?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


Previous Entry Share
A thoroughly cynical review about a cynical movie
miki_sensei
Akhir tahun lalu, gue nonton film Fantastic Beast And Where To Find Them dan berakhir menyukainya... untuk seminggu pertama. Boleh dibilang gue cukup telat, karena sebagian besar teman gue, para Potterhead, mencibir terhadap film itu dari pertama kali. Mereka menganggap spin off tersebut sama sekali tidak memuaskan. Setelah diskusi panjang lebar dan gue pun memikirkannya dengan cukup serius (yea, jika ada orang yang doyan menyimak hoax dengan serius, maka gue menyimak film apalagi kalau film itu spin off Harry Potter) gue akhirnya nmempertimbangkan ulang pendapat pertama gue, sebab... setelah gue pikir2, iya sih... Fantastic Beast beneran melempem. Lebih jauh lagi, gue bahkan tidak berminat nonton sekuel2 selanjutnya yang katanya bakalan ada sampe tujuh film itu. Pret lah...

Nah, hal serupa terjadi lagi pada gue untuk film yang berbeda; Kingsman: The Golden Circle.

Film pertama Kingsman bisa dibilang adalah kuda hitam tahun 2014, di tahun yang sama John Wick juga muncul tanpa diduga dan seketika merebut hati para penggemar. Nah, tahun ini keduanya mendapatkan sekuel. Untuk sekuel John Wick, well, bisa dibilang film itu masih menempati posisi pertama film favorit gue tahun ini. Dan gue memang tidak banyak nonton akhir2 ini karena gue lelah dengan bombardir film superhero dan remake yang makin lama makin menjemukan.

Sementara untuk Kingsman... ah well, sedikit lebih rumit. Pertama2, gue menikmati film ini terutama karena humor2 kasarnya dan dialog2nya yang ancur, gue ketawa ampe mules... ditambah lagi kemunculan Sir Elton fucking John dengan falcon kick-nya yang sumpah absurd kutuperet. Tapi bahkan sekalipun gue masih menikmati film ini, harus diakui banyak hal yang mengganjal di hati. Bagi gue film ini... sedikit ganjil. Neverthless, gue merasa puas.

Itu sampai negara api menyerang. Hampiri semua kritikus film di Youtube yang gue ikuti memberikan review negatif!!

Gue langsung terperanjat. HAH? Apa gerangan? Film ini lucu, tolol dan emang ganjil banget. Apa yang salah?

Lebih kaget lagi argumen mereka sebenernya sangat solid, sebab mendengar penjelasan orang2 ini, perlahan2 gue mulai memahami sensasi ganjil yang menghantui gue sepanjang film bahkan sekalipun ketika gue tertawa terbahak2. Otak gue tidak cukup cerdas untuk menemukan kesimpulan dari segenap keganjilan yang gue dapati, tapi orang2 ini berhasil memberikan pencerahan.

Iya sih... emang nggak sebagus itu. Banyak plot point yang muncul diada2in atau karena keteledoran karakter yang mestinya kompeten dan bahkan sekalipun gue menyadari hal itu sewaktu menonton filmnya, meskipun gue memutuskan mengabaikannya. Tapi keberadaan plot model gini dalam filmnya semakin nampak jelas dan bertambah2 jumlahnya sehingga bahkan gue sekalipun tidak bisa lagi cuek. Gue mulai merasa tidak terkesan.

Lalu pun gue teringat, bahwa gue sebenernya nggak bener2 nyimak film pertamanya karena ada kasus drama sinetroniah akibat temen yang kelahi di awal film. Tepatnya gue ketinggalan 25 menit pertama dan separo bengong di sepanjang film. Ini tak bisa dibiarkan tentu saja, kunci untuk memahami kenapa kritikus mencerca sekuel ini sebegitunya dan mengapa gue merasa ada semacam kekosongan di balik keriuhan dan tawa itu, ada di film pertamanya. Oleh karena itu gue memutuskan untuk nonton ulang, dannnn....

Shit... emang Kingsman: The Golden Circle adalah sekuel yang bermasalah. Kini ketika euforia gue sudah berakhir dan gue mulai melihatnya dengan lebih jernih, gue baru menyadari betapa kacaunya film ini. Iya, kacau... gue serius mengatakannya. Pacingnya berantakan, karakter2nya jadi OOC dan melakukan keputusan bodoh yang bikin tepak jidad, beberapa humornya sangat-sangat vulgar, dan sederet masalah lainnya.

Lalu sesudahnya gue merasa sangat jengkel dengan Mathew Vaughn. Tidak seperti film pertamanya yang nampak seimbang dalam meramu unsur2 satir, humor, kekerasan, dan British charm; sekuel Kingsman tampil dengan vulgar, jijik, receh dan terlalu berpanjang-panjang. Entah apa yang ingin dicapai dari film keduanya, gue tidak paham. Spoofing James Bond era Roger Moore? Like what? Menggiling manusia dalam mesin penggiling makanan?? Anjing robot buas? Memasukkan para pecandu obat sakit dalam kerangkeng besar dan ditumpuk2 di dalam stadion futbal? I mean... WTF? Terlalu banyak WTF dalam film ini sampai akhirnya Kingsman: The Golden Circle hanya sebatas sekuens WTF satu menyambung dengan WTF lainnya. Plotnya setipis kertas, logikanya kacau balau--kontradiktif dari film pertama. Jika film ini berdiri sendiri, sebenernya nggak jelek2 amat... palingan gue menganggap ini film WTF norak yang akan gue lupakan beberapa hari sesudahnya. Tapi mengingat betapa solid dan charming-nya film pertamanya, sekuel ini serasa bagai penistaan film pertamanya.

Oke... oke... biarkan gue memulai rant panjang lebar gue sekaligus penyesalan akan peryataan2 gue sebelumnya yang ngebelain banget ni film. Ijinkan gue menjabarkan kenapa film ini busuk.

1. Villain yang enggak nendang
Sorry to say, tapi Poppy adalah penjahat yang payah, lebih dari itu... dia nampak seperti karakter film kartun Looney Tunes. Gue tidak bisa menganggapnya serius, idenya soal melegalisasi narkoba sama sekali tidak mengesankan. Kehadirannya sama sekali tidak memiliki wibawa, dan filmmaker mencoba meningkatkan rasio bahaya dari karakter Poppy dengan membuatnya menjadi sosiopat yang hobi menggiling anak buahnya sendiri ke mesin penggiling makanan dan dimasak jadi daging hamburger. Pertama2... ini tropes yang super bego, siapa yang mau kerja sama bos setengah gila kayak begini? Kedua, itu nggak menjadikan Poppy karakter penjahat yang solid. Iya, sebagai penonton gue yakin dia gila, tapi gue tidak percaya dia penjahat yang kompeten. Dia lebih mirip Tom dalam Tom & Jerry, karakter satu dimensi yang karikatural.

2. Eksistensi The Stateman
Stateman seperti Kingsman tapi dengan rasa yang jauh lebih hambar. Tidak ada satupun anggotanya yang menonjol apalagi kharismatik seperti Harry Hart, ditambah lagi kemunculan mereka yang cuman sekilas juga sama sekali tidak menolong. Lagipula coba lo pikirkan lagi... lo lebih peduli sama Hogwarts di Inggris atau sama Ilvermorny di USA? Ini juga sama! Siapa peduli dengan Stateman?
Keberadaan Stateman ini seakan dibikin supaya penonton USA bisa relate dengan ceritanya, which is... pretty stupid I guess, karena berasa banget cuman sekadar ada dengan screen time sangat minimal. Ini ide yang sudah tidak menarik dalam konsep, gagal pula dalam eksekusi.

3. Kematian karakter yang receh
Belum pernah gue sebegini tersinggungnya dengan keputusan penulis untuk membunuh karakter perempuan dalam cerita. Tapi yeah... gue marah Roxy The Lancelot Lady dibunuh begitu saja!! Karakter ini begitu potensial... dan lo membunuhnya seperti lalat. Ini bukan Game of Thrones, Bung!! Kematian Roxy seakan menyepelekan karakternya yang sudah terbangun kuat di film pertamanya, ditambah lagi perlakuan film ini terhadap karakter2 perempuan membuat gue bertanya2... apakah seksisme memang salah satu spoof Bond yang perlu dibanggakan dalam film ini? I think not even Bond tropes would be this vulgar and annoying.

Dan oh, omelan gue masih belum berakhir sebab mereka juga membunuh Merlin dengan cara yang... begitu bodoh sekali. Bodoh! Cuy... karakter lo hidup dalam universe dimana ada robot anjing pembunuh, tangan cyborg, android dengan senapan serbu, dan gel nano robot yang bisa menyelamatkan orang dari luka tembak di kepala. Lalu kenapa bisa2nya nggak ada gadget yang bisa mencegah ranjau meledak??? Mulanya gue mengira insiden ranjau itu mencegah Merlin beraksi bersama2 Harry dan Eggsy, sebab pembuat film ingin menonjolkan duet aksi dua karakter tersebut (meskipun ide ini sedikit licik dan menjengkelkan, kenapa tidak bikin Merlin tetap di belakang layar saja daripada mubazir?) Tapi tidaakkk... tidak... kalian cuma ingin penonton terkejut dengan kematian Merlin kan? Persetan!

Omelan gue masih lanjut lagi loh... sebab dosa Vaughn banyak dalam hobinya membunuhi karakter.
Iya, gue ngomongin Whiskey... kenapa lo membunuh dia dengan cara yang begitu brutal?? Kenapa?? Dia karakter yang broken, istri dan anaknya yang masih dalam kandungan terbunuh oleh aksi pecandu narkoba. Alasan kenapa dia mendukung War on Drugs sangat personal dan begitu relatable, berapa banyak keluarga mengalami hal ini di Kolombia? Di Meksiko?
Tapi naaahh... kalian membunuhnya sebab itu lucu. Sebab MELEMPARKAN MANUSIA DALAM PENGGILINGAN DAGING ITU LUCU! Sebab argumentasinya nggak lebih dari sampah dan persetan dengan kompleksitas masalah perdaganan narkoba. Sebab film ini terlalu campy untuk menjadi serius, tapi juga ternyata berambisi menyentuh masalah rumit yang menghinggapi bangsa2 di dunia. Oh maaf, maaf aja Kingsman. Lo ga pantas membahas narkoba. Lo ga pantas!! Tidak dengan gaya cengengesan kayak gitu!

What's wrong with you??

4. Adegan vulgar yang berlebihan
Di film pertama, seorang putri mahkota yang terpenjara menawarkan anal seks pada tokoh utama, memberikan sentuhan memualkan yang hampir2 merusak kesan filmnya secara keseluruhan. Gue merasa ide ini mengada2? Kenapa dia menawarkan seks?? Dia seorang PUTRI MAHKOTA, kenapa dia tidak menawarkan uang?? Itu jauh lebih masuk akal ketimpang nyodorin pantat. Dasar ngehek!
Adegan kecil ini sudah membuat gue kesal meskipun memahami alasan dari tounge-in-cheek gak berkelas tersebut. Sialannya, di film keduanya, bukannya tobat, filmmaker-nya malah ngegas lebih gila lagi. Yep... memasukan alat pelacak ke dalam vagina wanita lengkap dengan shot celana dalam terus masuk ke rongga vagina di dalam tubuh. Bener2 guyonan jorok abang2 dongok. Pertama2... membran mukus nggak cuman di vagina doang kali, mulut sama hidung juga ada. Kedua, di film pertama bukankah ada alat pelacak yang bisa ditanam dengan diselipkan dalam minuman atau makanan? Ketiga, scene ini nggak lucu, ini kampungan, nggak berkelas dan bikin malu. Lo seharusnya malu bisa ada ide kayak begini. Kasihan Taron Egerton terpaksa ngebelain keputusan tolol si sutradara dan penulis naskah demi profesionalisme. Singkat kata... LU GOBLOK, VAUGHN!!

5. Inkonsistensi karakter tokoh utama antara film pertama dan kedua
Seluruh rentetan insiden dalam film ini terjadi karena kelalaian Eggsy; pertama, dia lalai untuk membiarkan tangan robot itu tetap menempel dalam taksi alih2 mengisolasinya. Kedua, dia menjadi sangat tidak kompeten, dengan mudahnya dihajar oleh Tequilla. Ketiga... oh demi Tuhan, kenapa lo bisa2nya nginjak ranjau padahal lo memegang alat sapu ranjau canggih!?
Apa yang gue pikirkan dengan segenap keteledoran tokoh utama kita? Yeah... ini struktur cerita yang tidak bagus. Flow yang dipaksakan dan logika yang ditekuk demi memenuhi plot poin yang ditentukan, ini semua adalah ciri khas dari bad storytelling. Eggsy bukan orang bodoh, di film pertamanya jelas sekali ditunjukkan bahwa dia adalah bocah cerdas yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersinar. Lalu mengapa yang terjadi adalah kebalikannya di film keduanya? Gue benci inkonsistensi, dan gue lebih benci lagi ketika inkonsistensi itu muncul dalam karakter tokoh yang gue sukai.

6. Kisah romantis kacangan
Subplot roman antara Eggsy dan putri penggemar anal seks benar2 aneh, dipaksakan dan jelas sekali untuk  memuaskan penonton yang ngomel2 karena sekuens anal seks yang bener2 tasteless itu. Lo tahu? Ini ide yang bahkan lebih buruk dari anal seks itu pertama kali! Ini seolah mengingatkan gue bahwa ada adegan tolol semacam itu di akhir film pertamanya. Dan oh... si putri ternyata pacar yang suka ngambekan! Ketika Eggsy berterus terang bahwa dia harus merayu seorang perempuan di festival Glastonbury, putri Tilda seketika langsung merajuk tiada henti. Oh FOR GOD SAKE! Lo pacaran sama mata2, mbak!! Resiko pekerjaan namanya!!

Lalu si putri menuntut untuk dinikahi.

Gue langsung panas dingin.

Ini gue lagi baca Harlequin ya jangan2... atau gue lagi nonton sinetron.

'Mas... kapan kawin!? Kita udah lama pacaran, mama papa udah nanyain terus kenapa nggak kawin2...'

PREET LAH!


7. Adegan aksi yang sangat berantakan dalam eksekusi
Oh... lo ingin menyamai keindahan koreografi dalam John Wick Chapter 2? Oh heck... itu terlalu kejam, Lo ingin menyamai kegilaan koreografi dalam adegan pembantaian di gereja pada film pertamanya? Saran gue... jangan buat koreografi seperti film ini. Terus terang aja gue tertawa sinis di sepuluh menit pertama film ini, karena sumpah mati, jelek banget. Nampak sangat palsu, dipaksakan, tidak diedit dengan baik, dan gue sedikit pusing.
Tambalan CGI dalam adegan2 aksi film ini bener2 kelihatan jelas di mata. Terus terang aja, kalo emang budget tidak memungkinkan untuk menciptakan adegan outlandish yang diinginkan, mendingan ngalah aja. Bikin koreografi yang lebih grounded dan masuk akal. Percuma heboh2 kalo eksekusinya kacrut begini.
Gue nggak ngerti juga apa yang mereka lakukan pada tahap post production sebab sebenernya tim efek spesial juga banyak menggunakan metode practical effect ketimbang layar hijau seperti yang sering gue dapati dalam film2 superhero. Tapi kenapa hasilnya begitu buruk??? Duh.

8. Menyepelekan arti kematian
Biasanya masalah ini hinggap dalam film2 supernatural dimana kematian karakter2nya bisa dicegah dengan membangkitkan mereka sebagai vampir-ghoul-whatever. Masalah dalam konsep semacam ini adalah... tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan dalam ceritanya. Segalanya menjadi tidak berarti. Ceritanya jadi basi.
Kenapa memutuskan membangkitkan karakter Harry Hart? Karena fans menginginkannya? Well, mati ya mati, nggak akan kembali lagi. Itu sudah final. Penulis naskah sudah memutuskan karakter Harry Hart meninggal dalam sekuens yang sangat memorable dan emosional, hormati keputusan itu. Ketika dia kembali, seluruh emosi yang dirasakan penonton saat momen Valentine menembaknya jadi tidak berarti. Duh. Kematian dalam cerita yang berpijak pada realita seharusnya diperlakukan seperti kematian dalam dunia yang sebenernya. Ketika itu dilanggar... cerita lo berakhir menjadi lelucon.

Kesimpulannya... film ini bodoh, vulgar, dan tak sepatutnya dibuat. Tidak dengan konsep seperti ini. Satu2nya hal yang menyelamatkan film ini dari muntahan adalah performa aktor2nya yang solid dan likeable. Ya, mereka benar2 aktor yang kompeten sehingga sanggup menyelamatkan film dengan naskah model begini. Tapi tentu saja ada konsekuensi. Meskipun gue tidak bosan dari awal sampai akhir, pada akhirnya gue menolak untuk dibodohi dengan humor2 sementara plot yang ada begitu busuk. Lo bisa membodohi gue sekali, sebab emang gue nggak inget film pertamanya. Tapi tidak ada kali kedua.

Terus terang dibanding Man From U.N.C.L.E yang juga sama2 super stylish, Kingsman: The Golden Circle benar2 inferior. Gue lega produser memberikan kesempatan bagi Man From U.N.C.L.E dalam sekuel, dan gue berharap baik sutradara maupun penulis naskah sekuel U.N.C.L.E tidak lagi mencoba2 trik tak berkelas untuk mengejutkan penonton seperti yang dilakukan tim Matthew Vaughn.

Akhir kata, gue akan mencoba melupakan eksistensi film ini. Sama seperti Jurrassic Park dengan sekuel2nya yang anjrit (apalagi Jurrassic World yang ampas babi itu), film pertamanya tetap menjadi sci fi klasik yang tak akan lekang oleh jaman. Kingsman: The Secret Service adalah film standalone di mata gue, sekuelnya adalah fanfiction yang bukan canon sama sekali. Tidak ada yang namanya Stateman, tidak ada manusia digiling dan Harry Hart, bless his soul in the afterlife.

God... I feel so stupid for liking this movie!!