Under The Illusion of Cinematic Universe Success Story

Hmmm... terlalu clickbait ya judulnya. 

Maaph deh. 

Hal2 yang terlintas di benak gue saat Bumi Langit Cinematic Universe diumumkan ada dua;

- Wow... ambisi yang berani--lalu disusul dengan,

-You sure, Joko?

I mean, really really sure? Setidaknya, sudahkah masnya melakukan kontemplasi, perhitungan, mempelajari keadaan, dan mengorek sampai lubuk hati terdalam? Bukannya gue pesimistis anti film Indonesia yang mencoba meraih kualitas superhero Amerika jaman now. Sama sekali tidak. Tapi menurut isi hati gue yang sejujur2nya... gue meragukan ini. Kenapa? Sebab sudah terlalu banyak studio di Holywood yang mencoba resep yang sama, hitungan matematika yang serupa, disertai kucuran duid yang enggak main2 lalu ending2nya zonk. Ingat gak sama Dark Universe yang selalu jadi lelucon para stan MCU? Itu contoh kasus paling keliatan, sampe udah diumumin cast-nya, planningnya, segala2nya. Wuih pokoknya pede bener nih, terlalu pede malah. Yah, pede dan gegabah kan beti2. Bener aja. Dimulai dari remake The Mummy yang seketika berakhir tragis penuh hina dan cemooh (jujur aja mereka pantas mendapatkannya dengan kualitas film sepayah itu), hingga akhirnya studio Universe pelan2 memadamkan rencana Dark Universe dalam keheningan dengan kepala tertunduk malu.

Lalu ada DCEU... oh Tuhan, jangan mulai dengan DCEU, mengingat betapa malangnya nasib Zack Synder. Jadi kambing hitam tunggal dari kegagalan yang seharusnya ditanggung bersama2. 

Collapse )

A thoroughly cynical review about a cynical movie

Akhir tahun lalu, gue nonton film Fantastic Beast And Where To Find Them dan berakhir menyukainya... untuk seminggu pertama. Boleh dibilang gue cukup telat, karena sebagian besar teman gue, para Potterhead, mencibir terhadap film itu dari pertama kali. Mereka menganggap spin off tersebut sama sekali tidak memuaskan. Setelah diskusi panjang lebar dan gue pun memikirkannya dengan cukup serius (yea, jika ada orang yang doyan menyimak hoax dengan serius, maka gue menyimak film apalagi kalau film itu spin off Harry Potter) gue akhirnya nmempertimbangkan ulang pendapat pertama gue, sebab... setelah gue pikir2, iya sih... Fantastic Beast beneran melempem. Lebih jauh lagi, gue bahkan tidak berminat nonton sekuel2 selanjutnya yang katanya bakalan ada sampe tujuh film itu. Pret lah...

Nah, hal serupa terjadi lagi pada gue untuk film yang berbeda; Kingsman: The Golden Circle.

Film pertama Kingsman bisa dibilang adalah kuda hitam tahun 2014, di tahun yang sama John Wick juga muncul tanpa diduga dan seketika merebut hati para penggemar. Nah, tahun ini keduanya mendapatkan sekuel. Untuk sekuel John Wick, well, bisa dibilang film itu masih menempati posisi pertama film favorit gue tahun ini. Dan gue memang tidak banyak nonton akhir2 ini karena gue lelah dengan bombardir film superhero dan remake yang makin lama makin menjemukan.

Sementara untuk Kingsman... ah well, sedikit lebih rumit. Pertama2, gue menikmati film ini terutama karena humor2 kasarnya dan dialog2nya yang ancur, gue ketawa ampe mules... ditambah lagi kemunculan Sir Elton fucking John dengan falcon kick-nya yang sumpah absurd kutuperet. Tapi bahkan sekalipun gue masih menikmati film ini, harus diakui banyak hal yang mengganjal di hati. Bagi gue film ini... sedikit ganjil. Neverthless, gue merasa puas.

Itu sampai negara api menyerang. Hampiri semua kritikus film di Youtube yang gue ikuti memberikan review negatif!!

Gue langsung terperanjat. HAH? Apa gerangan? Film ini lucu, tolol dan emang ganjil banget. Apa yang salah?

Lebih kaget lagi argumen mereka sebenernya sangat solid, sebab mendengar penjelasan orang2 ini, perlahan2 gue mulai memahami sensasi ganjil yang menghantui gue sepanjang film bahkan sekalipun ketika gue tertawa terbahak2. Otak gue tidak cukup cerdas untuk menemukan kesimpulan dari segenap keganjilan yang gue dapati, tapi orang2 ini berhasil memberikan pencerahan.

Iya sih... emang nggak sebagus itu. Banyak plot point yang muncul diada2in atau karena keteledoran karakter yang mestinya kompeten dan bahkan sekalipun gue menyadari hal itu sewaktu menonton filmnya, meskipun gue memutuskan mengabaikannya. Tapi keberadaan plot model gini dalam filmnya semakin nampak jelas dan bertambah2 jumlahnya sehingga bahkan gue sekalipun tidak bisa lagi cuek. Gue mulai merasa tidak terkesan.

Lalu pun gue teringat, bahwa gue sebenernya nggak bener2 nyimak film pertamanya karena ada kasus drama sinetroniah akibat temen yang kelahi di awal film. Tepatnya gue ketinggalan 25 menit pertama dan separo bengong di sepanjang film. Ini tak bisa dibiarkan tentu saja, kunci untuk memahami kenapa kritikus mencerca sekuel ini sebegitunya dan mengapa gue merasa ada semacam kekosongan di balik keriuhan dan tawa itu, ada di film pertamanya. Oleh karena itu gue memutuskan untuk nonton ulang, dannnn....

Shit... emang Kingsman: The Golden Circle adalah sekuel yang bermasalah. Kini ketika euforia gue sudah berakhir dan gue mulai melihatnya dengan lebih jernih, gue baru menyadari betapa kacaunya film ini. Iya, kacau... gue serius mengatakannya. Pacingnya berantakan, karakter2nya jadi OOC dan melakukan keputusan bodoh yang bikin tepak jidad, beberapa humornya sangat-sangat vulgar, dan sederet masalah lainnya.

Lalu sesudahnya gue merasa sangat jengkel dengan Mathew Vaughn. Tidak seperti film pertamanya yang nampak seimbang dalam meramu unsur2 satir, humor, kekerasan, dan British charm; sekuel Kingsman tampil dengan vulgar, jijik, receh dan terlalu berpanjang-panjang. Entah apa yang ingin dicapai dari film keduanya, gue tidak paham. Spoofing James Bond era Roger Moore? Like what? Menggiling manusia dalam mesin penggiling makanan?? Anjing robot buas? Memasukkan para pecandu obat sakit dalam kerangkeng besar dan ditumpuk2 di dalam stadion futbal? I mean... WTF? Terlalu banyak WTF dalam film ini sampai akhirnya Kingsman: The Golden Circle hanya sebatas sekuens WTF satu menyambung dengan WTF lainnya. Plotnya setipis kertas, logikanya kacau balau--kontradiktif dari film pertama. Jika film ini berdiri sendiri, sebenernya nggak jelek2 amat... palingan gue menganggap ini film WTF norak yang akan gue lupakan beberapa hari sesudahnya. Tapi mengingat betapa solid dan charming-nya film pertamanya, sekuel ini serasa bagai penistaan film pertamanya.

Oke... oke... biarkan gue memulai rant panjang lebar gue sekaligus penyesalan akan peryataan2 gue sebelumnya yang ngebelain banget ni film. Ijinkan gue menjabarkan kenapa film ini busuk.

1. Villain yang enggak nendang
Sorry to say, tapi Poppy adalah penjahat yang payah, lebih dari itu... dia nampak seperti karakter film kartun Looney Tunes. Gue tidak bisa menganggapnya serius, idenya soal melegalisasi narkoba sama sekali tidak mengesankan. Kehadirannya sama sekali tidak memiliki wibawa, dan filmmaker mencoba meningkatkan rasio bahaya dari karakter Poppy dengan membuatnya menjadi sosiopat yang hobi menggiling anak buahnya sendiri ke mesin penggiling makanan dan dimasak jadi daging hamburger. Pertama2... ini tropes yang super bego, siapa yang mau kerja sama bos setengah gila kayak begini? Kedua, itu nggak menjadikan Poppy karakter penjahat yang solid. Iya, sebagai penonton gue yakin dia gila, tapi gue tidak percaya dia penjahat yang kompeten. Dia lebih mirip Tom dalam Tom & Jerry, karakter satu dimensi yang karikatural.

2. Eksistensi The Stateman
Stateman seperti Kingsman tapi dengan rasa yang jauh lebih hambar. Tidak ada satupun anggotanya yang menonjol apalagi kharismatik seperti Harry Hart, ditambah lagi kemunculan mereka yang cuman sekilas juga sama sekali tidak menolong. Lagipula coba lo pikirkan lagi... lo lebih peduli sama Hogwarts di Inggris atau sama Ilvermorny di USA? Ini juga sama! Siapa peduli dengan Stateman?
Keberadaan Stateman ini seakan dibikin supaya penonton USA bisa relate dengan ceritanya, which is... pretty stupid I guess, karena berasa banget cuman sekadar ada dengan screen time sangat minimal. Ini ide yang sudah tidak menarik dalam konsep, gagal pula dalam eksekusi.

3. Kematian karakter yang receh
Belum pernah gue sebegini tersinggungnya dengan keputusan penulis untuk membunuh karakter perempuan dalam cerita. Tapi yeah... gue marah Roxy The Lancelot Lady dibunuh begitu saja!! Karakter ini begitu potensial... dan lo membunuhnya seperti lalat. Ini bukan Game of Thrones, Bung!! Kematian Roxy seakan menyepelekan karakternya yang sudah terbangun kuat di film pertamanya, ditambah lagi perlakuan film ini terhadap karakter2 perempuan membuat gue bertanya2... apakah seksisme memang salah satu spoof Bond yang perlu dibanggakan dalam film ini? I think not even Bond tropes would be this vulgar and annoying.

Dan oh, omelan gue masih belum berakhir sebab mereka juga membunuh Merlin dengan cara yang... begitu bodoh sekali. Bodoh! Cuy... karakter lo hidup dalam universe dimana ada robot anjing pembunuh, tangan cyborg, android dengan senapan serbu, dan gel nano robot yang bisa menyelamatkan orang dari luka tembak di kepala. Lalu kenapa bisa2nya nggak ada gadget yang bisa mencegah ranjau meledak??? Mulanya gue mengira insiden ranjau itu mencegah Merlin beraksi bersama2 Harry dan Eggsy, sebab pembuat film ingin menonjolkan duet aksi dua karakter tersebut (meskipun ide ini sedikit licik dan menjengkelkan, kenapa tidak bikin Merlin tetap di belakang layar saja daripada mubazir?) Tapi tidaakkk... tidak... kalian cuma ingin penonton terkejut dengan kematian Merlin kan? Persetan!

Omelan gue masih lanjut lagi loh... sebab dosa Vaughn banyak dalam hobinya membunuhi karakter.
Iya, gue ngomongin Whiskey... kenapa lo membunuh dia dengan cara yang begitu brutal?? Kenapa?? Dia karakter yang broken, istri dan anaknya yang masih dalam kandungan terbunuh oleh aksi pecandu narkoba. Alasan kenapa dia mendukung War on Drugs sangat personal dan begitu relatable, berapa banyak keluarga mengalami hal ini di Kolombia? Di Meksiko?
Tapi naaahh... kalian membunuhnya sebab itu lucu. Sebab MELEMPARKAN MANUSIA DALAM PENGGILINGAN DAGING ITU LUCU! Sebab argumentasinya nggak lebih dari sampah dan persetan dengan kompleksitas masalah perdaganan narkoba. Sebab film ini terlalu campy untuk menjadi serius, tapi juga ternyata berambisi menyentuh masalah rumit yang menghinggapi bangsa2 di dunia. Oh maaf, maaf aja Kingsman. Lo ga pantas membahas narkoba. Lo ga pantas!! Tidak dengan gaya cengengesan kayak gitu!

What's wrong with you??

4. Adegan vulgar yang berlebihan
Di film pertama, seorang putri mahkota yang terpenjara menawarkan anal seks pada tokoh utama, memberikan sentuhan memualkan yang hampir2 merusak kesan filmnya secara keseluruhan. Gue merasa ide ini mengada2? Kenapa dia menawarkan seks?? Dia seorang PUTRI MAHKOTA, kenapa dia tidak menawarkan uang?? Itu jauh lebih masuk akal ketimpang nyodorin pantat. Dasar ngehek!
Adegan kecil ini sudah membuat gue kesal meskipun memahami alasan dari tounge-in-cheek gak berkelas tersebut. Sialannya, di film keduanya, bukannya tobat, filmmaker-nya malah ngegas lebih gila lagi. Yep... memasukan alat pelacak ke dalam vagina wanita lengkap dengan shot celana dalam terus masuk ke rongga vagina di dalam tubuh. Bener2 guyonan jorok abang2 dongok. Pertama2... membran mukus nggak cuman di vagina doang kali, mulut sama hidung juga ada. Kedua, di film pertama bukankah ada alat pelacak yang bisa ditanam dengan diselipkan dalam minuman atau makanan? Ketiga, scene ini nggak lucu, ini kampungan, nggak berkelas dan bikin malu. Lo seharusnya malu bisa ada ide kayak begini. Kasihan Taron Egerton terpaksa ngebelain keputusan tolol si sutradara dan penulis naskah demi profesionalisme. Singkat kata... LU GOBLOK, VAUGHN!!

5. Inkonsistensi karakter tokoh utama antara film pertama dan kedua
Seluruh rentetan insiden dalam film ini terjadi karena kelalaian Eggsy; pertama, dia lalai untuk membiarkan tangan robot itu tetap menempel dalam taksi alih2 mengisolasinya. Kedua, dia menjadi sangat tidak kompeten, dengan mudahnya dihajar oleh Tequilla. Ketiga... oh demi Tuhan, kenapa lo bisa2nya nginjak ranjau padahal lo memegang alat sapu ranjau canggih!?
Apa yang gue pikirkan dengan segenap keteledoran tokoh utama kita? Yeah... ini struktur cerita yang tidak bagus. Flow yang dipaksakan dan logika yang ditekuk demi memenuhi plot poin yang ditentukan, ini semua adalah ciri khas dari bad storytelling. Eggsy bukan orang bodoh, di film pertamanya jelas sekali ditunjukkan bahwa dia adalah bocah cerdas yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersinar. Lalu mengapa yang terjadi adalah kebalikannya di film keduanya? Gue benci inkonsistensi, dan gue lebih benci lagi ketika inkonsistensi itu muncul dalam karakter tokoh yang gue sukai.

6. Kisah romantis kacangan
Subplot roman antara Eggsy dan putri penggemar anal seks benar2 aneh, dipaksakan dan jelas sekali untuk  memuaskan penonton yang ngomel2 karena sekuens anal seks yang bener2 tasteless itu. Lo tahu? Ini ide yang bahkan lebih buruk dari anal seks itu pertama kali! Ini seolah mengingatkan gue bahwa ada adegan tolol semacam itu di akhir film pertamanya. Dan oh... si putri ternyata pacar yang suka ngambekan! Ketika Eggsy berterus terang bahwa dia harus merayu seorang perempuan di festival Glastonbury, putri Tilda seketika langsung merajuk tiada henti. Oh FOR GOD SAKE! Lo pacaran sama mata2, mbak!! Resiko pekerjaan namanya!!

Lalu si putri menuntut untuk dinikahi.

Gue langsung panas dingin.

Ini gue lagi baca Harlequin ya jangan2... atau gue lagi nonton sinetron.

'Mas... kapan kawin!? Kita udah lama pacaran, mama papa udah nanyain terus kenapa nggak kawin2...'

PREET LAH!


7. Adegan aksi yang sangat berantakan dalam eksekusi
Oh... lo ingin menyamai keindahan koreografi dalam John Wick Chapter 2? Oh heck... itu terlalu kejam, Lo ingin menyamai kegilaan koreografi dalam adegan pembantaian di gereja pada film pertamanya? Saran gue... jangan buat koreografi seperti film ini. Terus terang aja gue tertawa sinis di sepuluh menit pertama film ini, karena sumpah mati, jelek banget. Nampak sangat palsu, dipaksakan, tidak diedit dengan baik, dan gue sedikit pusing.
Tambalan CGI dalam adegan2 aksi film ini bener2 kelihatan jelas di mata. Terus terang aja, kalo emang budget tidak memungkinkan untuk menciptakan adegan outlandish yang diinginkan, mendingan ngalah aja. Bikin koreografi yang lebih grounded dan masuk akal. Percuma heboh2 kalo eksekusinya kacrut begini.
Gue nggak ngerti juga apa yang mereka lakukan pada tahap post production sebab sebenernya tim efek spesial juga banyak menggunakan metode practical effect ketimbang layar hijau seperti yang sering gue dapati dalam film2 superhero. Tapi kenapa hasilnya begitu buruk??? Duh.

8. Menyepelekan arti kematian
Biasanya masalah ini hinggap dalam film2 supernatural dimana kematian karakter2nya bisa dicegah dengan membangkitkan mereka sebagai vampir-ghoul-whatever. Masalah dalam konsep semacam ini adalah... tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan dalam ceritanya. Segalanya menjadi tidak berarti. Ceritanya jadi basi.
Kenapa memutuskan membangkitkan karakter Harry Hart? Karena fans menginginkannya? Well, mati ya mati, nggak akan kembali lagi. Itu sudah final. Penulis naskah sudah memutuskan karakter Harry Hart meninggal dalam sekuens yang sangat memorable dan emosional, hormati keputusan itu. Ketika dia kembali, seluruh emosi yang dirasakan penonton saat momen Valentine menembaknya jadi tidak berarti. Duh. Kematian dalam cerita yang berpijak pada realita seharusnya diperlakukan seperti kematian dalam dunia yang sebenernya. Ketika itu dilanggar... cerita lo berakhir menjadi lelucon.

Kesimpulannya... film ini bodoh, vulgar, dan tak sepatutnya dibuat. Tidak dengan konsep seperti ini. Satu2nya hal yang menyelamatkan film ini dari muntahan adalah performa aktor2nya yang solid dan likeable. Ya, mereka benar2 aktor yang kompeten sehingga sanggup menyelamatkan film dengan naskah model begini. Tapi tentu saja ada konsekuensi. Meskipun gue tidak bosan dari awal sampai akhir, pada akhirnya gue menolak untuk dibodohi dengan humor2 sementara plot yang ada begitu busuk. Lo bisa membodohi gue sekali, sebab emang gue nggak inget film pertamanya. Tapi tidak ada kali kedua.

Terus terang dibanding Man From U.N.C.L.E yang juga sama2 super stylish, Kingsman: The Golden Circle benar2 inferior. Gue lega produser memberikan kesempatan bagi Man From U.N.C.L.E dalam sekuel, dan gue berharap baik sutradara maupun penulis naskah sekuel U.N.C.L.E tidak lagi mencoba2 trik tak berkelas untuk mengejutkan penonton seperti yang dilakukan tim Matthew Vaughn.

Akhir kata, gue akan mencoba melupakan eksistensi film ini. Sama seperti Jurrassic Park dengan sekuel2nya yang anjrit (apalagi Jurrassic World yang ampas babi itu), film pertamanya tetap menjadi sci fi klasik yang tak akan lekang oleh jaman. Kingsman: The Secret Service adalah film standalone di mata gue, sekuelnya adalah fanfiction yang bukan canon sama sekali. Tidak ada yang namanya Stateman, tidak ada manusia digiling dan Harry Hart, bless his soul in the afterlife.

God... I feel so stupid for liking this movie!!

First rule of Nonton Bareng: Be on time, or something eventually would happened...

Seperti yang menimpa gue...

Percaya atau tidak. Semalam akhirnya gue menyimak Kingsmen: The Secret Service untuk pertama kalinya dalam durasi penuh dan konsentrasi, tepat sehari setelah gue nonton sekuelnya dan mendadak gue teringat betapa gue tidak memahami cerita pertamanya setelah menonton review2 Youtuber yang mengkritisi sekuelnya.

Maksud gue... yea, gue suka film ini; baik yang pertama maupun yang kedua. Lagipula ceritanya nggak ribet2 amat sampe gue nge-blank total. Tapi asal lo pada tahu aja, gue ketinggalan nonton film pertamanya selama 25 menit!!

Yap, duapuluh lima menit. Dan sebenarnya gue bisa tidak telat, tapi gue memilih untuk telat. Pertama karena gue berdua bersama seorang teman, nemenin satu teman lagi buat makan siang, dia baru datang tepat menjelang film diputar. Bayangkan!!

Kedua...

Nah, yang kedua adalah, sejenis cathastrophy terjadi.

Temen gue yang sebelumnya datang tepat waktu, menghilang!!

Waktu itu gue langsung nyariin temen gue sebab mendadak ketika pintu bioskop dibuka dan gue duduk manis di deretan kursi, temen gue dan pacarnya raib. Hilang tanpa kejelasan. Tentu aja gue langsung panik, itu dua orang kemana kok bisa ngilang!?

Putar2 gue mencari di lobi bioskop bahkan sampe turun ke lantai2 bawah mal untuk mencari. Panggilan telepon tidak dijawab apalagi Whatsapp. Intinya, dia lenyap.
Sedikit dongkol, bingung, cemas, dan sebagainya, akhirnya gue kembali ke dalam teater untuk menonton sisa film yang ada tanpa benar2 bisa menyimak apa yang sedang diputar di depan mata. Pikiran gue tertuju pada temen gue dan pacarnya yang menghilang dan apakah mereka baik2 saja.

Akhirnya ketika menjelang film berakhir, gue mendapatkan kabar dari teman gue yang menghilang ini. Rupanya dia pulang bersama pacarnya yang ngamuk2. Loh, kenapa dia ngamuk?

Well... dia marah sama temen gue yang telat ini. Soalnya kejadian itu sudah kali kesekian dia telat untuk nobar dan akibatnya semua orang terpaksa nemenin dia dan jadi telat juga (seperti sebelum2nya.) Waduh? Ngapain nemenin orang telat? Sederhana, sodara2. Ini atas nama solidaritas broooo... yeappp, di tahun 2015 konsep itu memang terdengar tolol luarbiasa. Dan kita bahkan tak lagi anak SMA. Tapi memang kami sahabat sejak SD, dan itu artinya sesuatu. Tidak enak rasanya meninggalkan dia begitu saja bukan?

Well, shit. Nampaknya itu keputusan salah. Seseorang jadi berang untuk alasan yang benar dan cekcok pun terjadi. Semenjak kejadian itu, si pacar menolak nobar kalo ada temen gue yang doyan telat itu juga ikutan. Bagi si pacar, dia sudah masuk daftar hitam.

Sejujurnya, gue bisa paham kemarahan si pacar. Serius. Ini memang masalah yang cukup mengganggu. Apapun alasannya, lo telat nyong! Plus, jelas sekali dia sudah memendam kegeraman dari kejadian sebelum2nya, kali ini rupanya toleransinya sudah mencapai titik nadir. Sial!
Bagi temen gue yang telat ini, dia tidak senang dengan reaksi amarah si pacar yang baginya berlebihan. Sebab untuknya, solusinya mudah saja; ya kita duluan aja masuk, dia telat mah gak apa2. Tidak perlu solidaritas apalagi marah2an macam begini. Dia tak merasa kehilangan separo film menjadi sesuatu yang mengganjal, tidak seperti gue dan temen gue dan pacarnya. Mindset kita berbeda, dan waktu itu gue merasa terpana dengan cara pandang ini. Tapi gue menghormati pola pikir ini, seaneh apapun gue menganggapnya. Dan sejak itu memang gue akan selalu masuk bioskop tepat waktu tidak peduli ada teman yang telat atau tidak. Sori bro... gue bayar tiketnya penuh, lo telat itu mah urusan elo. Solidarity could kiss my ass, leave it to highschoolers.

Akibat kelahi penuh drama sinetroniah itu, gue kehilangan 25 menit pertama dari Kingsmen: Secret Service, sekaligus nyaris tidak bisa menyimak dengan konsentrasi penuh. Intinya... gue kehilangan film itu. Makanya ketika gue nonton film keduanya dan merasa sangat menikmatinya dan terperanjat dengan reaksi negatif para reviewer film. Gue mendadak teringat, oh iya, drama sinetroniah di awal film itu berikut juga beban mental yang menggelayuti batin gue sesudahnya membuat gue gagal paham.

Maka akhirnya gue memutuskan menonton ulang film pertamanya. Apa reaksi gue?

Terpana. Ya gue terpana. Gue terpana dengan betapa banyaknya footage yang tak pernah gue tonton sebelumnya dan gue baru benar2 menyadari struktur film ini; bahwa baik plot cerita dan masalah yang disodorkan...

It's very Young Adult novel.... like, seriously.

Though I'm usually not a fan of Young Adult novel (since the story tends to be sucky and unbearable filled with fucking emo teenagers searching for truuuueeee loveeeee--oh no! Oh yes!) this one could be a solid good Young Adult novel if it choose that medium. No joking, the idea and concept reminds me of Harry Potter or Percy Jackson, well... especially because there's some kind of 'education and learning' in every of them. Harry Potter is learning to be a wizard. Percy Jackson is learning to be a proper demigod.

Eggsy, learning to be, eh... ass kicking spy. Don't laugh, it's enjoyable!!

This Young Adult novel thingy of a movie, it hit every YA novel thropes without being cliche, sometimes it's not even cliche.
The characters are likeable, the protagonist is GREAT! I like Eggsy so much, he could be a shonen manga protagonist with all his foul mouth and screams (a good likeable one), I like Galahad and Merlin. Heck, even the villain is so enjoyable; the chemistry between Valentine and Gazelle is so good!! I like seeing them bantering each other, exchanging dark humor and mild insult. It wasted no character, the pacing is perfect.

No shit Sherlock! This movie has every single thing I want in a Young Adult novel! I can't believe it! A very compelling plot with interesting world building and strong myth of its own. A likeable teenage protagonist with some baggage but not wimpy. A great mentor figure (a handsome charming one too, gyaah!) A strong female character (who has her own interesting arc!), an interesting relatable villain who teamed up with also a great female villain. Strong side characters. Great fanservice, oh yes, a group of sharply dressed chilvarious gentlemen who also happened to be badass super spies?? Are you freaking kidding me!?! This movie successfully pandering itself to each gender; male and female.
The only complaint I had in this movie is the ass fucking idea. That's offensive and leave a bad taste. But generally I love every second of it!


Dan keseluruhan hal itu... membuat gue meratapi fakta bahwa gue gagal menyimak seluruh keasyikan ini di gedung bioskop, karena sebuah drama. Kenapa oh kenapa?? Kenapa gue membiarkan ini terjadi? Apakah jika gue meninggalkan teman gue maka sampai detik ini kami masih bisa nonton bersama? Tanpa veto keras dari si pacar yang kesal (sekarang sudah jadi suami pula.)

Well, elo bisa belajar dari kejadian yang gue alami. Masuk bioskop tepat waktu. Sesederhana itu. Dan seandainya lo punya teman yang doyan jam karet... mending nggak usah pake solidaritas dhe, tinggal aja. Takutnya nanti akan menjadi duri dalam daging, api dalam sekam seperti yang menimpa gue dan teman2 gue.

Sekian curhat gue kali ini.

Me comparing Habaek and Blackbold

Hold on, and let me explain...

Pada suatu hari yang membosankan saat menanti donlotan yang super lama karena akses internet secara misterius tidak memperkenankan gue mendapatkan kecepatan maksimal. Ada dua hal yang terjadi;

Pertama2 gue memesan segelas kopi Tuku dari... Cipete ke Slipi.

It worked. Seriously. Gue suka rasa kopinya, kental dan punya taste yang unik dibanding kawannya yang banyak cababgnya dan lebih populer, Starbucks. Sayangnya gue terkena maag sesudahnya... jadi nampaknya memang kita tidak berjodoh. Enzim dalam lambung gue berkata tidak.

Kedua, gue nonton teaser trailer dari Kdrama.

Yep... I'm THAT desperate!! Hal2 yang terjadi karena didorong rasa bosan itu terkadang mengagumkan.

Sebagaimana lo tahu, dan gue akan mengulanginya lagi dengan senang hati bagi kalian yang tidak tahu: Gue gak pernah melihat appeal dari Kdrama. Banyak hal yang menghalangi gue menikmati fenomena yang gue adalah target audience-nya dan sejujurnya bukannya gue tidak bisa menikmati guilty pleasure romance yang kalo dipikirkan secara rasional... saran gue adalah hentikan itu. Guilty pleasure dan rasional adalah dua hal yang sudah pasti nggak boleh digabung2. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itupun gue tidak tahan dengan tropes2 yang disuguhkan.

Namun saat itu gue sedang desperate sama rasa bosan menjijikan, dalam kesendirian dan kegalauan. Maka ketika teman gue di Facebook membagikan berita soal Kdrama terbaru yang dibuat untuk menggantikan Kdrama populer sebelumnya berjudul Goblin (yep... I watched that garbage, it's garbage) berjudul The Bride of Water God, maka mau tidak mau gue harus membaca berita itu. Tidak bisa tidak. I'm sucker for another torture at that time.

Terutama karena gue mengira itu sejenis cerita Percy Jackson, lo tau... mitologi yang dibawa ke ranah modern dengan dialog2 catchy ala abege dan sangat gimmicky. Buku pertama sampai ketiga oke... lama2 jadi monoton dan gue bosan setengah mati dengan franchise itu. Kalau mau mengambil ide mitologi yang dibawa ke ranah modern, tontonlah John Wick dan John Wick Chapter 2. Itu adalah mitologi Yunani modern tampil dalam bungkusan action-noir-fantasy yang over-the-top bagai nonton konser rock and roll dan lo berakhir jatuh cinta sama Keanu Reeves. Sompret.

Kembali ke Kdrama...
Iya, gue mengira itu sejenis Percy Jackson dan terus terang saja gue menyukai mitologi. Kdrama yang mengambil ide dari mitologi Korea? Kenapa tidak?

Tapi rupanya gue salah. Bukan Percy Jackson melainkan lebih kayak Marvel's Thor. Tokoh utama dewanya bahkan mencari batu gaib bertuah di dunia kaum fana untuk mendapatkan kembali singgasananya. Jadi ini akan dipenuhi lelucon fish out of water dan gue setengah berharap batu gaib bertuah itu adalah Infinity Stones.

Harus gue akui... it's kind of interesting. Pertama karena Dewa Air ini rupanya bukan karakter yang menyenangkan, he's an egoistical narsisstic prick. Dia memaksa tokoh utama wanitanya untuk jadi babu dia karena wanita ini berasal dari garis keturunan keluarga yang diperbudak oleh si dewa air dari masa lampau. Jadi dia sama sekali bukan Kim Shin yang honorable dan heroik, this one is an asshole. You can say I'm intriqued.

Karenanya gue pun mencari2 bocoran filmnya yang baru diputer 10 Juli ini dan mendapatkan cuplikan 5 menit Pilot episode tanpa subteks sayangnya. 5 menit ini rupanya memberikan penonton gambaran kayak apa sih karakter Habaek si dewa air ini. Mengisahkan tindak tanduknya ketika masih di khayangan... dan semakin lama gue nonton gue semakin menyadari dengan cukup terkejut.

Production value-nya sangat bagus untuk TV serial. Yes, it's obviously a set dan ditambal sulam dengan CGI yang agak geli2 gimana liatnya. But geez, it's a damn good set!!
Lalu akhirnya gue teringat, beberapa hari yang lalu gue nonton teaser trailer TV serial Marvel berjudul Inhumans and for the love of God, I think it's the worst looking TV show I've ever encountered in my life. Dan gue kira gue udah ngeliat yang terburuk saat nonton Once Upon A Time, the abominable Disney crossover fanfiction tumblr level and you made it into a TV show!!

Mau tahu Inhumans seburuk apa?
Well, Inhumans itu ekuivalen sama sinetron naga2 Indosiar yang selalu jadi bahan olok2 para warganet. Serius. Rambut palsu yang dikenakan salah satu karakternya itu bener2 teriak 'GUE PALSU DAN GUE JELEEEEKKK', belom lagi kostum yang sama cupunya kayak drama pensi2 jaman 2000-an. Masyaoloh... cosplayer di comic con aja masih lebih bagus tau!! Menggelikan banget liat itu trailer. Gue bisa melihat betapa nyatanya ketiadaan niat dari si pembuat film untuk bikin sesuatu yang sedap dipandang ketika sesuatu itu ditampilkan dalam bentuk medium visual.

Dan yang bikin ironi ni makin berasa aduhai, Marvel itu salah satu studio yang paling tajir saat ini. Disney itu ibaratnya Gober Bebek yang lagi kipas2 pake duid. Tapi ngeliat TV series mereka kok bisa2nya sekualitas sama Misteri Gunung Merapi or the infamous Ganteng-Ganteng Serigala.

HOLY SHIT! Jadi lo mau bilang bahwa production value K-drama kelihatan lebih mewah ketimbang film serial Marvel???

It is what it is. Inhumans looked like rotting shit.

Jadi kesimpulannya... kalo gue dipresentasikan dua film ini: The Bride of Water God atau Inhumans, lalu disuruh memilih. Sorry, Marvel... tapi gue akan memilih The Bride of Water God. Sebab film lo nampak seperti pisang busuk. Plis deh, film itu adalah visual medium, gimana mau keliatan bagus kalo secara kasat mata aja udah bikin sepet dan mual2. Mah mending kagak usah jualan dari pertama kali deh, Marvel. Pulang gih... lo lagi mabok.

A Rather Mediocre Movie Marathon Night

Kurang lebih sebulan yang lampau, gue membaca status Facebook seorang teman yang memaparkan betapa plot cerita dalam anime blockbuster Kimi no Nawa benar2 sangat mirip dengan plot film The Lake House tahun 2005. Pernyataan ini pun dibenarkan oleh teman yang lain di forum komentar. Hal ini tentu membuat gue benar2 penasaran dan akhirnya memutuskan untuk nonton The Lake House bahkan sekalipun film itu sama sekali bukan tipe film gue. Romance? Time travelling? Hahahahahahaha...

Well, let's say gue berakhir sama sekali tidak puas dengan The Lake House. Semenjak jalan cerita Kimi no Nawa dipenuhi lonjakan emosi, misteri, dan drama, setidaknya gue kira The Lake House memiliki separo dari elemen2 itu. Ternyata tidak.

It's just a romance. A bland romance, not bad, not good. Just... okay. A nice feel good love story, nothing made me feel offended or disturbed.
Kecuali chemistry kuat antara Sandra Bullock dan Keanu Reeves yang sudah terbukti ampuh semenjak film Speed, harus diakui gue merasa kecewa. Ini benar2 jauh di bawah harapan gue. Tidak ada satupun hal yang patut diingat dalam film yang benar2 datar seperti jalanan baru diaspal itu. Lagipula gue cenderung MEH sama Keanu Reeves jika dia berada dalam romance mode. Like seriously... he's not the kind of guy I conjure in my head when I imagine romantic stuff. He's kind of guy I imagine if anime was real life. For me, Keanu Reeves is like shonen anime cool character; terribly handsome, lacking in expression but absolutely badass.
Oh... gue serius soal ini, sebab gue pernah nonton wawancara dia di Youtube dimana dia mengejutkan si pewawancara dengan sengaja menjawab pertanyaannya dengan in-character sebagai Mr. Jonathan Wick padahal sebelum2nya dia sangat ramah. And holy fucking shit, he looked terrifying for a second! I'm not gonna lie, that was so anime!



Pyohohohohohohoho...

Dan dari situlah bermula, sebuah percikan ide di kepala gue: OKEEEE!! Baiklah...!! Ini adalah pertanda! Semenjak gue sempat dibuat mabuk kepayang selama seminggu lebih, dan kini udah donlot satu filmnya, mari adakan marathon film2nya Keanu Reeves!! Itu ide yang brilian dan ngasi kerjaan bittorrent gue yang suka bertingkah. Makan tuh donlotan! Berhubung bittorrent gue ini rada2 aneh, cuman bisa donlot 1 pilem per 24 jam. Which is gue nggak berminat untuk mencari tahu kenapa karena dengan cara itu gue bisa mendisiplinkan diri; satu film per malam, nggak lebih!! Gue udah punya pengalaman buruk bergadang nonton film serial, jadi... makasih. Gue masih punya kerjaan.

Sebenernya filmnya Mas Keanu ini banyak banget, dan gue juga nggak kepingin nonton semuanya. Banyak dari film dari daftar filmografi dia nggak jelas juga. Even dengan standar gue yang cenderung rendah untuk kemampuan akting seseorang dalam film yang gue tonton, gue harus mengakui; Keanu Reeves itu second-rate actor yang baru dapet job kalo semua aktor2 kelas atas nolak naskah yang ditawarkan produser, atau, (dalam satu dua kasus) aktor yang udah teken kontrak tau2 ngabur dadakan. Dengan jadwal syuting yang makin dekat, ketika produser, sutradara, dan penulis naskah stress nyari orang yang sudi mampir, baru mereka ngontek Keanu Reeves. Ya weslah, pikir mereka gitu. Honornya jauh lebih murah, aktingnya lumayan, dan fans ceweknya banyak. Setidak2nya nambah nilai jualan. Begitulah caranya dia dapet job. Kaget? Welcome to the reality, ma men! Inilah La La Land yang sebenar2nya!

Anyway, gue menerapkan sejumlah syarat dalam memilah film mana yang mau gue tonton dari daftar filmografi Mr. Reeves:
1. Gue nggak akan nonton film roman dia SAMA SEKALI. In default mode, romance is not my cup of tea, not even Reeves could make me watching it.
2. No straightforward drama. For me, drama is overrated. Drama itu bagai kopi, diminum sendirian pahitnya setengah mati dan gue benci. Tapi kalau dicampur dengan berbagai elemen lain, rasanya lebih enak dan baru gue bisa menikmati.
3. No experimental film a.k.a something too weird, I must go to sleep at night, I have a day job for Pete's sake!
4. Action is a MUST WATCH. Keanu Reeves is always at best in action mode, I mean... you see John Wick, huh? He's good at kicking people's ass and looking badass while doing it. So anything remotely action, I will hunt it, I will download it, and I will watch it!

Dan dari situ gue memilih 15 film untuk ditonton selama sebulanan ini. Gue tidak nonton secara berurutan dari tahun penayangan filmnya melainkan gue memilih secara random tergantung mood apa yang gue rasakan saat itu. Beberapa sangat populer dan lo pasti udah nonton lebih dari sekali, satu dua indie, dan sisanya gue bahkan ga tau itu darimana asalnya. Anyway... this is my short takes on Keanu's Movie Marathon Nights.

1. CONSTANTINE (2005)
Gue nggak akan berpanjang2 sebab gue udah pernah ngomong sebelumnya, ini adalah film Keanu favorit gue. Semua unsur dalam Constantine itu keren abis; mulai dari genre-nya yang gue banget, penuturannya, dan bagaimana karakter2nya berinteraksi, semuanya pas sesuai harapan gue. Film ini adalah contoh anomali sebuah adaptasi komik yang melenceng sama sekali dari karya orisinalnya tapi bisa berdiri sendiri dan memiliki penggemarnya, termasuk gue. Dan penggemar yang sama bisa jadi menolak menonton Constantine yang baru (dan buat gue Keanu Reeves > Matt Davis, maaf fanboy.) Keanu benar2 menjiwai John Constantine disini; seorang pengusir iblis yang nampak lelah, sinis, dan penuh kepahitan, tapi juga tangguh. Dan cara dia mengucapkan setiap kalimatnya seakan menambah unsur keren dalam film yang bener2 highly stylized ini, awesome! Film ini juga berhasil menjaga nuansa dan mood-nya yang serba kelam dan dipenuhi fatalisme ala film noir. Dan tentu saja... semua orang merasa gregetan dengan fan tease dari John dan Angela yang hampir berciuman. Get over it, guys.

2. THE DEVIL'S ADVOCATE (1997)
Personally, I think Mr. Reeves gave stellar performance here. Ada yang bilang aksen Southern dia busuk mampus, tapi gue tidak bicara dengan Southern twang dan bahasa Inggris bukan bahasa ibu gue, so... sabodo teing, gue akan mengabaikan elemen itu. Berperan sebagai seorang pengacara muda dari daerah Bible Belt, dia direkrut oleh kantor pengacara bonafit yang kemudian terbukti dipenuhi kedegilan, dan... segalanya jadi surealis di akhir cerita.
Reeves beradu akting dengan Charlize Theron dan Al Pacino. Film ini berdurasi 2.5 jam yang membangun tensi, semakin lama semakin mencekam dan menekan perasaan. Yang gue ga sangka adalah ternyata film ini banyak banget adegan telanjang dan adegan seks yang cukup eksplisit, padahal sepanjang ingatan gue sewaktu gue nonton The Devil's Advocate di televisi, adegan2 itu nggak ada sama sekali. Tajam sekali memang gunting sensor Indonesia. Sayangnya adegan2 panas ini sebenernya penting dalam plot karena menunjukkan perubahan karakter Reeves yang semakin dikuasai kegelapan sampai akhirnya ketika dia menyadarinya segalanya sudah terlambat.
Akting Charlize Theron sebagai istri muda naif yang perlahan kehilangan kewarasannya juga benar2 mendirikan bulu kuduk. Mulai dari tekanan pasif-agresif peer pressure kaum jetset perkotaan yang tidak dia pahami sampai akhirnya dia mulai mengalami halusinasi dan semakin terseret dalam pusaran kegilaan. Dan puncaknya ketika dia bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri menggunakan potongan kaca itu bener2 tergambar dengan sangat-sangat miris. Menurut gue chemistry antara Keanu dan Charlize bagus di sini. Mereka nampak seperti sepasang suami istri yang saling mencintai dan peduli satu sama lain sehingga konfrontasi antara Keanu melawan Al Pacino benar2 terasa sangat emosional. Plus ocehan si iblis menghadapi kemarahan si pengacara muda bener2 quotable banget. Absolutely fucking twisted and sinister. This is the devil for real; manipulating human freewill and ego and drag them into the hell. Perfect!

3. THE DAY THE EARTH STOOD STILL (2008)
Well... film ini MEH besar sih buat gue. Masalah terberatnya adalah mereka membuat remake dari film berjudul sama di tahun 1951, di masa Space Age, dimana ide cerita naskahnya untuk tahun segitu sangat groundbreaking. However... ketika naskah yang sama diletakkan dalam konteks dan teknologi di tahun 2008 yang sudah benar2 berubah dibanding 1951, mau tidak mau konsepnya jadi diuji. Menurut gue sih ide film ini udah obsolate, hanya bisa dipahami sebagai produk di masanya dengan situasi yang hanya kontekstual di tahun 50'an.
Cara AS merespons alien ini bener2 nggak masuk akal sama sekali. Okelah... mereka menembak Klaatu pertama kali, gimanapun pada ketakutan semua didatengin alien. Tapi ketika Klaatu sudah bisa diajak berkomunikasi dan meminta baik2 bertemu dengan wakil negara2 di dunia, yang mereka ributkan malah paranoia teori konspirasi ala JFK. Dan cara mereka menggambarkan negara2 dunia ketiga dalam merespon kedatangan alien itu sangat2 klise dan terbelakang sekali; doa bareng2, sembhayang di tepi sungai. Aduuuuuhhh... sejelek2nya Timur Tengah di tahun 2008, mereka menelurkan banyak ilmuwan juga kali! I don't think orang Indonesia bakalan sembhayang rame2 juga kalo ada alien kemari, yang ada malah sibuk rekam pake ponsel trus di-upload ke sosmed. That's more likely scenario menurut gue. Holywood seakan tidak pernah dan tidak mau memahami bahwa ada peradaban dan intelektualitas di negara2 dunia ketiga, cape dheeeee...!
Eniwei, Keanu Reeves pas banget sih jadi alien. Ekspresinya 80% datar di sini dengan emosi minimalis. Meskipun gue rada sedih juga liatnya, he can do better than that, in much better movie.
Jaden Smith in the other hand... is rather off, dan semakin berasa ngeselin karena karakter yang dia perankan adalah anak kecil ingusan yang menjengkelkan dan cuman bikin susah aja. Meh... just meh!

4. BILL AND TED EXELLENT ADVENTURE (1986)
From 'bodacious', 'exellent' to 'party on, duuudee!!' It's hard to think this movie could be anything but good.
Jujur gue rada takut nonton film ini, terutama karena tahun penayangannya yang sangat jauh ke belakang, tahun 1986. Ditambah lagi sosok Keanu nampak bodoh sekali di film ini, bikin illfeel. Didapuk sebagai film campy penuh lawak sekaligus fiksi ilmiah yang mendapat status cult, gue mengira Bill & Ted Exellent Adventure akan jadi cringefest selama 131 menit. Diluar dugaan gue ternyata film ini sangat2 self aware dengan ketololannya, dan bersamaan juga tampil begitu charming dan likeable. Ini tentang time travelling dengan kotak telepon umum sebagai mesin waktu dan pelajaran sejarah yang ngaco sengaco2nya. Nyaris seperti parodi Dr. Who yang diiringi lagu2 rock 80'an lawas penuh kenangan (dan jaman sekarang selalu dipake di setiap trailer dan film yang mau kelihatan hip), buat gue momen terbaik Bill & Ted Excellent Adventure adalah ketika lagu Power Tool; Two Heads Are Better Than One diputar sementara Joan D'Arc tengah berdoa di sebuah biara meminta bimbingan Tuhan, lalu mendadak sebuah kotak telepon umum muncul di hadapannya dan Keanu Reeves keluar dari kotak itu, mengulurkan tangannya seperti malaikat. Goddamn, I laughed so hard.
Pada akhirnya gue berakhir menyukai film ini bahkan sekalipun Keanu tampil seperti bocah tengil yang tidak pernah mandi selama seminggu sekaligus karakter paling idiot diantara duo Bill & Ted yang udah begonya setengah mati itu. He's got better, dude!

5. BILL AND TED BOGUS JOURNEY (1991)
Menyusul kesuksesan Bill & Ted Excellent Adventure, tiga tahun kemudian maka Bogus Journey pun muncul. Sayangnya buat gue, Bogus Journey kehilangan charm-nya ditambah lagi para pemainnya sudah keburu beranjak dewasa. Keanu Reeves bahkan sudah bermain sebagai Johnny Utah di tahun 1991, imej yang terlalu bertolak belakang dengan Ted 'Theodore' Logan. Buat gue masalah terutama dari film yang ini adalah tone-nya yang mendadak jadi kelam, ditambah lagi idenya yang terlalu maksa buat jadi over-the-top. Kayak... muncul android berwujud Bill & Ted dari masa depan yang membunuh Bill & Ted?? Holy shit! Kemudian Bill & Ted bertemu Grim Reaper. Whaatt? Lalu mereka bertandang ke neraka, bertemu Beelzebub, dan tersesat ke tengah labirin dalam sebuah hell acid sequence? Duuudeee!
Astaga! Mendadak Bill & Ted terseret dalam sebuah meta-journey macam yang terjadi pada Sam & Dean dalam film serial Supernatural yang udah gue gagal paham mau dibawa kemana itu idenya. Pergi ke neraka? Surga? Masa depan dan masa lampau? WTF dudddeeeee! Even for Bill & Ted standard, this is one step too goofy!
Seluruh aspek dalam film ini bener2 maksa, mulai dari tone-nya yang mendadak jadi kelam, humornya yang kelewat garing, dan universe-nya yang eh? Plus ending yang bener2 membuat gue memutar bola mata sambil bilang... APA SEEEHHHH!! FAIL!
Bill & Ted seharusnya berhenti di film pertamanya, sumpah. Sekarang gue denger Keanu Reeves sedang menggarap Bill & Ted ketiga, 26 tahun setelah sekuelnya keluar. Pertanyaan gue... apa nggak terlambat? Plus, film ini mau dibawa ke arah mana? Sebab jika mereka mengeluarkan trik bego ala Supernatural terhadap Sam & Dean.... well, bye bye!

6. JOHNY MNEMONIC (1995)
Sebagai sebuah noir cyberpunk, film ini punya konsep menarik soal masa depan dan interpretasi yang sangat fantastis mengenai internet. Bahwa di masa depan muncul penyakit misterius yang disebabkan oleh reaksi alergi terhadap masifnya keberadaan alat2 elektronik berteknologi canggih, atau penyelundupan data ilegal dalam jumlah besar dilakukan oleh para kurir yang memasang drive dalam otak mereka agar tidak bisa dilacak. Atau manusia yang bisa di-upgrade menggunakan teknologi sibernetik dan implan.
On paper, Johnny Mnemonic story is fascinating. Ada seorang kurir data ilegal yang terjebak dalam skandal antara korporasi farmasi raksasa yang jahat, peneliti yang idealis dan para dokter jalanan yang ingin mendapatkan akses kesehatan secara murah. Tambahkan Yakuza sebagai enforcer perusahaan farmasi raksasa yang bengis ini, lumba2 sibernetik yang juga pecandu heroin, pengabar injil sibernetik yang diam2 merangkap sebagai pembunuh bayaran, dan dunia internet yang digambarkan mirip game PS2--kita punya resep sebuah cerita campy gendheng yang asyik.
Sialnya film ini gagal mengeksekusi ceritanya, terutama akibat editing yang teramat buruk. Dan jujur aja, akting Keanu Reeves juga bener2... duh. He's so bad here. Dia bener2 kayak robot. Duh, untuk seseorang yang dikejer2 geng Yakuza plus pembunuh bayaran sibernetik berkedok pendeta, kok rasa2nya enggak ada cemasnya sama sekali gitu. Apalagi semua orang cenderung kepingin memenggal kepalanya. Masa nggak jiper gitu dengan prospek kepala diputus?
Anyway... film ini adalah guilty pleasure buat gue, means... gue suka banget Johnny Mnemonic apapun yang terjadi. Editingnya boleh sampah, dan akting Keanu Reeves bikin gue tepak jidat. Duh. Tapi suka ya tetap suka.

7.  STREET KINGS (2008)
Gue terperanjat saat mengetahui film ini ternyata besutan David Ayer. Lebih kaget lagi ternyata ada Chris Evans, Hugh Laurie, dan Forest Whitaker. Eh buset... banyak artis ngetop.
Keanu Reeves kurang lebih berperan sebagai pembunuh berbayar di sini. Serius. Hanya saja kliennya adalah kesatuan polisi Los Angeles, dan dia juga bagian dari kepolisian. Ketika hukum sudah mentok, maka LAPD menurunkan Tom Ludlow. Dia adalah polisi yang ditunjuk untuk melakukan pekerjaan kotor para polisi. Gue suka karakter utamanya dimana dia menyadari posisinya sekaligus memahami bahwa hukum sekalipun terkadang tak bisa meraih keadilan yang diinginkan. Dan ada penjahat2 tertentu yang lebih baik langsung dibunuh ketimbang mendapatkan pengadilan dimana mereka bisa membayar pengacara terbaik dan berhasil melenggang bebas dengan memanfaatkan celah pada hukum. Masalahnya, kesatuan dimana Ludlow meletakkan kesetiannya ternyata juga nggak kalah korup dari penjahat2 yang dia habisi. Who's watching the watchmen anyway?
Keanu Reeves tampil meyakinkan di film ini sebagai polisi korup yang tahu apa yang dia lakukan salah sehingga terbeban dengan begitu banyak hal. Dia selalu bagus kalau bermain sebagai karakter yang jiwanya terasa kosong dan kelihatan depresi secara konstan. Tapi Tom Ludlow bukan sekadar polisi dengan beban mental, dude is a freaking badass. Scene favorit gue adalah ketika dia membuntuti rekannya sendiri yang diduga mengadukan dirinya ke bagian DA dan mau memberinya pelajaran. Gestur Ludlow menggulung ikat pinggangnya mengelilingi tangannya yang terkepal untuk memperkuat pukulannya bisa disamakan dengan ungkapan 'fuck yeah'
Gue suka Street Kings. Ini film yang enjoyable banget kalo elo ada di kereta atau bis malam dan nggak bisa tidur sepanjang perjalanan. Atau kalo lo malem2 insomia tanpa alasan jelas. Plotnya sedikit lebih pintar daripada film2 B-movie yang diam2 gue tonton di bis malam tiap pulang ke Malang sama bonyok dahulu kala.
Jangan salah, Street Kings jelas2 adalah B-movie tapi classy dengan tema nihilistik yang sangat sinis. Menurut gue sih filmnya kompeten, tapi tidak spesial.
Still, it's worth to watch!



8.  HENRY'S CRIME (2010)
Gue tertarik dengan film ini karena premisnya yang unik. Tokoh utama loser yang berencana merampok bank karena sebelumnya dipenjara karena merampok bank atas kesalahpahaman. Untuk memperlancar kejahatannya, dia bergabung dalam kelompok teater yang gedungnya berdiri tepat di depan bank dan pada akhirnya dia justru malah jatuh cinta dengan teater sekaligus seorang aktris yang menjadi lawan mainnya dalam karya Anton Chekhov.
Gue suka dengan ide ceritanya. Sedikit lain daripada yang lain. Porsi terbesar tentu saja adalah drama, tapi juga ada unsur humor dan heist. Oleh karena itu, gue memutuskan nonton film ini daannn...
Yah... hitung2 ini adalah pengalaman gue menonton film indie. They always feel small, though Shyamalan with his paltry budget in Split somehow managed to pull out a much grandiose movie. Keanu Reeves beradu akting dengan Vera Farmiga yang lebih gue kenal sebagai Mrs. Lorraine Warren. Aktingnya di sini serviceable; dia jadi loveable loser yang lumayan memikat. Tadinya gue meragukan dia bisa jadi pecundang, tapi dia bisa dan gue cukup puas. Okee, Om!
Yah, buat gue film ini... 'eh', cukup mengecewakan; tidak buruk, tapi juga terlalu garing untuk selera gue. Endingnya rada2 busuk, tau2 terputus begitu aja. Mereka udah jelas saling jatuh cinta gitu dan nggak ada konklusinya? Ciuman kek? Apapun? APAPUN??

Gak ada? Oke. Fine. Whatever. NEXT!

9.  THE MATRIX (1999)
Didapuk sebagai salah satu film action yang merubah sejarah perfilman Holywood. Salah satu film scifi terbaik yang pernah dibuat. Dan film yang membuka tabir pengetahuan manusia2 di Amerika Serikat soal anime Jepang.
Tujuhbelas tahun terlewati setelah film ini beredar. Gue nggak nonton di bioskop melainkan di RCTI, gue terpukau saat itu dengan ide2nya, lalu sekarang gue nonton lagi dan gue terpana;
Ternyata sekarang The Matrix cuman... 'yah, lumayan lah'

No! NO! NOOOOOO!!! I'm getting old. NOOOOOOOOOOOOOO!!

Ya, film ini memiliki tampilan yang baru dan segar di eranya, dengan ide camera work dan cinematografi yang revolusioner--belum pernah dieksplorasi sama sekali. Tapi tidak, film ini bukan film scifi terbaik yang pernah dibuat.
Tidak, jalan cerita film ini tidak istimewa. Untuk seseorang yang sudah terekspos oleh anime2 Jepang, The Matrix itu biasa aja. Lebih dari itu, jalan ceritanya kini jadi sangat menjengkelkan dipenuhi deus ex machina.
Bagi lo yang mungkin bertanya2 mengapa; begini, gue selalu tidak suka dengan ide tokoh utama yang OP, dan sini Neo mendadak jadi OP. Dikisahkan ternyata dia bukan The One dan akhirnya memutuskan jadi The One karena mau nyelamatin Morpheus. Konsep ini bisa gue terima. Tapi masalahnya, ketika mendadak dia OP itu jadi nggak masuk akal karena mestinya dia ga lebih kuat dari rekan2nya yang lain, dia cuma memutuskan mengambil peran sebagai The One doang.
Titik dimana gue memutuskan The Matrix itu cuman sekedar style over substance adalah ketika Neo ditembak dalam The Matrix oleh Agen Smith. Setelah itu Trinity yang frustasi mencium dia di dunia nyata sambil menyatakan cinta, sebab dia ditakdirkan untuk mencintai The One. Saat itulah gue meringis dan mau balik meja karena emosi.



I mean WHAT? WHEN? WHERE??? Tanpa establishing relationship tau2 dia bilang jatuh cinta. Dan lo bilang Bella jatuh cinta sama Edward itu kagak masuk akal sama sekali??? LO SERIOUS??
Akhirnya Trinity sukses 'menghidupkan' Neo lagi dengan kecupan cinta sejati. Padahal dibilang yang mati di The Matrix juga akan mati di kenyataan. Lalu sehabis itu mendadak dia jadi super jagoan karena berhasil mencapai level saiyan begitu saja. Dan gue cuman bisa bilang...

Please... kill me.


Nggak heran sekuelnya jelek banget, seampas2nya sampah nuklir. Mustahil lo membangun sekuel sementara di film pertama fondasinya begitu lemah. Sorry to say, tapi film ini kayak ababil penuh gaya dan nggak tahu diri. The Matrix merasa dirinya cerdas dan keren, tapi ternyata enggak.

Yep... The Matrix nggak lulus ujian jaman. Duh.

10.  SPEED (1994)
Gue suka banget film ini. Salah satu film terbaiknya Om Keanu. Film ini adalah film action yang begitu seringnya diputar di televisi, gue rasa gue nggak perlu menceritakan premisnya sama sekali. Yang gue suka dari Speed adalah, film ini jelas2 dibuat untuk mengekor keberhasilan Die Hard tapi berhasil menemukan formulanya tersendiri. Lagipula, berbeda dengan Die Hard dimana para petugas keamanan meragukan pengakuan John MacClane dan menolak membantunya sehingga dia relatif melawan penjahat2 sendirian; para polisi dalam Speed bekerja keras dan bahu membahu menolong Jack Tavern. Tidak hanya itu, orang2 yang berada di dalam bus juga turut membantu tokoh utamanya sehingga penonton mendapatkan kesan realistis dari film ini sekalipun Speed dipenuhi berbagai action set piece yang nggak semuanya masuk akal (aksi bus melompati celah jalan layang tol itu bener2 melanggar hukum fisika pake banget.)
Menurut gue Keanu Reeves bermain sangat apik di sini, dia tampil menjadi tough guy yang heroik dan chemistry-nya dengan Sandra Bullock menjadi salah satu highlight dari filmnya. Dengan premis yang sederhana dan berbagai set piece yang menggeber jantung, Speed adalah film yang sangat solid dan teruji oleh waktu.

11.  MAN OF TAI CHI (2013)
Film ini....
Duh...
What did I just watch!????

Oke, biarkan gue mengamuk sebentar. Semenjak Man of Tai Chi adalah debut Keanu Reeves sebagai sutradara. Tapi tolong, Mr. Reeves... tolong, LO SEBENERNYA MAU MENYAMPAIKAN APA SIH!??? HAH?? Sebab gue gagal paham segagal2nya manusia awam normal yang menginginkan film martial art yang decent.

Ugh... gue menderita sekali nonton film ini. Gue pusing, gue bosan setengah mampus. Dan, oh,  otak gue berasa lumer di dalam kepala!!
Begini ya, sebuah film, bahkan film action sekalipun, memerlukan konteks. Kenapa harus ada gebuk2an ini dan kenapa disana meledak, atau kenapa si tokoh utama mempertaruhkan lehernya dengan ngebut2an sinting di jalanan. Apa yang dipertaruhkan sehingga seluruh resiko mampus di tempat ini diambil? Ambil contoh film action dengan premis paling simpel, The Raid. Si tokoh utama mesti membantai begitu banyak orang karena dia ingin bertahan hidup, dia punya istri yang tengah mengandung dan membutuhkan dia. Simpel, tapi relatable. Atau ambil contoh dari film Keanu Reeves paling baru, John Wick. Dia membantai puluhan orang karena seorang bocah goblok membunuh anjingnya yang merupakan hadiah terakhir dari mendiang istrinya. Ada ikatan emosional yang mendalam di sini sehingga penonton paham kenapa dia begitu marah. Itu bukan sekadar anjing. Itu simbol cinta.
Dalam Man of Tai Chi... si tokoh utama terpaksa mengikuti berbagai turnamen bela diri ilegal. Oke dia butuh uang untuk menyelamatkan perguruannya, tapi segalanya ditampilkan nir emosi sehingga penonton tidak merasa relatable. Lebih parah lagi, tokoh utamanya diperankan oleh seorang aktor yang kemampuan aktingnya sama tawarnya seperti sepotong roti atau meminjam kata2 Lucy Carlyle; setampan kaleng margarin yang baru dibuka dan sekarismatik lap basah yang teronggok di lantai. Keanu Reeves sebagai antagonis juga penampilannya amit2 kayak kaleng margarin yang isinya udah mau abis dan siap dibuang, aktingnya hampir sama parahnya seperti Johnny Mnemonic.
Sorry to say, tapi action tanpa konteks itu sama aja seperti polusi visual. Yang nonton pusing tujuh keliling.

Lagipula, sebagai penonton film2 silat buatan Hong Kong di tahun 80'an mulai dari Snake In Eagle Shadow, Fong Sai Yuk, sampai Once Upon A Time In China, gue berani bersumpah wirework di film ini lebih parah film2 jadul itu. Plus, seluruh pertempuran dalam film ini nampak palsu, orang dipukul tapi nggak memar, hidung ditinju tapi ga ada darah. Tidak ada bobot dalam pukulan demi pukulannya dan seluruh momentumnya bener2 'off'. It sucks.
Maaf, tuan-tuan. Tapi ketika seluruh dunia sudah menyaksikan brutalisme artistik bernama The Raid dan The Raid 2, penampilan seperti ini bener2 menggelikan. Ini seperti sekumpulan badut sirkus.

Sekadar saran, jika lo kepingin nonton film silat soal Tai Chi, bagusnya nonton Tai Chi Master, film Jet Li lama. Dari segi cerita dan koreografi jelas2 kualitasnya diatas film ini. Serius. Sumpah mati.

Gue bisa memaafkan seandainya film ini tancap gas mengambil ide anime model fighting tournament ala2 Flame of Recca, atau Yu Yu Hakusho. Sekalian jadi sinting over-the-top gila2an dengan berbagai pendekar bela diri, penjahat megalomaniak yang ingin hidup abadi, sekumpulan ninja, perkumpulan orang2 dengan kekuatan supranatural, berbagai artefak sihir, dan siluman rubah. Yes, I would buy it if Keanu Reeves appeared as nine tailed demon fox. Fuck! I don't care! This movie is so bad it needs Keanu Reeves as kyuubi for the sake of me laughing my ass off. It would be campy as hell, but hey... it's anime fun!

Because Man of Tai Chi took itself too seriously meanwhile it's a fiasco of visual madness. And I put the blame on Mr. Reeves himself. This is by far... the worst Reeves movie I've ever watched. AND THANK GOD HE REDEEMED HIMSELF IN JOHN WICK. THANK GOD!!


12.  THE WHOLE TRUTH (2016)
Meskipun film ini adalah courtroom drama, namun eksekusinya lebih mendekati cerita detektif klasik ala novel Agatha Christie lengkap dengan narasi si tokoh utama, ketimbang kisah drama pengadilan kompleks ala John Grisham. Siapa pelakunya? Siapa yang berbohong dan siapa yang menyatakan kebenaran?
Dengan scope cerita yang terbatas, sederhana, dan sangat old school, gue berakhir menyukai film ini sama seperti gue menyukai novel2 karya Agatha Christie. The Whole Truth bahkan mengingatkan gue pada cerita novel The Murder of Roger Ackroyd. Terkadang gue tidak membutuhkan cerita epik serba besar dan kompleks, cerita yang sederhana pun bisa menarik.
Keanu Reeves bermain aman di sini, tapi somehow menambah kedalaman pada karakternya yang digambarkan sebagai pengacara eksentrik dipenuhi misteri yang bahkan lebih kental ketimbang plot utamanya sendiri. Dengan tipe karakter seperti ini, sesungguhnya gue agak berharap tokoh utama pengacaranya mendapatkan film seri sendiri. Mungkin karena formatnya yang berasa kayak novel berseri, menurut gue he's an interesting soul to watch. Sayangnya hal itu tentu takkan terjadi, sebab konklusi dari film ini membuatnya mustahil. Ditambah lagi gue membaca trivia bahwa sebenarnya karakter pengacara ini diperankan oleh Tom Hardy yang mendadak memutuskan kotrak begitu saja empat hari sebelum syuting dimulai, dan produser yang super panik seketika menghubungi Reeves untuk menggantikan perannya. Nggak heran Reeves bermain aman di sini, plus trivia ini juga semakin menegaskan statusnya sebagai second-rate actor dengan sangat brutal. Hiks...

13.  CHAIN REACTION (1995)
Satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini adalah... forgetable. Sangat menyedihkan sebab film ini begitu seringnya diputar di televisi dan gue selalu gagal menontonnya dengan satu dua cara. Kini ketika gue berhasil duduk diam dan menyimaknya, Chain Reaction ternyata sama sekali tidak istimewa. Klimaksnya sumpah nggak banget. Padahal paro pertama film ini ketika Keanu Reeves dikira teroris lalu dikejer2 FBI sepanjang cerita dan cuma bersenjatakan akal bulus ala McGyver dan kenekatan menurut gue cukup seru. Tapi paro ketiganya aduh mak... ga heran dibilang medioker. Nanggung di segala lini jadinya, action tp nanggung, sci fi tapi ampas. Apa tujuan film ini sebenarnya? Nggak nonjok sama sekali.
Satu2nya daya tarik film ini adalah Keanu Reeves yang bermain apik sebagai seorang mahasiswa teknik mesin yang ketakutan, dan Morgan Freeman yang selalu tampil menawan bahkan ketika dia sedang bosan.

MEH!

14.  POINT BREAK (1991)
Semua orang di sosmed luar negeri menobatkan film ini sebagai film action paling keren di awal era 90'an. Dengan highlight action set piece dimana Keanu Reeves melompat dari pesawat tanpa parasut untuk mengejar penjahat, sangat tidak masuk akal tentunya, tapi keren. Film ini selalu mendapatkan pujian setiap orang.

Tapi maaf saya tidak setuju.

Paro pertama... good. Menarik. Paro kedua... pas dia mulai jatuh cinta, berasa banget ini arahan sutradara perempuan.  Paro ketiga... it just terrible. Dan ketika filmnya berakhir, gue merasa tertipu.
Oh Tuhan... yang paling ngeselin dari Point Break adalah film ini punya potensi jadi action thiller yang dashyat tapi mereka entah kenapa seperti kehilangan ambisi dan memutuskan pake jalan pintas tropes Holywood bego & menurunkan kecerdasan Utah. UGH.
Padahal gue suka banget karakter Johnny Utah; agen FBI muda yang super cool, charming, dengan skill markmanship yang jitu, berdedikasi dan fokus. Di paro pertama film ini, dia melakukan tugas detektifnya dengan kompeten, dia tokoh utama yang sangat menarik. Nah, antagonisnya, Bodhi, diperankan oleh Patrick Swayze, juga sama bagusnya. Dia adalah lawan yang tepat untuk karakter Johnny Utah. Sebagai antagonis, Bodhi adalah karakter sosiopat yang sangat karismatik, manipulatif, dan memiliki ideologi anti kemapanan dan kehidupan bebas tanpa batas. Kemampuannya untuk menarik orang2 sehingga mau melakukan kriminalitas membuatnya sebagai villain yang sangat sempurna. Bodhi is one hell of a villain.
Baik kedua karakter yang saling berseberangan ini memiliki kemiripannya masing2. Baik Johnny Utah maupun Bodhi, keduanya tidak segan2 memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Utah sendiri memanipulasi karakter Tyler Endicott untuk bisa mendekati kelompok Bodhi dan kepribadiannya yang selalu nekat mengambil resiko menunjukkan kecenderungannya menjadi adrenaline junkie. Seperti juga Bodhi yang selalu mencari hal2 baru yang semakin menantang dan semakin beresiko.
Mulanya gue mengira ini cerita soal tumburan dua belah pihak; protagonis dan antagonis, yang memiliki kemiripan satu dengan yang lain namun menganut ideologi yang saling berseberangan. Johnny Utah yang ingin menegakkan hukum sebagai seorang agen FBI, dan Bodhi yang ingin melawan kemapanan dengan caranya yang twisted.

Tapi kemudian Johnny Utah jatuh cinta... and, fuck. It went downhill there. Menggelinding terguling2 ke sudut paling corny dan cheesy; gue bener2 meringis menonton 'YOU LIE TO ME?' moment ketika Tyler mengamuk saat menemukan identitas FBI Johnny. Which is menurut gue SAMA SEKALI tidak masuk akal, Johnny sedang menyamar dan kenapa agen yang sekompeten dia bisa melakukan hal sebodoh itu. Ini terasa... dipaksakan. Convinient for the plot, supaya nanti Tyler melarikan diri, ditangkap Bodhi dan menjadi damsel in distress. AH KAMPRET AH!

Nggak cuman itu aja kebegoan demi kebegoan yang muncul di paro ketiga. Ketika Johnny Utah berhasil mengetahui bahwa kelompok Bodhi adalah perampok bank berantai yang selama ini mereka buru, dia berupaya menangkap basah mereka bersama mentornya. Tapi tindakan mereka gagal. Itu artinya penyamaran dia sudah terungkap dan Johnny sebaiknya langsung mengumpulkan pasukan FBI untuk menyerbu tempat kongkow Bodhi secepatnya. Atau dia mundur teratur memikirkan taktik berikutnya, di titik ini dia sudah cukup mengenal Bodhi sehingga bisa memperkirakan tindakan yang akan dilakukan si antagonis. Ya kan?

Nope... dia malah mengunjungi rumah kekasihnya, Tyler. Malah identitasnya ketahuan si cewek yang ngamuk lalu pergi ngabur, Johnny yang panik mencoba menghubungi Tyler, tapi Bodhi keburu muncul dan mengajaknya skydiving, dan Johnny, tanpa curiga sedikitpun ikutan bersenang2 sebelum akhirnya Bodhi menunjukkan footage video Tyler yang disekap lalu memaksa Johnny mengikuti permainannya. Setelah itu tanpa bisa dicegah, darah tumpah di kedua belah pihak, Johnny maupun Bodhi.

OH TUHANKU... ini plot paling dodol yang pernah gue lihat. Gue benci mereka menjadikan Tyler sebagai damsel in distress padahal seharusnya keputusan ini bisa dihindari. Seharusnya Johnny bahkan tidak perlu dibikin jatuh cinta. Bikinlah dia terobsesi menangkap Bodhi karena dia sebenarnya terpikat dengan ideologi si antagonis tapi juga ingin membuktikan kemunafikannya (merampok bank untuk membiayai gaya hidup hippies elo terus ngaku2 lo anti kemapanan? Yeah, right.) Bikinlah Bodhi juga memiliki dendam pribadi terhadap Johnny karena harga dirinya tergores sebab Johnny sukses menipunya dan memperalat Tyler. Cerita ini akan lebih menegangkan jika protagonis dan antagonisnya punya dendam personal satu sama lain. Ada sisi emosional yang dilibatkan dan kedua orang ini akan berusaha menusuk satu sama lain sampai pada klimaksnya.

Andainya Johnny mendekati Tyler dan berhasil membujuknya agar bersedia menjadi informannya, ketimbang mereka saling jatuh cinta menyeh menyeh huek. Lalu Bodhi membalas pengkhianatan Johnny dengan membunuh mentornya. Iya... film ini akan jadi kelam dan kurang fun. Tapi jauh lebih mendingan daripada mendengarkan monolog corny Keanu Reeves soal betapa cintanya dia pada Tyler... oh Tuhan, gue bener2 bergidik mulas mendengarnya. Lalu ceritanya berubah jadi agen FBI tangguh yang jatuh cinta dan ceweknya diculik dan... aku akan menyelamatkanmu apapun yang terjadi! Cue 'I will Always Love You' song in the background.


Kenapa jadi berasa Harlequin ya?
Atau Descendant of The Sun...

Gue sama sekali ga paham kenapa Johnny Utah jadi out of character ga terkontrol. Bisa2nya terpikat oleh filosofi setengah mateng Bodhi soal pencarian tantangan hidup yang mendobrak batas2 etika. Meh. Utah lebih pinter dari itu lah. Gue asli bener2 sedih saat mereka membunuh mentornya, Angelo Pappas. He such a good character, sangat eksentrik dan menarik. Mereka menyia2kan karakter seperti ini demi jalan cerita super corny menye2, keterlaluan!

Dan ketika film ini berakhir dengan Johnny Utah membiarkan Bodhi menyongsong kematiannya sambil mengejar ombak raksasa di tengah badai, meraih impiannya untuk mati sebagai orang bebas. Rasanya gue kepingin meninju layar monitor gue. How dumb this movie can be? Bodhi memang karismatik tapi dia membiarkan rekan2nya terbunuh dan sama sekali tidak terganggu dengan hal itu. Dia sosiopat dengan ideologi aneh yang sebenernya cuma alat untuk mencapai keinginannya yang egois. Hukuman yang paling pantas untuk orang ini adalah dikurung selama2nya dalam penjara. Terkekang sampai mati.

Film action paling spektakuler di jamannya? YEAAA. Bisa jadi, tapi buat apa kalo ceritanya bego kayak begini?

Dan begitulah... marathon gue diakhiri oleh film yang sangat mengecewakan dan membuat gue nyaris ingin nonton Speed lagi pukul dua pagi. Man... Speed is a masterpiece compared to this.

Oke... kesimpulan, kesimpulan. Well, duh, memang Keanu Reeves memiliki karir yang tidak stabil. Sebagian besar filmnya forgetable dan cenderung buruk, tapi film2nya yang terkenal menjadi ikon para geek. The Matrix, suka atau tidak suka adalah landmark action di tahun 90'an, dan Keanu Reeves adalah The One and only Neo. Speed adalah film action yang takkan lekang oleh waktu. Bill & Ted juga adalah film campy yang ikonik.
Lagipula setelah 15 film berturut2, gue mulai menyadari pola akting Keanu Reeves ini dan kenapa dia sampe dikatain aktor muka lempeng. Gue masih bertahan dengan pendapat; he's fine. Dia bisa bagus sebenernya--kalau--sutradara film yang bersangkutan bisa membimbing dia ke arah yang benar, atau, dia mendapat lawan main yang kemampuan aktingnya bagus sekali sehingga sanggup mengendalikan suasana dan emosi dan memancing reaksi yang sama kuatnya. Sayangnya tidak di semua film dia bisa mendapatkan priviledge seperti ini, oleh karena itu jangan heran jika ada aktingnya yang bener2 UGH, gue kayak ditonjok. So bad I could forgive him only because he's so good looking.

Dengan ini gue menutup marathon film gue yang berakhir tidak menyenangkan. Sigh... apa gue melanjutkan nonton Goblin aja ya lagi.

EEEEEEEEEEEEWWWWWWWWWW!!! *bergidik geli*

La Danse Macabre

Recently I watched Goblin Korean drama which featuring men wearing formal attire--three piece suice with oh-so-nice tie pin to be exact (the one Monsieur Justin Trudeau also love to wear.) Sigh.... how I wish I could say shitty things about Goblin and acted like I don't care about anyone's feeling. But I can't now, I just can't. Because one thing even I myself can't deny; Gong Yoo ahjussi is so damn perfect in that suit. Maybe it's the stupid reason why I even bother to watch it. Don't know why that damned golden tie pin always attract me and it keep appearing in every click ad I found on web. Kenapa oh kenapa!!  apakah gue seekor gagak dalam kehidupan yang lampau?

Tapi dalam kasus Om Keanu Reeves, gue meyakini dengan sepenuh hati, jiwa, dan pikiran, bahwa dia adalah spesies yang benar2 berbeda. Ya Gusti...!! He killed it with black on black three piece suit. Figuratively and literally. How dare you, Mr. Reeves!! Hao der yuuu!!

Yep, kita lagi ngomongin John Wick. Dan gue harus ngomongin film ini, sumpah gue harus.

Gue nonton John Wick Chapter 2 sampai dua kali; sekali bersama dede gue dan berakhir tidak nyaman karena kita diapit dua manusia ekstrim. Sebelah kanan adalah engkoh2 galak yang menyalak kayak chihuahua ngeselin tiap kali seseorang menyalakan hape dalam kegelapan (oke... gue akui alasannya benar, tapi sumpah gue ngeri abis di sebelah dia.) Sebelah kiri adalah mas2, yang, dengan suatu cara memutuskan bahwa menuang sebotol parfum ke badannya adalah ide bagus. Kasihan dede gue, dia sesak nafas sepanjang dua jam dan bener2 dibuat sangat dongkol sama mas2 siluman parfum.
Puji syukur kepada sanghyang widi, yang kali kedua gue nonton bersama teman dan kami berdua sangat menikmatinya. Terlalu menikmatinya bahkan.

Kami berdua... yah, kami berdua nampaknya terkena sihir pesona Keanu Reeves. Sompret, gue nggak pernah menyadari betapa Om Keanu itu lelaki yang indahnya setengah mati dan dia udah berusia 52 tahun dengan wajah yang nggak beda2 amat dari tampangnya di tahun 2000'an. Whatdefak, Om! Situ makan apa sih?

Lebih menjengkelkan lagi, demam ini benar2 bertahan lama. Like seriously, di hari Senin yang mendung2 galau gimana gitu, mendadak temen gue nge-Whatsapp gue dengan nada malu2:

Anjir kenapa gue terbayang2 John Wick melulu dengan baju hitam2nya ya?

Saat itu juga lah gue ngakak terguling2.

TUH KAN! TUH KAN!!! GUE JUGA, SIALAN! MAKANYA GUE NGAJAK LO BIAR GUE ADA TEMEN FANGIRLING. ARGHHH!! Gue menolak menanggung beban ini sendirian!! Gila ini sumpah beneran itu orang membekas banget di otak gue bikin gue kagak bisa move on. Dan gue kudu nunggu 2 tahun supaya tahu lanjutannya. Benar2 bikin frustasi!! SOMPREEETT!

Oke serius, gue tuh enggak pernah ngefans segimananya ama Mas Keanu ini. Gue jarang memedulikan aktor, gue lebih peduli konsep cerita filmnya karena gue adalah penggemar genre movie. Tapi secara itu Om (yang gue curiga adalah sejenis vampir) sudah berkarir sejak dari tahun 80'an sampe sekarang, yea... sedikit banyak ya gue nonton fillm2nya. Dan yea, sesungguhnya gue sedikit terpesona dengan dia, tapi nggak sampe demam2 kayak begini. Kagak sehat atuh.

Banyak yang bilang dia aktor buruk dan kagak bisa akting. Bicara teknis kayak begini, gue gak punya tes litmus yang tepat untuk menentukan apakah seorang aktor bisa berakting sempurna ato kagak. Intinya sejauh gue nggak illfeel ato dibikin boring sama performance dia, maka itu oke. Dan buat gue, Keanu Reeves is fine. Nggak sekelas Tom Hanks, udah pasti. Tapi yaelah kagak sekelas Vin Diesel juga keleus, jahat banget sih elu pada.
Konon contoh terburuk dari akting Keanu Reeves adalah penampilannya di film Dracula. Mukanya lempeng. Aksen British-nya ancur total. Dan dia kayak orang lemes. Masalahnya, bukan itu yang gue inget dari film Dracula, yang gue inget justru gue terpesona gila2an dengan Jonathan Harker-nya. Mukanya eksotis banget. Sama sekali bukan bule Enggresh, matanya malah sipit kayak Cina. Dan buat gue, sosok Keanu Reeves memberikan gue gambaran karakter Jonathan Harker dalam teater imajinasi gue bertahun2 sesudahnya. Sebab IMHO, asal lo tau aja, novel Dracula itu boringnya seamit2, jadi minimal ada hiburan pas lo kebosenan waktu ngebaca tu buku di bagian Jonathan Harker. LOL, antara Gary Oldman yang haus darah dan Keanu Reeves, elu tebak dah gue bakalan pilih yang mana?

Hampir semua film2 si Om dari era 90'an nggak ada yang gue tonton di layar bioskop, pasti gue taunya via TV--terutama RCTI. Kayak Speed--KW-nya Die Hard yang sukses dan jadi dirinya sendiri--gue nonton itu lebih dari tiga kali. Puji syukur pada Yang Maha Esa, bonyok gue membiarkan anak2nya nonton setiap film R-rated yang diputer di TV tanpa banyak pusing. Atau The Matrix yang bikin heboh seheboh2nya temen2 sepantaran gue berusaha meniru2 efek bullet time-nya Abang Neo. Gue enggak mempedulikan film ini sampe suatu malam yang kosong, dan satu2nya hiburan yang layak disebut hiburan hanyalah The Matrix di tipi, gue akhirnya nonton ni pilem dan otak gue dibikin mbledos dengan konsep world building-nya yang terbilang baru buat gue saat itu. Anjir, ini film keren abis!!

Sekuelnya tapi... ahem... ya gitu dhe.

RCTI juga waktu itu, entah kenapa, demen banget muter Johnny Mnemonic; film cyberpunk super campy dengan konsep edan seedan-edannya. Lupakan fakta bahwa Keanu mengumpat 'fuck fuck' di film itu sebanyak2nya, dan bonyok gue tetep cuek aja membiarkan gue nonton terus. Lupakan fakta bahwa film itu bertema dystopian yang serba gelap. Atau ada pengkhotbah bionik yang teriak 'Jesus time'!! sambil bunuh2in orang. Atau ada lumba2 pecandu heroin yang dipasangi teknologi sibernetik. Lupakan semua itu, sebab film ini, kawan, film ini adalah tambang emas.

Om Keanu begitu kerennya sampai2 dia melawan iblis dua kali. Pertama dia melawan iblis berwujud Al Pacino di The Devil's Adocate, temen gue bahkan selalu inget film ini karena ada adegan Mbak Charlize Theron jadi setengah gila dan beradegan telanjang. Kedua, dia menjadi hard boiled occult detective dalam film noir fantasi supranatural yang dipenuhi malaikat dan iblis, Constantine. Salah satu film, yang, baik gue dan dede gue sepakat, adalah film guilty pleasure yang keren abis. Setiap kalimat yang dilontarkan sama si Om, dia melakukannya dengan penuh gaya. Pemilihan kostumnya juga mantap, bener2 pas gitu sama sosoknya; kemeja putih dengan dasi hitam yang diikat sembarangan berlapis trench coat hitam juga.

Wait, to think about it, he always looked good when he's clad in black!

Pertama kali ketika gue mendapati trailer John Wick di tahun 2014, gue bukan salah satu yang mencemooh soal alasan 'balas dendam karena anjing dibunuh' yang konyol itu. Gue bahkan nggak kepikiran itu gokil. Ya anjingnya dibunuh, dia ngamuk, so what? Kenapa elu yang ribut? Film aja diributin kek gitu. Wajar sih, saat itu gue lagi pusing sama kerjaan plus juga mulai ngurusin wedding dede gue jadi perdebatan semacam itu bener2 receh banget buat gue.
Jujur aja gue nonton ni pilem emang karena gue sedang mencari hiburan lantaran gue lagi mumet banget, dan dari seluruh film yang diputer saat itu, cuman John Wick yang keliatannya sesuai dengan selera gue plus ada Keanu Reeves. Gue bahkan kagak ngajak temen, seperti sedang kencan dengan diri sendiri. Atau dengan Keanu Reeves, terserah, itu cuma masalah cara pandang doang. Intinya gue pergi sendirian ke bioskop dan sendiri pula lah gue menikmati film yang ternyata jauh lebih mengesankan daripada yang gue kira sebelumnya.
Sebenernya gue sama sekali nggak ada masalah andaikata Mr. Wick murka lantaran anjingnya dibunuh begitu saja tanpa latar belakang kenapa atau bagaimana, bagi gue ini film yang premisnya dari pertama kali udah absurd begitu. Practically, I will get behind any weird reason, whatever it is. 

Berhubung gue relatif nggak terlalu nyimak trailer2 lainnya, gue kagak sangka ternyata ada cerita soal istri yang meninggal dunia akibat kanker, dan anjing itu sengaja dikasih untuk menemani Wick dalam kedukaan dan kesendirian setelah dia tiada. Mengetahui ini gue jadi... oh sialan, gue sekarang bisa berempati kenapa dia begitu marah.
Astaga jadi ini bukan sekadar tentang anjing! Ini tentang kenangan seorang wanita yang sudah tiada yang dinodai!! Andainya bocah2 Rusia idiot itu hanya mencuri mobilnya, mungkin Wick hanya nyamperin si bos mafia Rusia doang dan minta mobilnya dibalikin. Anak bego itu palingan ditabok bapaknya. Udah, kelar.  Kagak pake hujan darah.
Tapi mereka membunuh anjingnya udah kayak orang barbar. Oke... baiklah... gue merestui tokoh utama ini untuk membantai semua orang yang bertanggung jawab. Hell yeah!

Yang gue gak sangka juga soal film ini; John Wick ternyata lebih dari sekadar kisah balas dendam brutal seorang pria yang murka. Rupa2nya dunia dimana pria murka ini tinggal, merupakan dunia yang ditulis dengan sangat2 menarik. Gue nggak pernah terpikir akan mendapati film action semi fantasi dengan world building sebaik ini. Biasanya cuman eksposisi, dan dar-der-dor-duar! Big explotion dan udah.
Film yang satu ini sukses membangun realita fantasi dunianya. Jadi, John Wick ternyata adalah mantan pembunuh bayaran legendaris di universe itu, mereka bahkan memberinya gelar 'The Boogeyman', seperti Hitokiri Battosai untuk Kenshin Himura. Dan di dalam universe ini rupanya ada hotel The Continental yang ternyata adalah rendezvous bagi para pembunuh bayaran dimana tempat itu adalah netral ground sehingga tak seorang pun diperkenankan 'berbisnis' di sana--melanggar dan lo mampus ditembakin, kemudian para pembunuh bayaran ini punya mata uang sendiri yaitu koin emas seperti duid Galeon Spanyol. Banyak adegan dalam film ini yang membuat gue terkejut dengan kreativitasnya; misal ketika John Wick berhasil membantai 12 orang yang mencoba membunuhnya di dalam rumahnya sendiri, dia menelepon seseorang dan bilang dia memesan makan malam untuk 12 orang. Gue langsung tertawa. Oh yeahhh... this movie rocked.

Dan lucunya, sekalipun film ini bergaya hiper realistis dimana seseorang bisa begitu jagoannya sehingga sanggup membunuh 84 orang lainnya seperti lalat, John Wick masih punya sentuhan realistis. Ya, dia menembaki orang dengan tingkat presisi sebuah aimbot, tapi dia selalu mengisi ulang pistolnya. Dia selalu menghitung berapa kali dia sudah melepaskan tembakan dan dia berhemat peluru jika perlu. Ada momen dimana dia benar2 kehabisan peluru, sedikit panik, dan beralih menggunakan tangan kosong; mencekik, mematahkan leher, menusuk orang dengan belati. Tidak seperti film action pendahulunya dimana senjata tangan bisa menembak sampai puluhan kali tanpa harus diisi ulang, John Wick berjejak pada realita fisika.
Plus, tidak seperti jagoan film action pada umumnya, dia tidak kebal dengan serangan balik musuhnya. Di sepanjang film dia benar2 dipukuli sampai babak belur, dan berdarah, dia bahkan terpincang2. Tapi dia selalu membalas dan dia membalas dengan mematikan. Orang ini benar2 bajingan jagoan!

Dan Keanu Reeves benar2 luarbiasa di sini. Basically, dia bagai menari di sepanjang film, menarikan sebuah tarian yang sangat menakutkan dalam segi presisi, dipenuhi kebuasan dan kekerasan ekstrim, dan meninggalkan tumpukan mayat dengan lubang di dahi sesudahnya. Seluruh seni gerak ini menyatu bersama dengan latar belakangnya, dengan musik pengiringnya menjadi sebuah balet maut yang begitu cantik sehingga lo tidak peduli berapa banyak orang mati. Hal semacam ini adalah sesuatu yang nggak akan lo temui dalam film jaman sekarang yang dipenuhi jump cut, shaky cam, dan editing yang busuk bikin sakit kepala. Melihat bagaimana dia bergerak dan betapa rumit koreografi yang harus dia lakukan, saat itu gue percaya bahwa Keanu Reeves adalah seorang pedansa yang sangat baik di kehidupan nyata. Demi Tuhan, dia terlalu cocok memerankan karakter ini, sosoknya yang tinggi semampai berbalut pakaian serba hitam dari atas sampai bawah. Bagai bayang2 malaikat kematian yang kerap mengintai lawan2nya. Duh, om... gue sampe mesem2 liatnya. Fanservice banget ini.
Jangan salah, John Wick juga punya momen2 konyol dengan joke2 yang tentu saja, morbid. Para penjahat yang menciut nyalinya saat tahu apa yang dilakukan si bocah tengil pada tokoh utamamya. Atau running gag soal bagaimana Wick membantai tiga orang di bar hanya menggunakan sebatang pensil sebagai senjata.

Sesudahnya gue tak bisa berhenti berkicau tentang betapa John Wick adalah film action paling unik yang pernah gue lihat. Gue sangat terpesona dengan world building-nya, dengan skill yang ditampilkan aktornya. Dan tentu saja gue tidak akan melewatkan sekuelnya yang baru keluar tahun 2017 ini.

Dan sehabis gue menonton sekuelnya, John Wick Chapter 2, gue bersumpah... ini adalah film dengan genre bending paling kreatif yang pernah gue tonton; sebuah neo noir, action, fantasy. Asli, gue belom pernah menemui yang seperti ini sebelumnya dan gue bener2 sangat menyukainya. Plus, mereka berhasil menjalin alasan kenapa Chapter 2 itu ada. Gue bener2 suka dengan aturan dan konsekuensi yang diterapkan secara tegas dalam pembuatan world building film ini.

Di mata gue, John Wick tak lain adalah sebuah dunia persilatan modern--di sini mereka menyebutnya dunia para pembunuh bayaran. Tapi ini tiada ubahnya seperti setting dalam novel Jin Yong, hanya saja dengan modern twist dimana tokoh utamanya malah seorang anti-hero. Universe ini terbagi2 dalam beberapa kelompok; The Continental yang merupakan kelompok pembunuh bayaran dengan aturan hidup dan etika mereka sendiri, High Table yang merupakan gabungan perwakilan dari para keluarga bandit seluruh dunia dan kerap menggunakan jasa pembunuh dari The Continental, dan kelompok sektarian di New York yang dipimpin The Bowery King, yang menurut gue adalah Ketua Partai Pengemis. Gue rasa kelompok2 lainnya akan dimunculkan di Chapter 3.

Sebagaimana kisah neo noir yang baik dan benar, story arc John Wick adalah sebuah tragedi yang menimpa karakter utamanya. Dan sekuelnya menegaskan status ini tanpa belas kasihan, Wick adalah korban dari takdir yang kejam, sebuah fatalisme yang tidak terelakkan. Saat dia ingin berpisah dari Dunia Bawah para pembunuh bayaran, dia diserahi Tugas Mustahil oleh keluarga Tarasov (kelompok yang dia bunuh di film pertama) kurang lebih itu adalah job ala Bandung Bondowoso yang sengaja diberikan biar Wick tidak bisa lepas. Tapi diam2 John Wick melakukan sebuah Perjanjian Darah yang ditandai dengan Marker berisikan cap jempol darah (which is fucking awesome concept) dengan seorang putra mafia Italia, Santiago D'antonio, orang paling busuk yang menjadi satu2nya jalan keluar bagi dia saat itu. Tentu saja ketika Santiago mendengar John Wick muncul kembali dan membantai habis keluarga Tarasov di film pertama, dia memutuskan untuk menagih utang darahnya.

Harus gue akui, ini sebuah ide brilian untuk menyambung jalan cerita dari film pertamanya. Sebab sudah ditegaskan dari film pertama bahwa dunia John Wick memiliki aturan main dan kode hidup dengan segala konsekuensinya. Dan bahkan seorang pembunuh bayaran paling hebat sekalipun tidak bisa lepas dari aturan main yang mengikatnya dalam ketidakberdayaan. Konsekuensi dari utang darah yang dibuat Mr. Wick adalah dia harus membunuh saudara perempuan dari Santiago sendiri agar dia bisa merebut kekuasaannya dari High Table. Sesuatu yang kemudian akan mengacaukan tatanan dunia bawah tanah New York dan tak ada seorang pun yang akan menyukainya.
Dari pertama kali Santiago muncul di ambang pintu rumahnya John Wick tahu penderitaannya takkan berakhir begitu saja, bahkan ketika dia memelas pada Santiago untuk tidak menagih utang darahnya. Oh tidak. Tokoh utama kita terperangkap dalam dunia dimana segala isinya berperang keras melawan dirinya; The Continental dan High Table menciptakan aturan yang menjerat hidupnya. Perjanjiannya dengan Santiago mengharuskannya untuk membunuh lagi, tapi bahkan ketika dia berhasil melaksanakan tugas itu, John berakhir dengan kontrak terbuka seharga 7 juta dolar bagi siapapun yang sukses menghabisinya.

Seluruh kejadian itu akhirnya membawa anti-hero favorit kita pada sebuah keputusan yang bahkan membuat gue menyentakkan nafas: John Wick menghabisi Santiago di dalam Hotel The Continental!!
Setelah melanggar aturan paling suci dari hotel, Winston, si manajer The Continental cabang New York tak punya jalan lain selain mengasingkan Wick, memutusnya dari seluruh fasilitas The Continental. Dengan High Table melipatgandakan harga kepalanya menjadi 14 juta dolar dalam kontrak terbuka yang kini berskala internasional, John Wick kini praktis sendirian melawan dunia brutal yang akan memburunya kemana pun dia pergi.
Pada akhirnya, Marker yang membuatnya keluar dari kehidupan lamanya justru adalah benda terkutuk sama yang menjerumuskannya dalam seluruh fatalisme ini. Kini Wick tak punya siapapun dan apapun. Istrinya meninggal, rumahnya dihancurkan bersama seluruh kenangan akan istrinya, nyawanya dihargai 14 juta dolar, dan dia terasing dari satu2nya dunia yang dia kenal. Dia sama dengan mati.

Dan gue berakhir dengan kekaguman luarbiasa terhadap sekuel yang brilian ini sebab gue bener2 tak bisa menebak jalan ceritanya sama sekali di Chapter 3 nanti. Apa yang menanti Wick dan bagaimana dia menghadapi seluruh dunia yang kini memburunya seperti anjing2 hutan yang haus darah? Apakah dia akan menata ulang tatanan yang sudah ada dan menciptakan tatanan baru dari dunia persilatan yang dia huni? Atau dia akan mati dalam akhir yang tragis?

Oh Tuhan, betapa gue jatuh cinta dengan cerita dark ini. Mereka sukses mempertahankan mitos dari sosok John Wick yang tragis. Simbolisme The Continental yang diibaratkan seperti perjalanan menembus dunia orang mati dalam mitologi Yunani. Koin emas yang merupakan bekal perjalanan menuju dunia bawah, John Wick yang selalu berpakaian serba hitam ketika akan mencabut nyawa, seperti sesosok Grim Reaper bersenjatakan pistol dan senapan serbu. Mereka memperlakukan dunia bawah tanah seperti Dunia Bawah milik Hades. Ada sejenis romantisme morbid yang sangat memikat dan gue tergila2 dengan cerita fantasi seperti ini.

Jadi itulah mengapa gue sampai nonton dua kali. Ini adalah panggung gelap dimana Keanu Reeves dengan keluwesan membantai orang2 secara brutal membabi buta dalam tarian artistik yang menyentakkan nafas. Panggung dimana settingnya seakan berasal dari kisah Midsummer Night's Dream. Hamya saja dia tidak menang dalam kisah tragis karakternya. Oh tidak.

Dan gue bener2 tak sabar menanti babak ketiganya...

Sebuah narasi tentang Goblin

Ketika temen gue mengingatkan dengan santun bahwa tokoh utama film Goblin adalah orang yang sama yang menjadi om2 galau pembantai zombie di kereta ekspress menuju Busan, gue tidak menyangka betapa serial ini akan sangat hype. Sebagaimana veteran yang sudah tonjok2an di forum dan self-proclaimed Twilight-hater, entah kenapa gue jadi sedikit mengenang masa lalu nan unik itu; pahit, manis, ngakak2 tolol, dan menaiki hype train ekspress Twilight-hater sambil membantai fantard2 gemblung di atas atap dan di dalam gerbong. Pokoknya mirip Goong Yoo juga, nusuk2in zombie, bedanya ini ababil2 obsesif.

Tapi sekian waktu berlalu, gue belajar banyak dari pengalaman yang bisa dibilang tiada duanya itu. Gue belajar tentang gimana sih bikin storytelling yang bagus, apa itu deus ex machina, apa itu mary sue dan gary sue. Gimana menilai sebuah narasi yang koheren, world building, dst2.
Di saat bersamaan, gue, yang juga hobi nulis2 gak penting untuk membunuh waktu dan melepaskan stres, menyadari betapa gue tidak memenuhi persyaratan seberat itu. Oh tidak, tidak... gue bukan penulis yang baik. Setidaknya gue selalu kebingungan sendiri menuliskan story arc sebuah narasi. Apa tujuan dari perjalanan para tokoh utama dalam cerita, apa yang membuat pengorbanan dan pengalaman mereka penting?

Dalam Harlequin, mereka mencari cinta sejati. Lo boleh bilang ini kacangan setengah mati, tapi akuilah ini tetap sebuah story arc yang utuh. Sementara gue... ah, gue cupu.

Tapi dari sekian otodidak soal teknik menulis yang benar, ada satu hal lagi yang gue dapatkan:

Bahwa ngomel2 soal hype kayak beginian emang cuman buang2 waktu. Ironisnya waktu adalah satu hal yang melimpah di suatu waktu di masa2 yang lampau dan bahagia bego2 itu.

Seorang teman pernah mengeluhkan betapa Harry Potter merusak imej tentang Goblin. Nampaknya dia seorang purist garis keras dalam menilai bagaimana seorang pengarang mengintegrasikan sebuah mitologi di dalam ceritanya. Dia pecinta game high fantasy yang kompleks, semacam Dungeon & Dragon. Pandangan yang sepenuhnya gue tidak setuju. Buat gue setiap pengarang berhak mengintegrasikan ide2 yang menurutnya tepat dalam story arc-nya. Jika Tante Rowling merasa Goblin itu makhluk cebol yang berbakat jadi bankir. Kenapa tidak? Selama itu menarik, tidak bikin gue ilfeel, dan berada dalam Garis Besar Haluan Selera Pribadi, gue akan menyimaknya.

Oh... tapi gue emang nggak setuju Sherlock Holmes jadi sosiopat kekinian sok keren. Sori dah... kagak terima gue yang itu. Lagian buntut2nya kualitas ceritanya ancur juga dan kena protes sejuta umat. Told you so.

Pertama kali gue mendengar keluhan yang berasa congkak ini, diam2 gue tertawa dalam hati. Sejujurnya gue semestinya tersinggung karena gue adalah pecinta Harry Potter, tapi oh tidak... kegeramannya saat itu justru nampak imut banget di mata gue. Oh, no, Sir. You don't know even half of it. 
Dan gue bener2 menanti hari dimana dia akan meleduk kayak kompor ketika melihat Goong Yoo... adalah Goblin unyu. MWAHAHAHAHAHA!!

Bener aja... pacarnya tergila2 serial KDrama itu, dan sedikit banyak itu membuatnya tersengat. Cowok unyu2 supranatural dengan kekuatan super dan ganteng forever. OMAGAH, ULTIMATE FUCKING FANTASY! Oke... I feel you cowok2 yang dibandingin ama Edward Cullen, I feel you. Dibanding2in dengan tokoh fiktif itu rasanya hidup KZL banget.
Bisa ditebak dia ngomel2 lagi soal penistaan karakter Goblin. Tapi kali ini gue ga setuju, kenapa?

First of all... the actual term is dokkaebi. 'Goblin' is how Korean tried to find the similar word for idiot Westerners.
Secondly... hear me out.

IT WILL PASS!!

I'm sorry, tapi gue JAUH JAUH lebih gedhek sama superhero tren yang kayak nggak abis2. Tren ini eneg banget karena gue kayak ga punya pilihan selain superhero untuk menikmati film2 blockbuster sambil mamam berondong jagung. Tahun 2017 basically littered with freaking superhero movie!! At least sineas Korea masih ngasih elo pilihan. AT LEAST!!

Dude... let women has their own stupid tropes. It's not ruining the world as you know it, unlike Trump.

Anyway... menurut gue sih Goblin jelek.

Oh ayolah... jangan tatap gue seperti itu! Seperti elo, gue juga berhak nonton dan mengkritisi ceritanya.
Ya, film ini begitu hype-nya sampai2 gue dibuat penasaran untuk mencoba mengikutinya. Belom lagi didaulat sebagai serial terbaik di Korea sana. Pujian2nya luarbiasa, dan sambutannya tak kalah dasyhat.

Well...

Oke, gue nggak akan bohong dengan bilang bahwa gue suka dengan tropes Kdrama. Mulai dari cowok tsundere tipe C, cewek hebohan, dan kisah Cinderella. Bangunan2 indah, karakter2 yang serba cantik dan tampan berbalut baju bagus. At best... Kdrama itu sinetronnya orang Korea. Itu adalah cerita escapism dengan tropes yang sudah jelas.

In short... it's a guilty pleasure.

The thing is... Goblin menyandang seluruh tropes itu bagai lencana. Dari episode pertama gue menontonnya, gue hanya memutar bola mata sambil menertawai tropes2 yang mereka tampilkan. Dan demi Toutatis!! Durasi satu jam itu terlampau berlebihan menurut gue. Banyak adegan terasa berpanjang2 dengan lingering shot yang over the top menampilkan keindahan interior rumah dan landscape. Gue bener2 dibuat bosan di episode pertama, nyaris menyerah bahkan. Well, jika ini yang mereka sebut dengan Kdrama terbaik, gue benar2 mengkhawatirkan kualitas serial2 lainnya.

Tapi gue mencoba bertahan dan melanjutkan ke episode berikutnya. Still cringeworthy, still awkwardly written, and I truly hate Ji Eun-tak character. Namun di sisi lain, ada satu elemen yang menurut gue sangat menonjol sekaligus memukau sampai2 (tragisnya) elemen itu menenggelamkan cerita utamanya sendiri. Apakah itu?

The goddam Grim Reaper's universe!!

Cerita yang mereka buat soal dunia para Jeoseung Saja bener2 sangat menarik. Like, gue malah lebih senang melewatkan Kim Shin dengan kegalauan dan lore soal Goblin-nya yang terlalu obvious dan dituturkan berpanjang2 macam novel tapi ditampilkan dalam media visual.

I just wish this is a story about Jeoseung Saja all along. Mereka menciptakan hal2 kecil yang menarik soal para pencabut nyawa ini dalam serial Goblin. Bahwa ternyata mereka hidup di tengah manusia fana, tinggal di bangunan buatan manusia, juga butuh makan dan tidur. Tapi juga mereka makhluk abadi dan tidak bisa terluka sama sekali. Ada dualisme menarik yang ditampilkan disini, and actually I'm okay with the weirdness of it! No need to explain why, it's just it is.

IMHO world building para Jeoseoung Saja ini jauh lebih kompleks ketimbang si Goblin sendiri. Serius. Ketika mereka sepertinya nggak merasa perlu memberikan batasan pada Kim Shin soal eksistensi dan kemampuan astral yang dia miliki, sehingga buat gue dia ga lebih dari karakter OP yang tidak menarik, para penulis naskah justru bisa2nya merepotkan diri membangun dunia kecil pada pencabut nyawa yang justru hanyalah cerita sampingannya. Gue tergila2 dengan detail2 unik nan antik dari tiap2 individu Jeoseoung Saja dengan dunia mereka, kayak bagaimana penulis menghilangkan kesan angker Jeoseung Saja, memodernisasi konsep mereka dengan bikin cerita bahwa kerja mencabut nyawa itu nggak lebih keren daripada day job manusia. Atau ternyata mereka bisa dilihat manusia kecuali kalau mengenakan topinya.
Lalu dalam tiap tugas mencabut nyawa ada SOP yang perlu dilaksanakan; membacakan catatan kematian, membawa jiwa2 yang kebingungan itu dan duduk bersama sambil menenangkan mereka. Terakhir adalah membujuk arwah2 itu untuk mau meminum teh lupa ingatannya agar kelak mereka bisa bereinkarnasi tanpa dibebani memori akan kehidupan lama mereka. Jika arwah yang dicabut nyawanya adalah orang2 dengan banyak dosa, Jeoseung Saja juga menegaskan apa yang terjadi dalam hukuman yang mereka akan terima di neraka.

Lalu ternyata ada glitch dalam sistem seperti missing soul. Ternyata ada SOP juga kalo ketemu missing soul, si Jeoseung Saja yang bersangkutan mesti mengajukan ijin. Mereka juga mesti mengerjakan paper work.

The best thing is Jeoseoung Saja ini bisa nongkrong bareng sambilan mengeluhkan sulitnya pekerjaan mereka. Sebab... yea, mencabut nyawa itu bukan perkara gampang. It's a shitty job filled with tears and plea and anger of the dying person.

Oh, dan mereka juga punya internal affairs untuk memastikan setiap Jeoseoung Saja bekerja dengan penuh tanggung jawab. Jadi jangan coba2 korupsi ya!

It's... fascinating! Gue penasaran dengan konsep bahwa ternyata Jeoseoung Saja sebenernya adalah orang2 mati yang ingatannya dihapus dan bekerja di Pengadilan Neraka untuk menebus dosa2 mereka. Mereka tak punya nama, identitas mereka dihapus sama sekali. Apakah ini terjadi by consent? Bahwa si orang mati yang menjadi Jeoseoung Saja ini setuju untuk melayani Pengadilan Neraka sampai waktu yang disepakati untuk menebus kesalahan mereka di masa lampau supaya bisa bereinkarnasi lagi sebagai manusia? Atau ini hukuman abadi dimana orang2 mati ini terperangkap menjadi Jeoseoung Saja selama2nya tanpa ada kesempatan untuk bereinkarnasi?

Buat gue ini menarik sekali, sekaligus aneh, sebab dunia mereka lebih dieksplor sama penulis naskahnya. Hingga pada akhirnya, ini justru merugikan cerita utamanya. Karena gue jadi ga peduli apakah Kim Shin akan berhasil dalam perjalanannya untuk menemukan pengantinnya sehingga dia bisa berhenti menjadi abadi. Gue lebih2 tak peduli lagi dengan Ji Eun-tak, atau Yoo Deok-hwa, atau wanita pemilik kafe yang ternyata adalah reinkarnasi dari saudara perempuan Kim Shin di masa hidupnya.

Nope, I don't give a shit about them. Give me more Wang Yeo and his morbid world. I love his weird job and his interaction among his peers. It's genuinely funny and charming and kinda sad too. Forever bounded to walk on earth not remembering your whole memory, everything that you've experienced that makes you a person. Identity is what makes somebody as a special individual, what makes you as 'you'.
Man... It's should be Death Parade. It should be a mystery dramedy sprinkled with morbid humor while some immortal characters talking about death, remorse, and meaning of life in whimsical way.

But of course those are not the tropes from Kdrama. So they gave me boring story of Kim Shin and Eun-tak while his interaction with Wang Yeo is more interesting.

Dan gue masih ngerasa alasan Kim Shin dikutuk jadi Goblin itu mengada2, bahkan dituturkan dalam eksposisi paling laughable yang pernah gue liat. Like... seriously? You gave away your mystery just that? Lo menempuh cara model begini? Setidaknya dalam Beauty And The Beast, visualnya luarbiasa indahnya, dan mereka sekalian pake narator. Dan.. oh, itu DONGENG! Jadi narasi seperti itu sangat pas penempatannya.
Bisa jadi lebih menarik kalo alasan kenapa dia jadi Goblin itu nggak pernah dijelaskan dari pertama kali, dan baru pelan2 dibuka seiring dengan berjalannya cerita. Kenapa lo buka misterinya dari pertama coba... nggak seru banget ah!

Sebagai cerita, Goblin terasa timpang dipenuhi karakter2 yang sebagian besar tidak penting. Seolah2 si penulis cerita sebenernya kepingin menulis fantasi soal dunia para Jeoseoung Saja dengan Goblin sebagai karakter yang terjebak di tengah2 dunia mereka namun editor merasa hal tersebut tidak akan terlalu menarik di mata target audience mereka yang adalah para wanita. Lalu dia menarik sebuah novel dari tumpukan buku di atas mejanya, menyorongkannya pada si penulis naskah dan bilang.

"Nona penulis, saya suka dengan cerita Anda. Tapi ini akan sulit dijual pada target mainstream kita. Saran saya, cobalah baca novel ini, contoh terbaik tipe cerita yang disukai pemirsa; cowok sempurna yang OP kebangetan, dan kisah cinta dua dunia. Meledak di tahun 2010, membuat cewek2 menggila dan cowok2 merana selama empat tahun berturut2, bahkan menelurkan fanfic yang kemudian dibukukan dan juga diadaptasi filmnya."

"Oh, coba saya lihat, apa judulnya?"

Lalu dia melihat novel yang dimaksud;

"Ingat kata kuncinya. Menjual," si editor menegaskan.


Ok. Fair enough, Goblin nggak seburuk Twilight. Masih ada elemen yang sangat menarik dari serial itu yang sayangnya, harus dirusak dengan kisah percintaan yang nggak penting, karakter yang lebih nggak penting lagi. Dan tokoh utama yang terlalu Over-Powered.

Apakah gue membenci Goblin? Seperti temen gue yang ngeluh di status fesbuk mempersoalkan hype yang menistakan nama baik pergoblinan sedunia? No... I don't. It's just a serial, a hype one for sure. Buat gue sih jelek dan not worth my time, tapi buat lo yang suka banget sama Goblin, so what? Tontonlah, enjoy your guilty pleasure! Goong yoo itu ahjjusi ganteng kok. Gue bisa melihat appeal dari cerita ini, tapi ini sudah bukan masanya lagi gue menggemari hal2 begini. Apakah lo setuju dengan pendapat gue mengenai kelemahan2 cerita ini atau tidak, itu takkan mengurai kesenangan lo menikmati filmnya. Itulah indahnya guilty pleasure, tidak perlu ada yang dipersalahkan. Sayangnya Goblin bukanlah guilty pleasure selera gue. I'm more with Lockwood & Co. side.

Talking about Fantastic Beast

Ada baiknya memang saat gue memutuskan menghindari trailer film Fantastic Beast And Where To Find Them sepanjang tahun 2016 kemarin. Gue jadi nggak terlalu mikirin juga enggak terlalu expect banyak dari film ini selain gue ingin tenggelam dalam Potterverse sekali lagi tanpa harus digerecoki Harry, Hermione, dan Ron terus2an. Buat gue kisah mereka sudah selesai, saatnya move on.
In fact, gue nonton Fantastic Beast And Where To Find Them dua kali. Sekali di Jakarta bersama teman2 dari klub buku, dan sekali lagi bersama dede gue di Singapura.

Secara umum gue menikmati filmnya dan bahkan terpukau dengan endingnya yang magical banget menurut gue. Tapi banyak yang tidak sependapat dengan gue, terutama anak2 dari klub buku mereka merasa underwhelmed dengan jalan ceritanya. Bahkan temen gue yang sesama penggemar Harry Potter aja, at best, bilang film itu oke.

Fantastic Beast... a Harry Potter spin off, is freaking 'okay'.

Mengejutkan.

Gue seketika dibuat bingung kenapa Fantastic Beast tidak mendapatkan cinta sebesar heptalogi Harry Potter. Mungkinkah karena naskahnya terbilang original dan bukan adaptasi lantaran buku aslinya sebenernya adalah false document yang cuman setipis buku tulis SiDu, apanya yang bisa diadaptasi? Justru tantangan ini malah menciptakan celah untuk membuat sebuah cerita yang nggak terpatok sama bab2 dalam buku,  memuaskan tuntutan fans yang enggak ada habis2nya. Bahkan menghindari mata2 tajam yang doyan membanding2kan lalu mencela.

Just, 'okay'?? WTF??


Run, Scamander! Run!

Karena ini Harry Potter, dan gue menghitung diri sebagai fans Harry Potter, maka gue mulai mewawancarai anak2 klub buku kenapa mereka menganggap film itu tidak istimewa sementara gue sendiri sangat puas. Rupanya kebanyakan dari mereka sudah nonton trailernya berulang2, ada pula yang ngikutin perkembangan hype-nya. Sementara gue tidak melakukannya sama sekali. Kemudian... sebagian dari mereka (termasuk gue sebenernya) jengkel dengan keputusan Rowling dan produser untuk menambah sekuel Fantastic Beast sampai 7 seri setelah sebelumnya dia mengeluarkan novel2 spin off tentang Hogwarts, yang, NO... I won't read it.
It's freaking Marvel Cinematic Universe all over again. Tren yang gue sangat tidak suka karena memaksakan segala2nya harus terhubung, plus... alih2 mendapatkan ide cerita lain yang mungkin berpotensi jadi franchise baru, gue dibawa ke universe yang itu2 aja. So uninspiring, it's maddening. Tapi gue paham kenapa Rowling kembali lagi pada Harry Potter yang membawanya jadi orang terkaya di Inggris, it's giving her a stable income from an established franchise. Lagipula setelah Brexit, segala2nya jadi tidak jelas, dan bahkan orang selevel Rowling pun butuh uang kalau2 keadaan jadi tambah kacau.

I get it why she's doing that. But I refuse to take a part with it.

Salah satu kekecewaan yang diutarakan temen buku gue adalah, bahwa untuk film yang judulnya Fantastic Beast And Where To Find Them, film ini sangat kurang unsur petualangan dan hanya terpusat di satu tempat saja, New York City. Dia membayangkan old school mystery adventure semacam Indiana Jones atau Allen Quatermain, yang selalu berpindah2 tempat berkeliling dunia untuk mengejar harta karun sambil berusaha mencegah si penjahat mendapatkan barang yang sama.

Lalu ada yang bilang juga story arc utama yang memiliki villain utama yaitu Gellert Grindelwald hanya membuat Fantastic Beast 'cuma' pengulangan dari Harry Potter seperti The Force Awakens adalah pengulangan dari A New Hope, dimana Kau-tahu-siapa digantikan Captain Gellert Grindelwald 'Sparrow'.
Ada yang bilang MACUSA is bunch of retarded assholes. Untuk yang satu ini gue keberatan, MACUSA cuy... they being bunch of retarded assholes makes perfect sense. Lagipula bahkan Kementerian Sihir di novel Harry Potter pun ga bisa dibilang kompeten. Harry Potter adalah cerita yang merayakan sosok anak2, jadi sangat wajar melihat orang dewasa digambarkan tidak mampu dan bahkan bodoh.

Tapi setelah gue berbincang2 dan berdiskusi. Harus gue akui... kesan gue terhadap Fantastic Beast And Where To Find Them jadi berkurang banyak. Indeed film itu memang seharusnya dibikin old school adventure ala Indiana Jones; setelah kecelakaan besar yang membuat keberadaan kaum penyihir AS nyaris terungkap, Newt menyelidiki misteri jaringan perdagangan satwa gaib di New York yang membawanya bersama Auror bernama Porpentina Goldstein terjebak di padang es penyihir Samoyed sampai gurun2 Timur Jauh. Yep, it's as cliche as you can get, tapi Harry Potter terkenal bukan karena twist yang baru atau storyline yang unik. It's fun and charming. The whole whimsicality which enticing people to read until dawn breaks and forgo the much needed sleep.
Kenapa harus terus2an di New York City... it's soooo Marvel, it's kinda boring. Kinda, tertolong pemilihan setting Prohibition Era yang charming dan gelap di saat bersamaan.

Lagipula keluhan mereka soal pemilihan Gillert Grindelwald sebagai villain utama juga valid. Kenapa oh kenapa?? Kenapa harus Gillert Grindelwald dimunculkan di seri pertamanya, heck... why even Grindelwald AT ALL? Siapa yang peduli dengan Grindelwald?? Kenapa harus ngurusin Obscurus?? Siapa yang mengira ide Obscurus itu tema utama yang menarik buat franchise Fantastic Beast????

Oh, you fucking shit...

It's.... riddikulus.

Ga percaya? Coba lo Google fanart Fantastic Beast dah. Liat aja dari thumbnail yang ditampilkan, hampir semuanya soal Newt mengejar2 Niffler atau Occamy. Atau Newt bersama binatang2 lainnya meskipun kalah populer jauh daripada si Niffler.

IT'S ALL ABOUT THAT FREAKING NIFFLER!! EVERYBODY REMEMBER THAT FLUFFY GOLD DIGGER!

Bukan Grindelwald

Bukan Obscurus.

Nobody gives a shit about that stupid black floating blob. Who cares about evil wizard with a penchat to rule the world? We had our share in Harry Potter heptalogy about power hungry Dark Wizard. He's called Lord Voldermort.

Gue jadi baper begitu mikirin itu. Galau berat. Temen klub buku gue bahkan lebih kejam lagi dengan bilang... Niffler itu satu2nya hal yang menyelamatkan Fantastic Beast di matanya dari kehancuran bernama masa kanak2 yang dikhianati. Dan harus gue akui, emang iya. Gue suka banget sama Niffler itu dan gue suka banget ruckus yang terjadi untuk menangkap Occamy yang segede gaban ternyata mesti dijebak dalam poci teh dengan pancingan kecoak. Absurditas kek gitu yang gue cari di Potterverse.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Obscurus and Grindelwald then.

Oh... man. Oh shit....


Fantastic Beast And Where To Find Them memang tidak semengecewakan The Force Awakens dimana gue keluar dari teater dengan kejengkelan yang membuncah. What an uninspiring, uncreative, piece of plagiarism!
Fantastic Beast? Gue bahkan nggak bisa bilang film itu jelek; di minggu2 pertama setelah pemutarannya, gue bener2 sangat menyukainya. Tapi dengan berjalannya waktu, ketika hype-nya sudah kendor... dan akal sehat akhirnya menghampiri gue sambil cengar cengir, gue mulai menyadari betapa sesungguhnya film ini tidak sesuai dengan harapan gue (dan teman2 buku gue.)

So... it's 'okay' I guess.

He works as a manager in Gringotts Bank, Seoul Branch

Jadi kurang lebih beginilah perbincangan gue dengan seorang teman di rumah makan ramen terdekat. Entah apa yang terlintas di benak setelah perut kenyang dan kami menenggak teh hijau untuk mengencerkan minyak yang masih tersangkut di kerongkongan.

Gue : Jadi... on technical level, apa yang mereka maksud dengan 'Goblin' di sini?

Perbincangan itu muncul begitu saja setelah teman gue bilang akhir2 ini dia dilanda stress dan berakhir menonton sejumlah K-drama, salah satunya adalah Goblin. Dia sudah sampai di episode 8.

Ah... that Goblin.

Sejujurnya gue penasaran dengan film ini terutama karena timeline Facebook gue dipenuhi mereka yang fangirling sama Gong Yoo, a.k.a Om2 pembantai zombie di kereta menuju Busan. Gue lebih tercengang lagi dengan judulnya 'Goblin'.
First of all. Kenapa judulnya Goblin coba? Apa karena dia manajer di Bank Gringotts? Atau dia sedang liburan dari dunia kejahatan di Marvelverse? I mean... WHY? Goblin itu makhluk halus dari folklore Barat!

Eniwei... gue bahkan kaga tau sih namanya Gong Yoo pas ngeliat klip-nya pertama kali. Pengamatan pertama gue ya sekadar om2 berpakaian necis bisa berteleportasi melalui perantara pintu. Konsep yang bikin gue bener2 teringat para Adjustment Agent di The Adjustment Bureau. Yang terlupa cuma dia tidak mengenakan trilby hat saja. He should actually...
Ketika gue lalu berkomentar melalui status soal film ini, temen gue memberi info bahwa Gong Yoo juga bermain di Train To Busan dan The Coffee Prince. Gue ga tau The Coffee Prince, gue taunya manga Prince of Tea (kalo lo tanya gue apa ceritanya bagus? Gue cuman bisa miris dan bilang... well, gue malu gue ngebaca itu komik seriously. It's so bad in every cheesy way.)
Tapi gue tau Train To Busan. Film yang merupakan anak hasil perselingkuhan genre zombie dan film Snowpiercer, dibintangi om2 berwajah manis yang harus bertahan dari kebuasan para zombie tanpa pistol sama sekali. Hardcore!

Kembali ke pertanyaan, secara teknis sebenernya Om Gong Yoo itu makhluk apaan di film Goblin.

Teman gue menjawab : Dia immortal.
Gue : Ya. Tapi bicara fiksi, pengertian immortal sangat luas. Yang paling populer adalah immortal dengan diet eksklusif. Hanya sanggup mengkonsumsi cairan dengan kode A, B, AB, dan O. Atau dia harus menghisap jiwa orang untuk bertahan hidup?
Temen gue :  Dia seorang jendral di era Joseon yang difitnah dan dibunuh oleh pedangnya sendiri saat mencoba melindungi Kaisar dari manipulasi musuh dalam selimut di kerajaan. Tapi dengan suatu cara, dia hidup lagi ketika Yang Mahakuasa menemui jiwanya dan mengatakan bahwa dia akan hidup abadi sebagai bagian dari hukuman yang harus dijalaninya...
Gue: WHAT? Hukuman?
Temen gue : Yep, hukuman, mungkin karena dia banyak membunuh orang sepanjang karirnya.
Gue : Iya! Dan semua orang yang hidup di era Joseon yang berprofesi sebagai tentara! Macam mana pula keadilan di universe itu?? Masa itu karena hukuman sih?
Temen gue : Dan satu2nya yang bisa menghapus kutukan itu adalah ketika dia bertemu cinta sejatinya.
Gue : (menyeringai penuh ejekan karena kenal benar dengan tropes satu itu) Lo tau? Gue pernah mendengar premis yang serupa!

Iya, jawabannya adalah serial New Amsterdam, police procedural yang terbuai dengan fantasi dan diperankan olah aktor Game of Thrones, Nikolaj Coster-Waldau. Percaya atau tidak tapi demografi penonton genre police procedural itu sebagian besar adalah perempuan, maka jangan heran kalo genre ini bisa dikawinkan dengan paranormal romance. Gue sudah ketemu dengan police procedural yang dikawinkan dengan vampir, immortal, penyihir, dan pemburu monster. Trust me, I'm good at finding weird things.
Dalam New Amsterdam, detektif tokoh utamanya juga immortal yang terbunuh dan hidup kembali oleh intervensi supranatural dan satu2nya cara membatalkan kutukan itu adalah ketika dia bertemu cinta sejatinya.

HAHAHAHAHAHAHAHA!!

Temen gue : Lah kenapa elu ketawa...
Gue : YA IYALAH! Ini kayak gender swap Sleeping Beauty, dimana true love kiss akan melepaskan kutukan tidur abadi. Penekanan pada 'abadi'. Ini sangat konyol, tapi gue bisa ngeliat appeal-nya di mata cewek2.
Temen gue : Gong Yoo.
Gue : True. Gong Yoo. Jadi Gong Yoo adalah kamisama.
Temen gue : Ada shinigami juga.
Gue : Nggak teriak 'bankai' kan?
Temen gue : Dia tinggal serumah sama si Goblin, sebenarnya mereka saling bermusuhan karena Goblin itu pernah nyelamatin ibu hamil yang seharusnya mati dalam catatan si shinigami.
Gue : Dan shinigami ini perfeksionis, dan ibu hamil ini mengandung anak perempuan yang akan tumbuh menjadi protagonis cewek dalam film ini.
Temen gue : Yep. Dia disebut 'missing soul' karena dia harusnya sudah mati tapi dia hidup. Makanya dia bisa melihat hantu dan dewa dan goblin. Keberadaan dia juga menarik bahaya mendekat, karena eksistensi dia yang ambigu.
Gue : In which ngasi alasan part2 dimana Goblin kudu nyelamatin damsel in distress dengan gaya super keren yang bikin fangirling?

Tentu saja... dan tawa temen gue itu memastikan dugaan gue.

Well, tapi cerita ini tetep aja terperangkap dalam tropes yang paling mengganggu gue: I knew I love you before I met you.
Gue mau tanya sama lo pada. Tokoh utama berumur ratusan tahun dan pertama kali bertemu dengan cewek yang nantinya jadi jodoh dia ketika cewek itu masih janin dalam rahim. Coba katakan pada gue apakah itu nggak creepy? I mean... eewwwww. Kenapa setiap cerita yang melibatkan immortal selalu ada latar cerita kayak gitu? Kenapa nggak mereka ketemu begitu aja, dua orang asing yang kemudian saling suka. Kenapa kudu dibikinin kisah masa lampau yang rumit dan ditakdirkan bersama sedari di dalam rahim. Bayangkan ada lelaki dewasa yang mengintai anak perempuan, menantinya tumbuh dan...

Lo boleh ngemeng apapun tapi menurut gue itu 50 Shades of So Wrong In Many Levels.

Temen gue : To be honest, gue nggak tertarik dengan hubungan Gong Yoo dan Kim Go Eun. Gue suka bromance antara Goblin dan Shinigami nya.

Gue : Lo... nge-shipping Gong Yoo sama Lee Dong Wok???
Temen gue : Interaksi mereka lucu.

Oke...

Dan pada akhirnya ketika kami berpisah setelah bergelas-gelas teh hijau dan temen gue ini menceritakan bagaimana shinigami dan kamisama ini bersatu menyelamatkan Kim Go Eun dari para tukang tagih brutal. Kemunculan mereka yang diiringi lampu2 jalanan yang meredup dan padam satu per satu menggunakan deluminator milik Albus Dumbledore. Shinigami yang menghapus ingatan para penjahat dan Kamisama yang menggendong Kim Go Eun keluar dari mobil yang mereka belah jadi dua seperti semangka di musim panas. Kepala gue jadi berputar2 liar.

Sebenernya ini cerita apaan sih?? Ribetnya bikin gue muter2 keliling kompleks.

Living forever can get old after a while. Kim Shin (Gong Yoo) is a goblin who has immortal life as he watches over people’s souls. He lives with Wang Yeo (Lee Dong Wook), the grim reaper who suffers from amnesia but nevertheless does his job to help usher people’s souls into the afterlife. Shin’s nephew, Yoo Deok Hwa (Yook Sungjae), is a rebellious chaebol heir whose family has been caretakers of the goblin for generations. As Shin becomes tired of his immortal life, he contemplates whether to find a human bride to help him become human. Could Ji Eun Tak (Kim Go Eun), an optimistic high school student who falls in love with Shin, or Kim Sun (Yoo In Na), the likeable owner of a chicken restaurant, hold the key to Shin’s future?

Hmm hmm hmm hmmm...

Gagal paham. Coba lagi di situs yang berbeda.

Gong Yoo (Coffee Prince), Kim Go Eun (Cheese in the Trap) and Lee Dong Wook (Blade Man, My Girl) star in a supernatural romance that proves love can find its way past anything, including death. Kim Shin (Gong Yoo) is an immortal “goblin,” and has the rather honorable title of being the Protector of Souls. His roommate Wang Yeo (Lee Dong Wook) also happens to have the equally lofty, if thoroughly opposing, title of Angel of Death, and he acts as the storied grim reaper that claims souls. However, both these devilishly handsome angels have a problem: Wang Yeo has amnesia and Kim Shin wants to end his own (immortal) life. Unfortunately for goblins, the only way to defeat immortality is to marry a human bride. As fate would have it, Kim Shin encounters Ji Eun Tak (Kim Go Eun) a quirky, yet cheerful, girl who may be the answer to ending his cursed existence. Now, once responsible for protecting souls and watching them pass, Kim Shin tries to send his own soul to the afterlife. But when a slightly complicated method of suicide starts turning into true love, will our immortal goblin begin to regret his decision--where acting on that very love ultimately means the end of his life?

OH! I GET IT!

Oh ayolah, ini akan berakhir dengan keduanya jadi abadi bersama, ya kan? I mean... I exposed myself too much with stupid vampire stories. That's the story usually ends. 

Sigh... ini seperti Forever. Almost in the same tone, a hundred years old immortal in modern world trying to defeat immortality. Dan gue menonton Forever sambil fangirling Ioan Gruffudd dan frustasi karena ceritanya juara banget kacangannya.
Well... kalopun memang akhirnya seperti yang gue perkirakan, gue hanya akan mengandalkan temen2 gue yang melaporkan via timeline Facebook. Gue nggak tahan nonton K-drama bahkan sekalipun dibintangi Gong Yoo dan memuat meta-jokes paling ngocol dengan membuatnya berteriak2 ketakutan karena nonton Train To Busan.

Hmmm... Gong Yoo membintangi Train To Busan dan Goblin... you know what?

CROSS OVERRRR!!

Mari berspekulasi kenapa Om Gong Yoo bisa berakhir jadi kamisama di Goblin. Menurut gue jauh lebih masuk akal kenapa dia berakhir jadi immortal di Goblin. Dia digigit zombie di akhir Train To Busan dan memilih melompat dari lokomotif untuk mengakhiri hidupnya dan takdir menjadi makhluk lapar pemakan daging manusia. Bagaimana kalau zombifikasi yang menimpanya tidak membuatnya jadi undead pemakan daging manusia? Hanya menjadi... well, undead?

Yah, itu terdengar seperti Warm Bodies. Ya sudahlah.

P.S
Dialog gue dan teman gue mengalami banyak penulisan ulang. Gue nggak pernah ngobrol dengan pemilihan kata seformal itu, tapi arah pembicaraannya masih sesuai dengan apa yang kita obrolin di Ikkudo Ichi beberapa jam yang lalu.

A gap to fill, truthfully it's kinda weird...

Walau secara teknis sebenernya yang gue lakukan ini ilegal... tapi sesungguhnya gue merajut ditemani oleh film2 animasi yang dengan mudah diakses di Youtube. Berhubung amigurumi yang gue rajut ini adalah pesanan orang dan harus diselesaikan dalam tempo sesingkat2nya, maka selama empat hari itu gue merajut secara ekstensif ditemani berbagai film animasi hampir non stop.

Penasaran dengan amigurumi yang gue rajut?

TADAAAA!! Tingginya 17 sentimeter.



Terimakasih kepada semua animator yang sudah menghibur gue dengan hasil karya mereka untuk menambah semangat menyelesaikan anjing ini

Oh, dan seluruh film animasi yang gue tonton ini diisi oleh karakter non-manusia. Hewan anthropomorphic. Sintaktik dengan karakter yang gue rajut tentunya; gue suka segalanya konsisten dan sintaktik, oke?
Hasilnya kepala gue diisi oleh tikus2 anthrophomorphic. Juga anjing. Juga kucing. Mulai dari Disney sampai Hayao Miyazaki, dan gue akan membahas yang lain diluar film2 animasi yang gue tonton dalam empat hari itu. Sebab tema dari seluruh animasi yang mengisi keheningan dalam kegiatan merajut gue selain bahwa karakter2nya adalah hewan anthropomorphic, mereka memiliki satu benang merah.

Sherlock Holmes!

Oh yeah yeaaah... that Victorian fictional character, not the anthropomorphic. Harus diakui pertama kali gue membaca Holmes tak lain karena dorongan manga Meitantei Conan. It's only natural, guys. Don't be too upset gue mengenal magnum opus Sir Arthur Conan Doyle melalui manga yang bahkan ga akan sudi gue baca lagi sekarang dan hanya bisa berdoa agar mereka segera menamatkan ceritanya.
Lagipula dari seluruh genre favorit gue, kisah detektif-misteri-petualangan takkan pernah gue lewatkan. Membaca Holmes hanyalah sebuah pelengkap penderita.

Eniwei, karakter ini begitu populer. Menjadi sumber inspirasi dari berbagai pengarang bahkan berbagai adaptasi dengan pola pikir dan konsep yang berbeda2. Tapi yang ingin gue ceritakan ini yah berdasarkan subyektifitas gue sendiri bertemu dengan Holmes dan inkarnasi2nya. Karakter ini benar2 lintas generasi, lintas genre dan lintas era.

Seperti yang sudah gue kemukakan di atas, gue pertama kali membaca Sherlock Holmes karena dorongan manga Meitantei Conan. Dan gue bersyukur perpustakaan SMP gue memiliki hampir seluruh edisi yang lengkap kecuali, ironisnya, The Study In Scarlet. Novel pertamanya. Gue baru membaca The Study In Scarlet ketika gue kuliah. Siapa yang sangka novel pertama dari seri Sherlock Holmes yang kenamaan itu berawal dari kisah balas dendam terhadap kultus Mormon? You've got to admit, Sir Conan Doyle painted Mormon cult in not so good light here. They're not that creepy, at least modern Mormon ones.

Bah, perkenalan gue dengan Holmes jauh sebelum Meitantei Conan, itu terjadi sewaktu gue masih membaca Majalah Donal Bebek. Betapapun gue rajin mengumpulkan, sesungguhnya koleksi Donal Bebek gue masih kalah lengkap daripada sepupu gue yang tinggal di Sunter. Berhubung dia jauh lebih tua dari gue, dia sudah berlangganan Donal Bebek dari awal2 penerbitannya. Luarbiasanya, seluruh koleksi majalahnya itu masih dia simpan dalam perpustakaannya, sehingga ketika tiap Natal gue bersama keluarga gue datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar lainnya, gue selalu catch up ngebacain koleksi Donal Bebeknya edisi lama.

Thus, disanalah gue mendapati komik Basil ini. Dia tikus, dan dia anthropomophic (nampaknya Disney punya obsesi tertentu dengan hewan pengerat ini.) Tikus ini benar2 cerdas, memiliki kemampuan lintas disiplin ilmu dan kemampuan pengamatan yang luarbiasa jeli. Karena dia... oke, dia Sherlock Holmes jika karakter itu adalah tikus anthropomorphic.
Lucunya, gue bahkan tidak tahu detektif Basil itu ada filmnya, The Great Mouse Detective--keluar tahun 1986, sampe gue duduk di bangku SMP. Gue bahkan tidak tahu Basil itu ternyata juga adalah adaptasi (tidak setia) dari novel karangan Eve Titus.

Terakhir kali gue menonton The Great Mouse Detective itu kayaknya waktu kuliah, minjem VCD-nya atau beli DVD bajakan di Binus. Gue lupa. Tapi ketika gue menonton film itu sekali lagi di tahun 2016, gue tertawa sekaligus tercengang2 mendapati karakter Disney membawa revolver, melakukan tes balistik, mengetes reaksi kimia dengan metode yang bahkan praktikum kimia SMA gue aja kagak sampe seribet itu, merokok, minum minuman keras, mabuk2an, dan pergi ke bar penari telanjang yang akurat seperti di era Victorian lengkap dengan klise perkelahian bar pula. Dan lirik yang dinyanyikan si tikus seksi penari bar itu... omagah, double entendre dari awal sampe akhir.

HOLY SHIT! THIS IS A DISNEY MOVIE!? OMAGAH!! HOW DID I MISS THIS FROM THE FIRST TIME???


A gun totting anthropomorphic mouse in Disney animated movie. Fucking win

This is so freaking entertaining!! Kapan lagi lo ngeliat karakter dalam fillm kartun Disney mabok sampe menggelepar?

Gue juga baru menyadari betapa universe yang ditinggali Basil sangat menarik. Kenapa? Sebab dia tinggal di universe dimana setiap manusia memiliki kembaran versi hewan pengeratnya. Basil adalah kembaran versi tikus dari Sherlock Holmes, dia bahkan tinggal di dinding dari flat di Baker Street 221B. Alamatnya sendiri ada di Baker Street No. 221½ B. Dr. Watson sendiri juga punya kembaran tikus bernama Dr. Dawson. Aneh bukan?

Ini membuat gue bertanya2 seperti apa kembaran versi tikus dari gue sendiri. Hmmm...

Fanfic maybe could answer it. But nope... I don't read fanfic from the story I love.

Tidak hanya itu, gue juga kaget betapa Basil sesungguhnya adalah tikus dengan ego yang bahkan lebih besar dari manusia, menderita bipolar, mood swing dan sangat obsesif. Ketiga sifat yang sekarang ini gue asosiasikan dengan Edward Cullen, Christian Grey dan berbagai cowo2 unyu supranatural yang ganteng forever tapi justru bikin gue ingin menginjak2 novelnya karena murka. Iya, terimakasih pengarang2 Young Adults novel sialan. Ini semua salah kalian!!

Everything is allright until Twilight. Sigh.

Artinya secara kepribadian, Basil bukan protagonis yang sempurna seperti kebanyakan karakter Disney lainnya. But MAAANNNN!! How he's looked so awesome and charming in the animated movie. You love his spirit, you love his relentlessness, you love his energy.
Highlight dari The Great Mouse Detective terletak di bagian klimaksnya, yaitu di menara jam Big Ben dimulai dari perseteruan di dalam mesin jam dengan ketegangannya yang terus meningkat sampai pergelutan di jarum jam yang diakhiri dengan konfrontasi yang terinspirasi dari The Final Problem yang menurut gue merupakan homage yang sangat brilian. Nah... klimaks di dalam mesin jam ini sesungguhnya meminjam ide dari anime karya Hayao Miyazaki di tahun 1979, The Castle of Cagliostro, yang langsung gue tonton begitu mengetahui trivia ini. Jika lo suka kisah petualangan old school kayak Tintin atau Indiana Jones, The Castle of Cagliostro adalah anime yang benar2 memiliki spirit genre itu dan menurut gue secara teknis bahkan lebih badass. Jika mesin jam dalam The Great Mouse Detective itu dibuat dengan bantuan komputer, maka dalam The Castle of Cagliostro, animator Jepang membuatnya secara manual gambar tangan.

Level animator... Japan. Sembah, sembah.

Dan gue suka banget Basil. Menurut gue dia adalah inkarnasi Sherlock Holmes terbaik sampe saat ini buat gue, bukan yang versi Benedict Cumberbatch... meh. Atau Jonny Lee Miller.
Iya, tikus anthropomorphic lebih keren dari aktor British paling dicinta para fangirl, yang serial televisinya melahirkan fandom dengan berbagai fanfic nya yang bahkan gue nggak berani mendekat kurang dari 200 km lengkap dengan hazmat suit. Maaf... gue seorang weirdo dengan pilihan nyeleneh gue sendiri. Gue pilih tikus. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Disney seakan lupa dengan keberadaan film ini sehingga tidak ada sekuel atau direct to DVD dari film animasi ini membuat The Great Mouse Detective mendapat status cult yang spesial. Memang jika lo bandingkan dengan warna2 yang dipakai Disney di film mereka yang berikutnya (era Reinessance), tone dalam animasi ini terbilang dark dan murky. But that's the reason why this animated movie is so amazingly awesome.

Bicara soal Hayao Miyazaki. Lo tau ga Miyazaki-sensei juga pernah bikin anime yang basically memparodikan Sherlock Holmes? Oh yeahhhh... it exists! It's called Sherlock Hound. Yep... yep, seperti namanya, mereka juga melakukan pendekatan anthropomorphic, dalam hal ini dunia Sherlock Hound benar2 murni didiami anjing2 anthropomorphic. Not really Zootopia.


Classic Miyazaki color, don't you think?

Pertama kali gue mendengar ini, gue tertawa... oh man... Japan. Freaking Japan. Oh ayolah! Ketika lo mendengar judul anime Sherlock Hound, lo tahu anime itu nggak mungkin serius. Camkan itu dalam otak lo dan ikuti aja iramanya. Gue sedikit tergelincir karena menganggap parodi ini terlalu serius, akibatnya otak gue sedikit meleleh.
Sebenernya gue udah pernah mendengar soal Sherlock Hound dari beberapa tahun yang lalu, tapi gue tidak tahu ternyata ini proyek Hayao Miyazaki yang juga berperan sebagai sebagai penulis naskah dan sutradaranya. Parodi Sherlock Holmes oleh Hayao Miyazaki??? Niiiiceeeee!! Tanpa berpikir panjang, gue langsung tertarik menontonnya, dan sejujurnya setelah membiasakan diri dengan art style, maupun bizzareness dalam ceritanya, gue nggak kecewa. Jejak Miyazaki nampak jelas dalam setiap episode Sherlock Hound; the tranquility of the sea and the sky, nice quite moments, old school planes aficionado, amazing dogfight (Miyazaki-sensei can't help it), strong female characters.
Strong female character?? In Sherlock Hound? Yep, Mrs. Hudson di versi ini adalah janda muda cantik yang menarik perhatian seluruh laki2 termasuk Watson dan Holmes, which is totally ngaco abis tapi kocaknya setengah mati. Dia bisa kebut2an mengendarai kereta motor, menembak jitu, dan berakrobat. WTF did I watch???

Tapi ini adalah parodi, mereka tidak menulisnya untuk jadi serius, jadi seluruh kesintingan itu sah2 aja. Toh tone dalam filmnya lebih condong ke arah all boys adventure seperti Tintin dan Indiana Jones.
Tepatnya Miyazaki memporak-porandakan setiap tropes dalam cerita Holmes dan menampilkannya pada penonton untuk ditertawai. Ibarat... oh, Holmes adalah karakter yang tidak tertarik pada hubungan romantis, NOPPEE... dia main mata dengan Mrs. Hudson si janda seksi. Holmes adalah karakter dari era Victorian? Noppeee... gue suka pesawat terbang dan kereta motor, so gue taroh dia di awal abad ke-20 dan bikin dia beraksi stunt diatas pesawat. Cerita Holmes selalu diawali dengan kemunculan klien di Baker Street 221B? Oh... mari buat dia pergi berpesiar dan di tengah jalan kapal pesiarnya diserang bajak laut Bengal. Dia membuat Profesor Moriarty yang kalem, dingin, dan penuh perhitungan jadi penjahat yang super hammy. It's so crazy and over-the-top you can't help but go along with the madness.

So... I spent 4 days long, rambling along with old animated flicks while crocheting like crazy cat lady. Why I pick Sherlock Holmes in mouse and dog form? Dunno... I just recently found Basil on Youtube and felt like watching that eccentric  anthrophomophic mouse with awesome ego just for the sake of nostalgia. Then somehow Youtube gave me another link about the dog version, then I decided to watch it too. Thanks Youtube!

Oh, why I don't watch BBC's Sherlock like other normal people do instead of talking furry animals? Maybe because I don't like it. And maybe the furry ones are far more interesting. So... move out Benedict Cumberbatch or whatever your name is, we've got Basil!

And that's about it. Enough rambling!