?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


Previous Entry Share Next Entry
Disney's Fury Road (I wish...)
miki_sensei
Because it'll be so AWEESOOOOOMEEEE!!

Halo semua… sudah lama banget gue enggak update blog gue yang makin lama makin garing ini. Selain karena gue disibukkan oleh proyek paling kacau balau tahun ini. Merusuk seluruh rencana dan liburan gue di Singapura! Gue juga emang lagi males commit buat nulis.


Tapi kali ini gue ingin menulis, so… here we are.

Dalam dua hari berturut2 gue menonton Rouge One dan Moana. Untuk entri kali ini, gue akan membahas Moana, film animasi Disney kedua di tahun 2016 yang gue lebih semangat nontonnya ketimbang Zootopia yang baru gue tonton setelah temen gue sukses melancarkan bujuk rayunya.

Eniwei… apakah Moana bagus?

Ya, Moana bagus dan secara visual, Moana jauh lebih kreatif ketimbang Zootopia. Mereka menggabungkan elemen 2D ke dalam CGI-nya. Oh… dan ada Disney acid trip.

YEP… Disney acid trip di tahun 2016 terdengar seperti mitos dari masa lampau. Mungkin karena sutradaranya adalah John Clements dan Ron Musker yang menggawangi film2 Renaissance Disney, atau Disney akhirnya sadar dan mencoba keluar dari belenggu CGI dan mulai menggali sisi artistik 2D yang mereka tinggalkan.

Secara bangunan cerita, Moana jauh lebih terstruktur dan plotnya bergulir dalam pacing yang terukur ketimbang Frozen yang fondasi ceritanya lemah, tidak memiliki struktur bahkan pacingnya bergerak seperti batu yang mau menggiling Indiana Jones dalam intro The Ark of Covenant. Oh, betapa gue tidak menyukai film itu. Meh!

Tapi… ya, ada tapi di sini.

Tapi… masih ada sesuatu yang menggantung menurut gue…

Hmm, bagaimana gue menuliskannya.

Moana… ceritanya tidak istimewa. Plot point nya bener2 mengikuti pakem Disney yang sudah2 dan terasa klise di lidah gue. Tentang putri yang terkekang oleh orangtuanya, merasa terpanggil oleh petualangan besar dan kebebasan yang menggoda. Yang menyanyikan lagu soal keinginannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih (I wanna I wanna song.) Dan ketika akhirnya dia mendapatkan petualangannya, dia lalu bertemu dengan karakter unik dan berwarna. 

Oh… dia juga ditemani hewan lucu di sepanjang perjalanan. Yang ini bahkan disebut sama salah salah satu karakter dalam film itu dalam meta jokes yang anehnya dilontarkan lebih dari sekali dalam film ini, seolah2 si penulis cerita sesungguhnya muak dengan tropes yang kudu dia tulis tapi tak bisa melawan sistem sehingga dia memasukkan unek2nya dalam dialog2 karakter film ini, a.k.a writer revolt.

Following a trope it’s actually not bad per se, but it felt uninspired. Dan jika ini dilakukan oleh film diluar Disney, ini akan mengundang kritikan percaya atau tidak.

Gue tidak terlalu keberatan dengan trope-nya sih sebenernya. Yang bikin gue sedikit meh sama film ini adalah betapa film ini mencoba mengkuliahi gue soal ‘carilah jati dirimu’, ‘ikuti kata hatimu’. Mereka terus2an menggerus penonton dengan ucapan2 ini. Dan itu menjengkelkan!

This movie is kinda preachy… dan gue ngerasa bokap Moana bener2 useless abis, yang ada cuman buat bikin Moana pesimis dan menghalang2i impiannya. Serius… dialog yang muncul dari orang ini ga jauh2 dari ‘jangan begini, jangan begitu’. Kalo kaga, marah2 karena Moana bengal. OMG... sungguh karakter yang menjengkelkan!

Dalam cerita fiksi, memang sebuah karakter ditulis untuk memiliki peran tertentu pada tokoh utamanya, membentuk sebuah story arc. Tapi ketika karakter itu cuman muncul hanya untuk memberikan obstacle dan tidak memiliki kedalaman apapun… gue menyebutnya lazy storytelling. Dan iya, karakter bokap Moana adalah karakter paling lemah dalam film ini.
Lagipula gue bertanya2 alasan kenapa dia begitu skeptis, pandangannya bener2 seperti seorang non-believer. Dia tak percaya apapun dari mitos yang dikisahkan ibunya sendiri soal Maui dan Te Fiti. Di dunia dimana dewa dan monster hadir dalam wujud fisik, bagaimana mungkin seseorang bisa skeptis?? Kenapa dia begitu takut dengan lautan karena sahabatnya tewas dalam kecelakaan perahu bersamanya?? Seandainya mereka hidup di pulau yang dikelilingi monster2 haus darah, gue masih paham kenapa si bokap kekeuh banget nggak mau Moana mengarungi samudera. Tapi kecelakaan perahu?

Bro… mereka adalah kaum penjelajah lautan. Orang2 kek gini hidup dari kekayaan bahari dan belajar menghormati samudera. Mereka gak akan kapok untuk kembali melaut hanya karena kecelakaan yang menewaskan orang yang disayangi. Nggak percaya? Liat yang paling deket dah, lo liat masyarakat yang tinggal di tepi pantai Indonesia, yang menggantungkan hidupnya dari lautan. Berapa kerabat yang sudah direnggut oleh lautan dari mereka? Tapi apakah orang2 ini takut melaut? Enggak! Bagi mereka itulah lingkaran kehidupan, itulah takdir, dan mereka menerimanya. Spiritualisme inilah yang tidak hadir dalam film Moana. Jujur sebagai orang Timur, gue merasa penulis naskah kurang respek dengan spiritualisme non Barat.
Naskah Moana terasa seperti bagaimana orang modern memandang mitos masa lampau, padahal tokoh2nya adalah orang2 yang hidup dalam dunia mitos itu sendiri.

Saran gue, Disney. Jika lo membuat film tentang dewa, mitos, dan kosmologi diluar budaya Eropa Barat, sebaiknya jangan racuni ceritanya dengan skeptisme yang dipaksakan hanya karena ingin memberikan obstacle untuk karakter utamanya.
Lagipula alasan Moana untuk melawan kehendak ayahnya dan mencari Maui itu bener2 lemah. Ya, mendadak terjadi krisis pangan di pulau itu, tapi orang2 ini justru malah mencoba mencari penjelasan logis kenapa hal itu bisa terjadi sementara mitologi mereka jelas2 menyebutkan Maui adalah penyebabnya. Mereka tahu tapi mereka tidak percaya… WTF?? Kenapa Moana dan Neneknya jadi seperti dua orang terakhir yang percaya dengan dewa dan siluman di pulau itu? Kenapa cerita film ini dipenuhi orang2 skeptis??

Akan lebih masuk akal seandainya semua orang menggantungkan harapan pada Moana karena dia menemukan jantung Te Fiti, therefore para dewa memilih dia untuk mencari Maui dan mengembalikan keadaan jadi semula. Jadi karena Moana terpilih, maka hanya dia yang sanggup mengarungi lautan ganas dan menemukan Maui. Andainya orang2 ini percaya dengan agama mereka, ceritanya akan lebih nyambung percaya atau tidak.


Kemudian kesibukan Disney akhir2 ini menciptakan karakter perempuan kuat dan keren juga membuat cerita ini jadi kurang greget. Yang terjadi akhirnya Moana yang nggak tau gimana caranya berlayar apalagi mengemudikan kapal, nekat melaut, dan berhasil. Segalanya jadi mudah buat dia, alasannya karena Lautan membimbing dia. Just that. Dramanya nggak nonjok sama sekali.
Seandainya perjalanan dia terjadi karena keputusasaan dan bukannya panggilan hati atau apapun itu, itu akan memberikan sebuah realisme dalam ceritanya (daripada lo menampilkan skeptisme terhadap keberadaan dewa dewi di dalam universe yang beneran ada dewa dewinya) pertaruhan yang menegangkan dan ceritanya nggak akan terasa begitu uninspired.

Dan Maui… oh Tuhan, karakter ini sangat menyebalkan. Gue paham mereka mencoba memberikan tipikal karakter jerkass yang diam2 punya hal menyedihkan di masa lalunya. Ini dipake di Zootopia pada Nick Wilde, si rubah ganteng yang jelas2 lebih charming daripada Maui. Oh come on, Disney!
Masalahnya, gue nggak merasa Maui pantas untuk diberi simpati. Perlakuannya pada Moana bener2 keterlaluan, dan dia bahkan tidak sungguh2 menebus kesalahannya di akhir cerita. Keputusannya untuk kembali pada Moana setelah debat angsty khas Disney juga tidak dilatarbelakangi alasan yang kuat. Kenapa dia kembali? Iseng? Nggak ada kerjaan?


Dari built up yang dibangun nenek Moana, gue kira dia mengajari Moana mantera untuk mengikat Maui sehingga demigod itu mau melakukan perintahnya. Cuman seiring perjalanan waktu Maui akhirnya mengagumi tekad Moana dan bersedia menolongnya atas keinginannya sendiri. Yah… gue rasa gue memandangnya sebagai orang Timur dan bukan orang Barat. Mengikat dewa dengan mantera adalah hal yang wajar dalam supranatural ketimuran.

Meta jokes dia soal Moana yang adalah Disney princess yang suka bernyanyi itu juga bener2 membuat gue tepak jidad. WTF Disney?? Stop making fun of your own tropes! Kalo emang lo ngerasa pakem2 elo udah usang, gimana kalo lo berhenti menggunakannya alih2 mengejeknya tapi tetep dipake??

Kemudian lagu2 dalam film Moana juga masih terjangkiti penyakit soundtrack Disney masa kini dimana lagu2nya jomplang satu sama lain; lo bisa mendapatkan lagu etnik dengan paduan suara kelas wahid yang sangat magis, tapi juga lagu pop yang hip dan cool, dan juga lagu kepiting…

What the actual fuck??

Seriously, what the hell with the Crab god part?? It's so bizzare!

Saat kepiting itu muncul aja udah berasa aneh, kemudian saat kepiting itu bernyanyi, semakin aneh. Lalu mendadak visualnya berubah jadi garis menyala2 dalam gelap disusul Disney Acid Trip seiring dengan lagu yang nggak nyambung sama sekali dengan keseluruhan tone dalam filmnya. Ini... APAAAN OI???

Tunggu sebentar... apakah ini?



Sumpah, gue gagal paham dengan bagian itu sama sekali. Apa yang mereka pikirkan?  Ayo ngaku Disney, kamu terinspirasi randomisasi ala Don Bluth kan?

Nggak percaya? Coba dibandingkan lagu 'Shiny' dengan 'Let's Make A Music Together'. Lo bisa liat betapa dua2nya berbagi gaya yang serupa dalam hal cringe worthy dan out of place, dan gue yakin Ron Clements dan John Musker kesambet efek Don Bluth entah gimana caranya.



Fucking weird 'Shiny'...


This is the authentic Big Lipped Alligator Moment

Plus, demi Tuhan gue benci banget lagu villain yang dinyanyikan si siluman Kepiting! Gue rasa itu lagu villain terburuk Disney yang pernah gue dengar. Desain si kepiting juga sama sekali nggak kek something yang lo expect dari Disney, lebih kek hasil kerjaan Dreamworks. Comparing to the rest of the movie, the Crab god part stands out like a sore thumb. God! Hate that part so much!

Secara keseluruhan, film ini tidak buruk. Ada beberapa momen yang juara seperti saat Moana dan Maui menghadapi siluman kelapa. Sekuens itu bener2 seperti Fury Road tapi versi Disney. Desain siluman kelapanya juga bener2 unik satu sama lain dan mekanisme kapal2 tunggangan mereka itu sangat kreatif. Atau ketika nenek Moana meninggal dan menjelma menjadi ikan pari, momen itu terasa begitu magis dan indah sekali.

Twist ceritanya juga nggak buruk. Gue menyukainya. Tapi ya gitu, banyak kelemahan2 dalam cerita ini yang menghalangi Moana menjadi film yang bener2 membuat gue puas. Ayolah, ini Disney! Mereka yang membuat Simba meratapi tubuh ayahnya yang tewas terinjak2 Wildebeest dan membiarkan penonton menyaksikan kepiluan itu. Mereka bikin Beast jadi likeable dan Stockholm Syndrome jadi romantis.
Dibandingkan dengan Zootopia di tahun yang sama… gue rasa gue lebih suka Zootopia. Karakter2nya jauh lebih likeable dan chemistry antar mereka jauh lebih hidup. Tragisnya Judy dan Nick adalah karakter anthropomorphic. Bagaimana mungkin karakter hewan anthropomorphic bisa jauh lebih menarik daripada karakter manusia?
Heck, gue bahkan lebih suka karakter Basil dan Profesor Ratigan dari The Great Mouse Detective, film yang merupakan debut penyutradaraan Roy Clement dan John Musker, duo yang sama yang membesut Moana!

Pada akhirnya gue tetap teguh dengan kesimpulan gue bahwa film2 Disney jaman sekarang seakan terbentur pesan moral yang ingin diciptakannya. Entah itu ingin auto kritik terhadap tropes yang melekat pada mereka, atau ingin relevan dengan tuntutan masa kini yang menurut gue terlalu receh. Kenapa segalanya harus dipenuhi pesan moral dan petuah? Lebih dari itu, kenapa cara menyampaikannya makin lama makin menggurui dan sama sekali tidak elegan? Seolah2 penonton nggak akan paham kalo segalanya tidak diujarkan dan diulang2.

Atau dinyanyikan berkali2.

Moana menyanyikan soal menemukan jati dirinya sampai tiga kali. TIGA KALI! Satu lagu utama dan dua reprise. Biasanya paling banyak cuman ada satu lagu utama dan satu reprise. Seringkali hanya satu lagu utama saja.
Akhirnya meta jokes Maui ironisnya benar… kalo Moana mulai menyanyi lagi maka dia akan muntah. Gue juga berasa begitu.

Still… gue masih merasa film ini oke. Diluar ceritanya yang nggak terlalu istimewa dan unsur skeptisme yang tidak nyambung dengan konsep world building dalam ceritanya, Moana bisa dinikmati. Setelah Frozen membawa kualitas film Disney bertema putri2an melorot menjadi recehan, film ini jelas adalah sebuah perbaikan.