?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


La Danse Macabre
miki_sensei
Recently I watched Goblin Korean drama which featuring men wearing formal attire--three piece suice with oh-so-nice tie pin to be exact (the one Monsieur Justin Trudeau also love to wear.) Sigh.... how I wish I could say shitty things about Goblin and acted like I don't care about anyone's feeling. But I can't now, I just can't. Because one thing even I myself can't deny; Gong Yoo ahjussi is so damn perfect in that suit. Maybe it's the stupid reason why I even bother to watch it. Don't know why that damned golden tie pin always attract me and it keep appearing in every click ad I found on web. Kenapa oh kenapa!!  apakah gue seekor gagak dalam kehidupan yang lampau?

Tapi dalam kasus Om Keanu Reeves, gue meyakini dengan sepenuh hati, jiwa, dan pikiran, bahwa dia adalah spesies yang benar2 berbeda. Ya Gusti...!! He killed it with black on black three piece suit. Figuratively and literally. How dare you, Mr. Reeves!! Hao der yuuu!!

Yep, kita lagi ngomongin John Wick. Dan gue harus ngomongin film ini, sumpah gue harus.

Gue nonton John Wick Chapter 2 sampai dua kali; sekali bersama dede gue dan berakhir tidak nyaman karena kita diapit dua manusia ekstrim. Sebelah kanan adalah engkoh2 galak yang menyalak kayak chihuahua ngeselin tiap kali seseorang menyalakan hape dalam kegelapan (oke... gue akui alasannya benar, tapi sumpah gue ngeri abis di sebelah dia.) Sebelah kiri adalah mas2, yang, dengan suatu cara memutuskan bahwa menuang sebotol parfum ke badannya adalah ide bagus. Kasihan dede gue, dia sesak nafas sepanjang dua jam dan bener2 dibuat sangat dongkol sama mas2 siluman parfum.
Puji syukur kepada sanghyang widi, yang kali kedua gue nonton bersama teman dan kami berdua sangat menikmatinya. Terlalu menikmatinya bahkan.

Kami berdua... yah, kami berdua nampaknya terkena sihir pesona Keanu Reeves. Sompret, gue nggak pernah menyadari betapa Om Keanu itu lelaki yang indahnya setengah mati dan dia udah berusia 52 tahun dengan wajah yang nggak beda2 amat dari tampangnya di tahun 2000'an. Whatdefak, Om! Situ makan apa sih?

Lebih menjengkelkan lagi, demam ini benar2 bertahan lama. Like seriously, di hari Senin yang mendung2 galau gimana gitu, mendadak temen gue nge-Whatsapp gue dengan nada malu2:

Anjir kenapa gue terbayang2 John Wick melulu dengan baju hitam2nya ya?

Saat itu juga lah gue ngakak terguling2.

TUH KAN! TUH KAN!!! GUE JUGA, SIALAN! MAKANYA GUE NGAJAK LO BIAR GUE ADA TEMEN FANGIRLING. ARGHHH!! Gue menolak menanggung beban ini sendirian!! Gila ini sumpah beneran itu orang membekas banget di otak gue bikin gue kagak bisa move on. Dan gue kudu nunggu 2 tahun supaya tahu lanjutannya. Benar2 bikin frustasi!! SOMPREEETT!

Oke serius, gue tuh enggak pernah ngefans segimananya ama Mas Keanu ini. Gue jarang memedulikan aktor, gue lebih peduli konsep cerita filmnya karena gue adalah penggemar genre movie. Tapi secara itu Om (yang gue curiga adalah sejenis vampir) sudah berkarir sejak dari tahun 80'an sampe sekarang, yea... sedikit banyak ya gue nonton fillm2nya. Dan yea, sesungguhnya gue sedikit terpesona dengan dia, tapi nggak sampe demam2 kayak begini. Kagak sehat atuh.

Banyak yang bilang dia aktor buruk dan kagak bisa akting. Bicara teknis kayak begini, gue gak punya tes litmus yang tepat untuk menentukan apakah seorang aktor bisa berakting sempurna ato kagak. Intinya sejauh gue nggak illfeel ato dibikin boring sama performance dia, maka itu oke. Dan buat gue, Keanu Reeves is fine. Nggak sekelas Tom Hanks, udah pasti. Tapi yaelah kagak sekelas Vin Diesel juga keleus, jahat banget sih elu pada.
Konon contoh terburuk dari akting Keanu Reeves adalah penampilannya di film Dracula. Mukanya lempeng. Aksen British-nya ancur total. Dan dia kayak orang lemes. Masalahnya, bukan itu yang gue inget dari film Dracula, yang gue inget justru gue terpesona gila2an dengan Jonathan Harker-nya. Mukanya eksotis banget. Sama sekali bukan bule Enggresh, matanya malah sipit kayak Cina. Dan buat gue, sosok Keanu Reeves memberikan gue gambaran karakter Jonathan Harker dalam teater imajinasi gue bertahun2 sesudahnya. Sebab IMHO, asal lo tau aja, novel Dracula itu boringnya seamit2, jadi minimal ada hiburan pas lo kebosenan waktu ngebaca tu buku di bagian Jonathan Harker. LOL, antara Gary Oldman yang haus darah dan Keanu Reeves, elu tebak dah gue bakalan pilih yang mana?

Hampir semua film2 si Om dari era 90'an nggak ada yang gue tonton di layar bioskop, pasti gue taunya via TV--terutama RCTI. Kayak Speed--KW-nya Die Hard yang sukses dan jadi dirinya sendiri--gue nonton itu lebih dari tiga kali. Puji syukur pada Yang Maha Esa, bonyok gue membiarkan anak2nya nonton setiap film R-rated yang diputer di TV tanpa banyak pusing. Atau The Matrix yang bikin heboh seheboh2nya temen2 sepantaran gue berusaha meniru2 efek bullet time-nya Abang Neo. Gue enggak mempedulikan film ini sampe suatu malam yang kosong, dan satu2nya hiburan yang layak disebut hiburan hanyalah The Matrix di tipi, gue akhirnya nonton ni pilem dan otak gue dibikin mbledos dengan konsep world building-nya yang terbilang baru buat gue saat itu. Anjir, ini film keren abis!!

Sekuelnya tapi... ahem... ya gitu dhe.

RCTI juga waktu itu, entah kenapa, demen banget muter Johnny Mnemonic; film cyberpunk super campy dengan konsep edan seedan-edannya. Lupakan fakta bahwa Keanu mengumpat 'fuck fuck' di film itu sebanyak2nya, dan bonyok gue tetep cuek aja membiarkan gue nonton terus. Lupakan fakta bahwa film itu bertema dystopian yang serba gelap. Atau ada pengkhotbah bionik yang teriak 'Jesus time'!! sambil bunuh2in orang. Atau ada lumba2 pecandu heroin yang dipasangi teknologi sibernetik. Lupakan semua itu, sebab film ini, kawan, film ini adalah tambang emas.

Om Keanu begitu kerennya sampai2 dia melawan iblis dua kali. Pertama dia melawan iblis berwujud Al Pacino di The Devil's Adocate, temen gue bahkan selalu inget film ini karena ada adegan Mbak Charlize Theron jadi setengah gila dan beradegan telanjang. Kedua, dia menjadi hard boiled occult detective dalam film noir fantasi supranatural yang dipenuhi malaikat dan iblis, Constantine. Salah satu film, yang, baik gue dan dede gue sepakat, adalah film guilty pleasure yang keren abis. Setiap kalimat yang dilontarkan sama si Om, dia melakukannya dengan penuh gaya. Pemilihan kostumnya juga mantap, bener2 pas gitu sama sosoknya; kemeja putih dengan dasi hitam yang diikat sembarangan berlapis trench coat hitam juga.

Wait, to think about it, he always looked good when he's clad in black!

Pertama kali ketika gue mendapati trailer John Wick di tahun 2014, gue bukan salah satu yang mencemooh soal alasan 'balas dendam karena anjing dibunuh' yang konyol itu. Gue bahkan nggak kepikiran itu gokil. Ya anjingnya dibunuh, dia ngamuk, so what? Kenapa elu yang ribut? Film aja diributin kek gitu. Wajar sih, saat itu gue lagi pusing sama kerjaan plus juga mulai ngurusin wedding dede gue jadi perdebatan semacam itu bener2 receh banget buat gue.
Jujur aja gue nonton ni pilem emang karena gue sedang mencari hiburan lantaran gue lagi mumet banget, dan dari seluruh film yang diputer saat itu, cuman John Wick yang keliatannya sesuai dengan selera gue plus ada Keanu Reeves. Gue bahkan kagak ngajak temen, seperti sedang kencan dengan diri sendiri. Atau dengan Keanu Reeves, terserah, itu cuma masalah cara pandang doang. Intinya gue pergi sendirian ke bioskop dan sendiri pula lah gue menikmati film yang ternyata jauh lebih mengesankan daripada yang gue kira sebelumnya.
Sebenernya gue sama sekali nggak ada masalah andaikata Mr. Wick murka lantaran anjingnya dibunuh begitu saja tanpa latar belakang kenapa atau bagaimana, bagi gue ini film yang premisnya dari pertama kali udah absurd begitu. Practically, I will get behind any weird reason, whatever it is. 

Berhubung gue relatif nggak terlalu nyimak trailer2 lainnya, gue kagak sangka ternyata ada cerita soal istri yang meninggal dunia akibat kanker, dan anjing itu sengaja dikasih untuk menemani Wick dalam kedukaan dan kesendirian setelah dia tiada. Mengetahui ini gue jadi... oh sialan, gue sekarang bisa berempati kenapa dia begitu marah.
Astaga jadi ini bukan sekadar tentang anjing! Ini tentang kenangan seorang wanita yang sudah tiada yang dinodai!! Andainya bocah2 Rusia idiot itu hanya mencuri mobilnya, mungkin Wick hanya nyamperin si bos mafia Rusia doang dan minta mobilnya dibalikin. Anak bego itu palingan ditabok bapaknya. Udah, kelar.  Kagak pake hujan darah.
Tapi mereka membunuh anjingnya udah kayak orang barbar. Oke... baiklah... gue merestui tokoh utama ini untuk membantai semua orang yang bertanggung jawab. Hell yeah!

Yang gue gak sangka juga soal film ini; John Wick ternyata lebih dari sekadar kisah balas dendam brutal seorang pria yang murka. Rupa2nya dunia dimana pria murka ini tinggal, merupakan dunia yang ditulis dengan sangat2 menarik. Gue nggak pernah terpikir akan mendapati film action semi fantasi dengan world building sebaik ini. Biasanya cuman eksposisi, dan dar-der-dor-duar! Big explotion dan udah.
Film yang satu ini sukses membangun realita fantasi dunianya. Jadi, John Wick ternyata adalah mantan pembunuh bayaran legendaris di universe itu, mereka bahkan memberinya gelar 'The Boogeyman', seperti Hitokiri Battosai untuk Kenshin Himura. Dan di dalam universe ini rupanya ada hotel The Continental yang ternyata adalah rendezvous bagi para pembunuh bayaran dimana tempat itu adalah netral ground sehingga tak seorang pun diperkenankan 'berbisnis' di sana--melanggar dan lo mampus ditembakin, kemudian para pembunuh bayaran ini punya mata uang sendiri yaitu koin emas seperti duid Galeon Spanyol. Banyak adegan dalam film ini yang membuat gue terkejut dengan kreativitasnya; misal ketika John Wick berhasil membantai 12 orang yang mencoba membunuhnya di dalam rumahnya sendiri, dia menelepon seseorang dan bilang dia memesan makan malam untuk 12 orang. Gue langsung tertawa. Oh yeahhh... this movie rocked.

Dan lucunya, sekalipun film ini bergaya hiper realistis dimana seseorang bisa begitu jagoannya sehingga sanggup membunuh 84 orang lainnya seperti lalat, John Wick masih punya sentuhan realistis. Ya, dia menembaki orang dengan tingkat presisi sebuah aimbot, tapi dia selalu mengisi ulang pistolnya. Dia selalu menghitung berapa kali dia sudah melepaskan tembakan dan dia berhemat peluru jika perlu. Ada momen dimana dia benar2 kehabisan peluru, sedikit panik, dan beralih menggunakan tangan kosong; mencekik, mematahkan leher, menusuk orang dengan belati. Tidak seperti film action pendahulunya dimana senjata tangan bisa menembak sampai puluhan kali tanpa harus diisi ulang, John Wick berjejak pada realita fisika.
Plus, tidak seperti jagoan film action pada umumnya, dia tidak kebal dengan serangan balik musuhnya. Di sepanjang film dia benar2 dipukuli sampai babak belur, dan berdarah, dia bahkan terpincang2. Tapi dia selalu membalas dan dia membalas dengan mematikan. Orang ini benar2 bajingan jagoan!

Dan Keanu Reeves benar2 luarbiasa di sini. Basically, dia bagai menari di sepanjang film, menarikan sebuah tarian yang sangat menakutkan dalam segi presisi, dipenuhi kebuasan dan kekerasan ekstrim, dan meninggalkan tumpukan mayat dengan lubang di dahi sesudahnya. Seluruh seni gerak ini menyatu bersama dengan latar belakangnya, dengan musik pengiringnya menjadi sebuah balet maut yang begitu cantik sehingga lo tidak peduli berapa banyak orang mati. Hal semacam ini adalah sesuatu yang nggak akan lo temui dalam film jaman sekarang yang dipenuhi jump cut, shaky cam, dan editing yang busuk bikin sakit kepala. Melihat bagaimana dia bergerak dan betapa rumit koreografi yang harus dia lakukan, saat itu gue percaya bahwa Keanu Reeves adalah seorang pedansa yang sangat baik di kehidupan nyata. Demi Tuhan, dia terlalu cocok memerankan karakter ini, sosoknya yang tinggi semampai berbalut pakaian serba hitam dari atas sampai bawah. Bagai bayang2 malaikat kematian yang kerap mengintai lawan2nya. Duh, om... gue sampe mesem2 liatnya. Fanservice banget ini.
Jangan salah, John Wick juga punya momen2 konyol dengan joke2 yang tentu saja, morbid. Para penjahat yang menciut nyalinya saat tahu apa yang dilakukan si bocah tengil pada tokoh utamamya. Atau running gag soal bagaimana Wick membantai tiga orang di bar hanya menggunakan sebatang pensil sebagai senjata.

Sesudahnya gue tak bisa berhenti berkicau tentang betapa John Wick adalah film action paling unik yang pernah gue lihat. Gue sangat terpesona dengan world building-nya, dengan skill yang ditampilkan aktornya. Dan tentu saja gue tidak akan melewatkan sekuelnya yang baru keluar tahun 2017 ini.

Dan sehabis gue menonton sekuelnya, John Wick Chapter 2, gue bersumpah... ini adalah film dengan genre bending paling kreatif yang pernah gue tonton; sebuah neo noir, action, fantasy. Asli, gue belom pernah menemui yang seperti ini sebelumnya dan gue bener2 sangat menyukainya. Plus, mereka berhasil menjalin alasan kenapa Chapter 2 itu ada. Gue bener2 suka dengan aturan dan konsekuensi yang diterapkan secara tegas dalam pembuatan world building film ini.

Di mata gue, John Wick tak lain adalah sebuah dunia persilatan modern--di sini mereka menyebutnya dunia para pembunuh bayaran. Tapi ini tiada ubahnya seperti setting dalam novel Jin Yong, hanya saja dengan modern twist dimana tokoh utamanya malah seorang anti-hero. Universe ini terbagi2 dalam beberapa kelompok; The Continental yang merupakan kelompok pembunuh bayaran dengan aturan hidup dan etika mereka sendiri, High Table yang merupakan gabungan perwakilan dari para keluarga bandit seluruh dunia dan kerap menggunakan jasa pembunuh dari The Continental, dan kelompok sektarian di New York yang dipimpin The Bowery King, yang menurut gue adalah Ketua Partai Pengemis. Gue rasa kelompok2 lainnya akan dimunculkan di Chapter 3.

Sebagaimana kisah neo noir yang baik dan benar, story arc John Wick adalah sebuah tragedi yang menimpa karakter utamanya. Dan sekuelnya menegaskan status ini tanpa belas kasihan, Wick adalah korban dari takdir yang kejam, sebuah fatalisme yang tidak terelakkan. Saat dia ingin berpisah dari Dunia Bawah para pembunuh bayaran, dia diserahi Tugas Mustahil oleh keluarga Tarasov (kelompok yang dia bunuh di film pertama) kurang lebih itu adalah job ala Bandung Bondowoso yang sengaja diberikan biar Wick tidak bisa lepas. Tapi diam2 John Wick melakukan sebuah Perjanjian Darah yang ditandai dengan Marker berisikan cap jempol darah (which is fucking awesome concept) dengan seorang putra mafia Italia, Santiago D'antonio, orang paling busuk yang menjadi satu2nya jalan keluar bagi dia saat itu. Tentu saja ketika Santiago mendengar John Wick muncul kembali dan membantai habis keluarga Tarasov di film pertama, dia memutuskan untuk menagih utang darahnya.

Harus gue akui, ini sebuah ide brilian untuk menyambung jalan cerita dari film pertamanya. Sebab sudah ditegaskan dari film pertama bahwa dunia John Wick memiliki aturan main dan kode hidup dengan segala konsekuensinya. Dan bahkan seorang pembunuh bayaran paling hebat sekalipun tidak bisa lepas dari aturan main yang mengikatnya dalam ketidakberdayaan. Konsekuensi dari utang darah yang dibuat Mr. Wick adalah dia harus membunuh saudara perempuan dari Santiago sendiri agar dia bisa merebut kekuasaannya dari High Table. Sesuatu yang kemudian akan mengacaukan tatanan dunia bawah tanah New York dan tak ada seorang pun yang akan menyukainya.
Dari pertama kali Santiago muncul di ambang pintu rumahnya John Wick tahu penderitaannya takkan berakhir begitu saja, bahkan ketika dia memelas pada Santiago untuk tidak menagih utang darahnya. Oh tidak. Tokoh utama kita terperangkap dalam dunia dimana segala isinya berperang keras melawan dirinya; The Continental dan High Table menciptakan aturan yang menjerat hidupnya. Perjanjiannya dengan Santiago mengharuskannya untuk membunuh lagi, tapi bahkan ketika dia berhasil melaksanakan tugas itu, John berakhir dengan kontrak terbuka seharga 7 juta dolar bagi siapapun yang sukses menghabisinya.

Seluruh kejadian itu akhirnya membawa anti-hero favorit kita pada sebuah keputusan yang bahkan membuat gue menyentakkan nafas: John Wick menghabisi Santiago di dalam Hotel The Continental!!
Setelah melanggar aturan paling suci dari hotel, Winston, si manajer The Continental cabang New York tak punya jalan lain selain mengasingkan Wick, memutusnya dari seluruh fasilitas The Continental. Dengan High Table melipatgandakan harga kepalanya menjadi 14 juta dolar dalam kontrak terbuka yang kini berskala internasional, John Wick kini praktis sendirian melawan dunia brutal yang akan memburunya kemana pun dia pergi.
Pada akhirnya, Marker yang membuatnya keluar dari kehidupan lamanya justru adalah benda terkutuk sama yang menjerumuskannya dalam seluruh fatalisme ini. Kini Wick tak punya siapapun dan apapun. Istrinya meninggal, rumahnya dihancurkan bersama seluruh kenangan akan istrinya, nyawanya dihargai 14 juta dolar, dan dia terasing dari satu2nya dunia yang dia kenal. Dia sama dengan mati.

Dan gue berakhir dengan kekaguman luarbiasa terhadap sekuel yang brilian ini sebab gue bener2 tak bisa menebak jalan ceritanya sama sekali di Chapter 3 nanti. Apa yang menanti Wick dan bagaimana dia menghadapi seluruh dunia yang kini memburunya seperti anjing2 hutan yang haus darah? Apakah dia akan menata ulang tatanan yang sudah ada dan menciptakan tatanan baru dari dunia persilatan yang dia huni? Atau dia akan mati dalam akhir yang tragis?

Oh Tuhan, betapa gue jatuh cinta dengan cerita dark ini. Mereka sukses mempertahankan mitos dari sosok John Wick yang tragis. Simbolisme The Continental yang diibaratkan seperti perjalanan menembus dunia orang mati dalam mitologi Yunani. Koin emas yang merupakan bekal perjalanan menuju dunia bawah, John Wick yang selalu berpakaian serba hitam ketika akan mencabut nyawa, seperti sesosok Grim Reaper bersenjatakan pistol dan senapan serbu. Mereka memperlakukan dunia bawah tanah seperti Dunia Bawah milik Hades. Ada sejenis romantisme morbid yang sangat memikat dan gue tergila2 dengan cerita fantasi seperti ini.

Jadi itulah mengapa gue sampai nonton dua kali. Ini adalah panggung gelap dimana Keanu Reeves dengan keluwesan membantai orang2 secara brutal membabi buta dalam tarian artistik yang menyentakkan nafas. Panggung dimana settingnya seakan berasal dari kisah Midsummer Night's Dream. Hamya saja dia tidak menang dalam kisah tragis karakternya. Oh tidak.

Dan gue bener2 tak sabar menanti babak ketiganya...