?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


Previous Entry Share Next Entry
A gap to fill, truthfully it's kinda weird...
miki_sensei
Walau secara teknis sebenernya yang gue lakukan ini ilegal... tapi sesungguhnya gue merajut ditemani oleh film2 animasi yang dengan mudah diakses di Youtube. Berhubung amigurumi yang gue rajut ini adalah pesanan orang dan harus diselesaikan dalam tempo sesingkat2nya, maka selama empat hari itu gue merajut secara ekstensif ditemani berbagai film animasi hampir non stop.

Penasaran dengan amigurumi yang gue rajut?

TADAAAA!! Tingginya 17 sentimeter.



Terimakasih kepada semua animator yang sudah menghibur gue dengan hasil karya mereka untuk menambah semangat menyelesaikan anjing ini

Oh, dan seluruh film animasi yang gue tonton ini diisi oleh karakter non-manusia. Hewan anthropomorphic. Sintaktik dengan karakter yang gue rajut tentunya; gue suka segalanya konsisten dan sintaktik, oke?
Hasilnya kepala gue diisi oleh tikus2 anthrophomorphic. Juga anjing. Juga kucing. Mulai dari Disney sampai Hayao Miyazaki, dan gue akan membahas yang lain diluar film2 animasi yang gue tonton dalam empat hari itu. Sebab tema dari seluruh animasi yang mengisi keheningan dalam kegiatan merajut gue selain bahwa karakter2nya adalah hewan anthropomorphic, mereka memiliki satu benang merah.

Sherlock Holmes!

Oh yeah yeaaah... that Victorian fictional character, not the anthropomorphic. Harus diakui pertama kali gue membaca Holmes tak lain karena dorongan manga Meitantei Conan. It's only natural, guys. Don't be too upset gue mengenal magnum opus Sir Arthur Conan Doyle melalui manga yang bahkan ga akan sudi gue baca lagi sekarang dan hanya bisa berdoa agar mereka segera menamatkan ceritanya.
Lagipula dari seluruh genre favorit gue, kisah detektif-misteri-petualangan takkan pernah gue lewatkan. Membaca Holmes hanyalah sebuah pelengkap penderita.

Eniwei, karakter ini begitu populer. Menjadi sumber inspirasi dari berbagai pengarang bahkan berbagai adaptasi dengan pola pikir dan konsep yang berbeda2. Tapi yang ingin gue ceritakan ini yah berdasarkan subyektifitas gue sendiri bertemu dengan Holmes dan inkarnasi2nya. Karakter ini benar2 lintas generasi, lintas genre dan lintas era.

Seperti yang sudah gue kemukakan di atas, gue pertama kali membaca Sherlock Holmes karena dorongan manga Meitantei Conan. Dan gue bersyukur perpustakaan SMP gue memiliki hampir seluruh edisi yang lengkap kecuali, ironisnya, The Study In Scarlet. Novel pertamanya. Gue baru membaca The Study In Scarlet ketika gue kuliah. Siapa yang sangka novel pertama dari seri Sherlock Holmes yang kenamaan itu berawal dari kisah balas dendam terhadap kultus Mormon? You've got to admit, Sir Conan Doyle painted Mormon cult in not so good light here. They're not that creepy, at least modern Mormon ones.

Bah, perkenalan gue dengan Holmes jauh sebelum Meitantei Conan, itu terjadi sewaktu gue masih membaca Majalah Donal Bebek. Betapapun gue rajin mengumpulkan, sesungguhnya koleksi Donal Bebek gue masih kalah lengkap daripada sepupu gue yang tinggal di Sunter. Berhubung dia jauh lebih tua dari gue, dia sudah berlangganan Donal Bebek dari awal2 penerbitannya. Luarbiasanya, seluruh koleksi majalahnya itu masih dia simpan dalam perpustakaannya, sehingga ketika tiap Natal gue bersama keluarga gue datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar lainnya, gue selalu catch up ngebacain koleksi Donal Bebeknya edisi lama.

Thus, disanalah gue mendapati komik Basil ini. Dia tikus, dan dia anthropomophic (nampaknya Disney punya obsesi tertentu dengan hewan pengerat ini.) Tikus ini benar2 cerdas, memiliki kemampuan lintas disiplin ilmu dan kemampuan pengamatan yang luarbiasa jeli. Karena dia... oke, dia Sherlock Holmes jika karakter itu adalah tikus anthropomorphic.
Lucunya, gue bahkan tidak tahu detektif Basil itu ada filmnya, The Great Mouse Detective--keluar tahun 1986, sampe gue duduk di bangku SMP. Gue bahkan tidak tahu Basil itu ternyata juga adalah adaptasi (tidak setia) dari novel karangan Eve Titus.

Terakhir kali gue menonton The Great Mouse Detective itu kayaknya waktu kuliah, minjem VCD-nya atau beli DVD bajakan di Binus. Gue lupa. Tapi ketika gue menonton film itu sekali lagi di tahun 2016, gue tertawa sekaligus tercengang2 mendapati karakter Disney membawa revolver, melakukan tes balistik, mengetes reaksi kimia dengan metode yang bahkan praktikum kimia SMA gue aja kagak sampe seribet itu, merokok, minum minuman keras, mabuk2an, dan pergi ke bar penari telanjang yang akurat seperti di era Victorian lengkap dengan klise perkelahian bar pula. Dan lirik yang dinyanyikan si tikus seksi penari bar itu... omagah, double entendre dari awal sampe akhir.

HOLY SHIT! THIS IS A DISNEY MOVIE!? OMAGAH!! HOW DID I MISS THIS FROM THE FIRST TIME???


A gun totting anthropomorphic mouse in Disney animated movie. Fucking win

This is so freaking entertaining!! Kapan lagi lo ngeliat karakter dalam fillm kartun Disney mabok sampe menggelepar?

Gue juga baru menyadari betapa universe yang ditinggali Basil sangat menarik. Kenapa? Sebab dia tinggal di universe dimana setiap manusia memiliki kembaran versi hewan pengeratnya. Basil adalah kembaran versi tikus dari Sherlock Holmes, dia bahkan tinggal di dinding dari flat di Baker Street 221B. Alamatnya sendiri ada di Baker Street No. 221½ B. Dr. Watson sendiri juga punya kembaran tikus bernama Dr. Dawson. Aneh bukan?

Ini membuat gue bertanya2 seperti apa kembaran versi tikus dari gue sendiri. Hmmm...

Fanfic maybe could answer it. But nope... I don't read fanfic from the story I love.

Tidak hanya itu, gue juga kaget betapa Basil sesungguhnya adalah tikus dengan ego yang bahkan lebih besar dari manusia, menderita bipolar, mood swing dan sangat obsesif. Ketiga sifat yang sekarang ini gue asosiasikan dengan Edward Cullen, Christian Grey dan berbagai cowo2 unyu supranatural yang ganteng forever tapi justru bikin gue ingin menginjak2 novelnya karena murka. Iya, terimakasih pengarang2 Young Adults novel sialan. Ini semua salah kalian!!

Everything is allright until Twilight. Sigh.

Artinya secara kepribadian, Basil bukan protagonis yang sempurna seperti kebanyakan karakter Disney lainnya. But MAAANNNN!! How he's looked so awesome and charming in the animated movie. You love his spirit, you love his relentlessness, you love his energy.
Highlight dari The Great Mouse Detective terletak di bagian klimaksnya, yaitu di menara jam Big Ben dimulai dari perseteruan di dalam mesin jam dengan ketegangannya yang terus meningkat sampai pergelutan di jarum jam yang diakhiri dengan konfrontasi yang terinspirasi dari The Final Problem yang menurut gue merupakan homage yang sangat brilian. Nah... klimaks di dalam mesin jam ini sesungguhnya meminjam ide dari anime karya Hayao Miyazaki di tahun 1979, The Castle of Cagliostro, yang langsung gue tonton begitu mengetahui trivia ini. Jika lo suka kisah petualangan old school kayak Tintin atau Indiana Jones, The Castle of Cagliostro adalah anime yang benar2 memiliki spirit genre itu dan menurut gue secara teknis bahkan lebih badass. Jika mesin jam dalam The Great Mouse Detective itu dibuat dengan bantuan komputer, maka dalam The Castle of Cagliostro, animator Jepang membuatnya secara manual gambar tangan.

Level animator... Japan. Sembah, sembah.

Dan gue suka banget Basil. Menurut gue dia adalah inkarnasi Sherlock Holmes terbaik sampe saat ini buat gue, bukan yang versi Benedict Cumberbatch... meh. Atau Jonny Lee Miller.
Iya, tikus anthropomorphic lebih keren dari aktor British paling dicinta para fangirl, yang serial televisinya melahirkan fandom dengan berbagai fanfic nya yang bahkan gue nggak berani mendekat kurang dari 200 km lengkap dengan hazmat suit. Maaf... gue seorang weirdo dengan pilihan nyeleneh gue sendiri. Gue pilih tikus. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Disney seakan lupa dengan keberadaan film ini sehingga tidak ada sekuel atau direct to DVD dari film animasi ini membuat The Great Mouse Detective mendapat status cult yang spesial. Memang jika lo bandingkan dengan warna2 yang dipakai Disney di film mereka yang berikutnya (era Reinessance), tone dalam animasi ini terbilang dark dan murky. But that's the reason why this animated movie is so amazingly awesome.

Bicara soal Hayao Miyazaki. Lo tau ga Miyazaki-sensei juga pernah bikin anime yang basically memparodikan Sherlock Holmes? Oh yeahhhh... it exists! It's called Sherlock Hound. Yep... yep, seperti namanya, mereka juga melakukan pendekatan anthropomorphic, dalam hal ini dunia Sherlock Hound benar2 murni didiami anjing2 anthropomorphic. Not really Zootopia.


Classic Miyazaki color, don't you think?

Pertama kali gue mendengar ini, gue tertawa... oh man... Japan. Freaking Japan. Oh ayolah! Ketika lo mendengar judul anime Sherlock Hound, lo tahu anime itu nggak mungkin serius. Camkan itu dalam otak lo dan ikuti aja iramanya. Gue sedikit tergelincir karena menganggap parodi ini terlalu serius, akibatnya otak gue sedikit meleleh.
Sebenernya gue udah pernah mendengar soal Sherlock Hound dari beberapa tahun yang lalu, tapi gue tidak tahu ternyata ini proyek Hayao Miyazaki yang juga berperan sebagai sebagai penulis naskah dan sutradaranya. Parodi Sherlock Holmes oleh Hayao Miyazaki??? Niiiiceeeee!! Tanpa berpikir panjang, gue langsung tertarik menontonnya, dan sejujurnya setelah membiasakan diri dengan art style, maupun bizzareness dalam ceritanya, gue nggak kecewa. Jejak Miyazaki nampak jelas dalam setiap episode Sherlock Hound; the tranquility of the sea and the sky, nice quite moments, old school planes aficionado, amazing dogfight (Miyazaki-sensei can't help it), strong female characters.
Strong female character?? In Sherlock Hound? Yep, Mrs. Hudson di versi ini adalah janda muda cantik yang menarik perhatian seluruh laki2 termasuk Watson dan Holmes, which is totally ngaco abis tapi kocaknya setengah mati. Dia bisa kebut2an mengendarai kereta motor, menembak jitu, dan berakrobat. WTF did I watch???

Tapi ini adalah parodi, mereka tidak menulisnya untuk jadi serius, jadi seluruh kesintingan itu sah2 aja. Toh tone dalam filmnya lebih condong ke arah all boys adventure seperti Tintin dan Indiana Jones.
Tepatnya Miyazaki memporak-porandakan setiap tropes dalam cerita Holmes dan menampilkannya pada penonton untuk ditertawai. Ibarat... oh, Holmes adalah karakter yang tidak tertarik pada hubungan romantis, NOPPEE... dia main mata dengan Mrs. Hudson si janda seksi. Holmes adalah karakter dari era Victorian? Noppeee... gue suka pesawat terbang dan kereta motor, so gue taroh dia di awal abad ke-20 dan bikin dia beraksi stunt diatas pesawat. Cerita Holmes selalu diawali dengan kemunculan klien di Baker Street 221B? Oh... mari buat dia pergi berpesiar dan di tengah jalan kapal pesiarnya diserang bajak laut Bengal. Dia membuat Profesor Moriarty yang kalem, dingin, dan penuh perhitungan jadi penjahat yang super hammy. It's so crazy and over-the-top you can't help but go along with the madness.

So... I spent 4 days long, rambling along with old animated flicks while crocheting like crazy cat lady. Why I pick Sherlock Holmes in mouse and dog form? Dunno... I just recently found Basil on Youtube and felt like watching that eccentric  anthrophomophic mouse with awesome ego just for the sake of nostalgia. Then somehow Youtube gave me another link about the dog version, then I decided to watch it too. Thanks Youtube!

Oh, why I don't watch BBC's Sherlock like other normal people do instead of talking furry animals? Maybe because I don't like it. And maybe the furry ones are far more interesting. So... move out Benedict Cumberbatch or whatever your name is, we've got Basil!

And that's about it. Enough rambling!