?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


A Rather Mediocre Movie Marathon Night
miki_sensei
Kurang lebih sebulan yang lampau, gue membaca status Facebook seorang teman yang memaparkan betapa plot cerita dalam anime blockbuster Kimi no Nawa benar2 sangat mirip dengan plot film The Lake House tahun 2005. Pernyataan ini pun dibenarkan oleh teman yang lain di forum komentar. Hal ini tentu membuat gue benar2 penasaran dan akhirnya memutuskan untuk nonton The Lake House bahkan sekalipun film itu sama sekali bukan tipe film gue. Romance? Time travelling? Hahahahahahaha...

Well, let's say gue berakhir sama sekali tidak puas dengan The Lake House. Semenjak jalan cerita Kimi no Nawa dipenuhi lonjakan emosi, misteri, dan drama, setidaknya gue kira The Lake House memiliki separo dari elemen2 itu. Ternyata tidak.

It's just a romance. A bland romance, not bad, not good. Just... okay. A nice feel good love story, nothing made me feel offended or disturbed.
Kecuali chemistry kuat antara Sandra Bullock dan Keanu Reeves yang sudah terbukti ampuh semenjak film Speed, harus diakui gue merasa kecewa. Ini benar2 jauh di bawah harapan gue. Tidak ada satupun hal yang patut diingat dalam film yang benar2 datar seperti jalanan baru diaspal itu. Lagipula gue cenderung MEH sama Keanu Reeves jika dia berada dalam romance mode. Like seriously... he's not the kind of guy I conjure in my head when I imagine romantic stuff. He's kind of guy I imagine if anime was real life. For me, Keanu Reeves is like shonen anime cool character; terribly handsome, lacking in expression but absolutely badass.
Oh... gue serius soal ini, sebab gue pernah nonton wawancara dia di Youtube dimana dia mengejutkan si pewawancara dengan sengaja menjawab pertanyaannya dengan in-character sebagai Mr. Jonathan Wick padahal sebelum2nya dia sangat ramah. And holy fucking shit, he looked terrifying for a second! I'm not gonna lie, that was so anime!



Pyohohohohohohoho...

Dan dari situlah bermula, sebuah percikan ide di kepala gue: OKEEEE!! Baiklah...!! Ini adalah pertanda! Semenjak gue sempat dibuat mabuk kepayang selama seminggu lebih, dan kini udah donlot satu filmnya, mari adakan marathon film2nya Keanu Reeves!! Itu ide yang brilian dan ngasi kerjaan bittorrent gue yang suka bertingkah. Makan tuh donlotan! Berhubung bittorrent gue ini rada2 aneh, cuman bisa donlot 1 pilem per 24 jam. Which is gue nggak berminat untuk mencari tahu kenapa karena dengan cara itu gue bisa mendisiplinkan diri; satu film per malam, nggak lebih!! Gue udah punya pengalaman buruk bergadang nonton film serial, jadi... makasih. Gue masih punya kerjaan.

Sebenernya filmnya Mas Keanu ini banyak banget, dan gue juga nggak kepingin nonton semuanya. Banyak dari film dari daftar filmografi dia nggak jelas juga. Even dengan standar gue yang cenderung rendah untuk kemampuan akting seseorang dalam film yang gue tonton, gue harus mengakui; Keanu Reeves itu second-rate actor yang baru dapet job kalo semua aktor2 kelas atas nolak naskah yang ditawarkan produser, atau, (dalam satu dua kasus) aktor yang udah teken kontrak tau2 ngabur dadakan. Dengan jadwal syuting yang makin dekat, ketika produser, sutradara, dan penulis naskah stress nyari orang yang sudi mampir, baru mereka ngontek Keanu Reeves. Ya weslah, pikir mereka gitu. Honornya jauh lebih murah, aktingnya lumayan, dan fans ceweknya banyak. Setidak2nya nambah nilai jualan. Begitulah caranya dia dapet job. Kaget? Welcome to the reality, ma men! Inilah La La Land yang sebenar2nya!

Anyway, gue menerapkan sejumlah syarat dalam memilah film mana yang mau gue tonton dari daftar filmografi Mr. Reeves:
1. Gue nggak akan nonton film roman dia SAMA SEKALI. In default mode, romance is not my cup of tea, not even Reeves could make me watching it.
2. No straightforward drama. For me, drama is overrated. Drama itu bagai kopi, diminum sendirian pahitnya setengah mati dan gue benci. Tapi kalau dicampur dengan berbagai elemen lain, rasanya lebih enak dan baru gue bisa menikmati.
3. No experimental film a.k.a something too weird, I must go to sleep at night, I have a day job for Pete's sake!
4. Action is a MUST WATCH. Keanu Reeves is always at best in action mode, I mean... you see John Wick, huh? He's good at kicking people's ass and looking badass while doing it. So anything remotely action, I will hunt it, I will download it, and I will watch it!

Dan dari situ gue memilih 15 film untuk ditonton selama sebulanan ini. Gue tidak nonton secara berurutan dari tahun penayangan filmnya melainkan gue memilih secara random tergantung mood apa yang gue rasakan saat itu. Beberapa sangat populer dan lo pasti udah nonton lebih dari sekali, satu dua indie, dan sisanya gue bahkan ga tau itu darimana asalnya. Anyway... this is my short takes on Keanu's Movie Marathon Nights.

1. CONSTANTINE (2005)
Gue nggak akan berpanjang2 sebab gue udah pernah ngomong sebelumnya, ini adalah film Keanu favorit gue. Semua unsur dalam Constantine itu keren abis; mulai dari genre-nya yang gue banget, penuturannya, dan bagaimana karakter2nya berinteraksi, semuanya pas sesuai harapan gue. Film ini adalah contoh anomali sebuah adaptasi komik yang melenceng sama sekali dari karya orisinalnya tapi bisa berdiri sendiri dan memiliki penggemarnya, termasuk gue. Dan penggemar yang sama bisa jadi menolak menonton Constantine yang baru (dan buat gue Keanu Reeves > Matt Davis, maaf fanboy.) Keanu benar2 menjiwai John Constantine disini; seorang pengusir iblis yang nampak lelah, sinis, dan penuh kepahitan, tapi juga tangguh. Dan cara dia mengucapkan setiap kalimatnya seakan menambah unsur keren dalam film yang bener2 highly stylized ini, awesome! Film ini juga berhasil menjaga nuansa dan mood-nya yang serba kelam dan dipenuhi fatalisme ala film noir. Dan tentu saja... semua orang merasa gregetan dengan fan tease dari John dan Angela yang hampir berciuman. Get over it, guys.

2. THE DEVIL'S ADVOCATE (1997)
Personally, I think Mr. Reeves gave stellar performance here. Ada yang bilang aksen Southern dia busuk mampus, tapi gue tidak bicara dengan Southern twang dan bahasa Inggris bukan bahasa ibu gue, so... sabodo teing, gue akan mengabaikan elemen itu. Berperan sebagai seorang pengacara muda dari daerah Bible Belt, dia direkrut oleh kantor pengacara bonafit yang kemudian terbukti dipenuhi kedegilan, dan... segalanya jadi surealis di akhir cerita.
Reeves beradu akting dengan Charlize Theron dan Al Pacino. Film ini berdurasi 2.5 jam yang membangun tensi, semakin lama semakin mencekam dan menekan perasaan. Yang gue ga sangka adalah ternyata film ini banyak banget adegan telanjang dan adegan seks yang cukup eksplisit, padahal sepanjang ingatan gue sewaktu gue nonton The Devil's Advocate di televisi, adegan2 itu nggak ada sama sekali. Tajam sekali memang gunting sensor Indonesia. Sayangnya adegan2 panas ini sebenernya penting dalam plot karena menunjukkan perubahan karakter Reeves yang semakin dikuasai kegelapan sampai akhirnya ketika dia menyadarinya segalanya sudah terlambat.
Akting Charlize Theron sebagai istri muda naif yang perlahan kehilangan kewarasannya juga benar2 mendirikan bulu kuduk. Mulai dari tekanan pasif-agresif peer pressure kaum jetset perkotaan yang tidak dia pahami sampai akhirnya dia mulai mengalami halusinasi dan semakin terseret dalam pusaran kegilaan. Dan puncaknya ketika dia bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri menggunakan potongan kaca itu bener2 tergambar dengan sangat-sangat miris. Menurut gue chemistry antara Keanu dan Charlize bagus di sini. Mereka nampak seperti sepasang suami istri yang saling mencintai dan peduli satu sama lain sehingga konfrontasi antara Keanu melawan Al Pacino benar2 terasa sangat emosional. Plus ocehan si iblis menghadapi kemarahan si pengacara muda bener2 quotable banget. Absolutely fucking twisted and sinister. This is the devil for real; manipulating human freewill and ego and drag them into the hell. Perfect!

3. THE DAY THE EARTH STOOD STILL (2008)
Well... film ini MEH besar sih buat gue. Masalah terberatnya adalah mereka membuat remake dari film berjudul sama di tahun 1951, di masa Space Age, dimana ide cerita naskahnya untuk tahun segitu sangat groundbreaking. However... ketika naskah yang sama diletakkan dalam konteks dan teknologi di tahun 2008 yang sudah benar2 berubah dibanding 1951, mau tidak mau konsepnya jadi diuji. Menurut gue sih ide film ini udah obsolate, hanya bisa dipahami sebagai produk di masanya dengan situasi yang hanya kontekstual di tahun 50'an.
Cara AS merespons alien ini bener2 nggak masuk akal sama sekali. Okelah... mereka menembak Klaatu pertama kali, gimanapun pada ketakutan semua didatengin alien. Tapi ketika Klaatu sudah bisa diajak berkomunikasi dan meminta baik2 bertemu dengan wakil negara2 di dunia, yang mereka ributkan malah paranoia teori konspirasi ala JFK. Dan cara mereka menggambarkan negara2 dunia ketiga dalam merespon kedatangan alien itu sangat2 klise dan terbelakang sekali; doa bareng2, sembhayang di tepi sungai. Aduuuuuhhh... sejelek2nya Timur Tengah di tahun 2008, mereka menelurkan banyak ilmuwan juga kali! I don't think orang Indonesia bakalan sembhayang rame2 juga kalo ada alien kemari, yang ada malah sibuk rekam pake ponsel trus di-upload ke sosmed. That's more likely scenario menurut gue. Holywood seakan tidak pernah dan tidak mau memahami bahwa ada peradaban dan intelektualitas di negara2 dunia ketiga, cape dheeeee...!
Eniwei, Keanu Reeves pas banget sih jadi alien. Ekspresinya 80% datar di sini dengan emosi minimalis. Meskipun gue rada sedih juga liatnya, he can do better than that, in much better movie.
Jaden Smith in the other hand... is rather off, dan semakin berasa ngeselin karena karakter yang dia perankan adalah anak kecil ingusan yang menjengkelkan dan cuman bikin susah aja. Meh... just meh!

4. BILL AND TED EXELLENT ADVENTURE (1986)
From 'bodacious', 'exellent' to 'party on, duuudee!!' It's hard to think this movie could be anything but good.
Jujur gue rada takut nonton film ini, terutama karena tahun penayangannya yang sangat jauh ke belakang, tahun 1986. Ditambah lagi sosok Keanu nampak bodoh sekali di film ini, bikin illfeel. Didapuk sebagai film campy penuh lawak sekaligus fiksi ilmiah yang mendapat status cult, gue mengira Bill & Ted Exellent Adventure akan jadi cringefest selama 131 menit. Diluar dugaan gue ternyata film ini sangat2 self aware dengan ketololannya, dan bersamaan juga tampil begitu charming dan likeable. Ini tentang time travelling dengan kotak telepon umum sebagai mesin waktu dan pelajaran sejarah yang ngaco sengaco2nya. Nyaris seperti parodi Dr. Who yang diiringi lagu2 rock 80'an lawas penuh kenangan (dan jaman sekarang selalu dipake di setiap trailer dan film yang mau kelihatan hip), buat gue momen terbaik Bill & Ted Excellent Adventure adalah ketika lagu Power Tool; Two Heads Are Better Than One diputar sementara Joan D'Arc tengah berdoa di sebuah biara meminta bimbingan Tuhan, lalu mendadak sebuah kotak telepon umum muncul di hadapannya dan Keanu Reeves keluar dari kotak itu, mengulurkan tangannya seperti malaikat. Goddamn, I laughed so hard.
Pada akhirnya gue berakhir menyukai film ini bahkan sekalipun Keanu tampil seperti bocah tengil yang tidak pernah mandi selama seminggu sekaligus karakter paling idiot diantara duo Bill & Ted yang udah begonya setengah mati itu. He's got better, dude!

5. BILL AND TED BOGUS JOURNEY (1991)
Menyusul kesuksesan Bill & Ted Excellent Adventure, tiga tahun kemudian maka Bogus Journey pun muncul. Sayangnya buat gue, Bogus Journey kehilangan charm-nya ditambah lagi para pemainnya sudah keburu beranjak dewasa. Keanu Reeves bahkan sudah bermain sebagai Johnny Utah di tahun 1991, imej yang terlalu bertolak belakang dengan Ted 'Theodore' Logan. Buat gue masalah terutama dari film yang ini adalah tone-nya yang mendadak jadi kelam, ditambah lagi idenya yang terlalu maksa buat jadi over-the-top. Kayak... muncul android berwujud Bill & Ted dari masa depan yang membunuh Bill & Ted?? Holy shit! Kemudian Bill & Ted bertemu Grim Reaper. Whaatt? Lalu mereka bertandang ke neraka, bertemu Beelzebub, dan tersesat ke tengah labirin dalam sebuah hell acid sequence? Duuudeee!
Astaga! Mendadak Bill & Ted terseret dalam sebuah meta-journey macam yang terjadi pada Sam & Dean dalam film serial Supernatural yang udah gue gagal paham mau dibawa kemana itu idenya. Pergi ke neraka? Surga? Masa depan dan masa lampau? WTF dudddeeeee! Even for Bill & Ted standard, this is one step too goofy!
Seluruh aspek dalam film ini bener2 maksa, mulai dari tone-nya yang mendadak jadi kelam, humornya yang kelewat garing, dan universe-nya yang eh? Plus ending yang bener2 membuat gue memutar bola mata sambil bilang... APA SEEEHHHH!! FAIL!
Bill & Ted seharusnya berhenti di film pertamanya, sumpah. Sekarang gue denger Keanu Reeves sedang menggarap Bill & Ted ketiga, 26 tahun setelah sekuelnya keluar. Pertanyaan gue... apa nggak terlambat? Plus, film ini mau dibawa ke arah mana? Sebab jika mereka mengeluarkan trik bego ala Supernatural terhadap Sam & Dean.... well, bye bye!

6. JOHNY MNEMONIC (1995)
Sebagai sebuah noir cyberpunk, film ini punya konsep menarik soal masa depan dan interpretasi yang sangat fantastis mengenai internet. Bahwa di masa depan muncul penyakit misterius yang disebabkan oleh reaksi alergi terhadap masifnya keberadaan alat2 elektronik berteknologi canggih, atau penyelundupan data ilegal dalam jumlah besar dilakukan oleh para kurir yang memasang drive dalam otak mereka agar tidak bisa dilacak. Atau manusia yang bisa di-upgrade menggunakan teknologi sibernetik dan implan.
On paper, Johnny Mnemonic story is fascinating. Ada seorang kurir data ilegal yang terjebak dalam skandal antara korporasi farmasi raksasa yang jahat, peneliti yang idealis dan para dokter jalanan yang ingin mendapatkan akses kesehatan secara murah. Tambahkan Yakuza sebagai enforcer perusahaan farmasi raksasa yang bengis ini, lumba2 sibernetik yang juga pecandu heroin, pengabar injil sibernetik yang diam2 merangkap sebagai pembunuh bayaran, dan dunia internet yang digambarkan mirip game PS2--kita punya resep sebuah cerita campy gendheng yang asyik.
Sialnya film ini gagal mengeksekusi ceritanya, terutama akibat editing yang teramat buruk. Dan jujur aja, akting Keanu Reeves juga bener2... duh. He's so bad here. Dia bener2 kayak robot. Duh, untuk seseorang yang dikejer2 geng Yakuza plus pembunuh bayaran sibernetik berkedok pendeta, kok rasa2nya enggak ada cemasnya sama sekali gitu. Apalagi semua orang cenderung kepingin memenggal kepalanya. Masa nggak jiper gitu dengan prospek kepala diputus?
Anyway... film ini adalah guilty pleasure buat gue, means... gue suka banget Johnny Mnemonic apapun yang terjadi. Editingnya boleh sampah, dan akting Keanu Reeves bikin gue tepak jidat. Duh. Tapi suka ya tetap suka.

7.  STREET KINGS (2008)
Gue terperanjat saat mengetahui film ini ternyata besutan David Ayer. Lebih kaget lagi ternyata ada Chris Evans, Hugh Laurie, dan Forest Whitaker. Eh buset... banyak artis ngetop.
Keanu Reeves kurang lebih berperan sebagai pembunuh berbayar di sini. Serius. Hanya saja kliennya adalah kesatuan polisi Los Angeles, dan dia juga bagian dari kepolisian. Ketika hukum sudah mentok, maka LAPD menurunkan Tom Ludlow. Dia adalah polisi yang ditunjuk untuk melakukan pekerjaan kotor para polisi. Gue suka karakter utamanya dimana dia menyadari posisinya sekaligus memahami bahwa hukum sekalipun terkadang tak bisa meraih keadilan yang diinginkan. Dan ada penjahat2 tertentu yang lebih baik langsung dibunuh ketimbang mendapatkan pengadilan dimana mereka bisa membayar pengacara terbaik dan berhasil melenggang bebas dengan memanfaatkan celah pada hukum. Masalahnya, kesatuan dimana Ludlow meletakkan kesetiannya ternyata juga nggak kalah korup dari penjahat2 yang dia habisi. Who's watching the watchmen anyway?
Keanu Reeves tampil meyakinkan di film ini sebagai polisi korup yang tahu apa yang dia lakukan salah sehingga terbeban dengan begitu banyak hal. Dia selalu bagus kalau bermain sebagai karakter yang jiwanya terasa kosong dan kelihatan depresi secara konstan. Tapi Tom Ludlow bukan sekadar polisi dengan beban mental, dude is a freaking badass. Scene favorit gue adalah ketika dia membuntuti rekannya sendiri yang diduga mengadukan dirinya ke bagian DA dan mau memberinya pelajaran. Gestur Ludlow menggulung ikat pinggangnya mengelilingi tangannya yang terkepal untuk memperkuat pukulannya bisa disamakan dengan ungkapan 'fuck yeah'
Gue suka Street Kings. Ini film yang enjoyable banget kalo elo ada di kereta atau bis malam dan nggak bisa tidur sepanjang perjalanan. Atau kalo lo malem2 insomia tanpa alasan jelas. Plotnya sedikit lebih pintar daripada film2 B-movie yang diam2 gue tonton di bis malam tiap pulang ke Malang sama bonyok dahulu kala.
Jangan salah, Street Kings jelas2 adalah B-movie tapi classy dengan tema nihilistik yang sangat sinis. Menurut gue sih filmnya kompeten, tapi tidak spesial.
Still, it's worth to watch!



8.  HENRY'S CRIME (2010)
Gue tertarik dengan film ini karena premisnya yang unik. Tokoh utama loser yang berencana merampok bank karena sebelumnya dipenjara karena merampok bank atas kesalahpahaman. Untuk memperlancar kejahatannya, dia bergabung dalam kelompok teater yang gedungnya berdiri tepat di depan bank dan pada akhirnya dia justru malah jatuh cinta dengan teater sekaligus seorang aktris yang menjadi lawan mainnya dalam karya Anton Chekhov.
Gue suka dengan ide ceritanya. Sedikit lain daripada yang lain. Porsi terbesar tentu saja adalah drama, tapi juga ada unsur humor dan heist. Oleh karena itu, gue memutuskan nonton film ini daannn...
Yah... hitung2 ini adalah pengalaman gue menonton film indie. They always feel small, though Shyamalan with his paltry budget in Split somehow managed to pull out a much grandiose movie. Keanu Reeves beradu akting dengan Vera Farmiga yang lebih gue kenal sebagai Mrs. Lorraine Warren. Aktingnya di sini serviceable; dia jadi loveable loser yang lumayan memikat. Tadinya gue meragukan dia bisa jadi pecundang, tapi dia bisa dan gue cukup puas. Okee, Om!
Yah, buat gue film ini... 'eh', cukup mengecewakan; tidak buruk, tapi juga terlalu garing untuk selera gue. Endingnya rada2 busuk, tau2 terputus begitu aja. Mereka udah jelas saling jatuh cinta gitu dan nggak ada konklusinya? Ciuman kek? Apapun? APAPUN??

Gak ada? Oke. Fine. Whatever. NEXT!

9.  THE MATRIX (1999)
Didapuk sebagai salah satu film action yang merubah sejarah perfilman Holywood. Salah satu film scifi terbaik yang pernah dibuat. Dan film yang membuka tabir pengetahuan manusia2 di Amerika Serikat soal anime Jepang.
Tujuhbelas tahun terlewati setelah film ini beredar. Gue nggak nonton di bioskop melainkan di RCTI, gue terpukau saat itu dengan ide2nya, lalu sekarang gue nonton lagi dan gue terpana;
Ternyata sekarang The Matrix cuman... 'yah, lumayan lah'

No! NO! NOOOOOO!!! I'm getting old. NOOOOOOOOOOOOOO!!

Ya, film ini memiliki tampilan yang baru dan segar di eranya, dengan ide camera work dan cinematografi yang revolusioner--belum pernah dieksplorasi sama sekali. Tapi tidak, film ini bukan film scifi terbaik yang pernah dibuat.
Tidak, jalan cerita film ini tidak istimewa. Untuk seseorang yang sudah terekspos oleh anime2 Jepang, The Matrix itu biasa aja. Lebih dari itu, jalan ceritanya kini jadi sangat menjengkelkan dipenuhi deus ex machina.
Bagi lo yang mungkin bertanya2 mengapa; begini, gue selalu tidak suka dengan ide tokoh utama yang OP, dan sini Neo mendadak jadi OP. Dikisahkan ternyata dia bukan The One dan akhirnya memutuskan jadi The One karena mau nyelamatin Morpheus. Konsep ini bisa gue terima. Tapi masalahnya, ketika mendadak dia OP itu jadi nggak masuk akal karena mestinya dia ga lebih kuat dari rekan2nya yang lain, dia cuma memutuskan mengambil peran sebagai The One doang.
Titik dimana gue memutuskan The Matrix itu cuman sekedar style over substance adalah ketika Neo ditembak dalam The Matrix oleh Agen Smith. Setelah itu Trinity yang frustasi mencium dia di dunia nyata sambil menyatakan cinta, sebab dia ditakdirkan untuk mencintai The One. Saat itulah gue meringis dan mau balik meja karena emosi.



I mean WHAT? WHEN? WHERE??? Tanpa establishing relationship tau2 dia bilang jatuh cinta. Dan lo bilang Bella jatuh cinta sama Edward itu kagak masuk akal sama sekali??? LO SERIOUS??
Akhirnya Trinity sukses 'menghidupkan' Neo lagi dengan kecupan cinta sejati. Padahal dibilang yang mati di The Matrix juga akan mati di kenyataan. Lalu sehabis itu mendadak dia jadi super jagoan karena berhasil mencapai level saiyan begitu saja. Dan gue cuman bisa bilang...

Please... kill me.


Nggak heran sekuelnya jelek banget, seampas2nya sampah nuklir. Mustahil lo membangun sekuel sementara di film pertama fondasinya begitu lemah. Sorry to say, tapi film ini kayak ababil penuh gaya dan nggak tahu diri. The Matrix merasa dirinya cerdas dan keren, tapi ternyata enggak.

Yep... The Matrix nggak lulus ujian jaman. Duh.

10.  SPEED (1994)
Gue suka banget film ini. Salah satu film terbaiknya Om Keanu. Film ini adalah film action yang begitu seringnya diputar di televisi, gue rasa gue nggak perlu menceritakan premisnya sama sekali. Yang gue suka dari Speed adalah, film ini jelas2 dibuat untuk mengekor keberhasilan Die Hard tapi berhasil menemukan formulanya tersendiri. Lagipula, berbeda dengan Die Hard dimana para petugas keamanan meragukan pengakuan John MacClane dan menolak membantunya sehingga dia relatif melawan penjahat2 sendirian; para polisi dalam Speed bekerja keras dan bahu membahu menolong Jack Tavern. Tidak hanya itu, orang2 yang berada di dalam bus juga turut membantu tokoh utamanya sehingga penonton mendapatkan kesan realistis dari film ini sekalipun Speed dipenuhi berbagai action set piece yang nggak semuanya masuk akal (aksi bus melompati celah jalan layang tol itu bener2 melanggar hukum fisika pake banget.)
Menurut gue Keanu Reeves bermain sangat apik di sini, dia tampil menjadi tough guy yang heroik dan chemistry-nya dengan Sandra Bullock menjadi salah satu highlight dari filmnya. Dengan premis yang sederhana dan berbagai set piece yang menggeber jantung, Speed adalah film yang sangat solid dan teruji oleh waktu.

11.  MAN OF TAI CHI (2013)
Film ini....
Duh...
What did I just watch!????

Oke, biarkan gue mengamuk sebentar. Semenjak Man of Tai Chi adalah debut Keanu Reeves sebagai sutradara. Tapi tolong, Mr. Reeves... tolong, LO SEBENERNYA MAU MENYAMPAIKAN APA SIH!??? HAH?? Sebab gue gagal paham segagal2nya manusia awam normal yang menginginkan film martial art yang decent.

Ugh... gue menderita sekali nonton film ini. Gue pusing, gue bosan setengah mampus. Dan, oh,  otak gue berasa lumer di dalam kepala!!
Begini ya, sebuah film, bahkan film action sekalipun, memerlukan konteks. Kenapa harus ada gebuk2an ini dan kenapa disana meledak, atau kenapa si tokoh utama mempertaruhkan lehernya dengan ngebut2an sinting di jalanan. Apa yang dipertaruhkan sehingga seluruh resiko mampus di tempat ini diambil? Ambil contoh film action dengan premis paling simpel, The Raid. Si tokoh utama mesti membantai begitu banyak orang karena dia ingin bertahan hidup, dia punya istri yang tengah mengandung dan membutuhkan dia. Simpel, tapi relatable. Atau ambil contoh dari film Keanu Reeves paling baru, John Wick. Dia membantai puluhan orang karena seorang bocah goblok membunuh anjingnya yang merupakan hadiah terakhir dari mendiang istrinya. Ada ikatan emosional yang mendalam di sini sehingga penonton paham kenapa dia begitu marah. Itu bukan sekadar anjing. Itu simbol cinta.
Dalam Man of Tai Chi... si tokoh utama terpaksa mengikuti berbagai turnamen bela diri ilegal. Oke dia butuh uang untuk menyelamatkan perguruannya, tapi segalanya ditampilkan nir emosi sehingga penonton tidak merasa relatable. Lebih parah lagi, tokoh utamanya diperankan oleh seorang aktor yang kemampuan aktingnya sama tawarnya seperti sepotong roti atau meminjam kata2 Lucy Carlyle; setampan kaleng margarin yang baru dibuka dan sekarismatik lap basah yang teronggok di lantai. Keanu Reeves sebagai antagonis juga penampilannya amit2 kayak kaleng margarin yang isinya udah mau abis dan siap dibuang, aktingnya hampir sama parahnya seperti Johnny Mnemonic.
Sorry to say, tapi action tanpa konteks itu sama aja seperti polusi visual. Yang nonton pusing tujuh keliling.

Lagipula, sebagai penonton film2 silat buatan Hong Kong di tahun 80'an mulai dari Snake In Eagle Shadow, Fong Sai Yuk, sampai Once Upon A Time In China, gue berani bersumpah wirework di film ini lebih parah film2 jadul itu. Plus, seluruh pertempuran dalam film ini nampak palsu, orang dipukul tapi nggak memar, hidung ditinju tapi ga ada darah. Tidak ada bobot dalam pukulan demi pukulannya dan seluruh momentumnya bener2 'off'. It sucks.
Maaf, tuan-tuan. Tapi ketika seluruh dunia sudah menyaksikan brutalisme artistik bernama The Raid dan The Raid 2, penampilan seperti ini bener2 menggelikan. Ini seperti sekumpulan badut sirkus.

Sekadar saran, jika lo kepingin nonton film silat soal Tai Chi, bagusnya nonton Tai Chi Master, film Jet Li lama. Dari segi cerita dan koreografi jelas2 kualitasnya diatas film ini. Serius. Sumpah mati.

Gue bisa memaafkan seandainya film ini tancap gas mengambil ide anime model fighting tournament ala2 Flame of Recca, atau Yu Yu Hakusho. Sekalian jadi sinting over-the-top gila2an dengan berbagai pendekar bela diri, penjahat megalomaniak yang ingin hidup abadi, sekumpulan ninja, perkumpulan orang2 dengan kekuatan supranatural, berbagai artefak sihir, dan siluman rubah. Yes, I would buy it if Keanu Reeves appeared as nine tailed demon fox. Fuck! I don't care! This movie is so bad it needs Keanu Reeves as kyuubi for the sake of me laughing my ass off. It would be campy as hell, but hey... it's anime fun!

Because Man of Tai Chi took itself too seriously meanwhile it's a fiasco of visual madness. And I put the blame on Mr. Reeves himself. This is by far... the worst Reeves movie I've ever watched. AND THANK GOD HE REDEEMED HIMSELF IN JOHN WICK. THANK GOD!!


12.  THE WHOLE TRUTH (2016)
Meskipun film ini adalah courtroom drama, namun eksekusinya lebih mendekati cerita detektif klasik ala novel Agatha Christie lengkap dengan narasi si tokoh utama, ketimbang kisah drama pengadilan kompleks ala John Grisham. Siapa pelakunya? Siapa yang berbohong dan siapa yang menyatakan kebenaran?
Dengan scope cerita yang terbatas, sederhana, dan sangat old school, gue berakhir menyukai film ini sama seperti gue menyukai novel2 karya Agatha Christie. The Whole Truth bahkan mengingatkan gue pada cerita novel The Murder of Roger Ackroyd. Terkadang gue tidak membutuhkan cerita epik serba besar dan kompleks, cerita yang sederhana pun bisa menarik.
Keanu Reeves bermain aman di sini, tapi somehow menambah kedalaman pada karakternya yang digambarkan sebagai pengacara eksentrik dipenuhi misteri yang bahkan lebih kental ketimbang plot utamanya sendiri. Dengan tipe karakter seperti ini, sesungguhnya gue agak berharap tokoh utama pengacaranya mendapatkan film seri sendiri. Mungkin karena formatnya yang berasa kayak novel berseri, menurut gue he's an interesting soul to watch. Sayangnya hal itu tentu takkan terjadi, sebab konklusi dari film ini membuatnya mustahil. Ditambah lagi gue membaca trivia bahwa sebenarnya karakter pengacara ini diperankan oleh Tom Hardy yang mendadak memutuskan kotrak begitu saja empat hari sebelum syuting dimulai, dan produser yang super panik seketika menghubungi Reeves untuk menggantikan perannya. Nggak heran Reeves bermain aman di sini, plus trivia ini juga semakin menegaskan statusnya sebagai second-rate actor dengan sangat brutal. Hiks...

13.  CHAIN REACTION (1995)
Satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini adalah... forgetable. Sangat menyedihkan sebab film ini begitu seringnya diputar di televisi dan gue selalu gagal menontonnya dengan satu dua cara. Kini ketika gue berhasil duduk diam dan menyimaknya, Chain Reaction ternyata sama sekali tidak istimewa. Klimaksnya sumpah nggak banget. Padahal paro pertama film ini ketika Keanu Reeves dikira teroris lalu dikejer2 FBI sepanjang cerita dan cuma bersenjatakan akal bulus ala McGyver dan kenekatan menurut gue cukup seru. Tapi paro ketiganya aduh mak... ga heran dibilang medioker. Nanggung di segala lini jadinya, action tp nanggung, sci fi tapi ampas. Apa tujuan film ini sebenarnya? Nggak nonjok sama sekali.
Satu2nya daya tarik film ini adalah Keanu Reeves yang bermain apik sebagai seorang mahasiswa teknik mesin yang ketakutan, dan Morgan Freeman yang selalu tampil menawan bahkan ketika dia sedang bosan.

MEH!

14.  POINT BREAK (1991)
Semua orang di sosmed luar negeri menobatkan film ini sebagai film action paling keren di awal era 90'an. Dengan highlight action set piece dimana Keanu Reeves melompat dari pesawat tanpa parasut untuk mengejar penjahat, sangat tidak masuk akal tentunya, tapi keren. Film ini selalu mendapatkan pujian setiap orang.

Tapi maaf saya tidak setuju.

Paro pertama... good. Menarik. Paro kedua... pas dia mulai jatuh cinta, berasa banget ini arahan sutradara perempuan.  Paro ketiga... it just terrible. Dan ketika filmnya berakhir, gue merasa tertipu.
Oh Tuhan... yang paling ngeselin dari Point Break adalah film ini punya potensi jadi action thiller yang dashyat tapi mereka entah kenapa seperti kehilangan ambisi dan memutuskan pake jalan pintas tropes Holywood bego & menurunkan kecerdasan Utah. UGH.
Padahal gue suka banget karakter Johnny Utah; agen FBI muda yang super cool, charming, dengan skill markmanship yang jitu, berdedikasi dan fokus. Di paro pertama film ini, dia melakukan tugas detektifnya dengan kompeten, dia tokoh utama yang sangat menarik. Nah, antagonisnya, Bodhi, diperankan oleh Patrick Swayze, juga sama bagusnya. Dia adalah lawan yang tepat untuk karakter Johnny Utah. Sebagai antagonis, Bodhi adalah karakter sosiopat yang sangat karismatik, manipulatif, dan memiliki ideologi anti kemapanan dan kehidupan bebas tanpa batas. Kemampuannya untuk menarik orang2 sehingga mau melakukan kriminalitas membuatnya sebagai villain yang sangat sempurna. Bodhi is one hell of a villain.
Baik kedua karakter yang saling berseberangan ini memiliki kemiripannya masing2. Baik Johnny Utah maupun Bodhi, keduanya tidak segan2 memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Utah sendiri memanipulasi karakter Tyler Endicott untuk bisa mendekati kelompok Bodhi dan kepribadiannya yang selalu nekat mengambil resiko menunjukkan kecenderungannya menjadi adrenaline junkie. Seperti juga Bodhi yang selalu mencari hal2 baru yang semakin menantang dan semakin beresiko.
Mulanya gue mengira ini cerita soal tumburan dua belah pihak; protagonis dan antagonis, yang memiliki kemiripan satu dengan yang lain namun menganut ideologi yang saling berseberangan. Johnny Utah yang ingin menegakkan hukum sebagai seorang agen FBI, dan Bodhi yang ingin melawan kemapanan dengan caranya yang twisted.

Tapi kemudian Johnny Utah jatuh cinta... and, fuck. It went downhill there. Menggelinding terguling2 ke sudut paling corny dan cheesy; gue bener2 meringis menonton 'YOU LIE TO ME?' moment ketika Tyler mengamuk saat menemukan identitas FBI Johnny. Which is menurut gue SAMA SEKALI tidak masuk akal, Johnny sedang menyamar dan kenapa agen yang sekompeten dia bisa melakukan hal sebodoh itu. Ini terasa... dipaksakan. Convinient for the plot, supaya nanti Tyler melarikan diri, ditangkap Bodhi dan menjadi damsel in distress. AH KAMPRET AH!

Nggak cuman itu aja kebegoan demi kebegoan yang muncul di paro ketiga. Ketika Johnny Utah berhasil mengetahui bahwa kelompok Bodhi adalah perampok bank berantai yang selama ini mereka buru, dia berupaya menangkap basah mereka bersama mentornya. Tapi tindakan mereka gagal. Itu artinya penyamaran dia sudah terungkap dan Johnny sebaiknya langsung mengumpulkan pasukan FBI untuk menyerbu tempat kongkow Bodhi secepatnya. Atau dia mundur teratur memikirkan taktik berikutnya, di titik ini dia sudah cukup mengenal Bodhi sehingga bisa memperkirakan tindakan yang akan dilakukan si antagonis. Ya kan?

Nope... dia malah mengunjungi rumah kekasihnya, Tyler. Malah identitasnya ketahuan si cewek yang ngamuk lalu pergi ngabur, Johnny yang panik mencoba menghubungi Tyler, tapi Bodhi keburu muncul dan mengajaknya skydiving, dan Johnny, tanpa curiga sedikitpun ikutan bersenang2 sebelum akhirnya Bodhi menunjukkan footage video Tyler yang disekap lalu memaksa Johnny mengikuti permainannya. Setelah itu tanpa bisa dicegah, darah tumpah di kedua belah pihak, Johnny maupun Bodhi.

OH TUHANKU... ini plot paling dodol yang pernah gue lihat. Gue benci mereka menjadikan Tyler sebagai damsel in distress padahal seharusnya keputusan ini bisa dihindari. Seharusnya Johnny bahkan tidak perlu dibikin jatuh cinta. Bikinlah dia terobsesi menangkap Bodhi karena dia sebenarnya terpikat dengan ideologi si antagonis tapi juga ingin membuktikan kemunafikannya (merampok bank untuk membiayai gaya hidup hippies elo terus ngaku2 lo anti kemapanan? Yeah, right.) Bikinlah Bodhi juga memiliki dendam pribadi terhadap Johnny karena harga dirinya tergores sebab Johnny sukses menipunya dan memperalat Tyler. Cerita ini akan lebih menegangkan jika protagonis dan antagonisnya punya dendam personal satu sama lain. Ada sisi emosional yang dilibatkan dan kedua orang ini akan berusaha menusuk satu sama lain sampai pada klimaksnya.

Andainya Johnny mendekati Tyler dan berhasil membujuknya agar bersedia menjadi informannya, ketimbang mereka saling jatuh cinta menyeh menyeh huek. Lalu Bodhi membalas pengkhianatan Johnny dengan membunuh mentornya. Iya... film ini akan jadi kelam dan kurang fun. Tapi jauh lebih mendingan daripada mendengarkan monolog corny Keanu Reeves soal betapa cintanya dia pada Tyler... oh Tuhan, gue bener2 bergidik mulas mendengarnya. Lalu ceritanya berubah jadi agen FBI tangguh yang jatuh cinta dan ceweknya diculik dan... aku akan menyelamatkanmu apapun yang terjadi! Cue 'I will Always Love You' song in the background.


Kenapa jadi berasa Harlequin ya?
Atau Descendant of The Sun...

Gue sama sekali ga paham kenapa Johnny Utah jadi out of character ga terkontrol. Bisa2nya terpikat oleh filosofi setengah mateng Bodhi soal pencarian tantangan hidup yang mendobrak batas2 etika. Meh. Utah lebih pinter dari itu lah. Gue asli bener2 sedih saat mereka membunuh mentornya, Angelo Pappas. He such a good character, sangat eksentrik dan menarik. Mereka menyia2kan karakter seperti ini demi jalan cerita super corny menye2, keterlaluan!

Dan ketika film ini berakhir dengan Johnny Utah membiarkan Bodhi menyongsong kematiannya sambil mengejar ombak raksasa di tengah badai, meraih impiannya untuk mati sebagai orang bebas. Rasanya gue kepingin meninju layar monitor gue. How dumb this movie can be? Bodhi memang karismatik tapi dia membiarkan rekan2nya terbunuh dan sama sekali tidak terganggu dengan hal itu. Dia sosiopat dengan ideologi aneh yang sebenernya cuma alat untuk mencapai keinginannya yang egois. Hukuman yang paling pantas untuk orang ini adalah dikurung selama2nya dalam penjara. Terkekang sampai mati.

Film action paling spektakuler di jamannya? YEAAA. Bisa jadi, tapi buat apa kalo ceritanya bego kayak begini?

Dan begitulah... marathon gue diakhiri oleh film yang sangat mengecewakan dan membuat gue nyaris ingin nonton Speed lagi pukul dua pagi. Man... Speed is a masterpiece compared to this.

Oke... kesimpulan, kesimpulan. Well, duh, memang Keanu Reeves memiliki karir yang tidak stabil. Sebagian besar filmnya forgetable dan cenderung buruk, tapi film2nya yang terkenal menjadi ikon para geek. The Matrix, suka atau tidak suka adalah landmark action di tahun 90'an, dan Keanu Reeves adalah The One and only Neo. Speed adalah film action yang takkan lekang oleh waktu. Bill & Ted juga adalah film campy yang ikonik.
Lagipula setelah 15 film berturut2, gue mulai menyadari pola akting Keanu Reeves ini dan kenapa dia sampe dikatain aktor muka lempeng. Gue masih bertahan dengan pendapat; he's fine. Dia bisa bagus sebenernya--kalau--sutradara film yang bersangkutan bisa membimbing dia ke arah yang benar, atau, dia mendapat lawan main yang kemampuan aktingnya bagus sekali sehingga sanggup mengendalikan suasana dan emosi dan memancing reaksi yang sama kuatnya. Sayangnya tidak di semua film dia bisa mendapatkan priviledge seperti ini, oleh karena itu jangan heran jika ada aktingnya yang bener2 UGH, gue kayak ditonjok. So bad I could forgive him only because he's so good looking.

Dengan ini gue menutup marathon film gue yang berakhir tidak menyenangkan. Sigh... apa gue melanjutkan nonton Goblin aja ya lagi.

EEEEEEEEEEEEWWWWWWWWWW!!! *bergidik geli*