miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


Sebuah narasi tentang Goblin
miki_sensei
Ketika temen gue mengingatkan dengan santun bahwa tokoh utama film Goblin adalah orang yang sama yang menjadi om2 galau pembantai zombie di kereta ekspress menuju Busan, gue tidak menyangka betapa serial ini akan sangat hype. Sebagaimana veteran yang sudah tonjok2an di forum dan self-proclaimed Twilight-hater, entah kenapa gue jadi sedikit mengenang masa lalu nan unik itu; pahit, manis, ngakak2 tolol, dan menaiki hype train ekspress Twilight-hater sambil membantai fantard2 gemblung di atas atap dan di dalam gerbong. Pokoknya mirip Goong Yoo juga, nusuk2in zombie, bedanya ini ababil2 obsesif.

Tapi sekian waktu berlalu, gue belajar banyak dari pengalaman yang bisa dibilang tiada duanya itu. Gue belajar tentang gimana sih bikin storytelling yang bagus, apa itu deus ex machina, apa itu mary sue dan gary sue. Gimana menilai sebuah narasi yang koheren, world building, dst2.
Di saat bersamaan, gue, yang juga hobi nulis2 gak penting untuk membunuh waktu dan melepaskan stres, menyadari betapa gue tidak memenuhi persyaratan seberat itu. Oh tidak, tidak... gue bukan penulis yang baik. Setidaknya gue selalu kebingungan sendiri menuliskan story arc sebuah narasi. Apa tujuan dari perjalanan para tokoh utama dalam cerita, apa yang membuat pengorbanan dan pengalaman mereka penting?

Dalam Harlequin, mereka mencari cinta sejati. Lo boleh bilang ini kacangan setengah mati, tapi akuilah ini tetap sebuah story arc yang utuh. Sementara gue... ah, gue cupu.

Tapi dari sekian otodidak soal teknik menulis yang benar, ada satu hal lagi yang gue dapatkan:

Bahwa ngomel2 soal hype kayak beginian emang cuman buang2 waktu. Ironisnya waktu adalah satu hal yang melimpah di suatu waktu di masa2 yang lampau dan bahagia bego2 itu.

Seorang teman pernah mengeluhkan betapa Harry Potter merusak imej tentang Goblin. Nampaknya dia seorang purist garis keras dalam menilai bagaimana seorang pengarang mengintegrasikan sebuah mitologi di dalam ceritanya. Dia pecinta game high fantasy yang kompleks, semacam Dungeon & Dragon. Pandangan yang sepenuhnya gue tidak setuju. Buat gue setiap pengarang berhak mengintegrasikan ide2 yang menurutnya tepat dalam story arc-nya. Jika Tante Rowling merasa Goblin itu makhluk cebol yang berbakat jadi bankir. Kenapa tidak? Selama itu menarik, tidak bikin gue ilfeel, dan berada dalam Garis Besar Haluan Selera Pribadi, gue akan menyimaknya.

Oh... tapi gue emang nggak setuju Sherlock Holmes jadi sosiopat kekinian sok keren. Sori dah... kagak terima gue yang itu. Lagian buntut2nya kualitas ceritanya ancur juga dan kena protes sejuta umat. Told you so.

Pertama kali gue mendengar keluhan yang berasa congkak ini, diam2 gue tertawa dalam hati. Sejujurnya gue semestinya tersinggung karena gue adalah pecinta Harry Potter, tapi oh tidak... kegeramannya saat itu justru nampak imut banget di mata gue. Oh, no, Sir. You don't know even half of it. 
Dan gue bener2 menanti hari dimana dia akan meleduk kayak kompor ketika melihat Goong Yoo... adalah Goblin unyu. MWAHAHAHAHAHA!!

Bener aja... pacarnya tergila2 serial KDrama itu, dan sedikit banyak itu membuatnya tersengat. Cowok unyu2 supranatural dengan kekuatan super dan ganteng forever. OMAGAH, ULTIMATE FUCKING FANTASY! Oke... I feel you cowok2 yang dibandingin ama Edward Cullen, I feel you. Dibanding2in dengan tokoh fiktif itu rasanya hidup KZL banget.
Bisa ditebak dia ngomel2 lagi soal penistaan karakter Goblin. Tapi kali ini gue ga setuju, kenapa?

First of all... the actual term is dokkaebi. 'Goblin' is how Korean tried to find the similar word for idiot Westerners.
Secondly... hear me out.

IT WILL PASS!!

I'm sorry, tapi gue JAUH JAUH lebih gedhek sama superhero tren yang kayak nggak abis2. Tren ini eneg banget karena gue kayak ga punya pilihan selain superhero untuk menikmati film2 blockbuster sambil mamam berondong jagung. Tahun 2017 basically littered with freaking superhero movie!! At least sineas Korea masih ngasih elo pilihan. AT LEAST!!

Dude... let women has their own stupid tropes. It's not ruining the world as you know it, unlike Trump.

Anyway... menurut gue sih Goblin jelek.

Oh ayolah... jangan tatap gue seperti itu! Seperti elo, gue juga berhak nonton dan mengkritisi ceritanya.
Ya, film ini begitu hype-nya sampai2 gue dibuat penasaran untuk mencoba mengikutinya. Belom lagi didaulat sebagai serial terbaik di Korea sana. Pujian2nya luarbiasa, dan sambutannya tak kalah dasyhat.

Well...

Oke, gue nggak akan bohong dengan bilang bahwa gue suka dengan tropes Kdrama. Mulai dari cowok tsundere tipe C, cewek hebohan, dan kisah Cinderella. Bangunan2 indah, karakter2 yang serba cantik dan tampan berbalut baju bagus. At best... Kdrama itu sinetronnya orang Korea. Itu adalah cerita escapism dengan tropes yang sudah jelas.

In short... it's a guilty pleasure.

The thing is... Goblin menyandang seluruh tropes itu bagai lencana. Dari episode pertama gue menontonnya, gue hanya memutar bola mata sambil menertawai tropes2 yang mereka tampilkan. Dan demi Toutatis!! Durasi satu jam itu terlampau berlebihan menurut gue. Banyak adegan terasa berpanjang2 dengan lingering shot yang over the top menampilkan keindahan interior rumah dan landscape. Gue bener2 dibuat bosan di episode pertama, nyaris menyerah bahkan. Well, jika ini yang mereka sebut dengan Kdrama terbaik, gue benar2 mengkhawatirkan kualitas serial2 lainnya.

Tapi gue mencoba bertahan dan melanjutkan ke episode berikutnya. Still cringeworthy, still awkwardly written, and I truly hate Ji Eun-tak character. Namun di sisi lain, ada satu elemen yang menurut gue sangat menonjol sekaligus memukau sampai2 (tragisnya) elemen itu menenggelamkan cerita utamanya sendiri. Apakah itu?

The goddam Grim Reaper's universe!!

Cerita yang mereka buat soal dunia para Jeoseung Saja bener2 sangat menarik. Like, gue malah lebih senang melewatkan Kim Shin dengan kegalauan dan lore soal Goblin-nya yang terlalu obvious dan dituturkan berpanjang2 macam novel tapi ditampilkan dalam media visual.

I just wish this is a story about Jeoseung Saja all along. Mereka menciptakan hal2 kecil yang menarik soal para pencabut nyawa ini dalam serial Goblin. Bahwa ternyata mereka hidup di tengah manusia fana, tinggal di bangunan buatan manusia, juga butuh makan dan tidur. Tapi juga mereka makhluk abadi dan tidak bisa terluka sama sekali. Ada dualisme menarik yang ditampilkan disini, and actually I'm okay with the weirdness of it! No need to explain why, it's just it is.

IMHO world building para Jeoseoung Saja ini jauh lebih kompleks ketimbang si Goblin sendiri. Serius. Ketika mereka sepertinya nggak merasa perlu memberikan batasan pada Kim Shin soal eksistensi dan kemampuan astral yang dia miliki, sehingga buat gue dia ga lebih dari karakter OP yang tidak menarik, para penulis naskah justru bisa2nya merepotkan diri membangun dunia kecil pada pencabut nyawa yang justru hanyalah cerita sampingannya. Gue tergila2 dengan detail2 unik nan antik dari tiap2 individu Jeoseoung Saja dengan dunia mereka, kayak bagaimana penulis menghilangkan kesan angker Jeoseung Saja, memodernisasi konsep mereka dengan bikin cerita bahwa kerja mencabut nyawa itu nggak lebih keren daripada day job manusia. Atau ternyata mereka bisa dilihat manusia kecuali kalau mengenakan topinya.
Lalu dalam tiap tugas mencabut nyawa ada SOP yang perlu dilaksanakan; membacakan catatan kematian, membawa jiwa2 yang kebingungan itu dan duduk bersama sambil menenangkan mereka. Terakhir adalah membujuk arwah2 itu untuk mau meminum teh lupa ingatannya agar kelak mereka bisa bereinkarnasi tanpa dibebani memori akan kehidupan lama mereka. Jika arwah yang dicabut nyawanya adalah orang2 dengan banyak dosa, Jeoseung Saja juga menegaskan apa yang terjadi dalam hukuman yang mereka akan terima di neraka.

Lalu ternyata ada glitch dalam sistem seperti missing soul. Ternyata ada SOP juga kalo ketemu missing soul, si Jeoseung Saja yang bersangkutan mesti mengajukan ijin. Mereka juga mesti mengerjakan paper work.

The best thing is Jeoseoung Saja ini bisa nongkrong bareng sambilan mengeluhkan sulitnya pekerjaan mereka. Sebab... yea, mencabut nyawa itu bukan perkara gampang. It's a shitty job filled with tears and plea and anger of the dying person.

Oh, dan mereka juga punya internal affairs untuk memastikan setiap Jeoseoung Saja bekerja dengan penuh tanggung jawab. Jadi jangan coba2 korupsi ya!

It's... fascinating! Gue penasaran dengan konsep bahwa ternyata Jeoseoung Saja sebenernya adalah orang2 mati yang ingatannya dihapus dan bekerja di Pengadilan Neraka untuk menebus dosa2 mereka. Mereka tak punya nama, identitas mereka dihapus sama sekali. Apakah ini terjadi by consent? Bahwa si orang mati yang menjadi Jeoseoung Saja ini setuju untuk melayani Pengadilan Neraka sampai waktu yang disepakati untuk menebus kesalahan mereka di masa lampau supaya bisa bereinkarnasi lagi sebagai manusia? Atau ini hukuman abadi dimana orang2 mati ini terperangkap menjadi Jeoseoung Saja selama2nya tanpa ada kesempatan untuk bereinkarnasi?

Buat gue ini menarik sekali, sekaligus aneh, sebab dunia mereka lebih dieksplor sama penulis naskahnya. Hingga pada akhirnya, ini justru merugikan cerita utamanya. Karena gue jadi ga peduli apakah Kim Shin akan berhasil dalam perjalanannya untuk menemukan pengantinnya sehingga dia bisa berhenti menjadi abadi. Gue lebih2 tak peduli lagi dengan Ji Eun-tak, atau Yoo Deok-hwa, atau wanita pemilik kafe yang ternyata adalah reinkarnasi dari saudara perempuan Kim Shin di masa hidupnya.

Nope, I don't give a shit about them. Give me more Wang Yeo and his morbid world. I love his weird job and his interaction among his peers. It's genuinely funny and charming and kinda sad too. Forever bounded to walk on earth not remembering your whole memory, everything that you've experienced that makes you a person. Identity is what makes somebody as a special individual, what makes you as 'you'.
Man... It's should be Death Parade. It should be a mystery dramedy sprinkled with morbid humor while some immortal characters talking about death, remorse, and meaning of life in whimsical way.

But of course those are not the tropes from Kdrama. So they gave me boring story of Kim Shin and Eun-tak while his interaction with Wang Yeo is more interesting.

Dan gue masih ngerasa alasan Kim Shin dikutuk jadi Goblin itu mengada2, bahkan dituturkan dalam eksposisi paling laughable yang pernah gue liat. Like... seriously? You gave away your mystery just that? Lo menempuh cara model begini? Setidaknya dalam Beauty And The Beast, visualnya luarbiasa indahnya, dan mereka sekalian pake narator. Dan.. oh, itu DONGENG! Jadi narasi seperti itu sangat pas penempatannya.
Bisa jadi lebih menarik kalo alasan kenapa dia jadi Goblin itu nggak pernah dijelaskan dari pertama kali, dan baru pelan2 dibuka seiring dengan berjalannya cerita. Kenapa lo buka misterinya dari pertama coba... nggak seru banget ah!

Sebagai cerita, Goblin terasa timpang dipenuhi karakter2 yang sebagian besar tidak penting. Seolah2 si penulis cerita sebenernya kepingin menulis fantasi soal dunia para Jeoseoung Saja dengan Goblin sebagai karakter yang terjebak di tengah2 dunia mereka namun editor merasa hal tersebut tidak akan terlalu menarik di mata target audience mereka yang adalah para wanita. Lalu dia menarik sebuah novel dari tumpukan buku di atas mejanya, menyorongkannya pada si penulis naskah dan bilang.

"Nona penulis, saya suka dengan cerita Anda. Tapi ini akan sulit dijual pada target mainstream kita. Saran saya, cobalah baca novel ini, contoh terbaik tipe cerita yang disukai pemirsa; cowok sempurna yang OP kebangetan, dan kisah cinta dua dunia. Meledak di tahun 2010, membuat cewek2 menggila dan cowok2 merana selama empat tahun berturut2, bahkan menelurkan fanfic yang kemudian dibukukan dan juga diadaptasi filmnya."

"Oh, coba saya lihat, apa judulnya?"

Lalu dia melihat novel yang dimaksud;

"Ingat kata kuncinya. Menjual," si editor menegaskan.


Ok. Fair enough, Goblin nggak seburuk Twilight. Masih ada elemen yang sangat menarik dari serial itu yang sayangnya, harus dirusak dengan kisah percintaan yang nggak penting, karakter yang lebih nggak penting lagi. Dan tokoh utama yang terlalu Over-Powered.

Apakah gue membenci Goblin? Seperti temen gue yang ngeluh di status fesbuk mempersoalkan hype yang menistakan nama baik pergoblinan sedunia? No... I don't. It's just a serial, a hype one for sure. Buat gue sih jelek dan not worth my time, tapi buat lo yang suka banget sama Goblin, so what? Tontonlah, enjoy your guilty pleasure! Goong yoo itu ahjjusi ganteng kok. Gue bisa melihat appeal dari cerita ini, tapi ini sudah bukan masanya lagi gue menggemari hal2 begini. Apakah lo setuju dengan pendapat gue mengenai kelemahan2 cerita ini atau tidak, itu takkan mengurai kesenangan lo menikmati filmnya. Itulah indahnya guilty pleasure, tidak perlu ada yang dipersalahkan. Sayangnya Goblin bukanlah guilty pleasure selera gue. I'm more with Lockwood & Co. side.

Talking about Fantastic Beast
miki_sensei
Ada baiknya memang saat gue memutuskan menghindari trailer film Fantastic Beast And Where To Find Them sepanjang tahun 2016 kemarin. Gue jadi nggak terlalu mikirin juga enggak terlalu expect banyak dari film ini selain gue ingin tenggelam dalam Potterverse sekali lagi tanpa harus digerecoki Harry, Hermione, dan Ron terus2an. Buat gue kisah mereka sudah selesai, saatnya move on.
In fact, gue nonton Fantastic Beast And Where To Find Them dua kali. Sekali di Jakarta bersama teman2 dari klub buku, dan sekali lagi bersama dede gue di Singapura.

Secara umum gue menikmati filmnya dan bahkan terpukau dengan endingnya yang magical banget menurut gue. Tapi banyak yang tidak sependapat dengan gue, terutama anak2 dari klub buku mereka merasa underwhelmed dengan jalan ceritanya. Bahkan temen gue yang sesama penggemar Harry Potter aja, at best, bilang film itu oke.

Fantastic Beast... a Harry Potter spin off, is freaking 'okay'.

Mengejutkan.

Gue seketika dibuat bingung kenapa Fantastic Beast tidak mendapatkan cinta sebesar heptalogi Harry Potter. Mungkinkah karena naskahnya terbilang original dan bukan adaptasi lantaran buku aslinya sebenernya adalah false document yang cuman setipis buku tulis SiDu, apanya yang bisa diadaptasi? Justru tantangan ini malah menciptakan celah untuk membuat sebuah cerita yang nggak terpatok sama bab2 dalam buku,  memuaskan tuntutan fans yang enggak ada habis2nya. Bahkan menghindari mata2 tajam yang doyan membanding2kan lalu mencela.

Just, 'okay'?? WTF??


Run, Scamander! Run!

Karena ini Harry Potter, dan gue menghitung diri sebagai fans Harry Potter, maka gue mulai mewawancarai anak2 klub buku kenapa mereka menganggap film itu tidak istimewa sementara gue sendiri sangat puas. Rupanya kebanyakan dari mereka sudah nonton trailernya berulang2, ada pula yang ngikutin perkembangan hype-nya. Sementara gue tidak melakukannya sama sekali. Kemudian... sebagian dari mereka (termasuk gue sebenernya) jengkel dengan keputusan Rowling dan produser untuk menambah sekuel Fantastic Beast sampai 7 seri setelah sebelumnya dia mengeluarkan novel2 spin off tentang Hogwarts, yang, NO... I won't read it.
It's freaking Marvel Cinematic Universe all over again. Tren yang gue sangat tidak suka karena memaksakan segala2nya harus terhubung, plus... alih2 mendapatkan ide cerita lain yang mungkin berpotensi jadi franchise baru, gue dibawa ke universe yang itu2 aja. So uninspiring, it's maddening. Tapi gue paham kenapa Rowling kembali lagi pada Harry Potter yang membawanya jadi orang terkaya di Inggris, it's giving her a stable income from an established franchise. Lagipula setelah Brexit, segala2nya jadi tidak jelas, dan bahkan orang selevel Rowling pun butuh uang kalau2 keadaan jadi tambah kacau.

I get it why she's doing that. But I refuse to take a part with it.

Salah satu kekecewaan yang diutarakan temen buku gue adalah, bahwa untuk film yang judulnya Fantastic Beast And Where To Find Them, film ini sangat kurang unsur petualangan dan hanya terpusat di satu tempat saja, New York City. Dia membayangkan old school mystery adventure semacam Indiana Jones atau Allen Quatermain, yang selalu berpindah2 tempat berkeliling dunia untuk mengejar harta karun sambil berusaha mencegah si penjahat mendapatkan barang yang sama.

Lalu ada yang bilang juga story arc utama yang memiliki villain utama yaitu Gellert Grindelwald hanya membuat Fantastic Beast 'cuma' pengulangan dari Harry Potter seperti The Force Awakens adalah pengulangan dari A New Hope, dimana Kau-tahu-siapa digantikan Captain Gellert Grindelwald 'Sparrow'.
Ada yang bilang MACUSA is bunch of retarded assholes. Untuk yang satu ini gue keberatan, MACUSA cuy... they being bunch of retarded assholes makes perfect sense. Lagipula bahkan Kementerian Sihir di novel Harry Potter pun ga bisa dibilang kompeten. Harry Potter adalah cerita yang merayakan sosok anak2, jadi sangat wajar melihat orang dewasa digambarkan tidak mampu dan bahkan bodoh.

Tapi setelah gue berbincang2 dan berdiskusi. Harus gue akui... kesan gue terhadap Fantastic Beast And Where To Find Them jadi berkurang banyak. Indeed film itu memang seharusnya dibikin old school adventure ala Indiana Jones; setelah kecelakaan besar yang membuat keberadaan kaum penyihir AS nyaris terungkap, Newt menyelidiki misteri jaringan perdagangan satwa gaib di New York yang membawanya bersama Auror bernama Porpentina Goldstein terjebak di padang es penyihir Samoyed sampai gurun2 Timur Jauh. Yep, it's as cliche as you can get, tapi Harry Potter terkenal bukan karena twist yang baru atau storyline yang unik. It's fun and charming. The whole whimsicality which enticing people to read until dawn breaks and forgo the much needed sleep.
Kenapa harus terus2an di New York City... it's soooo Marvel, it's kinda boring. Kinda, tertolong pemilihan setting Prohibition Era yang charming dan gelap di saat bersamaan.

Lagipula keluhan mereka soal pemilihan Gillert Grindelwald sebagai villain utama juga valid. Kenapa oh kenapa?? Kenapa harus Gillert Grindelwald dimunculkan di seri pertamanya, heck... why even Grindelwald AT ALL? Siapa yang peduli dengan Grindelwald?? Kenapa harus ngurusin Obscurus?? Siapa yang mengira ide Obscurus itu tema utama yang menarik buat franchise Fantastic Beast????

Oh, you fucking shit...

It's.... riddikulus.

Ga percaya? Coba lo Google fanart Fantastic Beast dah. Liat aja dari thumbnail yang ditampilkan, hampir semuanya soal Newt mengejar2 Niffler atau Occamy. Atau Newt bersama binatang2 lainnya meskipun kalah populer jauh daripada si Niffler.

IT'S ALL ABOUT THAT FREAKING NIFFLER!! EVERYBODY REMEMBER THAT FLUFFY GOLD DIGGER!

Bukan Grindelwald

Bukan Obscurus.

Nobody gives a shit about that stupid black floating blob. Who cares about evil wizard with a penchat to rule the world? We had our share in Harry Potter heptalogy about power hungry Dark Wizard. He's called Lord Voldermort.

Gue jadi baper begitu mikirin itu. Galau berat. Temen klub buku gue bahkan lebih kejam lagi dengan bilang... Niffler itu satu2nya hal yang menyelamatkan Fantastic Beast di matanya dari kehancuran bernama masa kanak2 yang dikhianati. Dan harus gue akui, emang iya. Gue suka banget sama Niffler itu dan gue suka banget ruckus yang terjadi untuk menangkap Occamy yang segede gaban ternyata mesti dijebak dalam poci teh dengan pancingan kecoak. Absurditas kek gitu yang gue cari di Potterverse.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Obscurus and Grindelwald then.

Oh... man. Oh shit....


Fantastic Beast And Where To Find Them memang tidak semengecewakan The Force Awakens dimana gue keluar dari teater dengan kejengkelan yang membuncah. What an uninspiring, uncreative, piece of plagiarism!
Fantastic Beast? Gue bahkan nggak bisa bilang film itu jelek; di minggu2 pertama setelah pemutarannya, gue bener2 sangat menyukainya. Tapi dengan berjalannya waktu, ketika hype-nya sudah kendor... dan akal sehat akhirnya menghampiri gue sambil cengar cengir, gue mulai menyadari betapa sesungguhnya film ini tidak sesuai dengan harapan gue (dan teman2 buku gue.)

So... it's 'okay' I guess.

He works as a manager in Gringotts Bank, Seoul Branch
miki_sensei
Jadi kurang lebih beginilah perbincangan gue dengan seorang teman di rumah makan ramen terdekat. Entah apa yang terlintas di benak setelah perut kenyang dan kami menenggak teh hijau untuk mengencerkan minyak yang masih tersangkut di kerongkongan.

Gue : Jadi... on technical level, apa yang mereka maksud dengan 'Goblin' di sini?

Perbincangan itu muncul begitu saja setelah teman gue bilang akhir2 ini dia dilanda stress dan berakhir menonton sejumlah K-drama, salah satunya adalah Goblin. Dia sudah sampai di episode 8.

Ah... that Goblin.

Sejujurnya gue penasaran dengan film ini terutama karena timeline Facebook gue dipenuhi mereka yang fangirling sama Gong Yoo, a.k.a Om2 pembantai zombie di kereta menuju Busan. Gue lebih tercengang lagi dengan judulnya 'Goblin'.
First of all. Kenapa judulnya Goblin coba? Apa karena dia manajer di Bank Gringotts? Atau dia sedang liburan dari dunia kejahatan di Marvelverse? I mean... WHY? Goblin itu makhluk halus dari folklore Barat!

Eniwei... gue bahkan kaga tau sih namanya Gong Yoo pas ngeliat klip-nya pertama kali. Pengamatan pertama gue ya sekadar om2 berpakaian necis bisa berteleportasi melalui perantara pintu. Konsep yang bikin gue bener2 teringat para Adjustment Agent di The Adjustment Bureau. Yang terlupa cuma dia tidak mengenakan trilby hat saja. He should actually...
Ketika gue lalu berkomentar melalui status soal film ini, temen gue memberi info bahwa Gong Yoo juga bermain di Train To Busan dan The Coffee Prince. Gue ga tau The Coffee Prince, gue taunya manga Prince of Tea (kalo lo tanya gue apa ceritanya bagus? Gue cuman bisa miris dan bilang... well, gue malu gue ngebaca itu komik seriously. It's so bad in every cheesy way.)
Tapi gue tau Train To Busan. Film yang merupakan anak hasil perselingkuhan genre zombie dan film Snowpiercer, dibintangi om2 berwajah manis yang harus bertahan dari kebuasan para zombie tanpa pistol sama sekali. Hardcore!

Kembali ke pertanyaan, secara teknis sebenernya Om Gong Yoo itu makhluk apaan di film Goblin.

Teman gue menjawab : Dia immortal.
Gue : Ya. Tapi bicara fiksi, pengertian immortal sangat luas. Yang paling populer adalah immortal dengan diet eksklusif. Hanya sanggup mengkonsumsi cairan dengan kode A, B, AB, dan O. Atau dia harus menghisap jiwa orang untuk bertahan hidup?
Temen gue :  Dia seorang jendral di era Joseon yang difitnah dan dibunuh oleh pedangnya sendiri saat mencoba melindungi Kaisar dari manipulasi musuh dalam selimut di kerajaan. Tapi dengan suatu cara, dia hidup lagi ketika Yang Mahakuasa menemui jiwanya dan mengatakan bahwa dia akan hidup abadi sebagai bagian dari hukuman yang harus dijalaninya...
Gue: WHAT? Hukuman?
Temen gue : Yep, hukuman, mungkin karena dia banyak membunuh orang sepanjang karirnya.
Gue : Iya! Dan semua orang yang hidup di era Joseon yang berprofesi sebagai tentara! Macam mana pula keadilan di universe itu?? Masa itu karena hukuman sih?
Temen gue : Dan satu2nya yang bisa menghapus kutukan itu adalah ketika dia bertemu cinta sejatinya.
Gue : (menyeringai penuh ejekan karena kenal benar dengan tropes satu itu) Lo tau? Gue pernah mendengar premis yang serupa!

Iya, jawabannya adalah serial New Amsterdam, police procedural yang terbuai dengan fantasi dan diperankan olah aktor Game of Thrones, Nikolaj Coster-Waldau. Percaya atau tidak tapi demografi penonton genre police procedural itu sebagian besar adalah perempuan, maka jangan heran kalo genre ini bisa dikawinkan dengan paranormal romance. Gue sudah ketemu dengan police procedural yang dikawinkan dengan vampir, immortal, penyihir, dan pemburu monster. Trust me, I'm good at finding weird things.
Dalam New Amsterdam, detektif tokoh utamanya juga immortal yang terbunuh dan hidup kembali oleh intervensi supranatural dan satu2nya cara membatalkan kutukan itu adalah ketika dia bertemu cinta sejatinya.

HAHAHAHAHAHAHAHA!!

Temen gue : Lah kenapa elu ketawa...
Gue : YA IYALAH! Ini kayak gender swap Sleeping Beauty, dimana true love kiss akan melepaskan kutukan tidur abadi. Penekanan pada 'abadi'. Ini sangat konyol, tapi gue bisa ngeliat appeal-nya di mata cewek2.
Temen gue : Gong Yoo.
Gue : True. Gong Yoo. Jadi Gong Yoo adalah kamisama.
Temen gue : Ada shinigami juga.
Gue : Nggak teriak 'bankai' kan?
Temen gue : Dia tinggal serumah sama si Goblin, sebenarnya mereka saling bermusuhan karena Goblin itu pernah nyelamatin ibu hamil yang seharusnya mati dalam catatan si shinigami.
Gue : Dan shinigami ini perfeksionis, dan ibu hamil ini mengandung anak perempuan yang akan tumbuh menjadi protagonis cewek dalam film ini.
Temen gue : Yep. Dia disebut 'missing soul' karena dia harusnya sudah mati tapi dia hidup. Makanya dia bisa melihat hantu dan dewa dan goblin. Keberadaan dia juga menarik bahaya mendekat, karena eksistensi dia yang ambigu.
Gue : In which ngasi alasan part2 dimana Goblin kudu nyelamatin damsel in distress dengan gaya super keren yang bikin fangirling?

Tentu saja... dan tawa temen gue itu memastikan dugaan gue.

Well, tapi cerita ini tetep aja terperangkap dalam tropes yang paling mengganggu gue: I knew I love you before I met you.
Gue mau tanya sama lo pada. Tokoh utama berumur ratusan tahun dan pertama kali bertemu dengan cewek yang nantinya jadi jodoh dia ketika cewek itu masih janin dalam rahim. Coba katakan pada gue apakah itu nggak creepy? I mean... eewwwww. Kenapa setiap cerita yang melibatkan immortal selalu ada latar cerita kayak gitu? Kenapa nggak mereka ketemu begitu aja, dua orang asing yang kemudian saling suka. Kenapa kudu dibikinin kisah masa lampau yang rumit dan ditakdirkan bersama sedari di dalam rahim. Bayangkan ada lelaki dewasa yang mengintai anak perempuan, menantinya tumbuh dan...

Lo boleh ngemeng apapun tapi menurut gue itu 50 Shades of So Wrong In Many Levels.

Temen gue : To be honest, gue nggak tertarik dengan hubungan Gong Yoo dan Kim Go Eun. Gue suka bromance antara Goblin dan Shinigami nya.

Gue : Lo... nge-shipping Gong Yoo sama Lee Dong Wok???
Temen gue : Interaksi mereka lucu.

Oke...

Dan pada akhirnya ketika kami berpisah setelah bergelas-gelas teh hijau dan temen gue ini menceritakan bagaimana shinigami dan kamisama ini bersatu menyelamatkan Kim Go Eun dari para tukang tagih brutal. Kemunculan mereka yang diiringi lampu2 jalanan yang meredup dan padam satu per satu menggunakan deluminator milik Albus Dumbledore. Shinigami yang menghapus ingatan para penjahat dan Kamisama yang menggendong Kim Go Eun keluar dari mobil yang mereka belah jadi dua seperti semangka di musim panas. Kepala gue jadi berputar2 liar.

Sebenernya ini cerita apaan sih?? Ribetnya bikin gue muter2 keliling kompleks.

Living forever can get old after a while. Kim Shin (Gong Yoo) is a goblin who has immortal life as he watches over people’s souls. He lives with Wang Yeo (Lee Dong Wook), the grim reaper who suffers from amnesia but nevertheless does his job to help usher people’s souls into the afterlife. Shin’s nephew, Yoo Deok Hwa (Yook Sungjae), is a rebellious chaebol heir whose family has been caretakers of the goblin for generations. As Shin becomes tired of his immortal life, he contemplates whether to find a human bride to help him become human. Could Ji Eun Tak (Kim Go Eun), an optimistic high school student who falls in love with Shin, or Kim Sun (Yoo In Na), the likeable owner of a chicken restaurant, hold the key to Shin’s future?

Hmm hmm hmm hmmm...

Gagal paham. Coba lagi di situs yang berbeda.

Gong Yoo (Coffee Prince), Kim Go Eun (Cheese in the Trap) and Lee Dong Wook (Blade Man, My Girl) star in a supernatural romance that proves love can find its way past anything, including death. Kim Shin (Gong Yoo) is an immortal “goblin,” and has the rather honorable title of being the Protector of Souls. His roommate Wang Yeo (Lee Dong Wook) also happens to have the equally lofty, if thoroughly opposing, title of Angel of Death, and he acts as the storied grim reaper that claims souls. However, both these devilishly handsome angels have a problem: Wang Yeo has amnesia and Kim Shin wants to end his own (immortal) life. Unfortunately for goblins, the only way to defeat immortality is to marry a human bride. As fate would have it, Kim Shin encounters Ji Eun Tak (Kim Go Eun) a quirky, yet cheerful, girl who may be the answer to ending his cursed existence. Now, once responsible for protecting souls and watching them pass, Kim Shin tries to send his own soul to the afterlife. But when a slightly complicated method of suicide starts turning into true love, will our immortal goblin begin to regret his decision--where acting on that very love ultimately means the end of his life?

OH! I GET IT!

Oh ayolah, ini akan berakhir dengan keduanya jadi abadi bersama, ya kan? I mean... I exposed myself too much with stupid vampire stories. That's the story usually ends. 

Sigh... ini seperti Forever. Almost in the same tone, a hundred years old immortal in modern world trying to defeat immortality. Dan gue menonton Forever sambil fangirling Ioan Gruffudd dan frustasi karena ceritanya juara banget kacangannya.
Well... kalopun memang akhirnya seperti yang gue perkirakan, gue hanya akan mengandalkan temen2 gue yang melaporkan via timeline Facebook. Gue nggak tahan nonton K-drama bahkan sekalipun dibintangi Gong Yoo dan memuat meta-jokes paling ngocol dengan membuatnya berteriak2 ketakutan karena nonton Train To Busan.

Hmmm... Gong Yoo membintangi Train To Busan dan Goblin... you know what?

CROSS OVERRRR!!

Mari berspekulasi kenapa Om Gong Yoo bisa berakhir jadi kamisama di Goblin. Menurut gue jauh lebih masuk akal kenapa dia berakhir jadi immortal di Goblin. Dia digigit zombie di akhir Train To Busan dan memilih melompat dari lokomotif untuk mengakhiri hidupnya dan takdir menjadi makhluk lapar pemakan daging manusia. Bagaimana kalau zombifikasi yang menimpanya tidak membuatnya jadi undead pemakan daging manusia? Hanya menjadi... well, undead?

Yah, itu terdengar seperti Warm Bodies. Ya sudahlah.

P.S
Dialog gue dan teman gue mengalami banyak penulisan ulang. Gue nggak pernah ngobrol dengan pemilihan kata seformal itu, tapi arah pembicaraannya masih sesuai dengan apa yang kita obrolin di Ikkudo Ichi beberapa jam yang lalu.

A gap to fill, truthfully it's kinda weird...
miki_sensei
Walau secara teknis sebenernya yang gue lakukan ini ilegal... tapi sesungguhnya gue merajut ditemani oleh film2 animasi yang dengan mudah diakses di Youtube. Berhubung amigurumi yang gue rajut ini adalah pesanan orang dan harus diselesaikan dalam tempo sesingkat2nya, maka selama empat hari itu gue merajut secara ekstensif ditemani berbagai film animasi hampir non stop.

Penasaran dengan amigurumi yang gue rajut?

TADAAAA!! Tingginya 17 sentimeter.



Terimakasih kepada semua animator yang sudah menghibur gue dengan hasil karya mereka untuk menambah semangat menyelesaikan anjing ini

Oh, dan seluruh film animasi yang gue tonton ini diisi oleh karakter non-manusia. Hewan anthropomorphic. Sintaktik dengan karakter yang gue rajut tentunya; gue suka segalanya konsisten dan sintaktik, oke?
Hasilnya kepala gue diisi oleh tikus2 anthrophomorphic. Juga anjing. Juga kucing. Mulai dari Disney sampai Hayao Miyazaki, dan gue akan membahas yang lain diluar film2 animasi yang gue tonton dalam empat hari itu. Sebab tema dari seluruh animasi yang mengisi keheningan dalam kegiatan merajut gue selain bahwa karakter2nya adalah hewan anthropomorphic, mereka memiliki satu benang merah.

Sherlock Holmes!

Oh yeah yeaaah... that Victorian fictional character, not the anthropomorphic. Harus diakui pertama kali gue membaca Holmes tak lain karena dorongan manga Meitantei Conan. It's only natural, guys. Don't be too upset gue mengenal magnum opus Sir Arthur Conan Doyle melalui manga yang bahkan ga akan sudi gue baca lagi sekarang dan hanya bisa berdoa agar mereka segera menamatkan ceritanya.
Lagipula dari seluruh genre favorit gue, kisah detektif-misteri-petualangan takkan pernah gue lewatkan. Membaca Holmes hanyalah sebuah pelengkap penderita.

Eniwei, karakter ini begitu populer. Menjadi sumber inspirasi dari berbagai pengarang bahkan berbagai adaptasi dengan pola pikir dan konsep yang berbeda2. Tapi yang ingin gue ceritakan ini yah berdasarkan subyektifitas gue sendiri bertemu dengan Holmes dan inkarnasi2nya. Karakter ini benar2 lintas generasi, lintas genre dan lintas era.

Seperti yang sudah gue kemukakan di atas, gue pertama kali membaca Sherlock Holmes karena dorongan manga Meitantei Conan. Dan gue bersyukur perpustakaan SMP gue memiliki hampir seluruh edisi yang lengkap kecuali, ironisnya, The Study In Scarlet. Novel pertamanya. Gue baru membaca The Study In Scarlet ketika gue kuliah. Siapa yang sangka novel pertama dari seri Sherlock Holmes yang kenamaan itu berawal dari kisah balas dendam terhadap kultus Mormon? You've got to admit, Sir Conan Doyle painted Mormon cult in not so good light here. They're not that creepy, at least modern Mormon ones.

Bah, perkenalan gue dengan Holmes jauh sebelum Meitantei Conan, itu terjadi sewaktu gue masih membaca Majalah Donal Bebek. Betapapun gue rajin mengumpulkan, sesungguhnya koleksi Donal Bebek gue masih kalah lengkap daripada sepupu gue yang tinggal di Sunter. Berhubung dia jauh lebih tua dari gue, dia sudah berlangganan Donal Bebek dari awal2 penerbitannya. Luarbiasanya, seluruh koleksi majalahnya itu masih dia simpan dalam perpustakaannya, sehingga ketika tiap Natal gue bersama keluarga gue datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar lainnya, gue selalu catch up ngebacain koleksi Donal Bebeknya edisi lama.

Thus, disanalah gue mendapati komik Basil ini. Dia tikus, dan dia anthropomophic (nampaknya Disney punya obsesi tertentu dengan hewan pengerat ini.) Tikus ini benar2 cerdas, memiliki kemampuan lintas disiplin ilmu dan kemampuan pengamatan yang luarbiasa jeli. Karena dia... oke, dia Sherlock Holmes jika karakter itu adalah tikus anthropomorphic.
Lucunya, gue bahkan tidak tahu detektif Basil itu ada filmnya, The Great Mouse Detective--keluar tahun 1986, sampe gue duduk di bangku SMP. Gue bahkan tidak tahu Basil itu ternyata juga adalah adaptasi (tidak setia) dari novel karangan Eve Titus.

Terakhir kali gue menonton The Great Mouse Detective itu kayaknya waktu kuliah, minjem VCD-nya atau beli DVD bajakan di Binus. Gue lupa. Tapi ketika gue menonton film itu sekali lagi di tahun 2016, gue tertawa sekaligus tercengang2 mendapati karakter Disney membawa revolver, melakukan tes balistik, mengetes reaksi kimia dengan metode yang bahkan praktikum kimia SMA gue aja kagak sampe seribet itu, merokok, minum minuman keras, mabuk2an, dan pergi ke bar penari telanjang yang akurat seperti di era Victorian lengkap dengan klise perkelahian bar pula. Dan lirik yang dinyanyikan si tikus seksi penari bar itu... omagah, double entendre dari awal sampe akhir.

HOLY SHIT! THIS IS A DISNEY MOVIE!? OMAGAH!! HOW DID I MISS THIS FROM THE FIRST TIME???


A gun totting anthropomorphic mouse in Disney animated movie. Fucking win

This is so freaking entertaining!! Kapan lagi lo ngeliat karakter dalam fillm kartun Disney mabok sampe menggelepar?

Gue juga baru menyadari betapa universe yang ditinggali Basil sangat menarik. Kenapa? Sebab dia tinggal di universe dimana setiap manusia memiliki kembaran versi hewan pengeratnya. Basil adalah kembaran versi tikus dari Sherlock Holmes, dia bahkan tinggal di dinding dari flat di Baker Street 221B. Alamatnya sendiri ada di Baker Street No. 221½ B. Dr. Watson sendiri juga punya kembaran tikus bernama Dr. Dawson. Aneh bukan?

Ini membuat gue bertanya2 seperti apa kembaran versi tikus dari gue sendiri. Hmmm...

Fanfic maybe could answer it. But nope... I don't read fanfic from the story I love.

Tidak hanya itu, gue juga kaget betapa Basil sesungguhnya adalah tikus dengan ego yang bahkan lebih besar dari manusia, menderita bipolar, mood swing dan sangat obsesif. Ketiga sifat yang sekarang ini gue asosiasikan dengan Edward Cullen, Christian Grey dan berbagai cowo2 unyu supranatural yang ganteng forever tapi justru bikin gue ingin menginjak2 novelnya karena murka. Iya, terimakasih pengarang2 Young Adults novel sialan. Ini semua salah kalian!!

Everything is allright until Twilight. Sigh.

Artinya secara kepribadian, Basil bukan protagonis yang sempurna seperti kebanyakan karakter Disney lainnya. But MAAANNNN!! How he's looked so awesome and charming in the animated movie. You love his spirit, you love his relentlessness, you love his energy.
Highlight dari The Great Mouse Detective terletak di bagian klimaksnya, yaitu di menara jam Big Ben dimulai dari perseteruan di dalam mesin jam dengan ketegangannya yang terus meningkat sampai pergelutan di jarum jam yang diakhiri dengan konfrontasi yang terinspirasi dari The Final Problem yang menurut gue merupakan homage yang sangat brilian. Nah... klimaks di dalam mesin jam ini sesungguhnya meminjam ide dari anime karya Hayao Miyazaki di tahun 1979, The Castle of Cagliostro, yang langsung gue tonton begitu mengetahui trivia ini. Jika lo suka kisah petualangan old school kayak Tintin atau Indiana Jones, The Castle of Cagliostro adalah anime yang benar2 memiliki spirit genre itu dan menurut gue secara teknis bahkan lebih badass. Jika mesin jam dalam The Great Mouse Detective itu dibuat dengan bantuan komputer, maka dalam The Castle of Cagliostro, animator Jepang membuatnya secara manual gambar tangan.

Level animator... Japan. Sembah, sembah.

Dan gue suka banget Basil. Menurut gue dia adalah inkarnasi Sherlock Holmes terbaik sampe saat ini buat gue, bukan yang versi Benedict Cumberbatch... meh. Atau Jonny Lee Miller.
Iya, tikus anthropomorphic lebih keren dari aktor British paling dicinta para fangirl, yang serial televisinya melahirkan fandom dengan berbagai fanfic nya yang bahkan gue nggak berani mendekat kurang dari 200 km lengkap dengan hazmat suit. Maaf... gue seorang weirdo dengan pilihan nyeleneh gue sendiri. Gue pilih tikus. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Disney seakan lupa dengan keberadaan film ini sehingga tidak ada sekuel atau direct to DVD dari film animasi ini membuat The Great Mouse Detective mendapat status cult yang spesial. Memang jika lo bandingkan dengan warna2 yang dipakai Disney di film mereka yang berikutnya (era Reinessance), tone dalam animasi ini terbilang dark dan murky. But that's the reason why this animated movie is so amazingly awesome.

Bicara soal Hayao Miyazaki. Lo tau ga Miyazaki-sensei juga pernah bikin anime yang basically memparodikan Sherlock Holmes? Oh yeahhhh... it exists! It's called Sherlock Hound. Yep... yep, seperti namanya, mereka juga melakukan pendekatan anthropomorphic, dalam hal ini dunia Sherlock Hound benar2 murni didiami anjing2 anthropomorphic. Not really Zootopia.


Classic Miyazaki color, don't you think?

Pertama kali gue mendengar ini, gue tertawa... oh man... Japan. Freaking Japan. Oh ayolah! Ketika lo mendengar judul anime Sherlock Hound, lo tahu anime itu nggak mungkin serius. Camkan itu dalam otak lo dan ikuti aja iramanya. Gue sedikit tergelincir karena menganggap parodi ini terlalu serius, akibatnya otak gue sedikit meleleh.
Sebenernya gue udah pernah mendengar soal Sherlock Hound dari beberapa tahun yang lalu, tapi gue tidak tahu ternyata ini proyek Hayao Miyazaki yang juga berperan sebagai sebagai penulis naskah dan sutradaranya. Parodi Sherlock Holmes oleh Hayao Miyazaki??? Niiiiceeeee!! Tanpa berpikir panjang, gue langsung tertarik menontonnya, dan sejujurnya setelah membiasakan diri dengan art style, maupun bizzareness dalam ceritanya, gue nggak kecewa. Jejak Miyazaki nampak jelas dalam setiap episode Sherlock Hound; the tranquility of the sea and the sky, nice quite moments, old school planes aficionado, amazing dogfight (Miyazaki-sensei can't help it), strong female characters.
Strong female character?? In Sherlock Hound? Yep, Mrs. Hudson di versi ini adalah janda muda cantik yang menarik perhatian seluruh laki2 termasuk Watson dan Holmes, which is totally ngaco abis tapi kocaknya setengah mati. Dia bisa kebut2an mengendarai kereta motor, menembak jitu, dan berakrobat. WTF did I watch???

Tapi ini adalah parodi, mereka tidak menulisnya untuk jadi serius, jadi seluruh kesintingan itu sah2 aja. Toh tone dalam filmnya lebih condong ke arah all boys adventure seperti Tintin dan Indiana Jones.
Tepatnya Miyazaki memporak-porandakan setiap tropes dalam cerita Holmes dan menampilkannya pada penonton untuk ditertawai. Ibarat... oh, Holmes adalah karakter yang tidak tertarik pada hubungan romantis, NOPPEE... dia main mata dengan Mrs. Hudson si janda seksi. Holmes adalah karakter dari era Victorian? Noppeee... gue suka pesawat terbang dan kereta motor, so gue taroh dia di awal abad ke-20 dan bikin dia beraksi stunt diatas pesawat. Cerita Holmes selalu diawali dengan kemunculan klien di Baker Street 221B? Oh... mari buat dia pergi berpesiar dan di tengah jalan kapal pesiarnya diserang bajak laut Bengal. Dia membuat Profesor Moriarty yang kalem, dingin, dan penuh perhitungan jadi penjahat yang super hammy. It's so crazy and over-the-top you can't help but go along with the madness.

So... I spent 4 days long, rambling along with old animated flicks while crocheting like crazy cat lady. Why I pick Sherlock Holmes in mouse and dog form? Dunno... I just recently found Basil on Youtube and felt like watching that eccentric  anthrophomophic mouse with awesome ego just for the sake of nostalgia. Then somehow Youtube gave me another link about the dog version, then I decided to watch it too. Thanks Youtube!

Oh, why I don't watch BBC's Sherlock like other normal people do instead of talking furry animals? Maybe because I don't like it. And maybe the furry ones are far more interesting. So... move out Benedict Cumberbatch or whatever your name is, we've got Basil!

And that's about it. Enough rambling!


Disney's Fury Road (I wish...)
miki_sensei
Because it'll be so AWEESOOOOOMEEEE!!

Halo semua… sudah lama banget gue enggak update blog gue yang makin lama makin garing ini. Selain karena gue disibukkan oleh proyek paling kacau balau tahun ini. Merusuk seluruh rencana dan liburan gue di Singapura! Gue juga emang lagi males commit buat nulis.


Tapi kali ini gue ingin menulis, so… here we are.

Dalam dua hari berturut2 gue menonton Rouge One dan Moana. Untuk entri kali ini, gue akan membahas Moana, film animasi Disney kedua di tahun 2016 yang gue lebih semangat nontonnya ketimbang Zootopia yang baru gue tonton setelah temen gue sukses melancarkan bujuk rayunya.

Eniwei… apakah Moana bagus?

Ya, Moana bagus dan secara visual, Moana jauh lebih kreatif ketimbang Zootopia. Mereka menggabungkan elemen 2D ke dalam CGI-nya. Oh… dan ada Disney acid trip.

YEP… Disney acid trip di tahun 2016 terdengar seperti mitos dari masa lampau. Mungkin karena sutradaranya adalah John Clements dan Ron Musker yang menggawangi film2 Renaissance Disney, atau Disney akhirnya sadar dan mencoba keluar dari belenggu CGI dan mulai menggali sisi artistik 2D yang mereka tinggalkan.

Secara bangunan cerita, Moana jauh lebih terstruktur dan plotnya bergulir dalam pacing yang terukur ketimbang Frozen yang fondasi ceritanya lemah, tidak memiliki struktur bahkan pacingnya bergerak seperti batu yang mau menggiling Indiana Jones dalam intro The Ark of Covenant. Oh, betapa gue tidak menyukai film itu. Meh!

Tapi… ya, ada tapi di sini.

Tapi… masih ada sesuatu yang menggantung menurut gue…

Hmm, bagaimana gue menuliskannya.

Moana… ceritanya tidak istimewa. Plot point nya bener2 mengikuti pakem Disney yang sudah2 dan terasa klise di lidah gue. Tentang putri yang terkekang oleh orangtuanya, merasa terpanggil oleh petualangan besar dan kebebasan yang menggoda. Yang menyanyikan lagu soal keinginannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih (I wanna I wanna song.) Dan ketika akhirnya dia mendapatkan petualangannya, dia lalu bertemu dengan karakter unik dan berwarna. 

Oh… dia juga ditemani hewan lucu di sepanjang perjalanan. Yang ini bahkan disebut sama salah salah satu karakter dalam film itu dalam meta jokes yang anehnya dilontarkan lebih dari sekali dalam film ini, seolah2 si penulis cerita sesungguhnya muak dengan tropes yang kudu dia tulis tapi tak bisa melawan sistem sehingga dia memasukkan unek2nya dalam dialog2 karakter film ini, a.k.a writer revolt.

Following a trope it’s actually not bad per se, but it felt uninspired. Dan jika ini dilakukan oleh film diluar Disney, ini akan mengundang kritikan percaya atau tidak.

Gue tidak terlalu keberatan dengan trope-nya sih sebenernya. Yang bikin gue sedikit meh sama film ini adalah betapa film ini mencoba mengkuliahi gue soal ‘carilah jati dirimu’, ‘ikuti kata hatimu’. Mereka terus2an menggerus penonton dengan ucapan2 ini. Dan itu menjengkelkan!

This movie is kinda preachy… dan gue ngerasa bokap Moana bener2 useless abis, yang ada cuman buat bikin Moana pesimis dan menghalang2i impiannya. Serius… dialog yang muncul dari orang ini ga jauh2 dari ‘jangan begini, jangan begitu’. Kalo kaga, marah2 karena Moana bengal. OMG... sungguh karakter yang menjengkelkan!

Dalam cerita fiksi, memang sebuah karakter ditulis untuk memiliki peran tertentu pada tokoh utamanya, membentuk sebuah story arc. Tapi ketika karakter itu cuman muncul hanya untuk memberikan obstacle dan tidak memiliki kedalaman apapun… gue menyebutnya lazy storytelling. Dan iya, karakter bokap Moana adalah karakter paling lemah dalam film ini.
Lagipula gue bertanya2 alasan kenapa dia begitu skeptis, pandangannya bener2 seperti seorang non-believer. Dia tak percaya apapun dari mitos yang dikisahkan ibunya sendiri soal Maui dan Te Fiti. Di dunia dimana dewa dan monster hadir dalam wujud fisik, bagaimana mungkin seseorang bisa skeptis?? Kenapa dia begitu takut dengan lautan karena sahabatnya tewas dalam kecelakaan perahu bersamanya?? Seandainya mereka hidup di pulau yang dikelilingi monster2 haus darah, gue masih paham kenapa si bokap kekeuh banget nggak mau Moana mengarungi samudera. Tapi kecelakaan perahu?

Bro… mereka adalah kaum penjelajah lautan. Orang2 kek gini hidup dari kekayaan bahari dan belajar menghormati samudera. Mereka gak akan kapok untuk kembali melaut hanya karena kecelakaan yang menewaskan orang yang disayangi. Nggak percaya? Liat yang paling deket dah, lo liat masyarakat yang tinggal di tepi pantai Indonesia, yang menggantungkan hidupnya dari lautan. Berapa kerabat yang sudah direnggut oleh lautan dari mereka? Tapi apakah orang2 ini takut melaut? Enggak! Bagi mereka itulah lingkaran kehidupan, itulah takdir, dan mereka menerimanya. Spiritualisme inilah yang tidak hadir dalam film Moana. Jujur sebagai orang Timur, gue merasa penulis naskah kurang respek dengan spiritualisme non Barat.
Naskah Moana terasa seperti bagaimana orang modern memandang mitos masa lampau, padahal tokoh2nya adalah orang2 yang hidup dalam dunia mitos itu sendiri.

Saran gue, Disney. Jika lo membuat film tentang dewa, mitos, dan kosmologi diluar budaya Eropa Barat, sebaiknya jangan racuni ceritanya dengan skeptisme yang dipaksakan hanya karena ingin memberikan obstacle untuk karakter utamanya.
Lagipula alasan Moana untuk melawan kehendak ayahnya dan mencari Maui itu bener2 lemah. Ya, mendadak terjadi krisis pangan di pulau itu, tapi orang2 ini justru malah mencoba mencari penjelasan logis kenapa hal itu bisa terjadi sementara mitologi mereka jelas2 menyebutkan Maui adalah penyebabnya. Mereka tahu tapi mereka tidak percaya… WTF?? Kenapa Moana dan Neneknya jadi seperti dua orang terakhir yang percaya dengan dewa dan siluman di pulau itu? Kenapa cerita film ini dipenuhi orang2 skeptis??

Akan lebih masuk akal seandainya semua orang menggantungkan harapan pada Moana karena dia menemukan jantung Te Fiti, therefore para dewa memilih dia untuk mencari Maui dan mengembalikan keadaan jadi semula. Jadi karena Moana terpilih, maka hanya dia yang sanggup mengarungi lautan ganas dan menemukan Maui. Andainya orang2 ini percaya dengan agama mereka, ceritanya akan lebih nyambung percaya atau tidak.


Kemudian kesibukan Disney akhir2 ini menciptakan karakter perempuan kuat dan keren juga membuat cerita ini jadi kurang greget. Yang terjadi akhirnya Moana yang nggak tau gimana caranya berlayar apalagi mengemudikan kapal, nekat melaut, dan berhasil. Segalanya jadi mudah buat dia, alasannya karena Lautan membimbing dia. Just that. Dramanya nggak nonjok sama sekali.
Seandainya perjalanan dia terjadi karena keputusasaan dan bukannya panggilan hati atau apapun itu, itu akan memberikan sebuah realisme dalam ceritanya (daripada lo menampilkan skeptisme terhadap keberadaan dewa dewi di dalam universe yang beneran ada dewa dewinya) pertaruhan yang menegangkan dan ceritanya nggak akan terasa begitu uninspired.

Dan Maui… oh Tuhan, karakter ini sangat menyebalkan. Gue paham mereka mencoba memberikan tipikal karakter jerkass yang diam2 punya hal menyedihkan di masa lalunya. Ini dipake di Zootopia pada Nick Wilde, si rubah ganteng yang jelas2 lebih charming daripada Maui. Oh come on, Disney!
Masalahnya, gue nggak merasa Maui pantas untuk diberi simpati. Perlakuannya pada Moana bener2 keterlaluan, dan dia bahkan tidak sungguh2 menebus kesalahannya di akhir cerita. Keputusannya untuk kembali pada Moana setelah debat angsty khas Disney juga tidak dilatarbelakangi alasan yang kuat. Kenapa dia kembali? Iseng? Nggak ada kerjaan?


Dari built up yang dibangun nenek Moana, gue kira dia mengajari Moana mantera untuk mengikat Maui sehingga demigod itu mau melakukan perintahnya. Cuman seiring perjalanan waktu Maui akhirnya mengagumi tekad Moana dan bersedia menolongnya atas keinginannya sendiri. Yah… gue rasa gue memandangnya sebagai orang Timur dan bukan orang Barat. Mengikat dewa dengan mantera adalah hal yang wajar dalam supranatural ketimuran.

Meta jokes dia soal Moana yang adalah Disney princess yang suka bernyanyi itu juga bener2 membuat gue tepak jidad. WTF Disney?? Stop making fun of your own tropes! Kalo emang lo ngerasa pakem2 elo udah usang, gimana kalo lo berhenti menggunakannya alih2 mengejeknya tapi tetep dipake??

Kemudian lagu2 dalam film Moana juga masih terjangkiti penyakit soundtrack Disney masa kini dimana lagu2nya jomplang satu sama lain; lo bisa mendapatkan lagu etnik dengan paduan suara kelas wahid yang sangat magis, tapi juga lagu pop yang hip dan cool, dan juga lagu kepiting…

What the actual fuck??

Seriously, what the hell with the Crab god part?? It's so bizzare!

Saat kepiting itu muncul aja udah berasa aneh, kemudian saat kepiting itu bernyanyi, semakin aneh. Lalu mendadak visualnya berubah jadi garis menyala2 dalam gelap disusul Disney Acid Trip seiring dengan lagu yang nggak nyambung sama sekali dengan keseluruhan tone dalam filmnya. Ini... APAAAN OI???

Tunggu sebentar... apakah ini?



Sumpah, gue gagal paham dengan bagian itu sama sekali. Apa yang mereka pikirkan?  Ayo ngaku Disney, kamu terinspirasi randomisasi ala Don Bluth kan?

Nggak percaya? Coba dibandingkan lagu 'Shiny' dengan 'Let's Make A Music Together'. Lo bisa liat betapa dua2nya berbagi gaya yang serupa dalam hal cringe worthy dan out of place, dan gue yakin Ron Clements dan John Musker kesambet efek Don Bluth entah gimana caranya.



Fucking weird 'Shiny'...


This is the authentic Big Lipped Alligator Moment

Plus, demi Tuhan gue benci banget lagu villain yang dinyanyikan si siluman Kepiting! Gue rasa itu lagu villain terburuk Disney yang pernah gue dengar. Desain si kepiting juga sama sekali nggak kek something yang lo expect dari Disney, lebih kek hasil kerjaan Dreamworks. Comparing to the rest of the movie, the Crab god part stands out like a sore thumb. God! Hate that part so much!

Secara keseluruhan, film ini tidak buruk. Ada beberapa momen yang juara seperti saat Moana dan Maui menghadapi siluman kelapa. Sekuens itu bener2 seperti Fury Road tapi versi Disney. Desain siluman kelapanya juga bener2 unik satu sama lain dan mekanisme kapal2 tunggangan mereka itu sangat kreatif. Atau ketika nenek Moana meninggal dan menjelma menjadi ikan pari, momen itu terasa begitu magis dan indah sekali.

Twist ceritanya juga nggak buruk. Gue menyukainya. Tapi ya gitu, banyak kelemahan2 dalam cerita ini yang menghalangi Moana menjadi film yang bener2 membuat gue puas. Ayolah, ini Disney! Mereka yang membuat Simba meratapi tubuh ayahnya yang tewas terinjak2 Wildebeest dan membiarkan penonton menyaksikan kepiluan itu. Mereka bikin Beast jadi likeable dan Stockholm Syndrome jadi romantis.
Dibandingkan dengan Zootopia di tahun yang sama… gue rasa gue lebih suka Zootopia. Karakter2nya jauh lebih likeable dan chemistry antar mereka jauh lebih hidup. Tragisnya Judy dan Nick adalah karakter anthropomorphic. Bagaimana mungkin karakter hewan anthropomorphic bisa jauh lebih menarik daripada karakter manusia?
Heck, gue bahkan lebih suka karakter Basil dan Profesor Ratigan dari The Great Mouse Detective, film yang merupakan debut penyutradaraan Roy Clement dan John Musker, duo yang sama yang membesut Moana!

Pada akhirnya gue tetap teguh dengan kesimpulan gue bahwa film2 Disney jaman sekarang seakan terbentur pesan moral yang ingin diciptakannya. Entah itu ingin auto kritik terhadap tropes yang melekat pada mereka, atau ingin relevan dengan tuntutan masa kini yang menurut gue terlalu receh. Kenapa segalanya harus dipenuhi pesan moral dan petuah? Lebih dari itu, kenapa cara menyampaikannya makin lama makin menggurui dan sama sekali tidak elegan? Seolah2 penonton nggak akan paham kalo segalanya tidak diujarkan dan diulang2.

Atau dinyanyikan berkali2.

Moana menyanyikan soal menemukan jati dirinya sampai tiga kali. TIGA KALI! Satu lagu utama dan dua reprise. Biasanya paling banyak cuman ada satu lagu utama dan satu reprise. Seringkali hanya satu lagu utama saja.
Akhirnya meta jokes Maui ironisnya benar… kalo Moana mulai menyanyi lagi maka dia akan muntah. Gue juga berasa begitu.

Still… gue masih merasa film ini oke. Diluar ceritanya yang nggak terlalu istimewa dan unsur skeptisme yang tidak nyambung dengan konsep world building dalam ceritanya, Moana bisa dinikmati. Setelah Frozen membawa kualitas film Disney bertema putri2an melorot menjadi recehan, film ini jelas adalah sebuah perbaikan.

?

Log in