?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


Talking about Fantastic Beast
miki_sensei
Ada baiknya memang saat gue memutuskan menghindari trailer film Fantastic Beast And Where To Find Them sepanjang tahun 2016 kemarin. Gue jadi nggak terlalu mikirin juga enggak terlalu expect banyak dari film ini selain gue ingin tenggelam dalam Potterverse sekali lagi tanpa harus digerecoki Harry, Hermione, dan Ron terus2an. Buat gue kisah mereka sudah selesai, saatnya move on.
In fact, gue nonton Fantastic Beast And Where To Find Them dua kali. Sekali di Jakarta bersama teman2 dari klub buku, dan sekali lagi bersama dede gue di Singapura.

Secara umum gue menikmati filmnya dan bahkan terpukau dengan endingnya yang magical banget menurut gue. Tapi banyak yang tidak sependapat dengan gue, terutama anak2 dari klub buku mereka merasa underwhelmed dengan jalan ceritanya. Bahkan temen gue yang sesama penggemar Harry Potter aja, at best, bilang film itu oke.

Fantastic Beast... a Harry Potter spin off, is freaking 'okay'.

Mengejutkan.

Gue seketika dibuat bingung kenapa Fantastic Beast tidak mendapatkan cinta sebesar heptalogi Harry Potter. Mungkinkah karena naskahnya terbilang original dan bukan adaptasi lantaran buku aslinya sebenernya adalah false document yang cuman setipis buku tulis SiDu, apanya yang bisa diadaptasi? Justru tantangan ini malah menciptakan celah untuk membuat sebuah cerita yang nggak terpatok sama bab2 dalam buku,  memuaskan tuntutan fans yang enggak ada habis2nya. Bahkan menghindari mata2 tajam yang doyan membanding2kan lalu mencela.

Just, 'okay'?? WTF??


Run, Scamander! Run!

Karena ini Harry Potter, dan gue menghitung diri sebagai fans Harry Potter, maka gue mulai mewawancarai anak2 klub buku kenapa mereka menganggap film itu tidak istimewa sementara gue sendiri sangat puas. Rupanya kebanyakan dari mereka sudah nonton trailernya berulang2, ada pula yang ngikutin perkembangan hype-nya. Sementara gue tidak melakukannya sama sekali. Kemudian... sebagian dari mereka (termasuk gue sebenernya) jengkel dengan keputusan Rowling dan produser untuk menambah sekuel Fantastic Beast sampai 7 seri setelah sebelumnya dia mengeluarkan novel2 spin off tentang Hogwarts, yang, NO... I won't read it.
It's freaking Marvel Cinematic Universe all over again. Tren yang gue sangat tidak suka karena memaksakan segala2nya harus terhubung, plus... alih2 mendapatkan ide cerita lain yang mungkin berpotensi jadi franchise baru, gue dibawa ke universe yang itu2 aja. So uninspiring, it's maddening. Tapi gue paham kenapa Rowling kembali lagi pada Harry Potter yang membawanya jadi orang terkaya di Inggris, it's giving her a stable income from an established franchise. Lagipula setelah Brexit, segala2nya jadi tidak jelas, dan bahkan orang selevel Rowling pun butuh uang kalau2 keadaan jadi tambah kacau.

I get it why she's doing that. But I refuse to take a part with it.

Salah satu kekecewaan yang diutarakan temen buku gue adalah, bahwa untuk film yang judulnya Fantastic Beast And Where To Find Them, film ini sangat kurang unsur petualangan dan hanya terpusat di satu tempat saja, New York City. Dia membayangkan old school mystery adventure semacam Indiana Jones atau Allen Quatermain, yang selalu berpindah2 tempat berkeliling dunia untuk mengejar harta karun sambil berusaha mencegah si penjahat mendapatkan barang yang sama.

Lalu ada yang bilang juga story arc utama yang memiliki villain utama yaitu Gellert Grindelwald hanya membuat Fantastic Beast 'cuma' pengulangan dari Harry Potter seperti The Force Awakens adalah pengulangan dari A New Hope, dimana Kau-tahu-siapa digantikan Captain Gellert Grindelwald 'Sparrow'.
Ada yang bilang MACUSA is bunch of retarded assholes. Untuk yang satu ini gue keberatan, MACUSA cuy... they being bunch of retarded assholes makes perfect sense. Lagipula bahkan Kementerian Sihir di novel Harry Potter pun ga bisa dibilang kompeten. Harry Potter adalah cerita yang merayakan sosok anak2, jadi sangat wajar melihat orang dewasa digambarkan tidak mampu dan bahkan bodoh.

Tapi setelah gue berbincang2 dan berdiskusi. Harus gue akui... kesan gue terhadap Fantastic Beast And Where To Find Them jadi berkurang banyak. Indeed film itu memang seharusnya dibikin old school adventure ala Indiana Jones; setelah kecelakaan besar yang membuat keberadaan kaum penyihir AS nyaris terungkap, Newt menyelidiki misteri jaringan perdagangan satwa gaib di New York yang membawanya bersama Auror bernama Porpentina Goldstein terjebak di padang es penyihir Samoyed sampai gurun2 Timur Jauh. Yep, it's as cliche as you can get, tapi Harry Potter terkenal bukan karena twist yang baru atau storyline yang unik. It's fun and charming. The whole whimsicality which enticing people to read until dawn breaks and forgo the much needed sleep.
Kenapa harus terus2an di New York City... it's soooo Marvel, it's kinda boring. Kinda, tertolong pemilihan setting Prohibition Era yang charming dan gelap di saat bersamaan.

Lagipula keluhan mereka soal pemilihan Gillert Grindelwald sebagai villain utama juga valid. Kenapa oh kenapa?? Kenapa harus Gillert Grindelwald dimunculkan di seri pertamanya, heck... why even Grindelwald AT ALL? Siapa yang peduli dengan Grindelwald?? Kenapa harus ngurusin Obscurus?? Siapa yang mengira ide Obscurus itu tema utama yang menarik buat franchise Fantastic Beast????

Oh, you fucking shit...

It's.... riddikulus.

Ga percaya? Coba lo Google fanart Fantastic Beast dah. Liat aja dari thumbnail yang ditampilkan, hampir semuanya soal Newt mengejar2 Niffler atau Occamy. Atau Newt bersama binatang2 lainnya meskipun kalah populer jauh daripada si Niffler.

IT'S ALL ABOUT THAT FREAKING NIFFLER!! EVERYBODY REMEMBER THAT FLUFFY GOLD DIGGER!

Bukan Grindelwald

Bukan Obscurus.

Nobody gives a shit about that stupid black floating blob. Who cares about evil wizard with a penchat to rule the world? We had our share in Harry Potter heptalogy about power hungry Dark Wizard. He's called Lord Voldermort.

Gue jadi baper begitu mikirin itu. Galau berat. Temen klub buku gue bahkan lebih kejam lagi dengan bilang... Niffler itu satu2nya hal yang menyelamatkan Fantastic Beast di matanya dari kehancuran bernama masa kanak2 yang dikhianati. Dan harus gue akui, emang iya. Gue suka banget sama Niffler itu dan gue suka banget ruckus yang terjadi untuk menangkap Occamy yang segede gaban ternyata mesti dijebak dalam poci teh dengan pancingan kecoak. Absurditas kek gitu yang gue cari di Potterverse.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Obscurus and Grindelwald then.

Oh... man. Oh shit....


Fantastic Beast And Where To Find Them memang tidak semengecewakan The Force Awakens dimana gue keluar dari teater dengan kejengkelan yang membuncah. What an uninspiring, uncreative, piece of plagiarism!
Fantastic Beast? Gue bahkan nggak bisa bilang film itu jelek; di minggu2 pertama setelah pemutarannya, gue bener2 sangat menyukainya. Tapi dengan berjalannya waktu, ketika hype-nya sudah kendor... dan akal sehat akhirnya menghampiri gue sambil cengar cengir, gue mulai menyadari betapa sesungguhnya film ini tidak sesuai dengan harapan gue (dan teman2 buku gue.)

So... it's 'okay' I guess.