginya, meskipun menurut gue sih lebih rugi Darwinist, sebab biaya untuk melakukan rekayasa genetika jelas2 lebih gede dari bikin mesin. Investasinya juga lebih beresiko; mesin hancur bisa dibenerin, hewan mati emang bisa diidupin lagi apa?

Plot Leviathan sendiri juga bergerak cepat dan sangat menegangkan, terutama di bagian Aleksander. Asal kalian tahu, Pangeran Aleksander di sini emang bener2 tokoh fiktif, nggak ada tuh yang namanya Aleksander anaknya Franz Ferdinand kalo lu cek di buku sejarah, berani jamin!

Tapi sekalipun Aleksander adalah tokoh fiktif, hal tersebut tidak menghalangi gue untuk menikmati novel ini. Aksi demi aksinya berhasil membuat gue berdebar2, bahkan sekalipun gue tahu Alek tak mungkin ditangkap Jerman, tetep aja gue keringet dingin saat Stormwalker yang dia kendarai bersama Count Volger, Mr. Klopp dan dua tentara Austria lainnya ditembaki Dreadnaught habis2an.
Di pihak lain, cerita Daeryn juga cukup menarik meskipun tidak semenarik Aleksander. Penjelasan soal mutan2 perang hasil rekayasa genetika sangat menarik untuk disimak, dan membayangkan Inggris tanpa Pea Souper di awal abad ke-20 setidaknya membutuhkan daya imajinasi yang kuat. Di sini nampaknya Charles Darwin berhasil memecahkan misteri DNA makhluk hidup, dan seperti di dunia yang kita huni, ide melakukan rekayasa genetika di dunia Aleksander-Daeryn adalah hal yang belum bisa diterima semua orang, apalagi para Clankers.

Leviathan adalah buku yang cakap dalam segala hal, plot, karakter, dan dunia fiksi ilmiah yang fantastis tertuang rapi di dalamnya. Gue akui Scott Westerfield sangat rapi dalam bercerita di buku ini dan gue sangat2 menyukainya, tidak ada satupun kalimat yang terasa bertele2 atau terlalu singkat.

My verdict is four and a half stars from five stars scale. Sebuah bacaan yang sangat imajinatif dan dipenuhi aksi perang yang seru disertai bumbu polik yang teramat menarik di era perang dunia pertama. Gue yakin lo pasti akan tergoda untuk mencari tahu soal sejarah PD I segera sesudah membaca novel ini. Saran gue, cobalah mempelajarinya.

Have fun reading!


Randomisasi di tengah restoran seafood
[info]miki_sensei
Hari Jumat kemarin gue makan malam bersama seorang teman untuk menghabiskan voucher restoran gue di Manhattan Fish Market yang gue udah beli beberapa waktu lalu. Dengan keberadaan kupon Disdus yang selalu gue ikuti promo hariannya ini, nampaknya gue membuka diri menjadi objek pemasaran yang sewaktu2 bisa menyiksa ketebalan dompet. Itupun masih pake acara ditambah dengan kartu kredit yang sudah dikabulkan oleh bank kurang dari dua minggu yang lalu. Yes... gue meninggalkan telepon yang sudah diputus milik orang yang sudah meninggal dan dengan suatu cara mereka menyetujui permohonan gue. Jelas ada yang tidak beres di sini. Gue lebih seneng menyebut kartu kredit ini sebagai... CC tembak, udah macam bikin KTP di Indonesia aja, ngasal bisa dapet.

Cuman di Indooooonnnn!!

Anyway, sebenernya gue merasa ini tak terlalu adil, dimana orang2 mendapatkan telepon yang menawarkan mereka pekerjaan dan kesempatan berkarir lha kok gue malah ditelepon untuk mendapatkan kartu kredit. Bukannya dapet duit malah diberikan fasilitas untuk menghabiskan duit. Haduh2...
Tidak mudah menahan godaan, dan orang yang menggunakan kartu kredit pasti memiliki kecenderungan menghabiskan uang lebih banyak dari mereka yang tidak memilikinya. Lagipula apa tujuan kartu kredit dibuat? Supaya dapet diskon kah? Anda salah, diskon itu cuma umpan. Dengan membuat seseorang mengira dia mendapatkan keuntungan dari potongan harga, justru dia melakukan transaksi dalam jumlah lebih besar ketimbang saat dia tidak mendapatkan diskon sama sekali.

Dengan kata lain... you've got trolled.

Anyway, gue tidak akan bicara soal filosofi konsumerisme dengan kartu kredit sebagai biang keladinya. Gue membicarakan soal makan malam bersama teman di restoran makanan laut yang pelayanannya agak lambat kurang semangat ini. Pembicaraannya sih ngawur seputar2, mulai dari komik, brand, ilustrasi, manajeman keuangan, masa depan, novel, film Korea, sampe PMS. Tapi disinilah keindahan gosip perempuan terletak, randomisasinya membuat siapapun bingung tujuh keliling!

Nah, hal yang cukup lama diperbincangkan adalah tentang pernikahan. Jangan kaget, pernikahan dan cewek itu emang sepaket. Itu adalah guilty pleasure kaum wanita selain memadu kasih dengan vampir... atau bangsawan? Atau... ah sudahlah.
Singkat kata, dia mengakui pada gue bahwa dia memutuskan untuk hidup melajang saja. Ingat kata orang; jomblo itu nasib tapi single itu pilihan hidup. Nampaknya temen gue ini sudah sampai pada titik dimana dia ingin melajang saja ditemani kelinci2nya.
Mungkin ada dari kalian yang bingung, bukankah menikah itu indah... punya suami yang mencintai diri lo dan anak2 yang berlarian teriak2 bikin lo gila karena berisik?
Jawabannya sederhana juga, sebab baik dia maupun gue sama2 yakin bahwa cinta hanya sebatas khayalan dalam novel2 roman picisan dan pada hakekatnya uanglah yang menang. Ingin bukti? Well, kalo ditembak cowok pasti ngeliat apa dia bawa mobil ato motor, apakah dia sering kasih upeti, apa kerjanya, apakah pekerjaannya berprospek? Pokoknya karir dan duit dulu dhe, cinta ada di nomer sekian, syarat doang jangan2.

Face it, bitches, pacaran butuh uang, kawin butuh uang, punya anak butuh uang. Darimana kita mencari uangnya? Di tengah dunia yang segala2nya menuntut pembayaran sementara gaji kok rasanya nggak naek2, berwirausaha kok dapat tekanan sana sini, dan peluang bisnis melempem karena krisis; gimana mencari duit yang banyak sampe setumpuk kayak di gudang uang paman Gober?
Yah, kalo di Indo sih gampang aja, lo bisa korupsi, jadi sales kartu kredit, menggelapkan pajak, jadi calo, atau broker gelap, atau jadi motivator yang kerjanya jualan buku motivasi. Tapi kami ingin jadi manusia yang punya martabat dan kami masih takut neraka, jadi mendingan cari duitnya pake halal aja. Meskipun makna halal itu masih jadi bahan perdebatan, apakah halal itu membanting tulang siang malam membuat album wedding sampe mau muntah, bikin ilustrasi ampe demek, atau berkeliaran dari bus ke bus trus teriak2 "yak, kami baru dari penjara, tapi kami tidak mau memaksa, lebih baik meminta dari Anda2 sekalian secara halal'.

Yeah.... SUUUREEEEEEE... halal.

Jaman sekarang kawin cuman di catatan sipil doang pasti jadi bahan pergunjingan; antara dikatain MBA atau ketangkep lagi rangkulan di kasur sama papa. Kalo kawin buka tenda pasti dikatain kampungan, nah... kalo kawin di tempat yang sederhana pasti dibilangnya pelit atau dianggap tak berpunya sehingga para tetamu malas datang memberikan restu. Itu baru ngomongin kawin, belom beli rumahnya, belom beli mobilnya. Pusing ah... gampangan jadi jomblo.

Meskipun tidak umum, pada dasarnya temen gue ini tidak ingin jadi manusia yang serba terpaksa; terpaksa menikah demi amanat orang tua, terpaksa punya anak demi membahagiakan mertua, terpaksa berhenti kerja supaya bisa ngurus suami. Kalo hidup udah segalanya terpaksa dan tidak dengan hati bahagia, pasti bawaannya pahit dhe. Trus buntut2nya ntar bilang nyesel. Wong kadang yang awalnya bahagia aja buntut2nya bisa bilang nyesel, gimana yang pertama aja udah terpaksa hayo?

Dan begitulah... semakin bertambahlah diversitas pilihan hidup temen2 gue, kebanyakan memang berumah tangga dan punya anak, tapi jangan aneh kalo orang2 kayak temen makan seafood gue ini jumlahnya makin bertambah. Dunia makin penuh sesak manusia dengan segala kebutuhannya yang tak terhingga, satu sama lain sikut2an; mulai dari rebutan karir sampe rebutan jodoh. Temen gue hanyalah salah satu dari sekian yang memilih menyingkir dari kancah persaingan dan menikmati hidup dengan caranya sendiri.

You are viewing [info]miki_sensei's journal