?

Log in

No account? Create an account

miki_sensei


Quirky dr. Miki

When bad guys are away, dr. Miki is getting a holiday


A Neurosurgeon Who Moonlighting As A Sorcerer
miki_sensei
Sebenernya gue berharap itu plotnya. Jatohnya ke urban fantasy alih2 superhero. Tapi... well, yeah.

Ketika gue nonton Dr. Strange, gue sama sekali tidak punya ekspektasi mengenai bagaimana karakter ini akan dibawakan dan bagaimana alur ceritanya akan bergerak. Gue cuman tau akan ada trippy visual dan sihir. Itu doang.

Lo pada mestinya udah tau, seringkali gue mengeluhkan soal populasi film superhero di bioskop yang kebanyakan. Belom lagi remake dan reboot yang hampir pasti tidak sebagus film originalnya. Intinya, dalam dua tahun ini, gue menjadi orang yang sinis akan karya2 Holywood. Posisi gue terjepit, sementara gue cape ati nonton film2 berat pemenang Oscar, otak gue juga menuntut sedikit kecerdasan dan keberagaman dalam pemilihan tema. Tapi rupa2nya, keinginan gue nampaknya belum akan bisa dikabulkan sampai 2020 nanti.

Anyway... gue memutuskan nonton Dr. Strange. Temanya tentang sihir sedikit berbeda dengan film Marvel kebanyakan yang cuman kaboom kaboom udahan. Dan review2 awal dipenuhi pujian positif yang...  mencurigakan. Iya, gue udah bilang gue orang sinis sebelumnya? Sebodo amat sama review positif, gue mesti membuktikan sendiri.

Dan... filmnya oke. Nggak spektakuler, nggak dramatis... it's okay.
Well, it's a superhero movie, lo bisa ngomong apa? Dan Marvel seperti punya template bagaimana plotnya bergerak. Diluar visualnya yang trippy dan okelah... kayak lagi demam. Struktur cerita Dr. Strange cukup lemah. Syukur alhamdulilah mereka menyewa Benedict Cumberbatch buat memerankan Dr. Stephen Strange, dan dia sukses membawakan karakter itu sehingga jadi likeable. Still asshole, but likeable..

Buat gue malah Stephen Strange adalah Sherlock Holmes versi novel, bukan interpretasi BBC. Dan, phewww.... dia jauh jauh lebih menyenangkan. Di luar dugaan gue, Cumberbatch membawakan Dr. Strange menjadi karakter yang jauh lebih subtle, down-to-earth dan elegan dibanding Tony Stark. Heck, Dr. Strange bahkan lebih jinak daripada Dr. House; yes he proud of himself, egoistical prick, socially awkward. Tapi dia lebih berwarna di mata gue, ada sisi karakternya yang menunjukkan dia peduli sama orang2, dia sangat passionate sama pekerjaannya. Say what you want, tapi Strange adalah dokter ahli bedah saraf, yang, admit it, penemuannya berguna untuk dunia medis. Tony Stark adalah penemu yang spesialisasinya membuat senjata militar. It's a big difference.

15 menit pertama dalam film ini adalah pure medical drama, dan ini justru bagian yang gue suka. Interaksinya dengan Christine Palmer yang ternyata adalah mantan kekasihnya. Lo bisa melihat betapa dia sangat passionate sama karirnya dan Cumberbatch menunjukkannya. He showed his best when it's involving drama. Good thing... he didn't crack jokes so often, because it's when the script told him to crack jokes, the movie felt MEH.

Lucunya, adegan2 terbaik dari film ini bukan ketika visual trippy nya berlangsung. Gue suka visual sintingnya, harus diakui, keren... but man, after Don Bluth marathon, it's hard to see another acid trip without comparing. Nggak percaya? Nonton Rock A Doodle, seluruh film itu diisi konsep aneh, visual lebih aneh, lirik lagu yang brutal, dan plot yang melompat2 tanpa bisa ditebak. Level Alice In Wonderland dan Beethoven di game Dragon's Lair II Timewarp? Trippy to the max.
Tapi yah, sebagai animator, Don Bluth menggunaan medium hand drawn animation yang memilliki scope lebih besar dalam menampilkan tone dan warna yang mendukung acid trip sequence.

Anyway... diluar kontroversi soal white washing dan segala politisasinya, Tilda Swinton membawakan The Ancient One dengan sangat cemerlang. Gue senang dia menjawab tantangan para SJW dengan mencuri layar. Yeah, who cares!
Buat gue momen terbaik Dr Strange justru saat dia kembali ke New York mengunakan sihir, diserang oleh penjahat (yang forgetable... kenapa gue tidak terkejut??), terluka dan masuk UGD. Situasinya sangat lucu dan serba oksimoron, oh Dr. Strange... penyihir, tapi memilih masuk rumah sakit dan mendiagnosa dirinya sendiri untuk ditangani secara medis. Ekspresi Christine yang mencoba memahami apa yang terjadi sambil berusaha mengabaikan pakaian aneh yang dikenakan Strange worth it. I love all the intimate moment when he talked with her while wearing his sorcerer clothing in full regalia, that's funny! And I really really want they sit down together and him explained what he's doing now, what he's capable of after his journey. Sebab gue merasa Christine seperti tersia2kan di sini.

Oh... dan gue suka banget jubah gaibnya Dr. Strange!!! Biar gue tebak, The Cloak of Levitation itu sebenernya karpet ajaib Aladin yang ditenun ulang kan?? Ayo ngaku! Ini jelas konspirasi!


Mungkin setelah ini ada si Genie
Dan ga cuman gue doang yang kepikiran itu, jubah itu lucu; menjadi Deus ex machina, membantu Strange saat hampir mampus digebukin musuh dan menghapus air matanya saat dia galau mikirin nasibnya yang kudu menyelamatkan dunia. I mean... give the guy a slack, dia baru aja tahu bahwa selama ini dia sedang belajar sihir ketika dia akhirnya menuntut penjelasan soal latar belakang perguruan yang dia masukin setelah berbulan2 berlatih di sana. I mean... DUDE! Lo diajarin buat membuka portal teleportasi, merambah dimensi ke dimensi dan lo nggak tahu lo sedang belajar sihir?? Talk about denial...!
Tapi yah, dia shock, karena faktanya skill dia masi sangat terbatas ketika mendadak disuruh nyelamatin dunia, jarinya aja masih gemeteran. Tentu aja lo butuh bantuan karpet ups... jubah ajaib. Oh Cloak of Levitation... so Disneyfied, so cute so...


A Whole New World.... oh come on, this is my childhood movie!

Okay, joking aside...
On serious tone, Dr. Strange berhasil membebaskan dirinya dari formula Marvel menjelang akhir cerita. Bagaimana dia mengalahkan Dormmamu gue suka, tidak seperti Avengers yang semuanya serba meledak, Dr. Strange memaksimalkan apa yang bisa dia lakukan dengan sihirnya dan menaklukkan Dormammu. Mungkin bagi mereka yang mengharapkan akhir yang bombastis, akan mengecewakan, tapi gue malah senang. Bagaimana Strange menjebak Dormammu dalam time loop dimana dia akan terus muncul mengganggu makhluk itu tanpa bisa dicegah berapa kalipun Dormammu menghancurkannya dengan cara yang brutal tapi membuat gue tertawa. It's pretty neat! Good job screenwriter!

Saran gue... nonton Dr. Strange. It's a pretty solid movie.

Dr. Miki is Bluthing out part 3
miki_sensei
Tibalah kita pada bagian akhir seri blog gue, nantinya gue akan bikin list animasi Don Bluth paling favorit, paling berkesan, paling mbelenger, dan paling meh dkk. I'll explain more througfully in the final words.

Okaaayyy!!
Buat kalian yang gak tau... sebulan terakhir ini gue lagi keranjingan nonton karya2 animasi buatan Don Bluth yang somehow ternyata punya fanbase yang lumayan fanatik di luar sana. Never heard this guy until last year--ternyata aku cupuuu. Tapi ternyata gue pernah nonton filmnya berjudul An American Tail dan Land Before Time. Daannn... Anastasia.

Well... gue TAHU itu bukan Disney, okay! Gue bukan manusia bodoh yang nggak baca keterangan poster dan menyimak logo studio produksinya sebelum filmnya dimulai. Gue tau An American Tail dan Land Before Time itu buatan Amblin Studio dan Anastasia itu 20th Century Fox.
Dan ketiga film itu bagus semua, kenapa tidak?

Eniwei... kembali pada Don Bluth. Gue menonton tiga filmnya (empat secara teknis, tapi yang satu spin off dari yang tiga itu) yang terakhir sebelum pada akhirnya teknologi CG menggerus animasi tradisional bulat2 dan orang2 seperti Bluth menghilang di balik layar, berada dalam hiatus, menjadi tutor, atau mencari komisi dari negara2 diluar AS. Nggak artinya mereka kehilangan pekerjaan juga sih... tapi mereka kehilangan status dan penghargaan di negara asal sendiri. It's... sad actually.

Dan lebih sedih lagi kalo membaca kisah perseteruan di balik layar dari filmnya. Huh uh... okelah, mari kita mulai dari;

The Pebble And The Penguin
Animasi ini kontroversial karena baik Don Bluth maupun rekannya, Gary Goldman, keluar dari proyek ini akibat menolak ditekan produser untuk mengubah naskah ketika filmnya sudah hampir jadi (buat animasi, itu sama aja kayak redesign total dari awal), dan melemparkan sebagian pekerjaan pada studio animasi lepas di Hungaria sehingga Bluth tidak bisa melakukan supervisi secara maksimal. Perseteruan di balik layar ini berakibat fatal sama filmnya.

Animasi dalam film ini kacau. Ada kepala yang lalai digambar, warna yang menghilang di tepi layar, atau ekspresi yang aneh dan tidak dianimasikan padahal karakter itu masuk dalam fokus mata. Gue mendapati ada ekor yang tidak diwarnai. OMG...
Sebenernya kekacauan ini sudah berhasil diatasi ketika DVD-nya keluar. Don Bluth dan Gary Goldman melakukan revisi menyeluruh terhadap kualitas animasi dan mengkoreksi warnanya. Sayangnya gue gak dapet versi yang udah direvisi, jadinya najis banget ini yang gue nonton.

Tapi bagaimana dari segi cerita?

Lo boleh terkejut, diluar fakta bahwa produksi di balik layarnya penuh dengan perang urat syaraf antara animator dan produsernya, gue mendapati diri gue menyukai film ini. Iya, film ini simpel banget, buat anak kecil. Tapi ada sejenis charm yang mampu memikat hati gue, tidak seperti Troll In Central Park yang... I get it, it's absolutely garbage but hey, the animation is stellar! Film ini emang bagus dengan caranya sendiri. Mungkin karena desain karakternya yang aneh bin ajaib, atau lagu pembukanya yang dipenuhi surealisme dimana para penguin berenang2 diantara not balok dan kunci G. Ini film Don Bluth pada akhirnya.

Eniwei, plot The Pebble And The Penguin lebih menyerupai plot musical play semacam Turandot atau La Bohemian. Artinya? Don't expect much from the story... nggak percaya? Mari gue ceritakan plot Turandot: itu tentang putri Cina sadis seperti Li Mo Ciu (dia selalu membunuh tiap lelaki yang mempersuntingnya. She's psycho, man. Avoid this woman at all cost!) dan akhirnya jatuh cinta pada cowok misterius yang bernyanyi indah (dan menolak menyebutkan namanya) setelah memberinya teka-teki untuk dipecahkan. Keep up the mystery cloak I guess... but man, it's so stupid!

Songs good, though.

Nah, kurang lebih The Pebble And The Penguin memiliki kualitas jalan cerita seperti itu. Ini tentang Hubby, si penguin spesies Pygoscelis adeliae yang ingin mempersunting Marina, penguin betina pujaannya. Secara tradisi, dia harus mempersembahkan batu kerikil terindah agar pinangannya diterima.

Don't laugh. Hey! Hey! It's called THE PEBBLE and The Penguin, okay!

Lagipula, gue tau ada spesies pinguin yang mencari kerikil untuk membujuk betinanya supaya mau kawin sama dia. Kerikil itu digunakan untuk membangun sarang. Makanya, nonton National Geography, biar kagak kaget. Kudos to Don Bluth membuat cerita ini berdasarkan sains, nggak kayak Happy Feet... penguin yang menari tap dance, HA!

Ummmm... guue suka banget sama Happy Feet kok...

Tapi ternyata Hubby punya saingan bernama Drake. Pinguin yang satu ini selain bully juga digambar dengan sangat tidak lazim... penguin dengan pektoral dan biseps yang menggelembung. Biseps... iya, gue bilang biseps. Jangan tanya gue kenapa desainnya begitu, lebih ajaib lagi dia punya sederet gigi manusia yang kerap menyeringai kejam. It's so bizzare it's Don Bluth.
Jadi ini adalah kisah cinta segitiga antar pinguin, road trip dan buddy comedy karena di tengah cerita Hubby sempat terpisah dari Marina. Dia lalu bertemu Rocko, penguin tsundere yang bercita2 bisa terbang bagai burung camar. Apa gue bilang? Emang aneh kan?

Ceritanya cukup engaging meskipun dipenuhi hal2 yang WTF kalo lo pikir matang2 (saran gue? Udah kagak usah dipikirin, nonton kartun pinguin bisa nyanyi kok dipikirin.) Gue suka banget lagu2 film ini; mulai dari opening proloque yang bagus banget. Solo dari Hubby yang manis sekali. Bahkan villain song-nya sangat catchy, dinyanyikan oleh Tim Curry. Menonton nomor ini, gue akui Drake memang jahat dan selalu menjengek, tapi man... pinguin itu bisa bertango dengan sempurna!

Well, The Pebble And The Penguin is not a great movie, but it's a decent one with very good song numbers! Like a musical play, I think you'll enjoy this one. Especially children.

Anastasia
Ohh... Anastasia. Sigh...

Okay... jangan kaget kalo gue ngebacot di review animasi ini. Ini blog gue dan film ini punya tempat spesial di hati gue.

Di masa lalu. Tepatnya di tahun 1997, semua orang menjadikan Titanic sebagai film kenangan mereka. Romantis, tragis, dan dramatis. Siapa yang tidak patah hati melihat Jack dan Rose yang terpisahkan status sosial mereka lalu pada akhirnya... kematian.

Gue?

Gue bahkan ga nonton Titanic. Meh.

Yep... selamat datang di dunia ababil berusia 13 tahun. Mau tampil edgy dan lain daripada yang lain?? Semua orang suka Titanic? Cuih! Who gives a shit?

Anyway... there's also Anastasia. A non Disney animated movie with a princess. Tidak seperti kebanyakan orang, gue tahu dari pertama kali Anastasia bukan Disney dan dalam perjalanan waktu, gue termasuk mereka yang selalu menggebrak meja dan memprotes; ' ANASTASIA BUKAN BIKINAN DISNEY!!' dalam forum2 orang awam.

Muggles... mereka tidak tahu apa2

Oh God sake! Sebab Anastasia lain daripada yang lain! Berhubung karena Anastasia keluar di tahun 1997, tidak seperti film Don Bluth lainnya, gue bisa nonton film ini saat diputer di bioskop bersama sahabat gue. Waktu itu kami adalah gadis2 berusia tiga belas tahun, kami tidak punya pacar, kami tidak perlu nyari duid, kami tidak perlu memikirkan apapun. Life is amazing back then.

Enter Anastasia. The first historical romance I've ever touched upon. Ohhhh! I love everything about this movie. Gue selalu enjoy dengan apa yang ditawarkan Disney dengan tema dongeng dan putri2an mereka, tapi yang satu ini berbeda. Yang ini selangkah lebih keren.

Kenapa?

Banyak yang menuduh Anastasia sebagai sekadar pengekor Disney. Tapi gue keberatan. Sembarangan!
Tidak seperti putri2 Disney yang ada di antah berantah, setting Anastasia berada di dunia kita di era La belle epoque, dan di Rusia pula. Di saat setting semua dongeng berkiblat pada Eropa Barat (Inggris, Perancis?), Anastasia berasal dari Eropa Timur yang eksotis. Artwork tim Don Bluth benar2 sangat cantik dan kaya detail, lo bisa melihat kecantikan Istana Alexander di St. Petersburg sebelum Pemberontakan, juga dan kemuraman Rusia di balik tirai besi komunis. Mereka juga menghadirkan Paris di masa Jazz Age. Mereka sempat mengubah style background-nya jadi bergaya lukisan impresionis Monet saat nomer Paris Holds The Key dinyanyikan. Lalu desain baju pesta Anastasia dengan hairdo-nya saat menonton balet Rusia terinspirasi dari sosok Audrey Hepburn di Breakfast At Tiffany.

Sweeetttttt...!! Gue penikmat costume porn.
Plus gue selalu suka dongeng dengan sentuhan sejarah; alternative history, historical fiction, historical romance. Film ini seakan dibuat untuk gue.

Oh, gue tau kok apa yang terjadi sama Anastasia bahkan ketika nonton film ini. Yep, gue tahu ini berasal dari urban legend soal putri Tsar Nicholas II yang hilang. Gue tahu kedekatan film ini dengan sejarah seperti kedekatan Amerika Serikat dan Rusia. Tapi, who gives a shit? It's called historical freaking FICTION. Please give children some credit!
Plus bahkan Detective Conan mengangkat urban legend ini dalam salah satu movienya. Kok nggak protes ya? Situ nggak tahu kan?
Anyway, gue tahu kenyataan pahitnya ketika nokap gue dengan entengnya menceritakan... oh, dia bersama keluarganya ditembak mati sama pemberontak Bolzhevik. Plus kisah soal Rasputin si rahib sesat. Because... why not? Reality ensues and my parents didn't want me growing up as a stupid. Inilah kenapa dongeng itu perlu dan nggak usah diprotes.

Secara karakter, Anastasia berbeda dari putri2 Disney lainnya. Dia sassy dan tomboi, dia melakukan apa yang dia mau dan tak peduli kata orang. Tapi perbedaan terbesarnya adalah ketika putri2 Disney menginginkan hal2 abstrak (I want mooree, moreee!) Anastasia memiliki impian, yang, meskipun sederhana, jauh lebih nyata; dia ingin mencari identitasnya, keluarganya. I mean... banyak anak pungut yang melakukan hal ini. Keinginannya jauh lebih relateable.
Anastasia juga berbeda karena dia mengalahkan villainnya relatif tanpa bantuan laki2, dan yang paling ekstrim adalah dia menolak dunia gemerlap yang ditawarkan aristokrasi dan malah kawin lari dengan seorang commoner. Coba, putri Disney mana yang melakukan itu? Jasmine? Pfftt... dia kembali ke istana memboyong Aladin. Tiana? Helloooo..dia menikahi pangeran. Rapunzel? Dia memboyong Flint ke istana, makasih.

Giselle? Dia bukan 100% animasi. Maaf, tapi hampir semua putri Disney adalah para Cinderella yang terangkat status sosialnya. I'm not against it tapi fakta itu membuat Anastasia jadi keren. Aristokrasi? Nope, dia keluar dari istana. Kawin lari pula. That's ballsy, dude! Ballsy!

Dan jangan lupa dengan musuhnya, Rasputin, karakter yang menjual jiwanya pada setan dan berubah menjadi makhluk separo hidup separo mati yang lebih kayak zombie dengan bola mata yang bisa lepas, leher memanjang, dan kepala copot. Bagian terbaik dari Rasputin adalah sewaktu kepalanya tenggelam masuk ke dalam rongga dada lengkap dengan tulang2 iga mengelilinginya. Man, gue suka banget villain ini.
Jijik2 lucu. Kapan lagi lo dapet villain mayat busuk selain dari animasinya putri2annya Don Bluth. Dia mencampur dua hal yang bertolak belakang ini dengan sangat piawai.

Lalu, Dimitri.

Sigh...

Banyak hal terjadi ketika lo berusia 13 tahun, diantaranya adalah munculnya kesadaran bahwa karakter fiktif itu ganteng bener. Ini tak pernah terjadi sebelumnya, sebab hormon bilang belom waktunya. Aladin happening waktu gue masih SD, seinget gue dia menempati urutan pertama sebagai karakter laki2 Disney paling imut, tapi karena gue terlalu polos untuk memahami, ikatan emosi gue terbilang minim. He's fine. The Genie is more interesting. Songs are kickass.

Dimitri however... is another story. For a starter, I love the namesake
(berhubung gue tau Rusia cuman dari cerita bokap soal perang dingin dan James Bond, gue selalu merasa negara itu eksotis dan misterius. Kalau ada kesempatan, gue kepingin ke sana sekali2. Also... I'm fan of Cold War setting.) Also Don Bluth made him so likeable, with boyish attitude and him being so cute... ARGH!
Man... if Don Bluth wanted to give you a fanservice, he really cut loose.


Dan gue harus bilang. Dimitri is a sarcastic street smart savvy guy. Sangat reliable di sepanjang cerita. Kalo lo tersesat dalam dunia fiksi fantasi, lo akan butuh karakter cowok seperti ini ketimbang pangeran atau Mr. Darcy.
Lagipula, lo harus akui character arc-nya yang paling berkembang di sepanjang cerita. Dimulai dari keinginannya memanipulasi Anastasia, sampai pada akhirnya ketika dia justru menolak hadiah yang ditawarkan Dowager Duchess Marie. Well done.

Kalo lo tanya gue, menurut gue sih Anastasia lebih mengikuti tropes historical romance, mulai dari klise slap slap kiss, romantic road trip, Pygmalion. And the icing on the cake is the elopement ending. Somehow, I thought it's freaking cool, it doesn't make any sense, but fuck that I love this stupid tropes!
Yes, I read many historical romance now, I know their game. But Anastasia was my first taste, and it's a very good one.

Film ini terasa seperti Disney karena ada karakter putri dan lagu2 yang bagus banget. Oh yeah... every freaking song is unforgetable. Dari Prologue sampai At The Beginning. I owned the cassette, I downloaded the mp3. I love the soundtrack to death. It sticks with you, it stays in you, and I never blame Don Bluth for that.
Anyway, tahukah kalian Anastasia tidak pernah disebut sebagai 'Putri'? Dalam dialog dia disebut sebagai Grand Duchess Anastasia Nikolayevna Romanova, itu gelarnya sungguhan. Princess is overrated anyway.

In shorter words, I think Anastasia is a Historical Romance meets Disney meets Don Bluth. It felt like Disney with the songs and princess and cute creatures, but the tropes is clearly historical romance, and that Rasputin as a revenant with rottting flesh is totally Bluth. Those three as a whole is an instant classic. I love this movie with all my heart.

Bartok The Magnificent
Percaya atau tidak... ternyata Anastasia ada spin off-nya. Bukan animation feature melainkan direct to DVD. Tapi menyebut Bartok The Magnificent sebagai spin-off Anastasia, rasa2nya terlalu jauh. Satu2nya karakter yang diambil dari Anastasia adalah Bartok, si kelelawar putih yang merupakan familiar dari Rasputin. Sisanya tidak ada yang sama. Heck... even setting-nya ada di Rusia antah berantah!! Sementara Anastasia adalah historical fiction!

Gue lebih suka menyebut Bartok The Magnificent sebagai... fanfic alternate universe. Berasa lebih tepat.

Alasan film ini ada, karena Don Bluth lagi nganggur. Serius, gue kagak bercanda. Ada jeda cukup lama antara Anastasia dengan Titan A.E, Don Bluth merasa timnya butuh sesuatu untuk dikerjakan, terutama melatih tenaga animator muda. Akhirnya dia mengajukan naskah Bartok The Magnificent, dan petinggi Fox bahkan tidak terlalu peduli dengan apa yang dia kerjakan langsung memberinya lampu hijau. Man... talk about abandonment.

Cerita Bartok sangat sederhana, seperti cerpen BOBO. Durasinya pun cuma 67 menit. Masalahnya... karena Don Bluth dibiarkan bekerja begitu saja, and him being Don Bluth... maka munculah penyihir yang menyanyi big band jazz dan... Ludmilla. Oke... gue ceritakan dari awal.

Pada suatu waktu, di Rusia, terdapatlah sirkus keliling bernama Bartok The Magnificent. Seluruh atraksinya kebanyakan omong kosong dan kongtai. Tapi atraksi Bartok disukai semua orang bahkan sampai Tsar muda yang kemudian memberinya saweran cincin rubi. Bartok menjadi primadona sehingga menjengkelkan Lumilla, regent dari sang Tsar yang masih terlalu kecil, wanita yang penuh tipu daya.
Suatu hari, mendadak Tsar diculik oleh sosok bernama Baba Yaga. Dalam folklore Rusia, Baba Yaga adalah penyihir jahat yang tinggal di hutan angker di dalam rumah yang memiliki kaki ayam. Somehow gue teringat Howl Moving Castle... tapi ya udah.

Lumilla lalu mengutus, Bartok untuk mencari Tsar yang hilang. Tentu saja mulanya Bartok keberatan, dia takut dengan Baba Yaga. Tapi karena tak punya pilihan, akhirnya dia melakukannya. Ternyata Baba Yaga tidak seperti yang dia pikirkan, sebaliknya si penyihir cukup simpatik. Si penyihir lalu memberinya sebotol ramuan untuk membantunya menemukan Tsar yang ternyata ditawan oleh Lumilla yang menginginkan tahta untuk dirinya sendiri.

Terlambat mengatasinya, Bartok diperangkap oleh Lumilla dan ramuannya diambil. Tentu saja sebagai penjahat dalam cerita anak2, Lumilla tak kuasa untuk tidak meminumnya dan akhirnya muncul... ini...


What the fuck did I watch???

Talk about deranged shit... and the fact that Don Bluth and his team is so proud with this, they put the dragon on the later DVD cover.

I just...


Dan lo tau gimana Bartok ngalahin tu naga? Ditiban pake menara air.

Well, that's Don Bluth for you. What can I say.

Yah, setidaknya tidak ngikutin klise Disney sekuel dan kita disuguhkan cerita sinetron anaknya Anastasia lah. Eniwei... gue lumayan suka Bartok, it's a small nice movie and children definetely like this. I think Bluth imagination is compatible with children minds, it's adult who find it's strange and (sometimes) fetishy.

Titan A.E
Yah, akhirnya kita sampai pada film terakhir Don Bluth sebelum akhirnya dia menghilang di balik layar. Untuk film yang satu ini, Don Bluth hanya mengerjakan bagian animasinya saja. Dia tak terlibat dengan pembuatan naskahnya dan man... hal itu nampak jelas dari film ini.
Satu hal.... Don Bluth dan sci fi itu bukan campuran yang baik. It's not his forte and clearly he didn't into it. Ini diakui oleh Don Bluth dalam tanya jawab panjang; dia tidak suka genre fiksi ilmiah.
I kind of admit that sci fi is tough thing to chew.

And it showed man... it really showed!
Bluth didn't like this movie, he didn't like the story, his heart wasn't in it, and he's right.

Movie sucks.

Gosh... I really don't like this movie. It's so not interesting! No, I revised it... it's bad. It's really really awful. It's equivalent The Force Awakens bad. This movie is bordersome boring, the story is staggering at some points.
The animation is ghastly, it has zero charm and it's saying something, because even the worst D
on Bluth animation still have some wacky charm!! I'd say I like singing penguins with headscratching weird design better than this so called sci-fi!

I hate the ending, so premature and didn't make sense. Most off all, because it's ripping off The Hitchhiker Guide To Galaxy! Ironically in the Galaxy, THAT ending kinda works because they supposed to be comedy. Meanwhile TItan A.E is some serious jackshit.

Poor Don Bluth, this is not a hand drawn animation feature, this is a mutant child of outdated CG background and second rate traditional animation! He must be so pissed off after this. DAMN! DAMN! DAMN!


Yes, I'm soooo fucking hate the CG!!


Di tahun 90'an, animasi tradisional mulai mengadopsi penggunaan CG dalam produksinya. Selain karena lebih murah, waktu yang diperlukan juga jauh lebih singkat. Don Bluth pun mulai mengadopsinya untuk menggantikan efek2 rotoscoping yang kerap digunakannya dalam film2 animasi buatan dia. Masalahnya, di tahun 90'an, teknologi CG masih sangat mentah sehingga kemunculannya dalam film2 animasi tradisional menciptakan perbedaan yang sangat signifikan bahkan cenderung mengganggu layout visualnya.

Oh God... in 2000, either you go with hand drawn, or you go with CGI. This feels so meh in every side. I'm sorry, Don Bluth but The Treasure Planet has got better job in incorporating CG with hand drawn, and even it looked dated too at some parts. Insultingly, it has more charm than Titan A.E too...

And the songs... unmemorable poppy rock songs, outdated quickly after a month. Meh!

Say this... Don Bluth juga pernah membuat game Space Ace. Sebenernya agak aneh dia bilang nggak suka sci fi, sementara Space Ace adalah... pulp science fiction

Oh okay, sori, itu beda emang. Mengingat betapa campy-nya Space Ace, gue setuju emang beda.

Anyway, kalo lo membandingkan Space Ace dan Titan A.E. Keduanya sama2 ber-setting di luar angkasa. Tapi dari segi animasi, lo akan melihat betapa Space Ace dibuat dengan ambisi dan cinta. Heck... gue bahkan lebih suka Dexter meskipun dia klise to the point gue yakin Don Blulth sedang bikin parodi! Masalahnya Dexter digambar dan dianimasikan dengan sangat charming dan detail lo bisa melihat kepribadiannya.
Sementara Titan A.E, gue kepingin menendang bokong Cale Tucker, shitty little brat! Dimitri is waaaay better at being likeable jackass!

Namun, yang paling bikin gue terkejut ternyata naskah film animasi ini ditulis oleh Joss Whedon. WHA???

Orang yang sama yang bikin Firefly dan Buffy? Hey, kenapa bukan Firefly yang jadi film animasi! Firefly praktis adalah wild-wild-west IN SPACE! Ada unsur pulp dan fantasi. It's weird, it's charming! It could gain so much from Don Bluth!
Alih2 kita dapat susunan plot cerita yang sama sekali tidak fresh, gabungan dari berbagai unsur cerita sci fi di masa lampau, ditambal sulam,

dan... planet bob. What a piece of crap! ARRGHHH, I'm outta here!

Seperti yang kita ketahui, Titan A.E kemudian gagal di pasaran dan turut remuk bersamanya adalah masa depan film animasi tradisional. Keberhasilan Ice Age yang merupakan film animasi CG juga turut menyumbang kepahitan ini. Animasi tradisional benar2 menjadi korban perubahan jaman dan pencapaian teknologi.

Anyway, gue tidak membenci animasi CG. Gue toh penikmat animasi mainstream yang mengikuti jaman dan menonton film2 CG yang ditawarkan studio2 besar. Tapi belakangan gue bosan dengan CG terutama setelah kualitas ceritanya menjadi selevel Minions, Ice Age 5, atau Secret Life of Pets. Ditambah lagi setelah menengok ke belakang dan menonton karya2 Bluth, gue menyadari betapa berbedanya charm yang ditawarkan animasi tradisional dengan CG dan betapa gue menginginkan keduanya untuk dinikmati. Ini bukan tentang mana medium yang lebih keren kok.

Okaaayyy, sebagai penutup; seperti yang gue janjikan, gue akan nge-list animasi Don Bluth mana yang paling wow, paling gue favoritkan, paling gue suka, paling tidak suka, paling berkesan, paling mbelenger, dan paling huekk. Gue akan mulai dari yang terburuk sampe yang terbaik.

Paling huekk
Thumbelina. Alasannya? Filmnya membosankan, stagnan dan tidak ada apapun yang menarik untuk ditawarkan. Alasan kenapa kualitas ceritanya seancur ini, ternyata Don Bluth menulis naskahnya hanya dalam waktu 2 minggu setelah development hell yang bikin dia akhirnya memecat penulis naskah yang sebenarnya ditugaskan. Wajar sih kalo ancur. Film ini udah gatot sebelum dibikin dengan naskah kayak begitu sih.

Paling mbelenger
Rock A Doodle. Alasannya? Sumpah ini film kartun teraneh yang pernah gue tonton. Ini kasus dimana lo bahkan terlalu terpukau dengan kesintingan dan karakter over-the-top yang ditawarkan, lo cuman bisa bilang... OKELAH, GUE IKUTAN GILA!! YEAAAHHH!
Sumpah gue suka banget konsep The Great Owl dengan organ pipanya yang menjulang setinggi langit dan bisa menghembus2kan awan hujan sementara dia memainkan Toccata & Fuque In D Minor. Gue benar2 terkagum2 dengan ide Don Bluth, membenturkan genre musik rock and roll ala Elvis dengan lagu opera yang serba kontras sebagai simbolisme kebaikan melawan kejahatan. Holy shit... that's so freaking awesome!! I really really love every weird imagination Don Bluth and his team spewed in this mess of story!

Paling berkesan
The Secret of N.I.M.H, mulai dari pemilihan karakter yang tidak biasa, tema yang menuntut kepekaan dan kematangan emosional. Misteri dan sihir yang meliputi film ini tertuang dengan sangat sempurna. Film ini wajib tonton, jika bukan karena ceritanya yang tidak biasa, setidaknya pertarungan pedang antara dua tikus akan jadi klimaks yang menendang pantat! Justin is a ultimate badass of a rat!

Paling tidak suka

Titan A.E... mulai dari naskahnya yang maksa dan problem solving yang bikin garuk2 kepala, kualitas animasi yang parah akibat teknologi CG yang sudah sangat ketinggalan jaman (bahkan sewaktu gue melihat teasernya di tahun 2000, gue merasa betapa buruk kualitas visualnya yang serba jomplang.) Animasi Don Bluth yang selalu memikat dengan charm-nya yang unik juga absen di sini, kentara benar dia mengerjakan proyek ini dengan sangat terpaksa.
Terlebih lagi ternyata naskah film ini ditulis oleh Joss Whedon. He's so fail here.

Paling Suka
All Dogs Go To Heaven. Yep... gue suka film ini sebab gue melihat keberanian Don Bluth menampilkan sisi duniawi yang gelap dalam kehidupan. Dan film ini memiliki tema spiritual yang cukup berat; tentang Charlie yang menolak menerima surga karena dia tak mau melepaskan keduniawian yang sudah begitu lama mengikat dirinya. Mereka menggunakan eufimisme di sini, mengganti 'keduniawian' dengan 'kejutan'. Kalo lo perhatikan lirik2 lagunya, sebenarnya maknanya dalam. Di akhir cerita yang bener2 menyentuh, Charlie akhirnya bersedia melepaskan keinginan duniawinya, membuang egonya dan menyerahkan jiwanya untuk menerima surga.
Siapa yang sangka film kartun tentang anjing antrophomorphic bisa sedalam ini? Say what you want about Zootopia, but I love this movie more!

Paling favorit
Anastasia, karena sebab2 yang udah gue bacotin diatas sana. Intinya, ini historical romance ala Don Bluth dengan bumbu Disney. Lagunya bagus semua, karakternya bagus semua, lo bisa melihat Rusia dan Paris di masa lampau pula... dan Dimitri. Nuff said.

Paling wow
Percaya atau tidak... game QTE arcade Dragon's Lair Trilogy, termasuk diantaranya: Dragon's Lair, Dragon's Lair II Timewarp, dan Space Ace adalah animasi Don Bluth yang paling wow buat gue. Kualitas animasinya bener2 totalitas. Don Bluth mengeluarkan seluruh kartunya diatas meja saat membuat animation reel untuk game2 ini. Wajar kenapa Dragon's Lair Trilogy selalu dikenang penuh kehangatan oleh fans-nya. Bahkan untuk ukuran jaman sekarang, visual dari game2 ini bener2 unik.
Menurut gue, trilogi ini sangat mewakili tropes khas Bluth; randomisasi yang tidak terduga, acid trip animation yang bikin otak lo meleduk, momen2 dark yang tidak cocok untuk anak2 tapi dengan suatu cara dikondisikan untuk anak2, dan tokoh utama yang sepanjang cerita selalu berada dalam bahaya (lo tidak akan percaya berapa banyak animasi yang dibuat Bluth untuk membunuh Dirk dan Dexter.) Berhubung Bluth tidak sedang membuat cerita komprehensif, nampaknya dia bersenang2 di sini dan menyuguhkan berbagai fanservice.

Seperti yang gue bilang di review gue terhadap Titan A.E... gue jauh lebih menikmati 11 menit yang ditawarkan Space Age ketimbang satu setengah jam film itu. Berbeda dengan Dirk dari Dragon's Lair yang relatif bisu dan tidak punya kepribadian selain jeritannya yang kayak banci--dan satu dua pelototan kemarahan ke arah elo saat dia mati. He's a funny cardboard cut dude,--tokoh utama Space Ace, Dexter, memiliki kepribadian yang lebih kompleks dan dia dianimasikan dengan detail2 kecil yang membuat gue terpukau. Like how he sneered and chuckled after shooting enemies down, you know he's one cocky bastard! Heck, at one point he's flirting with his girlfriend, Kimberly. THIS IS AN ARCADE GAME!
How come I like this pulp sci fi douche!?
Ini semua salah Don Bluth!

Thank you for joining me ranting about how I thought about Don Bluth animation works. I must say this guy is one hell of fighter for his idealism and independency. A Disney's disciple through and through, and a true artist. Many people admire his determination, many animation students idolize him. And I can see why.

Until the next time!


Dr. Miki is Bluthing out part 2
miki_sensei
Oh here we are! Setelah mencuri2 waktu supaya bisa ngeblog kemarin2. Sekarang gue juga mencuri waktu untuk bikin blog yang ini. Hal terburuk menjadi dewasa adalah pertempuran keras mencuri waktu luang, menyebalkan!

Eniwei... gue berjanji akan membahas film2 Don Bluth di era 90'an, era gue... tapi sayangnya karena kualitas ceritanya jauh berkurang di era ini, kebanyakan dari filmnya nggak pernah bisa gue akses terutama karena saat itu brand Disney melekat kuat di kepala gue dan gue menolak membuka diri untuk menonton film2 animasi diluar Disney. Kecuali... hey, Road To El Dorado dan salah satu dari film Bluth yang nantinya gue akan bahas di bagian ketiga. Sabar ya bro dan sis.

Oh ya... sedikit keluar dari tema blog ini, gue rasa lo harus mencoba nonton Road To El Dorado, dan Prince of Egypt. Dua film animasi itu salah satu film animasi non-Disney di tahun 90'an yang stellar. Bagus banget. Prince of Egypt bahkan adalah tontonan wajib anak gereja di era itu. Kisah Musa dengan twist yang menurut gue jauh lebih berkesan daripada The Ten Commandments.

Kembali ke film2 animasi karya Don Bluth. Tahun 90'an bukan tahun yang baik buat dia, Disney muncul dengan pukulan besar bernama Disney Reinessance dan semua produser yang ingin membuat film animasi produksi mereka sendiri, menjadikan Disney sebagai panutan. Tidak terlalu baik untuk kreatifitas, dan Don Bluth akhirnya terperangkap dalam sebuah sistem menjengkelkan dimana orang2 yang tidak tahu apa2 soal animasi dan minim kreasi dan cuman mikirin duid duid duid doang, menekannya. Pada akhirnya yang keluar adalah film2 seperti...

Rock A Doodle
Bicara soal Rock A Doodle, I don't get this movie... like at all. This movie... is an acid trip. Everything is weird and WTF. If you want to watch a strange animated movie, where everything so bizzare yet beautifully animated that you can't help but enjoyed the weirdeness it offered, Rock A Doodle is the perfect movie.

Basis cerita Rock A Doodle berasal dari karakter bernama Chantecler yang berasal dari sebuah dongeng fabel di Eropa Barat berjudul Reynald, seekor rubah licik yang gue yakin betul adalah nenek moyang dari Nick Wilde, rubah bermata hijau ganteng di Zootopia.
Chantecler sendiri adalah seekor ayam jantan dan juga karakter sekunder dalam dongeng itu. Tapi entah obat apa yang ditelan Bluth dan kawan2nya, dia memutuskan membuat sejenis fanfic tipe out of character alternate universe dari karakter Chantecler. Dalam fanfic bikinan Bluth, Chantecler adalah ayam jantan dengan kekuatan metafisika yang bisa memanggil matahari pagi yang menyinari kegelapan malam. Dia melakukan tugasnya ini secara rutin dan disiplin sampai suatu kali seekor burung hantu menyabotase tugasnya. Chantecler gagal berkokok tapi toh matahari tetap bersinar. Akibatnya semua hewan menganggapnya sebagai penipu dan si ayam jantan pergi dari tempat itu menanggung malu yang mendalam.

Masalahnya ternyata seluruh kejadian itu merupakan setting-an dari The Grand Duke of Owl, burung hantu jahat berkekuatan sihir yang membenci cahaya matahari dan menghendaki kegelapan tetap meliputi dunia selama2nya. Semenjak kepergian Chantecler, ternyata hujan besar dan badai menerjang tempat itu. Menyesal telah meremehkan Chanteclier, para hewan pun pergi mencari si ayam jantan untuk minta maaf dan mengajaknya kembali berkokok.

Sampai di sini... lo akan mengira sedang membaca cerpen Bobo. Dan di atas kertas, gue akui ide fanfic ini cukup menarik, imajinatif. Hanya saja yang menjadi masalah adalah bagaimana Bluth merepresentasikan animasinya yang...

Aneh.

Pertama2 adalah dia memutuskan agar film ini merupakan gabungan live action dengan animasi, seperti Who Framed The Roger Rabbit. Masalahnya, dengan budget seminim itu, hasilnya... tidak bagus. Kedua, dia membuat tokoh utama manusianya berubah jadi anak kucing kecil akibat sihir The Grand Duke of Owl yang somehow tanpa penjelasan, bisa menggunakan kekuatan sihir sangat dashyat, untuk apa hal ini diperlukan? Keputusan menggabungkan live action dengan animasi malah membuat plot hole yang sulit dijelaskan. Kedua, desain karakternya gue cuman bisa speechless. Dia menggambar Chantecler seperti Elvis Prestley versi ayam jantan. Tapi yang paling nggak banget adalah karakter Goldie, seekor burung pheasant yang super seksi dengan figur Marilyn Monroe. Keduanya adalah ultimate fantasy para furry di luar sana, dan harus gue akui, gue tak merasa nyaman. Ketiga, lagu2 country rock yang terlalu Amerika banget. Gue nggak terlalu suka lagu country, meskipun gue yakin ada penggemarnya diluar AS sana dan bahkan ga semua orang AS suka lagu country.

Kalo lo bertanya apa pendapat gue sama film ini dan apakah film ini layak ditonton. Jawabannya, tergantung. Kalo lo adalah fans animasi tradisional, film ini menawarkan visual yang sangat unik dan patut disimak. Tapi jangan mengharapkan apapun dari ceritanya. Jalan cerita Rock A Doodle memiliki aturan dan logikanya sendiri dimana keduanya keluar dari prinsip2 nalar yang menjangkarkan lo pada realita. Mereka menyebutnya fever dream logic, gue setuju.

Gue sendiri cukup menikmati kesintingannya, hanya saja gue ga yakin semua orang bisa melakukannya.

Thumbelina
Ah.... H.C Andersen, salah satu pendongeng modern dengan kisah2 paling dark dan depressing yang pernah gue ketahui. Cukup aneh gue selalu mendapati ada sejenis keindahan dalam ceritanya sekalipun itu adalah tragedi. Banyak orangtua menganggap kisah2 H.C Andersen terlalu berat, kompleks, dan gelap untuk anak2 kecil, ditambah lagi adaptasi Disney dari dongeng2nya mengubah tone dan jalan ceritanya menjadi ringan dan ceria dan berakhir bahagia padahal mestinya enggak. The Little Mermaid? The mermaid is soooo dead di akhir cerita. Ditambah lagi sebenernya The Little Mermaid adalah sebuah kisah relijius tentang pencarian seseorang akan jiwa dan surga. Ngeri kan?

Lalu The Snow Queen, berubah menjadi Frozen yang gampangan dan ringan. Dosa terbesar film ini adalah membuat Sang Ratu Salju menjadi tokoh baik. Meh.

Dan ada Thumbelina...
Ah, Don Bluth, seluruh hak cipta kisah terbaik H.C Andersen sudah diborong Disney sehingga yang tersisa buat dia adalah kisah gadis sebesar ibu jari yang sepanjang cerita selalu menderita kayak sinetron Taiwan di era 90'an. For a starter... I don't really like the source material, the Thumbelina H.C Andersen wrote. Kenapa? Pertama2, karena ceritanya depresif banget. Dunia begitu kejam pada Thumbelina, acapkali dia bertemu karakter baru dalam cerita itu, pasti karakternya selalu kepingin mencelakai. Karena kecantikannya dia diculik oleh kumbang, dipaksa kawin sama kodok. Setelah melarikan diri, masalah datang dalam bentuk datangnya musim dingin, akibatnya dia kedinginan dan putus asa. Thumbelina lalu bertemu dengan seekor tikus yang kemudian memanipulasinya untuk menikahi seekor tikus mondok agar si tikus dapat imbalan uang. Pada akhirnya Thumbelina berhasil melarikan diri setelah bertemu dengan burung layang2 yang tengah terluka di liang si tikus mondok lalu mengobatinya. Akhirnya dia dan bertemu pangeran peri lalu mereka menikah.

WTF... gue tidak melihat moral dari kisah ini selain bahwa hidup itu penuh siksaan! Ini lebih buruk dari Cinderella!

Pada akhirnya, menurut gue format terbaik Thumbelina bukanlah sebuah film animasi melainkan buku cerita dengan ilustrasi mahal. Atau kalaupun dijadikan format animasi, hanya berdurasi pendek. Menurut gue dari awal pemilihan cerita untuk dijadikan film animasi, Don Bluth salah langkah. Tapi jika ada satu hal yang gue kagumi dari dia, Don Bluth memilih mengikuti jalan cerita Thumbelina yang penuh siksaan itu alih2 mengubahnya jadi nyaman dan ceria. Coba bayangkan kalau dia yang mengadaptasi The Snow Queen menjadi film animasi. Must be awesome man...!

Too bad, it's Thumbelina. And it's freaking boring to the max! Setidak2nya meskipun Rock A Doodle tidak memiliki jalan cerita yang koheren dan logika film yang bisa diterima akal sehat, film itu masih jauh lebih enjoyable untuk disimak karena emang terlalu aneh untuk diabaikan. It's a fucking acid trip, man!

Sementara Thumbelina... gue seperti berada di pesta minum teh dalam novel Jane Austen, segala2nya tampak indah dan mewah tapi sangat membosankan. Plus gue geli banget liat pangeran perinya. Mengikuti pakem tradisional tentang peri seperti yang lo liat pada animasi Tinkerbell di Peter Pan, para peri selalu menyisakan ekor debu berkilauan setiap mereka bergerak. Melihat prinsip yang sama diterapkan kepada cowok dengan sayap transparan yang berglitter, gue jadi jijai. Duh. Maaf, tapi yang satu ini gue nggak sanggup. Dan gue belom ngomongin desain karakter Tante kodok yang warbiasah WTF. Dengan dada yang montok karena banyaknya anak yang dia telurkan, gue cuman bisa tepak jidat.
Don Bluth... ini KODOK! KODOK!!! Hewan amfibi yang bertelur! OMG! Sebelumnya burung dijadiin sebinal Marylin Monroe, sekarang kodok. Ini minum obat apaan sih?

Andainya Thumbelina ingin diangkat jadi film animasi, gue rasa pendekatannya justru harus sekelam mungkin. Tidak ada lagu, tikus kartun yang lucu, atau kumbang2 antropomorphic karikatural. Semuanya harus digambar mendekati realistis, gelap, dan berkarakter seperti The Great Owl dari The Secret of N.I.M.H. Coba perhatikan kompilasi ilustrasi dari Thumbelina, berani taruhan nggak ada satupun yang digambar lucu imut2. Film animasi ini dilukai oleh pemilihan cerita yang salah, presentasi yang terlalu kekanak2an, dan keputusan untuk jadi musikal.

Tapi... diluar ceritanya yang begitu datar kayak permukaan panekuk dan keberatan gue akan sisi musikalnya yang tak sesuai dengan tone ceritanya, Thumbelina diisi oleh lagu2 yang bagus banget. I mean... so freaking good!! The best of 90's you can hear. Saran gue... lewatkan film ini dan nikmati lagunya saja di Youtube, tidak butuh konteks untuk menikmati lagu2nya.

Troll In Central Park (a.k.a Stanley Magical Garden)
Oh, fucking troll... what am I supposed to do to you...?

Konon ada isu bahwa film ini dibuat Don Bluth dengan tujuan nge-troll para produser yang menekannya habis2an supaya bikin film yang aman dan bisa diterima anak2. Sebab nampaknya... orang dewasa selalu yakin anak2 tak layak dapat tontonan yang menuntut intelejensia.

Terlepas apakah ada kesengajaan atau tidak, banyak yang bilang film ini bener2 nge-troll penontonnya dan bikin mereka kapok nonton animasi diluar Disney untuk selamanya. Kebanyakan penggemar Bluth pun setuju bahwa Troll In Central Park merupakan film terburuk karya Bluth. Dan buruk dalam hal ini adalah... a giant pile of turd of bad.

Mendengar peringatan semacam itu, gue sudah mempersiapkan mental dan jiwa untuk menonton pilem ini. Tidak ada harapan dan ekspektasi akan apapun.

Dan... apakah film ini seburuk yang mereka katakan?

Well... errr... kinda. But the randomness that defines Bluth is really there.

To be fair... it's so freaking weird!
Adu jempol berkekuatan sihir? You got it here. As in why, I cannot answer it. This is a product of too imaginative people, but less story foundation and contextuality. I sometimes like imagination without context, but in the end of the day ini adalah sebuah film yang membutuhkan konteks dan plot cerita, bukanlah animation reel untuk pamer skill (which is badass skill.) Gue tidak membencinya, tapi gue juga tidak bisa bilang gue menyukainya. Bangunan ceritanya berantakan dan plotnya setipis kertas. Karakternya nggak ada yang benar2 likeable, dan gue paham kenapa banyak orang gemas ingin menonjok troll si tokoh utama. He's so annoying! Gue sama sekali nggak paham bagaimana animator yang bisa membuat The Secret of N.I.M.H bisa jatoh sejauh ini, sesuatu jelas terjadi dan hanya Don Bluth yang bisa menjawabnya.

Diluar ceritanya yang rada2, lagunya lumayan enjoyable. A lot of waltz, tapi gue selalu suka waltz. Yah, andainya lo bisa melupakan bahwa ini adalah film yang mestinya memiliki narasi koheren dan duduk diam menikmati seluruh visual yang disuguhkan tanpa mempertanyakan segala apapun yang terasa tidak masuk akal, film ini top notch!
Visualnya sangat imajinatif yang gila2an, hanya saja dalam segi cerita hanya bisa dinikmati oleh anak2 yang benar2 masih kecil. Bayangkan sebuah buku bergambar doang. Mereka akan menyukainya, tapi cuma sebatas itu saja. Setidaknya mungkin mereka akan mengenangnya dalam nostalgia yang manis di masa depan.

Bersambung ke part 3, The Pebble And The Penguin, Anastasia, dan Titan A.E. Ohh, tiga film ini menarik sekali; yang pertama; animasi yang bahkan tidak sudi diakui oleh Bluth, yang kedua; animasi yang mengembalikan ketenarannya lagi tapi ironisnya justru diklaim mengkopi pakem Disney (gue nggak terlalu setuju anggapan ini, tapi nanti akan gue jelaskan), dan Joss Whedon bikin film animasi.

Dr. Miki is Bluthing out part 1
miki_sensei
Mungkin bagi kalian yang sudah sering membaca blog gue. Kalian akan menyadari betapa masa kecil gue dipenuhi film2 Disney dengan berbagai karakternya; feature animation, short animation, majalah komik Donal Bebek, dkk. Disney yang mewarnai masa kanak2 gue dengan berbagai warna, kisah, dan nostalgia yang selalu nyaman diingat2.

Tapi tentu saja, ada film2 lain diluar Disney yang eksis dan keberadaannya gue abaikan sampai akhirnya internet ada dan informasi2 dengan mudah gue dapatkan via Youtube maupun website.

Nah, sudah agak lama gue mendengar soal fan cult animasi Don Bluth. Salah satu ex animator Disney yang bisa dibilang sukses membangun brand studio animasinya sendiri selain tentunya Tim Burton. Sayangnya, tidak seperti Burton yang terkenal di tahun 90'an kebelakang sehingga gue mendapatkan kesempatan untuk melihat karya2nya, Don Bluth adalah fenomena tahun 80'an. Wajar gue tak pernah mendengar namanya di masa kanak2 gue sampai sekarang.

Oh, tapi dulu bokap gue pernah membeli VHS The Land Before Time dan An American Tail waktu gue kecil. Hanya saja gue mengenalnya sebagai film animasi karya Steven Spielberg, bukan Don Bluth. Kenyataannya, Spielberg adalah produsernya dan Don Bluth yang mengerjakan seluruh produksinya sebagai animator.
Sejauh kenangan yang bisa gue ingat, dua film itu sangat berkesan karena tensi drama dan emosi yang membuncah luarbiasa saat menontonnya. Dua film ini bukan film yang bisa ditonton mereka yang gampang terbawa melankolia, gue takut para melankolis bisa sesak nafas dan kena serangan depresi kalo nonton ini.

Yep... it's THAT depressing. Sebab gue inget banjir air mata sepanjang ceritanya bergulir dan gue bukan anak kecil yang gampang dibikin nangis waktu itu. Kalau ada film animasi yang sanggup menginjak2 lo dengan berbagai emosi dan memerasnya sampe lo berasa lemes, dua film ini adalah rekomendasi. Meskipun begitu, memang sungguhan ada film animasi yang mampu meninggalkan lo dengan kekosongan tanpa harapan dan kesedihan tak berkesudahan, and the honor goes to The Grave of Fireflies. Fuck it! Gue cuma sanggup nonton sekali doang. Anjeerrrrr! Nggak kuat!

But, it's great movie though. But not for everybody.

Gue lebih kurang adalah didikan generasi 90'sn dimana cakrawala pengetahuan animasi Barat gue terbatas dengan istilah Disney dan non-Disney. Kenyataan yang menyakitkan terhadap semua animator yang bekerja keras diluar brand Disney. Tapi itulah perang brand, nggak ada yang benar2 adil.

Lagipula... memang harus diakui kualitas animasi diluar Disney tidak begitu bagus, ikut2an, dan terkesan murahan dari segi teknis.

Eniwei, gue penasaran kenapa fans begitu tergila2 dengan karya2 Don Bluth. Dari keterangan yang gue dapatkan di internet, dia menawarkan jalan cerita yang lebih mature, gelap, dan penuh lika-liku dibandingkan Disney. Plus... visualisasinya tergolong aneh. Seperti memandang sepotong mimpi di tengah demam panjang yang meresahkan, keluar dari rangka logika, bergerak dalam aturan dan realitasnya sendiri tapi juga tak bisa berhenti dipandang karena nampak menakjubkan dengan cara yang sangat tidak masuk akal.

Dengan kata lain, mindfucked.

Lagipula ternyata dia tidak cuma terbatas bikin feature length animation. Dia bikin GAME! GAME! This guy has colorful adventure! Dan bukan sekadar game, dia bikin game arcade pertama yang menampilkan animasi sekelas film Disney dan memiliki narasi (meskipun sangat simpel) dimana game2 lain di masa itu cuman sebatas buletan pixel makan2in pixel lainnya dalam garis linear.

Plus, yang bikin gue terkejut, game arcade itu ternyata tenar di kalangan temen2 gamer gue sebagai game retro yang ajubileh susah bener ditamatin. Butuh refleksnya The Flash supaya karakter yang dimainkan kagak mati melulu. Gue nggak kebayang buat mereka yang main game ini sewaktu masih dalam bentuk arcade di tahun 80'an... berapa duid yang mereka habiskan supaya bisa tamat? Game ini jahat, bro... jahat!

Tapi karena sekarang adalah era Youtube dan semua orang bisa seenak2nya posting ke sana, iseng2 gue menonton playthough dari tiga game buatan dia; Dragon's Lair, Dragon's Lair 2 Timewarp, dan Space Ace. IMHO, it's mindblowing, animasinya bener2 kelas film Disney. Don Bluth tidak tanggung2 bikin game yang ceritanya sebatas cuman cowok nyelamatin damsell in distress. He went full max with the animation,and it's friggin' enjoyable yet artsy. Dengan ekspresi karikatural dan berbagai cara mati yang bikin terbahak2 kalo seandainya si pemain kalah. Lagipula, untuk animasi bergaya Disney, cara mati si karakter utama bisa dibilang brutal. Banget. Tidak percaya?

1001 cara mati ala Dirk The Daring


Jatuh menuju kematian, dimakan monster menjijikan, diremukkan tentakel, digilas sampai gepeng, terbakar hangus. Selalu menyenangkan melihat karakter kartun tewas tanpa darah dan bagian tubuh berantakan. Tapi dia dapat cewek super seksi di akhir game. Gue serius... si putri yang diselamatkan bener2 Playboy material.


Dragon's Lair II Timewarp, yang ini cara matinya lebih sarap lagi. Nggak heran mengingat playtrough-nya aja bener2 dipenuhi kesintingan visual yang on par dengan Disney's Fantasia.


Sulit menentukan mana yang lebih lucu. Ada dua adegan breaking the fourth wall dalam seluruh sekuens Dirk mati; dia menatap ke arah pemain dengan ekspresi murka. Ah sudahlah, Dirk...
Adegan paling brutal adalah Dirk meleleh jadi kerangka, dan disedot monster ungu sampe sisa tulang2. OMG! Siapapun yang menggarap game ini, mereka punya selera humor gelap yang mendalam, dan sangat terinspirasi Indiana Jones The Lost Arc. That face melting NAZI dude... I lost my innocent youth watching that.



Space Ace, premisnya berbau manga Conan buat gue yang lebih dulu mengenal Conan (a.k.a si protagonis berubah jadi anak2.) Tapi setidaknya yang ini tokoh utamanya lebih lucu, culun mampus, dan ekspresif, dan TAMAT!


Space Ace tidak sekreatif Dragon's Lair duology dalam hal berbagai cara mati. Tapi gue suka ekspresi komikal Dexter yang tolol abis, suaranya yang cempreng ngeselin, plus interaksinya dengan pacarnya yang cewek tsundere itu totally worth to watch. Bikin terpingkal2. Gue nggak bisa bilang Dexter sebego Dirk, yang udah ketawan rada2 bloon, tapi jelas dia ancur bin ngakak sih. Nggak ada ganteng2 cool-nya ala K-drama lah pokoknya. Plus dia cowok pirang, klop dah.
Didorong rasa penasaran yang sangat setelah nonton tiga playtrough game besutan Don Bluth di tahun 80'sn, gue menghabiskan seminggu ini dengan marathon seluruh animasi Don Bluth, mulai dari film pendeknya yang memicu keinginannya lepas dari Disney, sampai film terakhirnya yang dipenuhi efek CG yang menandai kematian era animasi tradisional di Amerika Serikat. Kecuali A Land Before Time dan An American Tail yang di masa lalu pernah gue nonton, gue melanjutkan nonton seluruh animasi karya Don Bluth yang tersisa dan tentu saja gue di sini untuk membahas filmnya satu per satu.
Gue nggak bisa bilang seluruh karya Bluth itu bagus, menurut gue dia bahkan tidak konsisten. Mengawali karier dengan sangat cemerlang di tahun 80'an, kualitas ceritanya perlahan meredup di era 90'an ketika Disney sedang jaya2nya. Tapi satu hal, animasinya selalu bagus dan cantik. Sebagai animator, Don Bluth sangat konsisten. Ditambah lagi lagu2 soundtrack yang mengiringi filmnya... mereka tidak pernah jelek. Tidak memorable. Iyes. Forgetable. Satu dua kasus, iya. Tapi tidak pernah gue merasa lagu2nya terlalu poppy dan kacangan. In fact, dari film2nya yang terburuk sekalipun, lagu2nya sangat stand out dan sukses menyelamatkan nyawa film itu.

Don Bluth's animation songs... they never sucks.

Tujuan Don Bluth keluar dari Disney sebenernya adalah sebuah protes bahwa Disney saat itu tak lagi peduli dengan kualitas animasi yang mereka buat. Oleh karena itu, Bluth bersama 12 orang ex animator Disney lainnya, bekerja keras membuat film pertama mereka sebagai sebuah pernyataan artistik untuk menyelamatkan kualitas animasi yang diciptakan oleh Walt Disney. Dipenuhi semangat idealisme dan keinginan untuk menciptakan perubahan, maka jadilah...

The Secret of N.I.M.H
The Secret of N.I.M.H adalah intisari ekspresi dari era 80'an. Era ini spesial karena dipenuhi film2 fantasi anak yang gelap dan serius, tapi juga sangat memukau dan dipenuhi keajaiban yang takkan terlupakan. Film2 ini dipenuhi sejenis charm yang tak pernah sukses dikopi oleh film2 jaman sekarang; remake, sekuel, prequel, apapun. Semua gagal.

Okay... dari mana gue harus memulai...
I think The Secret of N.I.M.H is freaking badass of a movie. Anthropomorphic rats kicked each other asses with swords and dagger. Even better than Zootopia! Maaf Nick Wilde, tapi kamu tak bisa mengalahkan tikus got bernama Justin ini, he's a charming, chilvarious and a fucking badass. YEAAAHHH!!

Nampak jelas sekali bahwa film ini merupakan proyek idealis, dari pemilihan tema, penyajian, pemilihan warna, dan kemunculan karakter utama yang tidak biasa--seorang ibu rumah tangga sekaligus janda. Seluruh aspek ini sangat tidak biasa sehingga kentara benar The Secret of N.I.M.H bukan film untuk selera mainstream.

Sesungguhnya gue ga terlalu yakin The Secret of N.I.M.H bahkan bisa ditonton semua usia mengingat banyak unsur2 gelap yang sangat berani bahkan di jamannya; on screen death, salah satu karakter mengumpat 'damn', visual darah yang nampak jelas terpercik merah, dan yang paling shock adalah ketika si karakter penjahat mengibaskan pedang MENYAYAT TENGGOROKAN kawannya sendiri. Holy shit!? This is a kid movie??
Ternyata The Secret of N.I.M.H sengaja dibuat untuk rating PG, dan mendapat rating PG di tahun 80'an itu berarti SESUATU banget. Tapi entah kenapa, film ini tetap dapat rating G. Pejabat yang menentukan jelas2 malas kerja dan sembarangan memberi stempel G begitu saja.

Eniwei, gue nggak akan menghabiskan waktu mengulang jalan cerita The Secret of N.I.M.H yang bisa lo baca di Wikipedia dengan mudah. Gue akan langsung ke review singkat gue.

Jalan cerita The Secret of N.I.M.H sesungguhnya sangat sederhana, tapi juga sangat berbeda. Unik dan tidak biasa. Tak ada putri2an seperti yang biasa dilakukan DIsney. Tak ada kerajaan. Tak ada lagu2 musikal. Namun ada intrik, pembunuhan politik, percobaan laboratrium menakutkan terhadap hewan (lengkap dengan visual psychedelic yang bikin jiper.) Belom lagi tema status quo vs perubahan, dan gesekan politik yang terjadi antara dua kubu pengikut. Dalam satu dua hal, The Secreat o N.I.M.H membuat gue teringat Rise of The Planet of The Apes, hanya saja hewan yang berubah jadi super cerdas adalah tikus got. Which is malah lebih serem lagi! MAAAAKK!!
Hanya saja, mereka memilih menyingkir dari manusia dan tidak mau membalas dendam ala monyet. Dengan kecerdasan yang didapatkan mereka tak lagi bisa dan mau hidup seperti tikus got, kini mereka menghadapi tantangan seperti makhluk sapiens lainnya; bagaimana mengemban tanggung jawab etika dan moral selayaknya manusia. Dan dari kecerdasan ini, akan muncul pengkhianatan, keserakaan dan kebencian.
Oh dan gue belom bicara soal Mrs. Brisby, sang tokoh utama The Secret of N.I.M.H. Berapa banyak film animasi yang menampilkan ibu rumah tangga sekaligus janda sebagai tokoh utamanya? Heck... gue bahkan jarang menemukan film live action yang menampilkan tokoh utama konservatif seperti itu. Wanita jaman sekarang digambarkan perkasa bak Rambo, tapi kerap menampilkan karakter seperti itu justru pembuat film memutus hubungan penontonnya dengan realita. Gue suka cewek jagoan, tapi gue tahu itu tidak realistis dan karenanya, tidak relatable buat gue. Lagipula ketika semua karakter perempuan kuat digambarkan perkasa kayak Rambo, rasanya kok mononton banget ga sih?
Mrs. Brisby, di lain pihak, sangat relatable, seluruh rentetan kejadian dalam film ini didorong oleh keinginannya untuk menyembuhkan anaknya yang sakit pneunomia. Dia pengecut, dia takut, dan dia sama sekali tidak tertarik untuk mengeksplorasi dunia luas yang baginya dipenuhi mara bahaya. Tapi dia melawan semua itu demi anaknya. Tell me, that's not relatable for many casual woman?

This is a much watch movie. It's dark, magical, and charming at the same time. And the poster so kick assss!!!

All Dogs Go To Heaven
Oh Tuhan... darimana gue harus memulai. Menggunakan bahasa yang mudah, bayangkan Despicable Me... versi hardcore. Kenapa hardcore? Tidak ada para minion yang memuakkan sudah pasti. Plus...
bertolak belakang dengan judulnya, film ini... dark banget, dipenuhi tema2 mature yang menggambarkan realita kehidupan kita, diperankan anjing2 antrophomophic. Mereka merokok, mabuk, berbuat kriminal, berseteru bahkan berani membunuh atas dasar keserakahan. Tokoh utamanya seekor anjing anti-hero yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Si anjing Charlie memperalat Anne-Marie, seorang gadis cilik, supaya menolongnya menjatuhkan rekannya sendiri yang di awal film berbalik mengkhianatinya. Charlie tak hanya egois, dia licik, dan dipenuhi kemarahan. Tapi karakternya ditulis dengan baik, dia tak pernah jatuh jadi menjijikan. Sebaliknya, Charlie itu sangat likeable, dan seiyuu yang mengisi suaranya juga sukses menampilkan karakternya yang kompleks. Lagipula perjalanan dia menemukan cinta terhadap Anne-Marie yang dirawatnya berbuah kucuran air mata ketika dia dia akhirnya rela mengorbankan dirinya agar Anne-Marie selamat.
T____T the feels bro... the feels....!
Visual terbaik dalam film ini adalah ketika Charlie bermimpi jatuh ke neraka berapi. Holy crap. Sekuens ini begitu intens sampai Don Bluth terpaksa memotong durasinya sebanyak 15 detik supaya ratingnya tetap jadi G. Dan katanya ada umpatan 'damn' juga yang dipotong. Yep... 'damn' di film anak2, apa kata gue? Ini Despicable Me versi hardcore.
Tapi diluar temanya yang begitu serius, tetep aja ada adegan ajaib bin aneh yang selalu menyertai film2 Don Bluth, adegan itu adalah...

Buaya bencong.

So random it blew my mind.

Percaya atau tidak, ada sekuens Charlie bertemu buaya kemayu lengkap dengan bibir bergincu yang disembah para tikus got di saluran air kota New Orleans. Lebih aneh lagi, sekuens itu merupakan parodi tongue-in-cheek dari film King Kong versi gender terbalik. WTF!?
Gue gagal paham sebenernya Don Bluth ini bikin animasinya waktu mabok lem Aibon ato gimana?

In the end... gue nggak bisa menyarankan anak2 menonton film ini. Kenapa? Sebab orangtuanya bisa shock parah. Ini film yang hanya keluar di era 80'an dan takkan bisa terulang lagi di masa kini. Film ini berani beda tapi juga nggak sampe sok beda karena mau beda aja alias hipster. Film ini beda karena si pembuat film menolak bermain aman, dia menyuguhkan cerita seperti yang dia mau, dan untungnya didukung kebebasan kreatifitas yang kebetulan jauh lebih longgar di masa itu.

Sementara gue tidak yakin kita bisa melakukan hal serupa seperti Don Bluth lakukan untuk film animasinya di tahun 1989. Tidak dengan segala bentuk tuntutan dan protes serba berlebihan di era milenial ini. Dan gue ragu bahkan Don Bluth bisa melakukannya sekarang.


Bersambung ke part 2, era 90'an.. Rock A Doodle, Thumbelina dan Troll In Central Park. Oooohhh! Kualitas ceritanya jelas berkurang tapi keanehan visualnya justru bertambah. Hey... gue tidak protes! Gue datang karena mereka bilang animasinya kayak orang demam.

Niryu Shosetsuka
miki_sensei
Niryu Shosetsuka dalam bahasa Jepang artinya Penulis Kacangan, atau mungkin itu terdengar sedikit kejam. Dalam bahasa Inggris artinya 'Second Rate Novelist' dan terasa lebih eufimis ketimbang bahasa Indonesianya. Tapi gue bermaksud membahasnya dalam bahasa Indonesia, dan gue cenderung sadis. Jadi... Penulis Kacangan.

Anyway... Niryu Shosetsuka sendiri merupakan film Jepang yang malam2 tidak sengaja gue tonton di TV kabel ketika sedang bosan dan tidak ada nyokap yang berteriak minta diganti National Geography (oke, gue suka NG, tapi mereka terlalu sibuk berkutat dengan buaya dan binatang2 dari benua Afrika), maka gue mengganti saluran TV sekehendak hati lalu berakhir di saluran2 TV Korea dan Jepang. Dari sanalah gue menonton Niryu Shosetsuka dan berakhir menyukai filmnya. Jujur aja gue jarang suka dengan film Jepang, entah aktingnya yang nggak sinkron dengan selera gue, atau tema2nya yang nggak jauh2 dari melodrama para pekerja kantoran.

Tapi yang ini temanya tentang seorang penulis kacangan yang terlibat dalam kasus pembunuhan sadis berantai setelah diminta seorang pembunuh berantai dalam penjara yang akan menjalani eksekusi untuk menulis biografinya. Pada hakekatnya, genre film ini merupakan kisah misteri thriller yang umum dijumpai; Law & Order: Criminal Intent adalah salah satu permulaan yang tepat (I LOVE that spinoff.)
Namun entah kenapa ada sejenis charm dalam dialog dan chemistry antar karakter2nya baik itu Ippei Akabane si tokoh utama dengan Daigo Kurei, sang pembunuh berantai psikotik yang ekspresinya sintingnya Jepang bangets. Atau dengan Ai Kobayashi, si remaja tajir aneh, atau dengan Chinatsu Hasegawa, wanita yang masih dihantui dengan pembunuhan saudarinya oleh Kurei.

Beberapa waktu sesudahnya, gue melupakan film itu dan kembali pada kehidupan nyata ketika pada suatu kali gue mengaduk2 seisi internet hanya untuk iseng2 melihat update film2 Asia. Kebiasaan ini gue lakukan kebanyakan karena gue mau tau tren film Korea atau Jepang yang lagi in, sebab gue emang kagak nonton film drama Asia.

Lalu gue bertemu dengan film Jepang unik yang gue tonton di malam2 iseng minus teriakan nyokap itu. Judulnya Niryu Shosetsuka.

Dan merupakan adaptasi dari novel karangan orang Amerika. WHAT??

Tunggu sebentar...

Mereka punya penulis sekaliber Haruki Murakami tapi malah memilih novelis AS random untuk dibikinkan filmnya? Siapa ini Mr. David Gordon??

GUE HARUS BACA NOVELNYA!!

Untuk permulaan, gue adalah salah satu penyembah ideologi 'buku akan lebih bagus dari filmnya', ohh... gue sangat percaya dengan dogma itu. Makanya gue harus baca bukunya, sebab filmnya sendiri sudah sangat menarik buat gue.

Menemukan novel buatan 2011 adalah perkara mudah di internet, dalam sekejap, The Serialist, judul asli dari Niryu Shosetsuka, sudah berada dalam daftar koleksi buku di tablet gue.

Dan tentu saja keyakinan gue benar. The Serialist ternyata menggali makna lebih dalam ketimbang sekadar kisah misteri detektif yang ditawarkan filmnya. Novel ini merupakan surat cinta untuk para pecinta literatur dengan genre spesifik, dan yang gue maksud ini adalah genre kelas B ke bawah. Pulp fiction, sci fi, supernatural, apapun yang hidup berkeriapan di kolong gelap literatur sambil berusaha eksis dengan cara mengekor tren. Lo doyan S&M ala 50 Shades of Grey? Ah tak apa... bagi Harry Bloch (nama asli Ippei Akabane) novel semacam itu menggambarkan pergulatannya untuk mencari sesuap nasi.

Bahkan dari bab2 pertama, kita pembaca sadar benar Harry adalah lovable loser. Dia mati2an mengekor tren. Tak ada orisinalitas dalam tulisan2nya, novel2nya kelas kapiran, dan dia sangat membenci karya2nya sendiri sampai pada titik dimana dia tak pernah menggunakan nama aslinya. Tak ada kebanggaan di sini. Semua ini dilakukan supaya ada makanan di atas meja dan ibu kos nggak menggedor2 pintu karena telat bayar bulanan. Koleksi novel dan tulisan2nya tidak jauh2 dari erotisme, pornografi dan cerita dengan genre spesifik (dengan bumbu seks tentunya.) Novel terakhirnya bertema vampir, karena saat itu sedang tren vampir (hmmm... lirik Twilight.)
Seluruh kenestapaan yang dijalaninya dalam novel ini membuat gue teringat pada suatu hari di bandara Schiphol, di sebuah toko buku kecil yang menawarkan paperback bagi mereka yang ingin membunuh waktu dalam penantian panjang transit atau perjalanan menjemukan di tengah udara. Saat itu gue menemukan buku S&M yang dari deskripsinya kurang lebih adalah pengekor tren 50 Shades of Grey. Tentu saja gue menertawakan hal itu dan meletakkan bukunya lalu pergi dalam seringai penuh pelecehan. Atau seusai Hunger Games meledak di pasaran dan mendadak seluruh daftar baru Goodreads mendadak diisi penuh buku2 YA bertema dystopian yang bikin muak. Atau ketika mendadak tren vampir meledak seusai Twilight (bahkan novelis lumayan terkenal macam Meg Cabott aja pake acara ikut2an.) Atau saat gue terjebak membeli buku berjudul Erec Rex setelah Harry Potter menjadi best seller di Bumi manusia. Kampret benar.

Untuk seorang J.K Rowling, ada ribuan pengarang kecil lainnya yang mencoba mencari cara memenangkan persaingan sengit diantara mereka sendiri seperti belatung2 berebut makanan. Harry Bloch mewakili orang2 ini, dan melalui karakter Harry inilah gue menemukan koneksi.

Bagi kalian yang suka dengan plot yang bergerak cepat. Siap2 untuk kecewa. Plot buku ini bergerak pelan, dan narasinya sangat berbunga2, seperti saat gue membaca Warm Bodies. Tokoh utamanya adalah pria yang dilanda melankolia akut nyaris depresi, tapi justru itulah yang membuat gue sangat menikmati momen2 membaca kisahnya. Bagaimana tidak? Sulit untuk tidak jatuh cinta pada sebuah buku yang paragraf pertamanya berbunyi demikian;

"Kalimat pertama dari sebuah novel merupakan hal terpenting, kecuali, mungkin, kalimat terakhir. Tulisan yang akan membekas dalam dirimu seusai kau menutup bukunya, seperti gaung dari pintu yang ditutup membayang2imu ketika kau berjalan menyusuri koridor menuju luar.Tapi tentu saja saat itu terjadi, sudah terlambat, kau sudah membaca seluruh isinya."

Terjemahan kasar... tapi gue berjanji untuk menulis blog ini dalam bahasa Indonesia setidaknya 98%. Jadi, terimalah apa adanya.

Atau refleksi Harry soal mengapa ada orang bisa suka buku2 novel kapiran semi porno yang diam2 diletakkan di balik kasur mereka. Guilty pleasure if you please.

"Kenapa kita membaca? Dimulai dari pertama kali saat masih kanak2, mengapa kita begitu menyukai buku2 kegemaran kita? Kebanyakan, kukira, karena itu adalah perjalanan, kau dibubungkan menuju sebuah petualangan, ke dalam mimpi yang terasa bagai milik kita sendiri. Tapi untuk sebagian kecil, alasannya untuk pelarian, mengatasi rasa bosan, ketidakbahagiaan, kesepian, dimana kita tak kuasa lagi menahannya.

Penggemar genre--pecinta vampir, penggila fiksi ilmiah, pecandu misteri--mereka adalah spesies kuno, keturunan murni namun juga sebuah anomali. Mereka masih membaca seperti anak2, dipenuhi kenaifan dan penuh keseriusan. Atau seperti remaja, dipenuhi keputusasaan juga keberanian. Mereka membaca karena mereka harus melakukannya."


Gue tergolong penggemar genre. Fantasi adalah favorit gue, tapi fantasi memiliki sub genre yang lumayan banyak. Sub genre favorit gue adalah alternate history atau sci fi fantasy. Gue juga suka misteri, sihir, dan supranatural. Rumah berhantu yang angker, keanehan2 alam yang tak bisa dijelaskan. Ada keindahan dalam segala hal semacam itu tertuang dalam lembar2 kertas yang gue baca, entah itu e-paper atau kertas beneran.

Sebagai narator, Harry sangat kaya dalam bercerita. Dia jenaka, sinis, melankolis, dan dipenuhi berbagai macam keraguan yang berakar dari kegagalan2 hidupnya. Tapi ketika mayat2 mulai berjatuhan, dan kesemuanya tidak dalam keadaan utuh, Harry dipaksa untuk memutar otak, menjadi detektif sungguhan demi melindungi nyawanya juga.

Yang menarik, di tengah2 penyelidikan misteri, horor dan gory berdarah2 dari potongan2 tubuh yang berceceran. Si pengarang menyelipkan potongan2 novel Harry yang bener2 bikin ngakak. Mulai dari kisah vampir S&M nya (yang luarbiasanya tokoh2 vampirnya jauh lebih bengis dari Twilight dan mengikuti pakem vampir klasik), cerita detektif semi porno, dan cerita alien S&M. Dari tiga tema itu, favorit gue adalah alien Zorg dengan robot budak seksnya. Tunggu! Dengarkan gue dulu! Gue tidak tertarik dengan S&M, tapi Zorg ditulis dengan jenaka dan charming. Lebih menyerupai parodi bokep Flash Gordon dengan alien yang mengendarai kapal ruang angkasa berbentuk lingga. Mustahil lo tidak akan tertawa.

Dari seluruh narasi cerdas, reflektif, ngeri dan berdarah2 yang dilalui Harry sebagai tokoh utama, pada akhirnya dia tetap menjadi pencundang. Love interest-nya di sepanjang cerita menolak meneruskan hubungan karena menganggap beban emosional diantara mereka berdua hanya akan menjadi penghalang, biografi si pembunuh berantai juga gagal dibuat karena tersandung masalah legal. Tapi petualangannya memberikannya inspirasi, mungkin dia tak bisa menuliskan sebuah biografi kontroversial, pelarian terbaik adalah menulis fiksi. Kali ini dengan nama aslinya dan tak lagi bersembunyi di balik pseudonym karena rasa malu.

Dan buat gue, ini adalah surat cinta reflektif paling romantis yang pernah ditulis seseorang untuk literatur genre. Jika lo pecinta buku2 dengan genre spesifik kelas B. Atau setidaknya B movie. Lo akan menikmati The Serialist karena lo memahami perasaan itu.