?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


Sebuah narasi tentang Goblin
miki_sensei
Ketika temen gue mengingatkan dengan santun bahwa tokoh utama film Goblin adalah orang yang sama yang menjadi om2 galau pembantai zombie di kereta ekspress menuju Busan, gue tidak menyangka betapa serial ini akan sangat hype. Sebagaimana veteran yang sudah tonjok2an di forum dan self-proclaimed Twilight-hater, entah kenapa gue jadi sedikit mengenang masa lalu nan unik itu; pahit, manis, ngakak2 tolol, dan menaiki hype train ekspress Twilight-hater sambil membantai fantard2 gemblung di atas atap dan di dalam gerbong. Pokoknya mirip Goong Yoo juga, nusuk2in zombie, bedanya ini ababil2 obsesif.

Tapi sekian waktu berlalu, gue belajar banyak dari pengalaman yang bisa dibilang tiada duanya itu. Gue belajar tentang gimana sih bikin storytelling yang bagus, apa itu deus ex machina, apa itu mary sue dan gary sue. Gimana menilai sebuah narasi yang koheren, world building, dst2.
Di saat bersamaan, gue, yang juga hobi nulis2 gak penting untuk membunuh waktu dan melepaskan stres, menyadari betapa gue tidak memenuhi persyaratan seberat itu. Oh tidak, tidak... gue bukan penulis yang baik. Setidaknya gue selalu kebingungan sendiri menuliskan story arc sebuah narasi. Apa tujuan dari perjalanan para tokoh utama dalam cerita, apa yang membuat pengorbanan dan pengalaman mereka penting?

Dalam Harlequin, mereka mencari cinta sejati. Lo boleh bilang ini kacangan setengah mati, tapi akuilah ini tetap sebuah story arc yang utuh. Sementara gue... ah, gue cupu.

Tapi dari sekian otodidak soal teknik menulis yang benar, ada satu hal lagi yang gue dapatkan:

Bahwa ngomel2 soal hype kayak beginian emang cuman buang2 waktu. Ironisnya waktu adalah satu hal yang melimpah di suatu waktu di masa2 yang lampau dan bahagia bego2 itu.

Seorang teman pernah mengeluhkan betapa Harry Potter merusak imej tentang Goblin. Nampaknya dia seorang purist garis keras dalam menilai bagaimana seorang pengarang mengintegrasikan sebuah mitologi di dalam ceritanya. Dia pecinta game high fantasy yang kompleks, semacam Dungeon & Dragon. Pandangan yang sepenuhnya gue tidak setuju. Buat gue setiap pengarang berhak mengintegrasikan ide2 yang menurutnya tepat dalam story arc-nya. Jika Tante Rowling merasa Goblin itu makhluk cebol yang berbakat jadi bankir. Kenapa tidak? Selama itu menarik, tidak bikin gue ilfeel, dan berada dalam Garis Besar Haluan Selera Pribadi, gue akan menyimaknya.

Oh... tapi gue emang nggak setuju Sherlock Holmes jadi sosiopat kekinian sok keren. Sori dah... kagak terima gue yang itu. Lagian buntut2nya kualitas ceritanya ancur juga dan kena protes sejuta umat. Told you so.

Pertama kali gue mendengar keluhan yang berasa congkak ini, diam2 gue tertawa dalam hati. Sejujurnya gue semestinya tersinggung karena gue adalah pecinta Harry Potter, tapi oh tidak... kegeramannya saat itu justru nampak imut banget di mata gue. Oh, no, Sir. You don't know even half of it. 
Dan gue bener2 menanti hari dimana dia akan meleduk kayak kompor ketika melihat Goong Yoo... adalah Goblin unyu. MWAHAHAHAHAHA!!

Bener aja... pacarnya tergila2 serial KDrama itu, dan sedikit banyak itu membuatnya tersengat. Cowok unyu2 supranatural dengan kekuatan super dan ganteng forever. OMAGAH, ULTIMATE FUCKING FANTASY! Oke... I feel you cowok2 yang dibandingin ama Edward Cullen, I feel you. Dibanding2in dengan tokoh fiktif itu rasanya hidup KZL banget.
Bisa ditebak dia ngomel2 lagi soal penistaan karakter Goblin. Tapi kali ini gue ga setuju, kenapa?

First of all... the actual term is dokkaebi. 'Goblin' is how Korean tried to find the similar word for idiot Westerners.
Secondly... hear me out.

IT WILL PASS!!

I'm sorry, tapi gue JAUH JAUH lebih gedhek sama superhero tren yang kayak nggak abis2. Tren ini eneg banget karena gue kayak ga punya pilihan selain superhero untuk menikmati film2 blockbuster sambil mamam berondong jagung. Tahun 2017 basically littered with freaking superhero movie!! At least sineas Korea masih ngasih elo pilihan. AT LEAST!!

Dude... let women has their own stupid tropes. It's not ruining the world as you know it, unlike Trump.

Anyway... menurut gue sih Goblin jelek.

Oh ayolah... jangan tatap gue seperti itu! Seperti elo, gue juga berhak nonton dan mengkritisi ceritanya.
Ya, film ini begitu hype-nya sampai2 gue dibuat penasaran untuk mencoba mengikutinya. Belom lagi didaulat sebagai serial terbaik di Korea sana. Pujian2nya luarbiasa, dan sambutannya tak kalah dasyhat.

Well...

Oke, gue nggak akan bohong dengan bilang bahwa gue suka dengan tropes Kdrama. Mulai dari cowok tsundere tipe C, cewek hebohan, dan kisah Cinderella. Bangunan2 indah, karakter2 yang serba cantik dan tampan berbalut baju bagus. At best... Kdrama itu sinetronnya orang Korea. Itu adalah cerita escapism dengan tropes yang sudah jelas.

In short... it's a guilty pleasure.

The thing is... Goblin menyandang seluruh tropes itu bagai lencana. Dari episode pertama gue menontonnya, gue hanya memutar bola mata sambil menertawai tropes2 yang mereka tampilkan. Dan demi Toutatis!! Durasi satu jam itu terlampau berlebihan menurut gue. Banyak adegan terasa berpanjang2 dengan lingering shot yang over the top menampilkan keindahan interior rumah dan landscape. Gue bener2 dibuat bosan di episode pertama, nyaris menyerah bahkan. Well, jika ini yang mereka sebut dengan Kdrama terbaik, gue benar2 mengkhawatirkan kualitas serial2 lainnya.

Tapi gue mencoba bertahan dan melanjutkan ke episode berikutnya. Still cringeworthy, still awkwardly written, and I truly hate Ji Eun-tak character. Namun di sisi lain, ada satu elemen yang menurut gue sangat menonjol sekaligus memukau sampai2 (tragisnya) elemen itu menenggelamkan cerita utamanya sendiri. Apakah itu?

The goddam Grim Reaper's universe!!

Cerita yang mereka buat soal dunia para Jeoseung Saja bener2 sangat menarik. Like, gue malah lebih senang melewatkan Kim Shin dengan kegalauan dan lore soal Goblin-nya yang terlalu obvious dan dituturkan berpanjang2 macam novel tapi ditampilkan dalam media visual.

I just wish this is a story about Jeoseung Saja all along. Mereka menciptakan hal2 kecil yang menarik soal para pencabut nyawa ini dalam serial Goblin. Bahwa ternyata mereka hidup di tengah manusia fana, tinggal di bangunan buatan manusia, juga butuh makan dan tidur. Tapi juga mereka makhluk abadi dan tidak bisa terluka sama sekali. Ada dualisme menarik yang ditampilkan disini, and actually I'm okay with the weirdness of it! No need to explain why, it's just it is.

IMHO world building para Jeoseoung Saja ini jauh lebih kompleks ketimbang si Goblin sendiri. Serius. Ketika mereka sepertinya nggak merasa perlu memberikan batasan pada Kim Shin soal eksistensi dan kemampuan astral yang dia miliki, sehingga buat gue dia ga lebih dari karakter OP yang tidak menarik, para penulis naskah justru bisa2nya merepotkan diri membangun dunia kecil pada pencabut nyawa yang justru hanyalah cerita sampingannya. Gue tergila2 dengan detail2 unik nan antik dari tiap2 individu Jeoseoung Saja dengan dunia mereka, kayak bagaimana penulis menghilangkan kesan angker Jeoseung Saja, memodernisasi konsep mereka dengan bikin cerita bahwa kerja mencabut nyawa itu nggak lebih keren daripada day job manusia. Atau ternyata mereka bisa dilihat manusia kecuali kalau mengenakan topinya.
Lalu dalam tiap tugas mencabut nyawa ada SOP yang perlu dilaksanakan; membacakan catatan kematian, membawa jiwa2 yang kebingungan itu dan duduk bersama sambil menenangkan mereka. Terakhir adalah membujuk arwah2 itu untuk mau meminum teh lupa ingatannya agar kelak mereka bisa bereinkarnasi tanpa dibebani memori akan kehidupan lama mereka. Jika arwah yang dicabut nyawanya adalah orang2 dengan banyak dosa, Jeoseung Saja juga menegaskan apa yang terjadi dalam hukuman yang mereka akan terima di neraka.

Lalu ternyata ada glitch dalam sistem seperti missing soul. Ternyata ada SOP juga kalo ketemu missing soul, si Jeoseung Saja yang bersangkutan mesti mengajukan ijin. Mereka juga mesti mengerjakan paper work.

The best thing is Jeoseoung Saja ini bisa nongkrong bareng sambilan mengeluhkan sulitnya pekerjaan mereka. Sebab... yea, mencabut nyawa itu bukan perkara gampang. It's a shitty job filled with tears and plea and anger of the dying person.

Oh, dan mereka juga punya internal affairs untuk memastikan setiap Jeoseoung Saja bekerja dengan penuh tanggung jawab. Jadi jangan coba2 korupsi ya!

It's... fascinating! Gue penasaran dengan konsep bahwa ternyata Jeoseoung Saja sebenernya adalah orang2 mati yang ingatannya dihapus dan bekerja di Pengadilan Neraka untuk menebus dosa2 mereka. Mereka tak punya nama, identitas mereka dihapus sama sekali. Apakah ini terjadi by consent? Bahwa si orang mati yang menjadi Jeoseoung Saja ini setuju untuk melayani Pengadilan Neraka sampai waktu yang disepakati untuk menebus kesalahan mereka di masa lampau supaya bisa bereinkarnasi lagi sebagai manusia? Atau ini hukuman abadi dimana orang2 mati ini terperangkap menjadi Jeoseoung Saja selama2nya tanpa ada kesempatan untuk bereinkarnasi?

Buat gue ini menarik sekali, sekaligus aneh, sebab dunia mereka lebih dieksplor sama penulis naskahnya. Hingga pada akhirnya, ini justru merugikan cerita utamanya. Karena gue jadi ga peduli apakah Kim Shin akan berhasil dalam perjalanannya untuk menemukan pengantinnya sehingga dia bisa berhenti menjadi abadi. Gue lebih2 tak peduli lagi dengan Ji Eun-tak, atau Yoo Deok-hwa, atau wanita pemilik kafe yang ternyata adalah reinkarnasi dari saudara perempuan Kim Shin di masa hidupnya.

Nope, I don't give a shit about them. Give me more Wang Yeo and his morbid world. I love his weird job and his interaction among his peers. It's genuinely funny and charming and kinda sad too. Forever bounded to walk on earth not remembering your whole memory, everything that you've experienced that makes you a person. Identity is what makes somebody as a special individual, what makes you as 'you'.
Man... It's should be Death Parade. It should be a mystery dramedy sprinkled with morbid humor while some immortal characters talking about death, remorse, and meaning of life in whimsical way.

But of course those are not the tropes from Kdrama. So they gave me boring story of Kim Shin and Eun-tak while his interaction with Wang Yeo is more interesting.

Dan gue masih ngerasa alasan Kim Shin dikutuk jadi Goblin itu mengada2, bahkan dituturkan dalam eksposisi paling laughable yang pernah gue liat. Like... seriously? You gave away your mystery just that? Lo menempuh cara model begini? Setidaknya dalam Beauty And The Beast, visualnya luarbiasa indahnya, dan mereka sekalian pake narator. Dan.. oh, itu DONGENG! Jadi narasi seperti itu sangat pas penempatannya.
Bisa jadi lebih menarik kalo alasan kenapa dia jadi Goblin itu nggak pernah dijelaskan dari pertama kali, dan baru pelan2 dibuka seiring dengan berjalannya cerita. Kenapa lo buka misterinya dari pertama coba... nggak seru banget ah!

Sebagai cerita, Goblin terasa timpang dipenuhi karakter2 yang sebagian besar tidak penting. Seolah2 si penulis cerita sebenernya kepingin menulis fantasi soal dunia para Jeoseoung Saja dengan Goblin sebagai karakter yang terjebak di tengah2 dunia mereka namun editor merasa hal tersebut tidak akan terlalu menarik di mata target audience mereka yang adalah para wanita. Lalu dia menarik sebuah novel dari tumpukan buku di atas mejanya, menyorongkannya pada si penulis naskah dan bilang.

"Nona penulis, saya suka dengan cerita Anda. Tapi ini akan sulit dijual pada target mainstream kita. Saran saya, cobalah baca novel ini, contoh terbaik tipe cerita yang disukai pemirsa; cowok sempurna yang OP kebangetan, dan kisah cinta dua dunia. Meledak di tahun 2010, membuat cewek2 menggila dan cowok2 merana selama empat tahun berturut2, bahkan menelurkan fanfic yang kemudian dibukukan dan juga diadaptasi filmnya."

"Oh, coba saya lihat, apa judulnya?"

Lalu dia melihat novel yang dimaksud;

"Ingat kata kuncinya. Menjual," si editor menegaskan.


Ok. Fair enough, Goblin nggak seburuk Twilight. Masih ada elemen yang sangat menarik dari serial itu yang sayangnya, harus dirusak dengan kisah percintaan yang nggak penting, karakter yang lebih nggak penting lagi. Dan tokoh utama yang terlalu Over-Powered.

Apakah gue membenci Goblin? Seperti temen gue yang ngeluh di status fesbuk mempersoalkan hype yang menistakan nama baik pergoblinan sedunia? No... I don't. It's just a serial, a hype one for sure. Buat gue sih jelek dan not worth my time, tapi buat lo yang suka banget sama Goblin, so what? Tontonlah, enjoy your guilty pleasure! Goong yoo itu ahjjusi ganteng kok. Gue bisa melihat appeal dari cerita ini, tapi ini sudah bukan masanya lagi gue menggemari hal2 begini. Apakah lo setuju dengan pendapat gue mengenai kelemahan2 cerita ini atau tidak, itu takkan mengurai kesenangan lo menikmati filmnya. Itulah indahnya guilty pleasure, tidak perlu ada yang dipersalahkan. Sayangnya Goblin bukanlah guilty pleasure selera gue. I'm more with Lockwood & Co. side.